
"Kau suka...", tanya Felix penuh harap.
"Tentu saja...ini indah sekali... romantis... seperti makan malam sepasang- ", Melinda menghentikan ucapannya dan refleks menatap tajam ke arah Felix, "...ini apa maksudnya...", tanyanya curiga.
"Anggap saja ini jawaban dari pertanyaan mu tadi...", jelas Felix tersenyum, Melinda terdiam sejenak namun kemudian mengernyit tak percaya. "...kita duduk saja dulu...", ajaknya menarik salah satu kursi, dan memberi isyarat jika mempersilahkan Melinda duduk pada kursi tersebut.
"oh", Melinda tak bisa berkata-kata lagi, namun segera duduk di kursi yang Felix siapkan itu, "...Te-rima kasih...", ujarnya gugup setelah melihat apa yang dilakukan Felix, bahkan terlihat pipinya merona malu.
__ADS_1
"Jadi...kamu sudah siap mendengar jawaban ku kan...", tanya Felix setelah dirinya duduk di hadapan Melinda.
"Hah...i-iya...", Melinda merespon dengan singkat dan terbata, jantung nya berdebar kencang, perasaannya kacau, namun otaknya memahami kemana arah dari pembicaraan ini.
"Mel... setelah mendengar penjelasan Nicholas dan Aprilio kemarin...dan setelah bertemu Aurora hari ini... aku jadi yakin kalau perasaan ku pada mu dan Aurora berbeda...saat bersama Aurora aku hanya merasa kalau aku harus melindungi nya dan dia adalah ibu Antonio...dia juga membantu ku menjaga dan merawat ibu ku...tapi seperti kata Nicho dan Lio...aku tidak berdebar saat bersamanya...aku tidak merindukan nya sampai berlebihan...bahkan bisa di bilang...aku lebih merindukan Nio daripada Aurora...hanya saja...mungkin karena aku merasa kalau aku harus bersama Aurora seterusnya jika ingin tetap menjadi Ayah Antonio...", Felix terdiam sejenak. "...sejujurnya...dulu aku merasa prihatin dengan kondisi Aurora yang harus hidup sebatang kara dalam keadaan mengandung... Lalu nantinya dia akan melahirkan dan membesarkan anak seorang diri tanpa adanya sosok seorang suami atau Ayah... untuk ibu dan aku yang sebesar ini saja rasanya sulit... apalagi untuk Aurora dan bayi yang bahkan belum lahir saat itu...jadi saat itu... aku merasa kalau aku harus membantu mereka... apalagi...aku juga membutuhkan seseorang yang bisa menemani ibuku saat aku tinggal bekerja di kota... karena sebelumnya beberapa kali ibu sakit tapi tidak memberitahu ku...kalau ada orang yang menemani nya... Setidaknya bisa mengurangi rasa khawatir ku...", jelas Felix panjang lebar. ".... Apalagi...saat Nio lahir...wajah kecilnya yang lucu membuat ku langsung jatuh cinta pada nya... tangisannya...gerakan kaki dan tangan mungilnya membuat ku sangat merindukan nya kalau jauh darinya...aku selalu membayangkan dia sudah bisa apa...dia sudah bisa ngomong apa...atau perkembangan apalagi yang akan dia tunjukkan pada ku... perasaan itu yang slalu aku rasakan setiap hari bekerja di kota dan tidak sabar menunggu 2minggu atau 1bulan untuk pulang...hah... kehidupan ku benar-benar berubah 180 derajat setelah ada Nio... Bahkan aku ingin terus bekerja untuk mendapatkan banyak uang... supaya membelikan Nio Mainan ataupun pakaian...dan itu menjadi kebahagiaan tersendiri untuk ku...rasanya aku seperti punya penyemangat hidup selain ibu ku...haahhh Maaf Mel...aku malah melantur...", ujarnya mengakhiri cerita nya.
Di sisi lain
__ADS_1
"Ah dasar Felix bodoh...kenapa bahas hal yang sedih di saat seperti ini...", omel Aurora sambil mengusap air mata yang terus mengalir tak bisa di bendung.
"aku sangat bersyukur kita bertemu dengan orang sebaik Felix dan ibu nya... kalau tidak...apa yang akan terjadi pada mu waktu itu...", sambung Aprilio memeluk Aurora.
"Benar...aku juga saaaangaat bersyukur... jadi kita harus memperlakukan dia dengan sangat baik... karena apa yang dilakukan nya tidak bisa di bayar dengan uang berapapun...", sahut Laura ikut menangis.
"Bukan hanya memperlakukan dia dengan baik...tapi kita bisa menganggap nya seperti keluarga kita sendiri...mau bagaimanapun...Felix sebatang kara...dia hanya punya Aurora dan Antonio...Jadi jika kalian menganggap kita seperti keluarga... bukankah begitupun juga dengan Felix...", sambung Nicholas yang di angguki setuju oleh yang lain.
__ADS_1
Bersambung