Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 32.1


__ADS_3

Jika beberapa hari ini Aurora sibuk mengurus kediaman Moon, disisi lain ada Felix yang membantu di Travel Moon, seperti yang di katakan Nicholas sebelumnya, bahwa kemungkinan besar setelah mendapatkan Travel yang kembali, Aurora akan menyerahkan pada Felix, karena mau bagaimana pun, Aurora tidak mengerti masalah seperti ini.


"Baiklah semuanya...saya sudah mempelajari semua tentang Travel Moon beberapa hari ini...kerja sama yang lama maupun yang baru...", ujar Felix memulai meeting, "...saya tau...anda semua pasti meragukan kemampuan saya...saya juga tidak ingin menyombongkan kepercayaan yang di berikan Tuan Aprilio maupun Nyonya Aurora...dan anda semua juga bisa menganggap saya seperti pegawai lainnya...anggap saja saya hanya perantara untuk menyampaikan pendapat anda semua kepada Nyonya Aurora... begitupun sebaliknya...saya hanya perantara untuk menyampaikan perintah dari beliau... bagaimana...apa anda semua setuju...", lanjutnya.


"Setuju"


"Baiklah... untuk hari ini...cukup sampai sini saja...anda semua bisa kembali bekerja...", ujarnya.


Satu persatu semua orang meninggalkan ruang rapat, dan hanya menyisakan Felix dan seorang perempuan yaitu sekertaris nya.


"Haah", Felix menghela nafas lega menyandarkan punggungnya.


"Sudah lega ya", tanya perempuan yang bersama nya.


"Yah... meskipun belum selesai... setidaknya beban ku beberapa hari ini sedikit terangkat...", jawab Felix memejamkan matanya.


"Kamu tidak perlu khawatir Felix... Aprilio dan Nicholas pasti akan membantumu...", Felix membuka matanya perlahan mendengar nya.


"Iya aku tau...tapi mau bagaimanapun... mereka itu orang sibuk... mereka punya pekerjaan mereka sendiri... tidak mungkin selalu membantuku kan...", ujarnya.


"Meski mereka tidak bisa turun langsung membantumu... mereka pasti mengirim orang-orang kepercayaan mereka yang bisa membantu mu..."


"Benar...aku bersyukur untuk itu...dan... Terima Kasih Mel...", ujar Felix tulus, pada perempuan yang berada di sampingnya Melinda.


Benar, Melinda. Beberapa hari yang lalu, Nicholas sedang berbincang di telpon dengan Aprilio, mereka membahas masalah mencari sekertaris untuk Felix, dan kebetulan saat itu Melinda sedang berada di rumah Laura.


Flashback


"Sekretaris untuk Felix...", ujar Nicholas sengaja dengan nada tinggi.


"Ya...setidaknya biar ada yang membantunya disana..."


"Benar...lebih baik kita carikan gadis muda yang baru saja lulus... bagaimana menurutmu...", Melinda yang tidak jauh dari sana membulatkan matanya.


"Hey jangan macam-macam ya", pekik Melinda tidak terima, membuat Nicholas dan Laura terkekeh, sedangkan Aprilio hanya kebingungan mendengar nya.


"Kenapa...kalau Felix bekerja jadi direktur...dia butuh sekertaris kan...", jelas Nicholas pura-pura tidak tau.

__ADS_1


"Ya...tapikan tidak perlu gadis muda juga dong...", ujar Melinda kesal.


"Lalu...yang seperti apa... tante-tante...nanti malah di pikir Felix bekerja dengan ibu nya...", canda Nicholas membuat Aprilio yang masih di sambungan telpon terkekeh.


"Ya bukan gitu juga Nich...kau kan bisa carikan dia pria muda saja...", Nicholas menyalakan mode speaker ponselnya.


"Pria muda ya...bisa sih...tapi apa alasannya...apa kau takut kalau Felix nanti jatuh cinta pada sekertaris nya...", goda Nicholas membuat Melinda kelabakan.


"Ti-tidak"


"Sudah sudah...aku punya solusinya...", sela Aprilio, membuat keduanya terdiam.


"Solusi apa Lio"


"Bagaimana kalau Melinda saja yang jadi sekertaris Felix", Nicholas dan Melinda membulatkan mata terkejut.


"Lio jangan bercanda...dia jadi sekertaris...bukan membantu tapi malah menyusahkan...", ejek Nicholas bercanda.


