Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 18


__ADS_3

Semuanya sudah berada di depan UGD, setelah tertembak dan sempat berbicara sedikit dengan Aurora tadi, Aprilio langsung pingsan, dan tentu saja itu membuat semua orang terkejut memanggilnya.


Tapi dengan sigap, Nicholas segera mengangkat tubuh Aprilio di bantu Felix membawanya ke dalam mobil untuk segera ke rumah sakit.


Setelah beberapa menit, mereka sampai dan Aprilio segera mendapat penanganan, semuanya masih syok dan cemas, bahkan Aurora tak henti-hentinya menangis.


"Ke-napa harus seperti ini...ba-ru saja ingatan ku kembali...ta-pi kenapa- hiks," Aurora tidak sanggup melanjutkan kata-katanya dan menangis bersandar pada Laura.


"Ra...tenang saja... Aprilio akan baik-baik saja...dia pria yang kuat...", ucap Laura mengusap-usap punggung Aurora.


Setelah itu tidak ada yang berkata apa-apa lagi, hanya terdengar suara isakan Aurora, sementara di sampingnya Melinda memangku dan memeluk Antonio yang sejak tadi hanya diam, bahkan tak mendengar tangisan ataupun rengekannya.


"Mel...", panggil Laura membuat Melinda menatapnya. "...lebih baik bawa Nio pulang...biar Felix yang mengantar mu saja...", lanjutnya, Melinda pun hanya mengangguk menjawabnya.


"Felix...tolong ya...", Laura beralih bertanya pada Felix yang sejak tadi berdiri bersandar di depan mereka, Felix pun mengangguk menyetujui.


"Baiklah...aku bawa Nio pulang ya...kalau ada apa-apa... cepat kabari aku...", ujar Melinda berdiri menggendong Antonio. "...Ra...jaga kesehatan mu...jangan khawatir...aku akan jaga Nio baik-baik...", lanjutnya dengan mengusap lembut bahu Aurora.


"Ra...aku pergi dulu...kalau butuh apa-apa...hubungi aku...", sambung Felix kemudian, namun Aurora belum menjawab atau mengatakan apa-apa.


Laura menatap keduanya, dan mengangguk untuk mengisyaratkan mereka pergi saja, namun saat keduanya dan Antonio ingin beranjak...


"Tunggu...," Aurora mengangkat kepalanya dari bahu Laura, kemudian mengusap air matanya dan beranjak menghampiri Melinda, tangannya perlahan mengusap punggung Antonio.


"Nio sayang...," panggil Aurora lembut, membuat putranya perlahan berbalik menatapnya, kemudian mengambil alih tubuh kecil itu untuk dia gendong.


"Nio pulang dulu dengan Tante Mel tidak apa-apa ya...", tanyanya sedikit mengukir senyum, Antonio hanya mengangguk perlahan menjawabnya.


"Mel...bisa minta tolong...," Aurora kembali berujar, namun kali ini pada Melinda, dengan mengarahkan kepala Antonio untuk bersandar di bahunya.


"Tolong apa Ra...katakan saja...jangan sungkan...," jawab Melinda


"Sebelum pulang...bawa Nio ke dokter anak dulu...," Melinda yang mengerti maksud Aurora pun mengangguk mengiyakan.


"Dan Felix... setelah itu tolong ajak Nio makan...dia pasti sudah lapar...", Aurora berujar dengan mencium kepala Antonio berkali-kali.


"Iya Ra...aku tau...," jawab Felix mengerti.

__ADS_1


"Nio... sayangnya Mama...," panggil Aurora lembut, putra kesayangannya itu mengangkat kepala, kemudian menatapnya. "...Nanti makan dan tidur...di temenin Papa Felix dan Tante Mel ya...Mama disini sebentar... tidak apa-apa kan...," Aurora berbicara begitu lembut dengan menahan air matanya, hingga detik berikutnya air mata Aurora menetes, saat Antonio tidak menjawab namun matanya beralih menatap pintu UGD.


Dengan perasaan yang semakin berat, Aurora buru-buru menghapus air matanya sebelum kembali berbicara dengan Antonio.


"Pa-pa Li-o...pas-ti ba-ik baik saja...," Antonio beralih menatap Aurora lagi, "...Nio tidak perlu khawatir Hm...besok...Nio bisa kemari lagi...," ujar Aurora susah payah, dan seperti sebelumnya, Antonio hanya mengangguk menjawabnya.


Aurora kembali menyerahkan Antonio pada Melinda, setelah itu mereka ijin untuk pergi dari sana, bahkan Aurora menatap kepergian mereka hingga menghilang di ujung lorong.


kriiing kriiing


Dering ponsel membuat Aurora bahkan Laura mengalihkan perhatian yang ternyata bunyi ponsel Nicholas.


"Sebentar...aku angkat telpon Paman Dion dulu...", ujarnya buru-buru beranjak dari sana.


"Paman Dion...", ujar Aurora bertanya menatap Laura yang kemudian mengangguk membenarkan maksud pertanyaan Aurora.


