Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 13.1


__ADS_3

Nicholas dan Laura berjalan terburu-buru memasuki sebuah rumah sakit tempat Felix di rawat. setelah mendapatkan kabar, mereka langsung terbang ke tempat Felix dengan menggunakan Jet Pribadi milik keluarga Victory, atas ijin Aprilio.


Mereka juga harus mencegah Felix yang memaksa ingin kembali, mungkin karena janjinya pada Antonio, jika dia akan kembali malam hari dan menceritakan semuanya, jika dia tidak kembali, takut nya Antonio maupun Auto akan khawatir.


Memasuki salah satu kamar yang di jaga oleh 2orang bodyguard atau anak buah Aprilio yang tadi sempat menolong Felix bersama beberapa detektif bersenjata tadi.


setelah berbicara sejenak dengan 2orang bodyguard itu, Nicholas dan Laura masuk untuk melihat keadaan Felix.


"Oh kalian sudah datang...", ujar Felix saat melihat pasangan suami istri itu memasuki kamar rawat nya.


"Bagaimana keadaan mu...", tanya Nicholas mendekat ke arah Felix bersama Laura di belakangnya.


"Aku baik-baik saja...jadi tidak masalah kalau aku pulang sekarang...", jawabnya santai.


"Tidak...kau tidak boleh kemana-mana...", sela Laura lebih dulu, kemudian duduk di sebuah sofa kecil di berada di sana.


"Tidak bisa...aku harus pulang...kalau aku tidak pulang sekarang... Antonio dan Aurora akan khawatir...", ujar Felix menolak.


"Kami tau maksud mu...tapi kalau kau pulang dalam keadaan seperti ini...bukankah sama saja kau membuat mereka cemas...", jelas Laura, Nicholas mengangguk setuju, sedangkan Felix langsung terdiam.


"Benar...lalu apa yang akan kau katakan kalau mereka bertanya apa anda terjadi...", sambung Nicholas mengingatkan.


"Lalu...apa yang harus aku lakukan...", tanya Felix pasrah.


"Kau tenang saja...aku yang akan menghubungi Aurora dan mengatakan kalau pekerjaan mu belum selesai...atau kau bisa menghubungi mereka sendiri...", tawar Nicholas meyakinkan.


"Jangan aku...aku tidak akan bisa berbohong pada mereka...", jelas Felix sendu.


"Baiklah...biar aku yang menghubungi mereka...", Nicholas mengambil ponselnya dan keluar dari kamar rawat Felix.


"Kalau begitu...aku akan ke ruangan dokter untuk menanyakan lebih detail bagaimana keadaan mu...", Felix mengangguk, Laura pun beranjak pergi.


Disisi lain


"Ma...apa Papa bilang mau pulang jam berapa...", tanya Antonio, saat ini Aurora dan Antonio sedang makan malam bersama.


"Tidak sayang... memang nya kenapa...", tanya Aurora balik.


"Tidak apa-apa...aku pikir Papa bilang ke Mama akan pulang jam berapa...",

__ADS_1


"Mungkin- ", Aurora menghentikan ucapannya saat ponselnya yang berada di meja ruang tamu berdering. "Tunggu sebentar...mungkin itu Papa mu...", Antonio mengangguk mendengar ucapan Aurora.


Aurora mengambil ponselnya, namun kemudian mengernyit heran saat melihat nama Nicholas yang tertera disana, karena memang selama ini yang sering menghubungi nya adalah Laura dan Melinda,. sedangkan Nicholas selalu menghubungi Felix jika ada hal apapun. tapi saat mengingat jika Felix sedang tidak ada di rumah, tanpa pikir panjang lagi Aurora segera menjawabnya.


"halo"


"halo Aurora...ini aku Nicholas..." *terdengar suara berat dari seberang sana.


"iya...ada apa Nicholas*..."


"aku cuma mau memberitahu saja...kalau Felix tidak bisa pulang hari ini... karena pekerjaan disana belum selesai... kemungkinan dia akan pulang besok...", *Aurora mengernyit heran dengan penjelasan Nicholas yang menurutnya aneh.


"kenapa bukan Felix saja yang menghubungi ku...", tanya Aurora curiga*.


"karena disana sinyal nya susah...tadi saja saat aku menghubungi nya...tiba-tiba terputus dan tidak bisa di hubungi lagi...", *lagi-lagi penjelasan Nicholas sedikit membuat Aurora curiga.


"tapi dia baik-baik saja kan... tidak terjadi apa-apa kan disana...", tanya Aurora cemas*.


