
Aurora memandang wajah tenang Antonio yang sedang terlelap. Sebenarnya, Masalah yang sedang di pikirkan Aurora, bukan hanya masalah perasaan Felix, tapi juga perasaan putranya, Aurora takut, jika bertemu dengan Ayah kandung nya nanti, akankah dia menerima Antonio, kalaupun dia mau, tapi belum tentu keluarga nya, apalagi status sosial mereka berbeda.
Banyak kecemasan dan pikiran buruk yang muncul di kepala Aurora. bagaimana kalau mereka akan mengambil Antonio dari nya. bahkan jika Auto menolak, mereka memiliki kemampuan untuk menuntut Aurora, tentu saja dengan kuasa dan uang yang mereka miliki.
"Maafkan Mama Nak... untuk saat ini...Mama tidak ingin kalian bertemu...Mama harus memastikan lebih dulu...apakah yang Mama pikir benar...atau salah..." gumam Aurora mengusap-usap kepala Antonio lembut.
Flashback
Aurora membersihkan kamar Antonio seperti biasa, walaupun Antonio punya pikiran yang pintar melebihi anak seusianya, tapi bagaimana pun dia tetap anak-anak, yang terkadang masih ingin melakukan sesuatu sesuai keinginan nya, mainan dan kertas-kertas berserakan.
Antonio memang suka sekali menggambar, bahkan lebih bagus dari anak seusianya, karena memang Aurora suka mengajari nya sejak kecil. entah kenapa, Aurora juga merasa suka sekali menggambar, atau mewarnai. jadi Aurora suka sekali menggambar bersama Antonio.
Aurora tersenyum melihat satu persatu lembaran gambar yang Antonio simpan, itu semua hasil gambar mereka selama ini. namun setelah beberapa lembar, sesuatu terjatuh dari tumpukan gambar yang Aurora pegang itu, Aurora mengernyit melihat apa yang terjatuh, itu seperti sebuah foto, Aurora memungut foto yang terbalik itu, dan betapa terkejutnya Aurora saat membalik nya, itu Foto yang dia cari, foto dirinya dan Aprilio.
"Ma..." panggil Antonio tiba-tiba membuka pintu kamarnya. kemudian terdiam saat tau Aurora menemukan foto yang dia sembunyikan.
"Kenapa foto ini ada pada mu Nio..." tanya Aurora datar.
"Nio tidak sengaja menemukan nya..." jawabnya jujur.
"sejak kapan" tanya Aurora.
"sudah lama...saat masih di desa... sebelum nenek meninggal..." jelas Antonio menghampiri Aurora.
"kenapa tidak mengatakannya pada Mama..." tanya Aurora lembut berjongkok sejajar dengan Antonio.
"aku pikir...Mama sengaja membuang nya..." jawab Antonio polos. "jadi biar Nio saja yang menyimpan nya..." lanjutnya.
"untuk apa Nio menyimpan nya..." tanya Aurora heran.
"bukankah ini adalah satu-satunya barang yang menghubungkan Mama dengan masa lalu...ini juga foto ayah kandung Nio kan..." tanya Antonio pura-pura tidak tahu, mendengar perkataan putranya, Aurora tentu saja terkejut tak menyangka.
"ba-bagaimana...Nio bisa berpikir seperti itu..." tanya Aurora gugup.
__ADS_1
"mukanya sama dengan ku..." jawab Antonio polos. "dan aku pernah tidak sengaja mendengar pembicaraan Mama dan Papa..." lanjutnya, membuat Aurora diam seribu bahasa.
"pembicaraan apa" tanya Aurora penasaran.
"saat itu...Papa mengatakan bahwa kemungkinan...pria itu tidak tau jika Mama Hamil..." Jelas bocah 5tahun itu polos. rasanya Aurora ingin menangis, namun dia tidak ingin Antonio khawatir.
"sayang...sudah lupakan saja...jangan di bahas lagi..." ujar Aurora memberi pengertian.
"kenapa..." tanya Antonio menatap Aurora.
"tidak apa-apa...lebih baik sekarang Nio tidur ya..." pinta Aurora mengusap pipi Antonio lembut. bocah 5 tahun itu pun akhirnya mengangguk mengiyakan.
Keesokan harinya
Felix datang seperti biasanya sebelum ke kantor, untuk sekalian sarapan, ataupun untuk sekedar menjemput Antonio dan Aurora, lalu mengantar Antonio ke sekolah lebih dulu, lalu ke kafe tempat Aera bekerja.