"iya... Ayahnya Aprilio...," jawaban Laura yang menegaskan, semakin membuat Aurora cemas. "... duduklah Ra...jangan pikirkan soal yang lain dulu...yang penting sekarang...kita berdoa untuk Aprilio...," Aurora terdiam sejenak mendengar perkataan Laura, kemudian menghela nafas panjang dan kembali duduk di tempatnya semula.


Disisi lain


"halo Paman Dion...", tanya Nicholas menjawab panggilan itu.


"em i-itu...saya...-


"Cepat jawab Nic...", potong Tuan Dion tidak sabaran. "...saya tau... Aprilio sedang menyelamatkan putranya...lalu bagaimana sekarang...apa semuanya baik-baik saja... karena saya merasa sesuatu telah terjadi...," lanjutnya tegas.


"Maaf sebelumnya Paman... Aprilio sekarang ada di rumah sakit...", jawab Nicholas akhirnya.


"Apa...kenapa...memangnya apa yang terjadi...", tanya Tuan Dion mulai panik.


"Lio tertembak...-


"Di rumah sakit mana...kirim alamat nya...saya akan kesana...", Tuan Dion memutuskan panggilan secara sepihak, membuat Nicholas menghela nafas berat, kemudian mengirim pesan.


Beberapa menit sebelumnya


Tuan Dion masih di kantor Aprilio, sambil menunggu kabar dari orang suruhannya, Tuan Dion juga sesekali menghubungi Aprilio, yang tak di jawab sama sekali sejak tadi.

__ADS_1


Hingga beberapa menit kemudian, ponselnya berdering dan menunjukkan nama orang yang dia utus tadi.


"Bagaimana...," tanya Tuan Dion tanpa basa-basi.


"Maaf Tuan... sepertinya saya datang terlambat... karena sudah ada banyak polisi disini...", jawab seseorang dari seberang.


"Lalu bagaimana keadaan Aprilio dan yang lain...", tanya Tuan Dion lagi tak sabaran.


"saya sempat bertanya pada polisi... katanya...tadi ada seseorang yang tertembak...dan mereka membawanya ke rumah sakit...", penjelasan orang itu membuat Tuan Dion membulatkan matanya.


"Tertembak...Siapa...lalu dibawa ke rumah sakit mana...", tanyanya beruntun.


"kata polisi...ke rumah sakit terdekat...," Tuan Dion memutuskan panggilan secara sepihak dan langsung menghubungi Nicholas.


Setelah menerima telpon dari Tuan Dion, Nicholas kembali ke tempat tunggu di depan UGD, Melihat Nicholas kembali membuat kedua perempuan di sana beralih menatapnya.


"Bagaimana...," tanya Laura lebih dulu pada suaminya.


"Paman Dion akan kemari...," jawaban Nicholas membuat Aurora kembali menunduk. Laura menatap Aurora sejenak, kemudian beralih menatap Nicholas lagi, mereka berdua berbicara dengan isyarat mata. "... Sepertinya...Paman Dion sudah tau semuanya...", lanjutnya membuat Aurora refleks terkejut menatapnya.


"Benarkah...lalu...apa yang harus aku lakukan... Aprilio seperti ini karena menyelamatkan Antonio...", ujar Aurora sendu, kemudian menutup wajahnya dengan kedua tangan, yang dia tumpuhkan di atas pahanya.


"Ra...jangan khawatir dulu...saat ini Paman Dion pasti juga khawatir pada Aprilio...sama seperti kita...jadi dia tidak akan melakukan apa-apa padamu...," ujar Laura menenangkan.


"Tidak mungkin Paman Dion marah... Aprilio kan menyelamatkan putranya sendiri...cucu sekaligus penerus keluarga Victory...bukan orang lain...," sambung Nicholas meyakinkan, dan di angguki setuju oleh Laura.


"Benar...walau bagaimanapun... Antonio adalah cucu Paman Dion...dan penerus keluarga Victory...jadi dia tidak akan marah masalah ini...," lanjut Laura mengusap-usap punggung Aurora.


Mendengar ucapan Laura dan Nicholas masalah Antonio penerus keluarga Victory, membuat Aurora semakin cemas, namun tidak mengatakan apapun, Aurora hanya memilih diam, hingga keadaan menjadi hening.


Hingga beberapa menit kemudian, terdengar derap langkah kaki terburu-buru mendekat ke arah UGD, detik selanjutnya terlihat Tuan Dion dengan beberapa seseorang di belakangnya. membuat Nicholas menegakkan tubuhnya yang sedang bersandar tadi, begitupun dengan Aurora dan Laura yang langsung berdiri.


Tak langsung bertanya, Tuan Dion sejenak menatap bergantian Laura dan Aurora. Laura membungkuk sejenak memberi salam setelah Nicholas melakukan nya lebih dulu, namun berbeda dengan Auto yang hanya menunduk, bahkan tidak berani menatap Tuan Dion sama sekali.


"Bagaimana keadaan Lio..."


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2