"dia baik-baik saja...saat aku menghubungi nya tadi...dia sedang mencari penginapan untuk dia istirahat malam ini...dan tenang saja...disana ada beberapa kenalan yang akan membantu nya...", *mendengar penjelasan Nicholas kali ini, Aurora menghela nafas lega, setidaknya Felix disana tidak sendirian.


"Baiklah... terima kasih informasinya...", ujar Aurora tulus*.


Setelah panggilan terputus, Aurora kembali meletakkan ponselnya di meja, lalu kembali ke meja makan.


"Siapa Ma...Papa ya...", tanya Antonio penasaran.


"Bukan sayang...tapi om Nicholas...dia bilang...Papa Felix tidak bisa pulang malam ini...karena pekerjaannya belum selesai...jadi akan menginap disana dan pulang besok...", jelas Aurora panjang lebar, Antonio hanya mengangguk mengerti. "Sudah ayo...kita makan...", lanjutnya sambil mengambilkan nasi untuk Antonio.


Akhirnya Aurora dan Antonio melanjutkan makan malam mereka yang tertunda tadi dengan tenang.


Keesokan harinya


Hari sudah mulai siang, sekarang Felix, Nicholas dan Laura baru saja turun dari pesawat. namun setelah ini, mereka bukan langsung pulang, melainkan pergi ke sebuah restoran untuk bertemu dengan seseorang.


Memasuki sebuah restoran mewah, namun sepi. mereka bertiga langsung di antar naik menuju salah seorang ruangan VIP yang sudah di pesan seseorang.


Saat memasuki ruangan itu, mereka bisa melihat seorang pria sudah datang lebih dulu, duduk santai menyesap kopi ,saat menunggu mereka.


"Lio maaf...apa kau menunggu lama...", sapa Nicholas lebih dulu saat memasuki ruangan.

__ADS_1


"Oh...kalian sudah datang...", sapa Aprilio berdiri dari duduknya, "tidak apa-apa...aku juga baru sampai kok... silahkan duduk...," lanjutnya mempersilahkan duduk.


"Tuan Felix...apa anda baik-baik saja...maafkan saya atas apa yang terjadi...", ujar Aprilio pada Felix tulus.


"Saya baik-baik saja tuan...ini resiko yang harus saya ambil jika saya ingin membantu Aurora...", jawaban Felix membuat Aprilio mengangguk setuju.


"Benar...", Aprilio mengangguk sejenak, lalu terdiam seakan sudah tidak bisa berkata-kata lagi.


Walau bagaimanapun, Felix adalah orang yang lebih banyak berkorban untuk Aurora selama 6tahun ini, bahkan mungkin Felix lebih mengenal Aurora, dibandingkan dengan Aprilio yang hanya beberapa bulan bersama Aurora.


Laura dan Nicholas saling pandang sesaat saat merasakan jika suasana menjadi canggung saat kedua orang yang mencintai Aurora itu tidak ada yang berkata-kata lagi.


"Lio...apa kau tidak memesankan makanan untuk kita...", ujar Nicholas mencoba mencairkan suasana.


"Oh iya...aku lupa...maaf maaf...", jawabnya kemudian mengambil sebuah telpon yang berada tidak jauh darinya. "Kalian mau pesan apa...", tanyanya kemudian.


"Pesankan saja semuanya...kan ada Bos yang bayar...", ucapan Nicholas membuat Aprilio dan Laura menggeleng jengah dengan tingkahnya.


Setelah beberapa saat, makanan datang dan sudah tertata rapi di atas meja, jika Aprilio dan yang lain menatap makanan itu biasa, berbeda dengan Felix yang menatap banyaknya makanan itu hingga tertegun.


"Felix...ayo makan...jangan sungkan...sekarang kita makan gratis sepuasnya...", ajak Nicholas antusias, namun hanya di balas Felix dengan anggukan canggung.


"Sudah...jangan banyak bicara...", omel Laura mengingatkan.


Disisi lain


Aurora sedang sibuk di kafe seperti biasanya, walau tidak seramai waktu itu, namun sejak tadi pelanggan selalu datang silih berganti.


Namun saat mengantar makanan ke salah satu pelanggan, berita yang muncul di TV yang memang sengaja di pasang beberapa hari lalu oleh Melinda, membuat perhatian Aurora teralihkan.


"Clara Chen, tunangan CEO muda Victory Company, Aprilio Victory, kembali ke tanah air setelah beberapa bulan berlibur ke luar negeri"


Tanpa sadar air mata Aurora mengalir, hatinya terasa sakit, perasaannya juga kecewa.


"akkkhhh"


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2