Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 36.1


__ADS_3

(Jadi untuk kedepannya...yang akan memimpin Travel Moon adalah Felix...dia dan mendiang ibunya lah yang menyelamatkan dan merawat saya yang tengah hilang ingatan selama 6tahun ini...bahkan mereka juga yang membantu saya membesarkan putra saya... mereka menganggap saya dan putra saya seperti keluarga mereka sendiri...)


Lagi-lagi banyak pertanyaan yang muncul dari orang-orang yang menonton di media sosial, bahkan tidak sedikit yang menghubungkannya dengan apa yang di katakan Aprilio kemarin.


(Saya mengalami kecelakaan 6tahun dalam keadaan hamil...saat itu ada kejadian yang tidak terduga...dan semuanya terjadi begitu cepat...namun beberapa waktu lalu... pelakunya sudah di tangkap...kecelakaan yang saya alami...bukan murni kecelakaan... melainkan karena rencana seseorang yang ingin mencelakai saya...namun tidak ada hubungannya dengan Travel Moon ataupun Paman saya...itu murni dari hubungan pribadi saya...)


Aurora menunduk untuk mengumpulkan kepercayaan diri nya, apa yang akan dia ucapkan saat ini, tentu saja bisa di tebak semua orang jika di tarik garis besarnya, hamil saat kecelakaan dan hilang ingatan 6tahun lalu.


(Saya tau...anda semua pasti sudah bisa menebak apa yang saya alami...dan ingin tau bagaimana cerita lengkapnya... tapi saya tidak bisa memberitahukannya sekarang...saya akan memberikan penjelasan kepada anda semua... beberapa hari kemudian... hari ini...saya hanya ingin menjelaskan tentang Travel Moon... bukan masalah pribadi saya...mohon pengertiannya dari anda semua...)


Skip


Setelah beberapa menit yang lalu acara selesai, sudah bisa di rasakan ada banyak orang-orang yang diam-diam mengikuti ataupun mengambil gambar, seperti saat ini terlihat beberapa orang diam-diam merekam atau mengambil foto Aurora tengah bersama Antonio yang baru saja keluar dari perusahaan.


Untungnya, Aprilio pergi lebih dulu karena ada meeting yang harus dia ikuti, bersamaan dengan Laura dan Nicholas yang harus kembali ke rutinitas pekerjaan mereka, begitupun Felix dan Melinda yang juga kembali sibuk dengan pekerjaan masing-masing.


Aurora sempat berpikir, apa ini juga yang di alami Aprilio biasanya, di ikuti kemana pun dia pergi, bukankah itu tidak nyaman, bahkan Aurora sesekali memastikan Antonio, mungkin putranya itu juga merasakan hal yang sama, namun nyatanya bocah 5tahun itu terlihat begitu tenang.


"Nio mau langsung pulang...", tanya Aurora


"Boleh mampir beli eskrim tidak dulu Ma...", tanyanya


"Tentu...", ujar Aurora menggandeng tangan Antonio menuju mobil yang menjemput mereka.


Beberapa menit kemudian, akhirnya mereka berhenti di sebuah kedai yang menyediakan berbagai menu eskrim, keduanya memilih turun dari dan memasuki kedai dengan santai.


Saat memasukinya, suasana keceriaan dan warna-warni dekorasi nya yang mendominasi, cocok dengan menu eskrim yang mereka sediakan, dan yang penting adalah beberapa permainan dan buku untuk anak-anak.


"Baiklah...Nio mau ikut Mama pilih es krimnya atau duduk saja...", Tanya Aurora sesaat sesudah memasuki kedai.


"Nio duduk saja ya Ma...di situ ya...Nio tunggu di situ...lalu Nio mau es krim stroberi yang itu...", Ujarnya antusias menunjuk salah satu gambar yang cukup besar, sepertinya menu spesial di kedai itu.


"Oke...Mama pesankan dulu ya...", Antonio mengangguk mengiyakan, lalu keduanya berjalan terpisah, Nio menuju ke salah satu meja yang berada di sudut ruangan yang tepat di samping rak-rak buku yang memang di sediakan oleh kedai itu. Sedangkan Aurora menuju ke tempat pemesanan yang sekaligus pembayaran.


Antonio berdiri sejenak mencari-cari buku yang menurutnya menarik, kemudian membawanya ke meja dan membacanya, namun kemudian perhatian nya teralihkan oleh sesuatu.

__ADS_1


"Oh", sebuah mesin permainan membuatnya penasaran, menatap dan meneliti sejenak, Antonio kemudian mulai mencobanya.


Klik klik Tring


Antonio bisa memasukkan bola dengan sempurna hanya dalam sekali percobaan. Namun saat akan mencoba lagi...


"Minggir", tubuh Antonio di dorong hingga terjatuh oleh seorang anak laki-laki bertubuh tambun.


"Assshh", Antonio mendesis kesakitan karena siku nya terluka, "...Hey...apa kau tidak bisa antri...aku kan sedang memainkannya...", Ujarnya berdiri dengan kesal.


"Aku tidak peduli... terserah aku mau antri apa tidak...", Jawab bocah itu acuh.


"Tidak bisa begitu...aku yang lebih dulu disini...", Ujar Antonio coba bicara baik-baik, namun anak itu tidak menggubris sedikitpun.


