
"apa kau yakin dengan informasi yang kau dapat itu...", seorang perempuan sedang melakukan panggilan di dalam mobil, matanya sedang mengawasi sekitar, hingga akhirnya matanya menemukan sosok yang dia cari.
"..."
"Baiklah...ingat...jangan beri tau siapapun...", perempuan memutuskan panggilan setelah mendapatkan jawaban dari lawan bicaranya,
"Sial...aku benar-benar kecolongan...ternyata dia masih hidup... bahkan anak yang dikandungnya juga baik-baik saja...", ujarnya melihat seseorang yang di cari, "...pantas saja...Kak Aprilio mengungkit bahkan menyelidiki masalah ini lagi... mereka pasti sudah bertemu...", lanjutnya geram.
"Tapi jangan senang dulu Aurora...aku Clara Chen...tidak akan pernah rela kalian kembali bersama...mungkin kau beruntung karena 6tahun lalu aku gagal menyingkirkan mu...kali ini... tidak mungkin kau seberuntung itu...", gumamnya menyeringai.
Clara menatap pergerakan Aurora dan menyalakan mesin mobilnya, saat dirasa waktunya pas, Clara menginjak gas dan melajukan mobilnya ke arah Aurora.
hingga...
"Aurora"
bugh
"sial...gagal... siapa pria yang membantu nya itu... sepertinya bukan Kak Lio...", ujar Clara menghentikan mobilnya dan melihat dari kaca spion. "... sudahlah...aku tidak peduli... sebaiknya aku pergi dari sini... sebelum orang-orang menyadarinya...", lanjutnya kembali melajukan mobilnya.
Felix datang tepat waktu dan menarik tangan Aurora, hingga keduanya jatuh di trotoar jalan. Aurora tidak tertabrak, namun kepalanya terbentur trotoar sedikit.
"Kalian tidak apa-apa...", tanya Laura berlari menghampiri keduanya bersama Melinda.
"Aku tidak apa-apa...", jawab Felix dengan pandangan yang masih menatap mobil yang hampir menabrak Aurora tadi, Felix merasa jika mobil itu mencurigakan.
"Ra...apa kau terluka...kau tidak apa-apa kan...", Melinda bertanya dengan panik memeriksa seluruh tubuh Aurora.
"Kepala ku sakit...", jawab Aurora lirih, membuat ketiga nya membulatkan matanya terkejut, begitu dengan Felix yang langsung refleks menatap Aurora yang memegangi kepalanya, kepala Aurora terasa berdenyut saat satu persatu memori di kepalanya bermunculan.
"Ayo kita kerumah sakit...aku-
ucapan Felix terhenti saat ponselnya berdering, tanpa pikir panjang lagi Felix mengangkat nya saat melihat jika Nicholas yang menghubungi nya.
"halo"
"kau dimana...kami sudah menemukan lokasi Antonio berada...kau mau ikut atau tidak...", suara Nicholas terdengar tanpa basa basi.
"syukurlah kalian sudah menemukan nya...aku akan segera kesana...", jawab Felix antusias, membuat ketiga perempuan di samping nya ikut tersenyum mendengarnya.
__ADS_1
"aku akan share lokasi nya...", Nicholas memutuskan panggilan setelah mengatakan itu.
"Antonio sudah ketemu...", tanya Aurora berbinar bahagia dengan menahan sakit.
"Mereka sudah menemukan dimana tempatnya...jadi aku akan menyusul kesana menjemput nya...", ujar Felix tersenyum, kemudian melihat lokasi yang di kirimkan Nicholas.
"Aku ikut...", Aurora langsung mencoba berdiri, membuat Laura dan Melinda refleks membantunya, dan ikut berdiri, begitupun dengan Felix.
"Tidak Ra...kau disini saja...kita tidak tau bahaya apa yang ada disana...jadi jangan bahayakan dirimu...", cegah Felix melarang.
"Bahaya... apa maksud mu...", tanya Aurora tidak mengerti.
"Aku tidak bisa jelaskan sekarang...", Felix mencoba mengalihkan dan ingin beranjak pergi, namun tangan nya lebih dulu di cekal Aurora.
"Aku mau ikut...dan...aku sudah ingat semuanya...", ucapan Aurora membuat Felix, bahkan Laura dan Melinda membulatkan matanya terkejut.
"Maksudmu... ingatan mu sudah kembali...", tanya Laura antusias, Aurora mengangguk perlahan menjawabnya, membuat keduanya sahabat nya itu, langsung memeluk nya bahagia.
