Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 19.1


__ADS_3

Beberapa hari kemudian


Sudah terhitung hampir 3hari setelah Aprilio di nyatakan koma, Aurora tak beranjak sedikit pun untuk menjaga pria yang dia cintai itu, dengan di temani Felix, Laura ataupun Melinda yang bergantian datang.


Sedangkan Tuan Dion kesehatan nya sedikit menurun saat mendengar Aprilio koma, semuanya paham betul bagaimana perasaan pria paruh baya itu, keadaan yang sama seperti 6tahun lalu.


Untungnya Tuan Dion tidak melarang Aurora menjaga Aprilio, beliau seakan mengerti, jika yang di butuhkan putranya saat ini adalah perempuan yang sudah dia cari selama 6tahun ini tanpa henti.


"Tolong jaga dan rawat putra saya...jika anda membutuhkan apapun... segera hubungi saya..."


Penuturan Tuan Dion beberapa hari lalu, kembali teringat di benak Aurora, meski terkesan kaku, tapi tidak menutupi perasaan terluka yang terlukis di matanya, bahkan Aurora merasakan ketulusan dan kasih sayang seorang ayah terhadap putranya, seakan menjelaskan jika Aprilio adalah segalanya.


"Lio...kapan kamu bangun...apa kamu tidak ingin bertemu dengan ku lagi...", ujar Aurora menggenggam tangan Aprilio dengan hati-hati.


"Maaf...maafkan aku...ka-rena sudah melupakan mu selama 6tahun ini...dan... membiarkan mu berjuang sendiri...maaf hiks", Aurora mulai terisak merasa bersalah pada pria yang tengah terbaring di depannya.


Aurora merasa bersalah karena selama ini membiarkan Aprilio berjuang mencari nya sendiri, sedangkan dirinya menjalani hidup dengan baik dan melupakan segalanya.


"Aku mohon bangunlah...aku merindukanmu... sungguh...


banyak yang ingin aku bicarakan dengan mu...aku ingin mengatakan sesuatu yang sejak dulu aku simpan...a-ku mencintaimu...rasa ini tak berkurang sedikitpun...", Aurora semakin menangis dengan menunduk dan menempelkan keningnya di tangan Aprilio.


Tanpa Aurora sadari, seseorang melihat dan mendengar semua yang dia katakan, hatinya sakit saat mendengar Aurora mencintaimu pria lain, padahal waktu yang mereka lewati 6tahun ini, lebih banyak di bandingkan dengan waktu yang di miliki Aurora dan Aprilio.


Felix, yang awalnya ingin membawakan makanan dan pakaian ganti untuk Aurora. Felix tau hal ini akan terjadi, dia pikir dia sudah siap, tapi nyatanya hatinya masih belum terima. Namun Felix juga menyadari, jika 6tahun ini mereka bersama perlakuan Aurora padanya hanyalah bentuk rasa terima kasih.


Felix juga sadar diri, jika cintanya tidak sebanding dengan cinta Aprilio yang sanggup menunggu dan melakukan apapun untuk Aurora, begitupun dengan cinta Aurora yang tak hilang meski ia kehilangan ingatan.


toktok


Aurora mengangkat kepalanya dan segera menghapus air matanya saat mendengar ketukan di pintu, kemudian berbalik menatap siapa yang datang.


"eoh Felix...", ujarnya yang di sambut senyuman oleh Felix.


"Aku bawakan makanan dan baju ganti lagi untuk mu...", jawab Felix menunjukkan apa yang dia bawa.

__ADS_1


"Terima Kasih...maaf merepotkan mu...", jawab Aurora tulus, namun Felix menggeleng.


"Tidak perlu berterima kasih...ini tugas ku untuk membantu mu...", jawabnya sambil mengeluarkan sekotak makanan.


"oiya... bagaimana dengan Nio...", tanya Aurora teringat putra nya.


"Tadi... asisten Tuan Dion datang menjemputnya sebelum aku kemari...", jawabnya, Aurora mengangguk mengerti. "...kau tidak apa-apa Ra...jika Antonio tinggal disana...", lanjutnya bertanya.


"Tentu saja...", Aurora kemudian menghela nafas, "...sejujurnya...aku takut jika Tuan Dion akan mengambil Antonio dari ku...tapi...disaat seperti ini...aku tidak bisa egois...aku tau bagaimana perasaan Tuan Dion saat ini...dia pasti membutuhkan Antonio untuk menghibur dan menemani nya...disaat Aprilio terbaring koma seperti ini...", jelas Aurora sendu menatap Aprilio yang masih setia memejamkan matanya.


"Benar...Tuan Dion juga oleh yang bijaksana...dia tidak akan memisahkan anak dengan ibunya...", ujar Felix menenangkan.


"Ya...semoga saja begitu..."