Antonio berpikir sejenak dan melihat sekeliling, tanpa sengaja dia melihat sebuah karet rambut berbulu yang terjatuh di bawah, perlahan Nio mengambilnya lalu perlahan diam-diam meletakkannya di bahu anak itu, kemudian kembali ke tempatnya berdiri semula.


"Hey hey lihat...ada apa di bahu mu itu...", Ujar Antonio berakting terkejut, anak itu pun refleks ikut melihat bahunya. "... sepertinya itu ulat...iya benar itu ulat...awas dia menggigit mu...", Lanjutnya melebih-lebihkan.


"Waaa...ulat...ulat...bugh ", anak itu berteriak setelah melihat sesuatu di bahunya, kemudian terjatuh saat ketakutan.


"Hahaha...itu hanya karet rambut...tapi kau ketakutan seperti anak kecil...hahaha...", Ujar Antonio sambil tertawa terbahak-bahak.


"Wuaahhh...Mama...anak itu mengerjaiku... wuaahhh...dia mengganggu ku sejak tadi...", Teriaknya menangis semakin kencang.


"Astaga sayang...kau tidak apa-apa kan...apa kau terluka...", Tanya perempuan itu yang ternyata adalah ibu dari bocah tambun tadi.


"Aku tadi sedang main itu... tiba-tiba dia mengganggu dan menakut-nakuti ku sampai aku terjatuh Ma...", Adu nya berbohong, membuat Antonio membulatkan matanya terkejut.


"Hey anak siapa kamu huh...berani sekali mengganggu anak ku...", Ujar perempuan itu menghampiri lalu menarik tangan Antonio. "...anak nakal...apa kau tidak pernah di didik orang tua mu...", Ujarnya menggoyang-goyangkan Antonio.


"Dia berbohong...dia yang lebih dulu mendorong ku...", Jawan Antonio berani.


"Tidak mungkin...anak tidak mungkin berbohong...pasti kau yang berbohong...dasar anak miskin tidak tau aturan...", ujarnya berganti menarik telinga Antonio hingga kesakitan.


"Nio", Aurora berlari menghampiri Nio dengan cemas, "... lepaskan, kenapa kau menyakitiku putra ku...", ujarnya melepas paksa tangan perempuan tadi.

__ADS_1


"Oh jadi kau ibu nya...pantas saja dia nakal sekali... ternyata benar-benar orang miskin...", ujarnya menghina.


Memang saat ini penampilan Aurora maupun Antonio terlihat biasa saja, namun jika di teliti lagi, setiap yang mereka berdua pakai adalah merk ternama dengan harga yang fantastis.


"Nio baik-baik saja...", tanya Aurora pada putranya, sekalipun Nio mengangguk bahwa dia baik-baik saja, tapi Aurora bisa melihat jika telinganya memerah.


"Orang miskin memang tidak tau sopan santun...", ujar perempuan itu lagi, saat Aurora tidak menanggapi nya.


"Nakal atau tidak nya anak-anak...bukan dari mereka kaya atau miskin...jadi jaga ucapan anda di depan anak kecil...", tegur Aurora kesal.


"Kenapa...kau tidak terima huh...anak mu itu yang nakal... dan mendorong anak ku hingga terjatuh...tapi malah tidak mengakuinya...", ujar perempuan lantang, namun Aurora justru mengernyit heran, jadi dia beralih menatap Antonio lagi.


"Sayang...katakan yang sebenarnya pada Mama...Nio ingat kan...apa yang slalu Mama ajarkan...", tanya Aurora lembut.


"Ingat...Anak yang baik adalah Anak yang tidak pernah berbohong...", jawab Antonio yakin, "...Tapi Nio tidak berbohong Ma...anak itu yang lebih dulu mendorong Nio hingga terjatuh...jadi Nio membalasnya dengan menakut-nakutinya...itu saja...dia terjatuh sendiri karena ketakutan...Nio tidak mendorongnya...", jelasnya.


"Nio di dorong...apa Nio terluka...", tanya Aurora memeriksa seluruh badan Antonio, lalu tanpa sengaja memegang sikunya yang terluka dan membuat putranya itu meringis kesakitan. "...tunggu sebentar...nanti Mama obati...", lanjutnya yang di angguki mengerti Antonio.


"Nyonya... lihatlah putra saya yang terluka...sedangkan putra anda baik-baik saja... bukankah itu berarti anak anda yang menyakiti putra saya...", ujar Aurora tegas setelah berdiri berhadapan dengan perempuan itu.


"Oh maksud mu anak ku berbohong...itu tidak mungkin... anak ku di didik dengan sangat baik di sekolah terkenal... memangnya anak mu yang tidak berpendidikan...", sarkas perempuan itu mengelak.


"Anak di didik bukan hanya di sekolah...tapi juga di rumah...sekalipun di didik di sekolah mahal atau terkenal...tapi kalau contoh di rumahnya tidak baik...dia juga akan menjadi anak yang tidak baik...", sarkas Aurora telak.


"Kau-


"Hey... bukankah anak ini terlihat familiar..."


"Sepertinya dia anak yang bersama Tuan Aprilio kemarin di acara peluncuran robot Bee..."


"Benar...dia anak yang sama"


Beberapa orang saling berbisik-bisik, membuat perempuan tadi terdiam sejenak ikut menelisik wajah Antonio.


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2