
"Kenapa bicara anda tidak jelas begini... bukankah saat di depan tadi anda bisa berteriak dengan lantang...", sarkas Tuan Dion.
"Nyonya Moon... seharusnya anda itu bersyukur dan memikirkan bagaimana caranya memenuhi kebutuhan hidup anda...bukan malah membuat keributan di sini...", sambung Aprilio santai.
"Ba-gaimana saya bersyukur saat suami dan putri saya di penjara...", ujar Natasya terdengar bergetar.
"Bersyukur nya itu... karena anda tidak ikut di penjara... mau bagaimanapun... Anda bisa saja ikut terseret karena di anggap sekongkol dengan suami Anda...atas kejadian kecelakaan Tuan Jhonny Moon 7tahun yang lalu...", jelas Tuan Dion serius.
"Ta-pi saya tidak tau...", jawabnya lemah.
"Ya...mungkin awalnya anda tidak tau...tapi setelah itu anda tau... tapi Anda memilih bungkam...karena sudah terbuai harta peninggalan beliau...iya kan...", sambung Aprilio mulai kesal.
"Benar...punya banyak uang terkadang membuat kita lupa diri...tapi...apapun yang bukan milik kita...suatu hari nanti...akan kembali pada pemilik yang sebenarnya... bukankah begitu Natasya Xuan...Putri Pertama dari Keluarga Xuan...Pemilik Restoran China paling besar puluhan tahun yang lalu... kemudian bangkrut karena kesalahan suami anda...dan membuat Ayah anda meninggal terkena serangan jantung karena syok...lalu Ibu Anda menjadi sakit-sakitan dan akhirnya meninggal... sedangkan adik anda... Natalie Xuan...menikah dengan putra Keluarga Yan...dari Negara X...dan memutuskan hubungannya dengan Anda...juga karena suami Anda... bukankah begitu...", penjelasan panjang Tuan Dion, membuat Natasya tak henti-hentinya terkejut. "...tidak perlu terkejut Nyonya...saya tidak akan setengah-setengah mencari informasi tentang seseorang...", lanjutnya.
"Wah wah...Papa memang hebat", ujar Aprilio bangga.
"Jika Anda mengenal Keluarga Victory... seharusnya anda sudah paham...apa konsekuensinya mengganggu siapapun atau apapun yang berhubungan dengan Keluarga Victory...", lanjut Tuan Dion menekankan.
"Sa-ya minta maaf Tuan... sejujurnya... saya melakukan ini karena putus asa...saya tidak punya siapa-siapa untuk saya mintai bantuan...bahkan semua orang-orang yang dulu baik dengan baik... sekarang mereka menjauh... dan saya juga malu jika meminta bantuan pada adik saya...", jelas Natasya sedih.
"Saya tau...maka dari itu saya meminta anda menemui saya... karena saya tau... anda dulu dari Keluarga yang terhormat... seharusnya anda adalah orang yang berpikiran terbuka...hanya saja...selama ini anda dituntut untuk menutup telinga dan mata anda hanya karena status sebagai seorang istri dan ibu...begitu kan...", Natasya mengangguk mengiyakan perkataan Tuan Dion.
"Tapi ternyata... pengorbanan saya selama ini sia-sia...", ujarnya kecewa
"Anda bertemu dan menikah dengan orang yang salah...", sarkas Aprilio menyela, namun Tuan Dion maupun Natasya tidak menyahuti nya.
"Sekarang... pikirkan baik-baik... jika Anda membuat masalah...dan berakhir di tahan juga...lalu apa yang akan kalian lakukan jika keluar nanti... bukankah lebih baik anda memikirkan cara bagaimana dan apa yang bisa anda lakukan untuk bertahan hidup...", ujar Tuan Dion bijak.
"Kesempatan seperti ini tidak datang dua kali...jika Anda tidak melakukannya sekarang...dan lain kali Anda membuat masalah dan mengganggu kami lagi...saya tidak akan berbaik hati seperti apa yang di lakukan Papa saya saat ini...", sambung Aprilio tajam.