"Sudah sudah... makanlah sebelum makanan nya dingin...", ujarnya menyerahkan kotak makanan tadi.


"oiya... omong-omong dimana Melinda...", tanya Aurora tiba-tiba.


"Dia ada kerjaan penting...kasihan dia sudah cuti beberapa hari untuk menjaga Antonio... takutnya kalau kelamaan... dia nanti di pecat...", jelas Felix panjang lebar, Aurora mengangguk mengerti.


"Sudah...jangan terlalu di pikirkan...Melinda kan sahabat mu...dia tidak akan merasa di repotkan...", jawabnya santai.


"Benarkah... sepertinya kau sudah lebih mengenalnya...", goda Aurora membuat Felix berdecak malas, namun tak menjawab apa-apa.


Disisi lain


"Silahkan Tuan Muda Kecil...", ujar asisten Tuan Dion mempersilahkan Antonio turun dari mobil, disana sudah ada beberapa maid yang berdiri menyambut kedatangan nya.


"Selamat Datang Tuan Muda Kecil", maid dan beberapa penjaga berujar kompak, membuat Antonio tersenyum berbinar.


Berjalan memasuki rumah besar itu, Antonio tak henti-hentinya bergumam "woah" dengan mata yang berbinar-binar menatap sekelilingnya.


"Tuan Muda Kecil...mari saya antar ke kamar Tuan Be- eh maksudnya Kakek anda...", asisten Tuan Dion merasa canggung dengan perkataan nya sendiri, namun tidak bisa dipungkiri jika dia pun merasa antusias dengan kehadiran Antonio, cucu pertama dari keluarga ini.


Antonio mengangguk menjawab perkataan asisten Tuan Dion, kemudian melangkah di belakang pria paruh baya itu tanpa di gandeng ataupun di tuntun, langkahnya yang pasti membuat nya benar-benar terlihat seperti keturunan Victory.

__ADS_1


Setelah beberapa saat kemudian, sampailah mereka di depan sebuah pintu kamar yang besar, setelah menaiki lift ke lantai 2, dan menyusuri beberapa lorong, yang di dominasi warna silver, putih dan hitam.


toktok


Asisten Tuan Dion mengetuk pintu itu, tidak berselang lama pintu di buka oleh seorang suster yang sepertinya bertanggung jawab untuk mengurus Tuan Dion, dan memberi jalan untuk keduanya masuk.


"Tuan...Tuan Muda Kecil sudah datang...", ujarnya berjalan masuk


"Astaga...cucu ku sudah datang...kemarilah jagoan...", panggil nya lembut dan tersenyum, Antonio dengan polos mengangguk dan menghampiri sang Kakek.


"Jagoan...kamu tau kan aku ini siapa...", tanya Tuan Dion saat bocah 5tahun itu sudah berdiri di sampingnya, kemudian mengangguk menjawab pertanyaan nya.


"Anda Ayahnya Paman Aprilio...dan Paman Aprilio adalah Papa ku...jadi anda adalah Kakek ku...", jawab Antonio pintar, namun membuat Tuan Dion kecewa.


"Benar sekali...tapi...kenapa kau masih memanggilnya Paman...bukannya Papa...", tanya Tuan Dion sedih, tapi kemudian Antonio dengan santainya mengangkat bahunya sejenak.


"Belum terbiasa...", jawab Antonio santai, "...Paman juga tidak masalah dengan itu...katanya tidak perlu buru-buru...tapi kalau Paman sembuh...Nio janji akan belajar memanggil nya Papa...", lanjutnya menjelaskan, Tuan Dion pun terharu mendengar nya dan kemudian mengangguk mengerti.


"Baiklah...tidak apa-apa...tapi...Antonio mau kan tinggal disini bersama Kakek...", tanya Tuan Dion antusias.


"Mau...tapi bagaimana dengan Mama...", tanya bocah 5 tahun itu polos.


"Mama kamu kan masih menjaga Papa di rumah sakit...", jawab Tuan Dion.


"Jadi...kalau Paman Aprilio sembuh dan pulang...Mama juga akan pulang ke sini...", tanyanya, sejujurnya... Antonio mengerti, hal buruk apa yang akan terjadi jika keluarga Victory mengetahui tentang status nya, kemungkinan besar dia akan dipisahkan dari Aurora, Karena mau bagaimana pun, Antonio adalah penerus keluarga Victory.


Keluarga nomor 1 di kota ini, tidak- bukan hanya di kota, tapi di seluruh negara ini, sedangkan Aurora adalah perempuan dari keluarga yang terpecah karena harta warisan.


"Sementara ini...Antonio akan tinggal disini selama Mama menjaga Paman Aprilio di rumah sakit...tapi kalau nanti Mama tidak pulang kesini...Nio juga tidak bisa tinggal disini lagi...", mendengar ucapan cucunya, Tuan Dion tidak bisa berkata-kata lagi.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2