Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 22.2


__ADS_3

"assshh...kalian berdua benar-benar ya...", ujar Nicholas kesal, "...jangan-jangan Nio juga tau...", tebaknya.


"Menurut mu...", tanya Aprilio balik sambil terkekeh bersama Aurora.


"Astaga...kalian bapak ibu dan anak benar-benar kompak ya...", goda Nicholas terkekeh, membuat Aprilio dan Aurora tersenyum berbinar, namun tanpa mereka sadari, perkataan itu membuat Felix sedih.


"em kalau begitu...aku akan ke kantor polisi...", sela Felix


"Oh iya...kau pergi saja dulu...aku akan mengurus rekaman nya dulu...".


"iya...aku mengerti...kalau begitu aku pergi dulu...", setelah  mengucapkan itu, Felix beranjak pergi tanpa perlu berpamitan lebih akrab, sekalipun pada Aurora.


Jika Aprilio dan Nicholas menganggap tingkah Felix biasa saja, namun berbeda dengan Aurora yang cukup mengenal Felix, walau bagaimana pun selama 6tahun ini mereka hampir sering tinggal bersama, sekalipun dengan mendiang ibu Felix, sekalipun Felix bekerja, ibu Felix akan sering menceritakan tentang putra dan keluarga yang satu satunya dia miliki itu.


"Kalau begitu aku ke Rumah dulu ya...", ucapan Nicholas menyadarkan Aurora dari lamunannya.


"Ya...bilang saja aku tidak apa-apa...", jawab Aprilio


"Tapi aku yakin Paman Dion akan memaksa kemari...", tebak Nicholas menggelengkan kepalanya saat memikirkan bagaimana reaksi Tuan Dion saat mengetahui Aprilio sudah sadar. Aprilio menghela nafas kemudian mengangguk setuju dengan perkataan Nicholas.


"Benar...kalau begitu...ajak Antonio sekalian...aku sangat merindukan jagoanku itu...", ujar Aprilio berbinar, namun kemudian beralih menatap Aurora. "...tidak apa-apa kan Ra...", lanjutnya bertanya.


"Tentu...mungkin sebentar saja tidak apa-apa...", jawab Aurora pengertian.


"oke


Disisi lain


tring


Felix baru saja ingin menaiki lift, namun karena tidak fokus, dia sampai tidak menyadari siapa yang kebetulan juga akan keluar dari lift.


"Felix"


Sapaan itu akhirnya membuat Felix tersadar dari pikiran nya, dan refleks menatap ke arah suara.


"Eoh Kalian...kenapa ke sini...", saat melihat 2orang perempuan yang menghampirinya, yaitu Laura dan Melinda.


"Bagaimana...apa berhasil...apa Clara sudah di tangkap...", tanya Laura khawatir.


"Sudah di bawa ke kantor polisi...untung nya sudah selesai... kalau ini belum selesai... bukankah bahaya kalian datang kemari...kan sudah di bilang tunggu kabar dari kami...", cerocos Felix mengomel.

__ADS_1


"Kami tidak tenang kalau cuma nunggu...dan kalian tidak memberi kabar sedikit pun pada kami...", omel Melinda balik.


"Benar yang dikatakan Melinda... daripada cemas menunggu...lebih baik kami datang untuk memastikan nya sendiri...", sambung Laura


"Hah...kalian benar-benar keras kepala...", ujar Felix menghela nafas pasrah.


"Jadi... dimana Nicho...kenapa kau sendirian...", tanyanya lagi.


"Nicho bersama Aurora dan Ap- Tuan Aprilio...", jawab nya canggung, Laura pun mengangguk mengerti.


"Lalu... kau sendiri mau kemana...", sela Melinda bertanya.


"oh aku mau ke kantor polisi...", jawab Felix tanpa menjelaskan lebih lanjut lagi.


"Kalau begitu aku ikut kau saja deh...", ucapan Melinda membuat Felix mengernyit menatapnya curiga. "...ya kan... daripada sama mereka nanti aku jadi obat nyamuk...mereka kan berpasangan...aku sendirian...", elaknya buru-buru.


"Tapi ini di rumah sakit...mereka tidak ngapa-ngapain kan...", ujar Felix heran.


"Sudahlah Lix...ajak saja Melinda... daripada kau sendirian...", sela Laura menengahi, membuat Felix akhirnya menghela nafas pasrah lagi.


"Baiklah...", jawabnya setuju.


"Kalau begitu aku masuk dulu ya...", ucap Laura yang kemudian mendapat anggukan dari Melinda dan Felix, setelah beranjak pergi meninggalkan keduanya.


"Naik Mobil-


"Mobil mu saja...mana kuncinya...kau parkir sebelah mana...", Felix memotong ucapan Melinda lebih dulu, lalu mengulurkan tangannya meminta kunci mobil Melinda.


"Oh sebentar", Melinda segera mengambilnya di tas dan menyerahkan nya pada Felix tanpa mengatakan apapun, "...itu mobil ku...", lanjutnya menunjukkan mobilnya yang terparkir tidak jauh dari sana.