"Nich... sudah jangan menggoda Mel terus...", sahut Laura.


"Iya kak...suami mu ini sepertinya punya dendam dengan ku...", sambung Melinda cemberut.


"Ya...aku tau...tapi bukankah itu akan menguntungkan untukmu Mel...bisa bekerja bersama Felix...dan aku juga akan memberikan gaji dua kali lipat dari gaji mu sekarang... bagaimana...", perkataan Aprilio membuat ketiganya membulatkan mata terkejut.


"Lio kau yakin...apa itu tidak masalah..."


"Tidak...asal Mel juga bersedia mempelajari semuanya... dan bekerja dengan serius...aku tidak keberatan memberikan gaji yang besar...",


"Tapi-


"Nich...biar Mel yang memutuskan...", cegah Laura


"Baiklah... terima saja... kalau kau ingin dekat-dekat dengan Felix...dan tidak ingin dia dekat dengan perempuan lain... tapi ingat...kau akan meninggalkan pekerjaan yang sudah kau pertahankan selama bertahun-tahun ini...jadi pikirkan baik-baik...", jelas Nicholas panjang lebar.


"Benar... pikirkan saja dulu Mel...jangan buru-buru... kalau kau sudah memutuskan...beritahu Nicholas atau aku...",


"I-iya aku mengerti... terima kasih..."

__ADS_1


"Baiklah kalau begitu...aku tutup telponnya..."


Flashback end


Back to story'


"Sama-sama Felix...aku kan juga masih belajar jadi sekertaris..."


"Iya...lalu apa yang membuatmu tiba-tiba banting stir menjadi sekertaris setelah menjadi desainer...", pertanyaan Felix membuat Melinda kelabakan.


"Ah itu...karena penawaran gaji dari Aprilio lebih tinggi dari gaji ku sebelumnya...", jawab Melinda berbohong dengan terkekeh.


"Astaga kau ini...", Felix ikut terkekeh mendengarnya.


"Tapi setidaknya dengan begini...aku bisa membantu Aurora...dulu... Aurora yang selalu membantuku...


sekarang...giliran ku yang membantu nya...", ujar Melinda tulus, Felix pun tersenyum menatapnya.


"Ya benar...aku pun begitu...", Felix berujar dengan menatap ke depan, "... semuanya bilang kalau aku yang membantu Aurora...padahal...selama 6tahun ini... Aurora yang banyak membantu ku...menemani Ibu ku... merawat dan menjaganya saat sakit... seperti menjaga ibu nya sendiri...aku bersyukur untuk itu...karena kalau tidak ada Aurora...aku sendiri...bingung harus bagaimana... di satu sisi beliau orang tua satu-satunya... sedangkan di sisi lain... aku juga harus bekerja mencari uang untuk biaya hidup...dan... Tuhan mengirimkan Aurora untuk membantuku...jadi...aku berharap kalian semua jangan terlalu banyak memberi ku...atau aku akan merasa bersalah...", jelasnya panjang lebar.


"Kenapa kamu merasa bersalah...kami melakukan ini semua bukan karena ingin balas budi padamu...tapi karena kamu sudah menjadi bagian dari kami...entah kamu mau menganggap kami hanya sebagai teman... atau syukur kalau kamu menganggap kami keluarga... bukankah keluarga harus saling bantu...", Ujar Melinda bijak, Felix pun tersenyum menatapnya.


"Mel...apa kau punya pacar ", tanya Felix tiba-tiba membuka Melinda membulatkan matanya.


"Ke-kenapa kamu tiba-tiba bertanya masalah itu...", tanya Melinda balik dengan gugup dan memalingkan wajahnya.


"Tidak apa-apa...kau ini kan cantik...pintar dan baik... masa tidak laki-laki yang mendekati mu...", jelas Felix santai, namun membuat Melinda kecewa, meski tidak mengatakannya, itu terlihat dari raut wajahnya.


"Entahlah aku tidak peduli", jawab Melinda ketus, "...lebih baik kita kembali bekerja...sebelum yang lain menganggap kita main-main...", lanjutnya beranjak pergi, namun terhenti saat ponsel Felix berbunyi.


Felix mengambil ponselnya di saku jas, Felix berdecak malas saat melihat siapa yang menghubungi nya, tentu saja hal itu memancing rasa penasaran Melinda.


"Siapa", tanya Melinda, tidak menjawabnya, Felix justru menunjukkan layar ponselnya yang terus berdering tanda panggilan masuk.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2