"Syukurlah Ra...", Melinda berujar dengan air mata yang mengalir, Felix pun ikut tersenyum bahagia dengan mata berkaca-kaca, namun kemudian dia teringat untuk pergi ke tempat Antonio, jadi dia diam-diam pergi dari sana.
"Lho...mana Felix...", tanya Aurora menyadari jika Felix sudah berada di dekat mobilnya. "...Felix tunggu...aku mau ikut...", teriakan Aurora tak bisa menghentikan Felix yang sudah masuk ke mobilnya dan bersiap pergi. Aurora ingin berlari mengejarnya, namun Laura dan Melinda lebih dulu mencegahnya.
"jangan Ra...lebih baik kita ke rumah sakit memeriksa keadaan mu...", cegah Laura
"Ra...kau dengarkan apa yang di katakan Felix tadi...kalau tempatnya berbahaya...", sambung Melinda.
"Kalau itu berbahaya untuk ku... berarti juga bahaya untuk Nio kan...makanya aku ingin memastikan jika Nio baik-baik saja...", ujar Aurora menggebu-gebu. "... tolong Kak...bantu aku...aku mohon...kita ikuti mobil Felix sekarang...", mohonnya memegang tangan Laura dan Melinda.
"Baiklah...", ujar Laura mengalah, Aurora segera menarik keduanya dengan antusias.
Beberapa menit sebelumnya
Nicholas masih berada di ruangan nya, seperti perintah Aprilio, dia harus mencari informasi tentang Kelvin, jadi mau tak mau Nicholas kembali mencoba hal di ajarkan Aprilio beberapa tahun yang lalu, yaitu meretas.
Setelah menghubungi orang suruhannya, Nicholas segera mengambil alih dan menyusuri jejak informasi yang mengarah ke sebuah jaringan dunia hitam.
"Tidak mungkin...", gumam Nicholas dan segera mengambil ponselnya untuk menghubungi Aprilio.
"bagaimana..."
__ADS_1
"Kau pasti tidak menyangka hal ini Lio...", ujar Nicholas masih tinggi percaya.
"Apa...cepat jelaskan...", Suara Aprilio terdengar frustasi.
"Dia salah satu anggota jaringan xxx...kau tau jaringan apa itu kan...", tanya Nicholas
"jaringan xxx... untuk apa dia bekerja di kafe...apa tujuannya...",
"Jaringan itu... terhubung dengan perusahaan Easy di negara xx...kau tau kan...itu perusahaan siapa...", jelas Nicholas lagi
"Sial...Erick Smith...", suara geraman marah Aprilio terdengar menggelegar. "Sekarang lacak nomor mobil yang akan aku kirimkan...", lanjutnya memutuskan panggilan.
"Hah... sepertinya akan terjadi masalah besar...", gumamnya setelah itu kembali melanjutkan tugas dari Aprilio untuk melacak sebuah mobil.
Beberapa menit kemudian
"Kau yakin... tidak ingin meminta bantuan polisi...", tanya Nicholas pada Aprilio yang sudah menunggu nya.
"Jangan dulu...aku takut jika mereka akan melukai Antonio kalau tau aku membawa polisi...", Nicholas mengangguk mengerti dengan penjelasan Aprilio. "...tapi...kau sudah lakukan apa yang aku katakan tadi kan...", lanjutnya bertanya.
"Sudah... semuanya sudah siap di tempat nya...", jawab Nicholas yakin.
"Baiklah...ayo kita masuk...", ajaknya dengan dia yang berjalan lebih dulu.
Mereka berdua sekarang berada di gudang tempat Antonio di sekap, setelah berhasil melacak keberadaan mobil yang terlihat di CCTV yang Aprilio dapatkan tadi.
Diluar terlihat sepi tak ada siapapun, tapi Aprilio dan Nicholas bisa merasakan jika ada yang mengawasi gerak-gerik mereka, untungnya Aprilio tidak gegabah langsung membawa polisi, bisa-bisa nanti malah Antonio yang terluka.
Dan benar saja, saat memasuki gudang itu, banyak orang-orang berdiri di setiap sisinya, bahkan sebagian besar membawa senjata, tongkat kayu, galah panjang, bahkan rantai.
"Dimana Bos kalian...", tanya Aprilio datar dengan tatapan lurus ke depan.
Tak ada yang menjawab, namun juga tak ada yang menyerang, Aprilio dan Nicholas saling menatap aneh, namun kemudian berjalan perlahan dengan tetap waspada.
menyusuri setiap jalan yang terdapat orang berjaga hingga mereka sampai di sebuah ruangan, dan salah satu orang yang berjaga disana membukakan pintu.
"Antonio...",
**Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**