Setelah itu Felix berjalan lebih dulu dengan Melinda yang berjalan di belakangnya, terlihat jika perempuan sahabat Aurora itu tengah gugup, bahkan dia bertingkah tidak seperti biasanya yang akan mengomel dan mencari masalah dengan Felix.


Felix membuka pintu kemudi lebih dulu, namun tak segera masuk saat dirasa Melinda justru berjalan lambat sambil melamun.


"Mel...ayo", panggilan Felix membuat Melinda tersadar dari lamunannya.


"Oh iya", jawabnya sambil sedikit berlari ke arah pintu lain dan langsung memasuki nya tanpa banyak bicara, kemudian disusul dengan Felix.


Felix mulai melajukan mobil keluar dari parkiran, tak ada pembicaraan di antara keduanya, bahkan terlihat jika Melinda justru sibuk dengan pikirannya sendiri.


"Apa mungkin ya...aku sudah jatuh cinta seperti kata Kak Laura..."

__ADS_1


Flashback On


Melinda berada di rumah Laura sejak 30menit yang lalu menunggu kabar dari rumah sakit tentang rencana penangkapan Clara berhasil atau tidak, namun ternyata tidak ada kabar sedikitpun dari sana.


Dan akhirnya mereka memutuskan untuk pergi ke rumah sakit, karena mereka tidak tenang jika hanya duduk menunggu seperti itu, jadi dengan mengendarai mobil Melinda, mereka pergi untuk memastikan semuanya baik-baik saja.


"Kak Laura...", panggil Melinda tiba-tiba setelah beberapa saat mereka berkendara.


"Ada apa Mel...", tanya Laura.


"em...Mungkin tidak sih...kalau jatuh cinta pada seseorang dalam waktu singkat...", tanyanya kikuk membuat Laura mengernyit heran menatap nya.


"Mungkin saja...", jawab Laura akhirnya tanpa bertanya yang lain. "...jatuh cinta itu tidak bisa di tentukan waktunya singkat atau bahkan lama...itu tergantung dari perasaan orang masing-masing...", lanjutnya menjelaskan.


"Lalu...kalau Kakak dan Nicholas...butuh berapa lama hingga kalian saling jatuh cinta...", tanya Melinda penasaran.


"Kalau untuk aku pribadi cukup lama...aku sudah mengaguminya sejak dulu...aku dan Nicho teman sekolah...hanya sekedar itu...kami tidak dekat...dan akhirnya tidak pernah bertemu lagi saat kami sama-sama masuk universitas...dan baru bertemu lagi saat reunian beberapa tahun kemudian...", jelas Laura panjang lebar.


"Apa setelah reunian kalian menjadi dekat...", tanya Melinda penasaran.


"Tidak bisa di bilang dekat...kami hanya bertukar nomor saja...tapi dia bahkan tidak menghubungi sama sekali...namun aku akui...saat bertemu lagi...dia menjadi pribadi yang berbeda...lebih percaya diri dan terbuka untuk dekat dengan orang lain... karena sebelumnya...dia orang yang cukup tertutup dan cuek...dan hal itu juga yang membuat ku tidak berani berteman... ataupun sekedar mendekati nya...sampai akhirnya muncul masalah Aurora dan Aprilio yang membuat kami berdua semakin dekat...", Laura tersenyum sendiri saat kembali mengingat semua yang dia ceritakan tadi.


"Lama juga ya kan...", ujar Melinda kagum dengan cerita Laura. "...lalu...menurut Kakak...kalau yang singkat itu bagaimana...", lanjutnya bertanya.


"Kau lupa dengan contoh yang paling dekat...", ujar Laura membuat Melinda mengernyit heran.


"Maksudnya..."


"Aurora dan Aprilio... mereka bersama hanya satu bulan...bahkan saat itu mereka sama-sama sudah jatuh cinta...dan perasaan mereka bertahan hingga saat ini...meski terpisah selama 6tahun...dan Aurora sempat kehilangan ingatannya...bukankah itu sudah termasuk contoh...meski jatuh cinta dalam waktu singkat...namun perasaan dan rasa cinta itu bisa bertahan atau tidak... tergantung dari orang itu sendiri...", lanjutnya panjang lebar.


"Aku mengerti...tapi... rasanya jatuh cinta itu seperti apa sih Kak...", pertanyaan Melinda kali ini membuat Laura tersenyum lebar.


"Kenapa kau bertanya masalah ini...apa jangan-jangan kau sedang jatuh cinta ya...", tanya Laura membuat Melinda salah tingkah.


"Ti-dak...aku hanya ingin tau saja...", elaknya terbata-bata, semakin membuat Laura terkekeh jika sahabat nya itu sedang mencoba menutupi perasaannya sendiri.


"Ya ya terserah kau saja...yang pasti saat kita jatuh cinta pada seseorang...kita akan berdebar saat di dekatnya...kita akan selalu tidak sabar untuk bertemu dengan nya...dan...masih banyak deh yang lain...", jelas Laura dengan sengaja tidak memberitahu lebih banyak lagi, agar Melinda semakin penasaran.


"Kak...", rengek Melinda saat Laura malah main-main menggodanya.


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2