Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 23


__ADS_3

"Felix...em a-pa kau sangat mencintai Aurora...", tanya Melinda tiba-tiba membuat Felix mengernyit heran menatap nya.


"Kenapa kau bertanya masalah ini...", tanya Felix balik tak menjawab pertanyaan Melinda.


"Ti-dak apa-apa...aku hanya ingin tau saja... bagaimana perasaan mu sekarang...", jawab Melinda tidak sepenuhnya berbohong, karena dia memang ingin tau bagaimana perasaan Felix sekarang.


"Perasaan ku masih sama...hanya saja... sekarang aku memilih menyerah...aku juga ingin melihat Aurora bahagia...", jelas Felix sendu, Melinda pun menatapnya dengan perasaan sedih sekaligus kecewa.


Mendengar yang di katakan Felix, Melinda berpikir kalau Felix akan sulit membuka hatinya kembali untuk perempuan lain, jadi kemungkinan besar, Melinda pun juga akan mengalami cinta bertepuk sebelah tangan.


"Mel...Melinda...", panggil Felix berkali-kali, namun perempuan di sampingnya itu tidak menjawab dan sibuk dengan pikirannya, hingga Felix memutuskan untuk memegang bahu Melinda untuk menyadarkan nya.


"Eoh...a-da apa kenapa...", tanya Melinda terkejut, membuat Felix menggelengkan kepalanya dengan terkekeh.


"Apa yang sedang kau pikirkan Mel...sampai aku panggil berkali-kali kau tidak menjawab...", ujar Felix kemudian.


"Oh tidak...aku hanya kembali teringat masa-masa Aurora masih menjadi gadis yang periang dan ceria...lebih tepatnya...sebelum Ayah nya mengalami kecelakaan...", jelas Melinda menunduk sedih.


"Benarkah...", ujar Felix singkat, tak ingin terlalu banyak bertanya, agar tak terkesan dia banyak ingin tahu tentang Aurora.


"Ya... walaupun Aurora anak tunggal...dan bisa mendapatkan segalanya...tidak kekurangan apapun...bahkan meski tumbuh tanpa sosok seorang ibu... Aurora bukanlah gadis sombong... seperti anak-anak orang kaya lainnya... Aurora tidak pernah bersikap ataupun memakai sesuatu yang berlebihan... Aurora orang yang sangat sederhana dan ramah...pada siapapun...", jelas Melinda panjang lebar.


"Benar... sifatnya itu tidak hilang... meskipun dia mengalami Amnesia...", sambung Felix.


"Aurora begitu menyayangi Ayahnya...begitupun dengan Paman Johnny... mereka hanya memiliki satu sama lain...Paman Johnny tidak pernah memaksa Aurora untuk meneruskan perusahaan nya...bahkan dulu beliau mendukung sekali...saat Aurora memutuskan untuk memilih jurusan Desain...", jelas Melinda lagi.


"Pantas saja Aurora begitu suka menggambar... entah saat mengajari Nio ataupun saat dia sendirian...dia sering meluangkan waktu untuk menggambar...dulu saat aku tanya...dia hanya bilang kalau dia sangat suka menggambar... dan ternyata itu memang kegemarannya sejak dulu...", sambung Felix panjang lebar.


"Ya... Aurora adalah mahasiswa terbaik jurusan desain di universitas kami... Aurora juga banyak mengikuti kompetisi desain atau kompetisi lainnya...dia sangat pintar...", Melinda berujar dengan berbinar bahagia.


"Mungkin kebahagiaan Aurora akan bertahan kalau dia kembali melakukan hal yang dia sukai...benar tidak...", tanya Felix kemudian.


"Benar...aku setuju...", Melinda mengangguk menyetujui. "...Bagaimana kalau kita buat rencana untuk mewujudkannya...", lanjutnya.


"Tunggu...lebih baik diskusikan dengan yang lain lebih dulu... apalagi sebentar lagi ulang tahun Aurora...kita bisa memberinya kejutan yang tidak pernah dia bayangkan... bagaimana...", jelas Felix antusias.


"Aku setuju...kenapa kau jadi semangat sekali saat membahas masalah ini...hm", ujar Melinda menggoda Felix.

__ADS_1


"Tentu saja...aku kan bilang kalau aku ingin melihat Aurora bahagia...dan ini salah satunya...", ujarnya mengelak.


"Ya ya...apapun alasannya...aku tau kau tidak akan membuat Aurora sedih...atau bahkan menyakitinya...iya kan...", ujar Melinda tersenyum menatap Felix.


"Y-ya... tentu saja..."


Beberapa menit kemudian


Di rumah sakit


cklek


Pintu ruang rawat Aprilio, tiba-tiba di buka seseorang dari luar, membuat kedua orang yang berada di dalam terkejut.


"Mama...Paman Lio...", sapa Antonio berbinar berlari menghampiri dan langsung memeluk Aurora.


"eoh Nio..." / "Papa", ujar Aprilio dan Aurora hampir bersamaan.


"Kau sudah sadar...tapi tidak memberitahu Papa...", omel Tuan Dion berjalan masuk menyusul Antonio.