"kau tidak ke kantor" tanya Aurora bingung, saat membuka pintu, melihat Felix berpakaian santai, tidak seperti biasanya saat dia akan ke kantor.
"hari ini...aku akan pergi ke luar kota..." ucap Felix saat memasuki apartemen.
"Nicholas memintaku untuk menemui seseorang untuk negosiasi..." jelas Felix berbohong, sambil melangkah masuk, dan mencari Antonio, untuk memalingkan wajahnya dari Aurora.
"kok mendadak" tanya Aurora penasaran.
"iya...Nicholas baru mendapat informasi kemarin...dan kebetulan dia hari ini ada meeting penting...jadi dia meminta bantuan ku... makanya semalam aku lembur untuk menyiapkan materi nya..." jelas Felix panjang lebar, dia tidak sepenuhnya berbohong, Karena semalam dia memang lembur, tapi bukan menyiapkan materi pekerjaan, justru mempelajari tentang informasi seseorang.
"baiklah...apa kau sudah menyiapkan barang-barang mu" tanya Aurora.
"tidak perlu...aku pergi hanya sehari saja...dan Nicholas sudah menyiapkan tiket pesawat pulang pergi untuk ku...jadi aku tidak perlu menginap disana...", mendengar penjelasan Felix, Aurora mengangguk mengerti.
"lalu...jam berapa penerbangan mu... tidak apa-apa kalau mau pergi ke bandara sekarang... tidak perlu mengantar ku dan Nio..." ujar Aurora beruntun, membuat Felix terkekeh.
"tidak apa-apa Ra... penerbangan ku masih 2jam lagi...aku masih punya waktu untuk sarapan dan mengantar mu dan Nio...santai saja..." jawab Felix menyakinkan.
__ADS_1
"kau yakin...", Felix mengangguk menjawab pertanyaan Aurora, "baiklah... tunggulah di meja makan...aku akan memanggil Antonio..." lanjutnya Inggris beranjak, namun lebih dulu di cegah oleh Felix.
"tunggu Ra...biar aku saja yang memanggil Antonio..." Aurora mengangguk mengerti mendengar nya.
"baiklah...aku tunggu di meja makan...jangan lama-lama... nanti keburu dingin makanannya..." ujar Aurora tegas memperingatkan.
"oke...siap bos" jawab Felix sambil mengacungkan ibu jarinya dan bergegas ke kamar Antonio.
Di Kamar Antonio
"Hai jagoan" sapa Felix saat memasuki kamar bocah 5 tahun itu. ternyata Antonio tengah menyiapkan keperluan sekolah nya sendiri.
"Oh Papa sudah datang..." memeluk Felix, dan begitupun sebaliknya. "lho...Papa kok pakai baju santai...Papa tidak ke kantor..." tanyanya saat melihat pakaian yang di kenakan Felix.
"iya sayang...Papa harus ke luar kota...untuk bertemu dengan seseorang...", penjelasan Felix membuat Antonio mengernyit menatapnya.
"berapa hari...lalu bagaimana dengan pekerjaan Papa..." tanya bocah itu pintar.
"hanya sehari nak..." jawab Felix mengusap kepala Antonio sayang. "sebenarnya...Papa ingin menemui orang yang mungkin bisa memberitahu kita...apa yang terjadi pada Mama mu 6tahun lalu..." lanjutnya menjelaskan.
"benarkah...bagaimana bisa...jadi dia saksi nya...lalu Papa dapat informasi dari siapa..." tanya bocah pintar itu beruntun.
"bukan Papa...tapi...-
"oh aku tau Papa dapat informasi ini dari siapa..." sela Antonio, saat Felix susah untuk menjawabnya.
"iya...dari Aprilio..." ucap Felix akhirnya dengan mengusap gemas kepala putra yang sudah dia anggap seperti anak kandungnya sendiri itu, Antonio pun mengangguk mengerti, "nanti saat Papa pulang... Papa akan ceritakan semuanya... sekarang lebih baik kita sarapan... sebelum Mama mu marah..." lanjutnya bercanda.
"oke" jawab Antonio mengacungkan kedua jempol nya, melihat itu, Felix pun langsung mengangkat tubuh Antonio dan menggendongnya, tidak lupa membawa tas sekolah Nio, lalu kemudian beranjak keluar dari kamar Nio menuju meja makan.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**