"Saya Paham...saya janji tidak akan mengganggu atau membuat masalah lagi...te-
__ADS_1
"Berjanjilah juga... tidak akan muncul di hadapan kami lagi... terutama di depan Aurora...", potong Aprilio.
"Baik...saya janji... terima kasih Tuan Dion... Terima Kasih Tuan Aprilio...", ujar Natasya membungkuk.
"Ya...silahkan...antar Nyonya Moon...", ujar Tuan Dion mengangguk mengiyakan kemudian memerintah asisten nya.
"Kenapa Papa melakukan ini... bukankah lebih baik langsung menyerahkannya pada polisi...", tanya Aprilio saat Natasya sudah keluar ruangan.
"Dia kan tidak membuat masalah yang besar...jadi anggap saja Papa hanya memberikan teguran...", jawab Tuan Dion santai.
"Papa terlalu baik...pantas saja sering dimanfaatkan orang...", ujar Aprilio berdecak malas
"Benarkah...Papa tidak merasa seperti itu...", jawab Tuan Dion mengangkat bahunya acuh.
"Apa Papa lupa bagaimana is- ah perempuan yang sekarang berada di penjara itu memanfaatkan kebaikan Papa...", ujar Aprilio kesal.
"Papa melakukan itu bukan karena Papa baik...tapi Papa terlalu mencintai mendiang Mama mu...Papa hanya ingin melakukan apapun yang dia inginkan untuk membuatnya bahagia...", ujar Tuan Dion dengan tersenyum sedih, tentu saja hal itu membuat Aprilio merasa bersalah.
tring
Suara denting ponselnya membuat Aprilio mengalihkan perhatiannya, detik berikutnya dia tersenyum lebar saat mengetahui siapa mengirimkan pesan.
"Pa mau sarapan dengan ku...", tanya Aprilio kemudian pada Tuan Dion.
"Boleh...mau sarapan dimana...di kantin kantor atau di luar...biar Papa pesankan tempat nya...", ujar Tuan Dion.
"Tidak perlu...kita makan di ruangan ku saja...", jawab Aprilio santai.
"Oh mau delivery...biar Papa saja yang pesankan...kau mau apa..."
"Tidak perlu Pa...ada seseorang yang membawakan sarapan untuk kita...", jawab Aprilio.
__ADS_1
"Siapa...", tanya Tuan Dion, namun melihat ekspresi Aprilio yang hanya tersenyum, "...ah Papa tau...kalau begitu Papa tidak ikut...", lanjutnya setelah menebaknya.
"Kenapa begitu Pa...apa Papa benar-benar terjadi suka dengan Aurora...", tanya Aprilio penasaran.
"Siapa yang bilang kalau Papa tidak suka...Papa hanya takut membuat istri mu tidak nyaman...", jelas Tuan Dion serius, Aprilio pun mengangguk mengerti.
"Tapi Aurora sengaja kemari membawakan sarapan untuk ku dan untuk Papa...karena dia tau kita pergi tadi tanpa sarapan lebih dulu...masa Papa tega...",
"Baiklah...Papa tidak akan setega itu...", ujar Tuan Dion.
"Tapi Papa coba usahakan saat di depan Aurora jangan berekspresi terlalu galak... senyum sedikit...",
"Memangnya kenapa ekspresi Papa... bukankah biasanya juga begini...", tanya Tuan Dion kebingungan.
"Ya...kalau aku...Nicho atau anak buah kita... semuanya sudah biasa dengan ekspresi Papa itu...tapi kalau Aurora kan tidak...", jelas Aprilio, Tuan Dion pun menghela nafas pasrah.
"Baiklah...akan Papa usahakan..."
"Oke...kalau begitu ayo ke ruangan ku... Aurora pasti sudah sampai...", ajak Aprilio beranjak lebih dulu meninggalkan Tuan Dion.
"Jadi istri mu sudah datang sejak tadi...dan kau sudah menjemput nya...", pekik Tuan Dion kesal.
"Aku sudah meminta asisten Kim untuk menjemput nya...", jawab Aprilio santai sambil membuka pintu lalu di ikuti Tuan Dion yang hanya bisa menggelengkan kepalanya melihat tingkah Aprilio.
tok tok
cklek
"Tuan- lho siapa kamu..."
**Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**