"Aku terpaksa Pa...ini juga kan untuk mempermudah menangkap Clara...", jawab Aprilio menjelaskan.


"Kakek...Paman Lio kan masih sakit...jangan di marahi dong...", tegur Antonio lucu, membuat Tuan Dion terdiam tak bisa berkata-kata lagi, namun membuat Aprilio terkekeh, dan Aurora diam-diam tersenyum menahan tawa.


"Tuh dengar perkataan cucu nya...", ujar Aprilio mengejek, membuat Tuan Dion menghela nafas pasrah, "...Nio...kemari...peluk Paman...", lanjutnya memanggil Antonio.


Tanpa pikir panjang, bocah 5tahun itu mendekat ke arah Aprilio, kemudian meminta mengangkat kedua tangannya meminta bantuan pada Aurora untuk naik ke atas tempat tidur Aprilio.


"Oh astaga...Jagoan... bagaimana kabar mu Hm...Paman sangat merindukan mu...", ujar Aprilio langsung memeluknya, saat Antonio sudah berada di depannya.


"Aku baik-baik saja...Aku juga sangat merindukan Paman...", jawab bocah 5 tahun itu membalas pelukan Aprilio.


"Bagaimana rasanya tinggal di rumah Kakek Dion...", tanya Aprilio melepaskan pelukannya.


"Seru sekali...rumahnya besar...dan banyak mainan...", jawabnya antusias, membuat Aprilio terkekeh.


"Kalau begitu...Nio boleh tinggal di sana seterusnya... bagaimana...", namun pertanyaan Aprilio kali ini membuat putranya itu menundukkan kepalanya tak menjawab. "...kenapa...Nio tidak mau tinggal di sana...", lanjutnya mengusap kepala Antonio sayang.

__ADS_1


"Nio mau...tapi-", Antonio menjeda ucapannya, dan mengangkat kepalanya menatap Aprilio, "...kalau Mama juga tinggal di sana...kalau tidak...Nio juga tidak mau...", lanjutnya sendu, membuat Aprilio refleks menatap Aurora dan Tuan Dion bergantian.


"Tentu saja jagoan...Mama juga akan tinggal di sana bersama kita... bukankah kita satu keluarga...", jawab Aprilio menenangkan.


"Benarkah...Paman tidak berbohongkan...", tanya Antonio berharap.


"Paman tidak akan berbohong...", jawab Aprilio meyakinkan, "...tapi...ada satu hal yang harus Nio lakukan terlebih dulu...", lanjutnya.


"Apa itu...", tanya Antonio semangat, membuat Aprilio tersenyum melihatnya.


"Mulai sekarang...Nio coba panggil Paman dengan panggilan Papa...", ujarnya.


"Ah itu...tentu saja Nio mau...", jawabnya antusias.


"Benarkah...", tanya Aprilio berbinar bahagia.


"Tentu saja... karena Paman Aprilio memang Papa ku...", ujar Antonio tersenyum, lalu memeluk Aprilio lebih dulu. "...Terima Kasih Papa...sudah menjaga dan melindungi Nio dan Mama...", lanjutnya.


Aprilio sempat tertegun sejenak mendengar dengan mudahnya Antonio memanggilnya Papa, namun kemudian Aprilio membalas pelukan putranya dengan erat, hal itu membuat Auto dan Tuan Dion tersenyum menatap interaksi keduanya.


1jam kemudian


Antonio dan Tuan Dion baru saja pulang beberapa menit yang lalu, karena memang tidak ingin Antonio berada lama-lama di rumah sakit, jadi Tuan Dion harus segera membawanya kembali, menyisakan Aurora dan Aprilio hanya berdua sepertinya sebelumnya.


Suasana nya sekarang terasa sedikit canggung setelah percakapan Antonio dan Aprilio tadi, jika Aprilio terlihat begitu yakin dengan ucapannya, namun berbeda dengan Aurora yang kembali merasa ragu-ragu untuk melanjutkan hubungan mereka ke depannya.


"Ra...", panggil Aprilio pada Aurora yang sedang duduk di sofa, tidak banyak bicara, bahkan terlihat sesekali memikirkan sesuatu.


"Iya...ada apa...apa kau membutuhkan sesuatu...", Aurora bertanya dengan beranjak dari sofa dan menghampiri Aprilio.


"Kemari...duduklah...", ujar Aprilio meminta Aurora duduk di sampingnya, tanpa bertanya lagi, Aurora pun meloapa yang di minta Aprilio. "...apa yang sedang kamu pikirkan...apa kamu memikirkan ucapan ku pada Nio tadi...", lanjutnya sambil mengambil lalu menggenggam tangan Aurora.


Aurora tidak menjawab pertanyaan Aprilio, dia hanya menundukkan kepalanya tak berani menatap wajah Aprilio, hingga beberapa saat kemudian, Aprilio memegang pipi Aurora, lalu mengarahkan agar Aurora mengangkat kepalanya, hingga pandangan mereka bertemu.


"Apa kamu ragu...apa yang membuat mu ragu Ra...katakan pada ku..."


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2