Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 39


__ADS_3

Hari pernikahan


Halaman depan mansion keluarga Victory di penuhi dengan bunga putih dan biru muda hingga ke bagian halaman belakang, ada juga beberapa hiasan berbentuk bulan sabit, dan bintang.


Tepat di bagian tengah halaman belakang, terdapat sebuah tenda, di tengahnya sebuah kursi panjang berwarna biru navy, tidak jauh di depannya terbentang karpet merah panjang, lalu kursi-kursi yang berjajar di kanan kirinya.


Sedangkan di sisi yang lain, ada berjajar meja-meja yang sudah tertata bermacam-macam makanan dan minuman di atasnya, makanan berat, minuman segar, hingga berbagai makanan ringan.


Suara riuh para tamu yang sudah datang satu persatu, menambah suasana bahagia, memang tidak banyak, namun tawa mereka yang ikut bahagia atas pernikahan ini, menjadi sebuah pelengkap yang sempurna.


Tamu undangan hanya orang-orang terdekat, seperti keluarga Nicholas dan Laura, Melinda beserta orang tuanya, Felix, lalu beberapa orang yang lebih tua, mungkin kerabat jauh dari Aprilio, atau teman dari Papa atau mendiang Mama Aprilio, salah satunya Aunty Viola.


Suasana di luar yang riuh, berbanding terbalik dengan suasana di salah satu ruangan yang sudah di persiapkan untuk mempelai wanita berhias diri, terlihat dari banyaknya gaun, alat make up dan aksesoris, bahkan juga sepatu, namun hanya ada Aurora saja disana, karena orang yang membantunya, baru saja keluar setelah menyelesaikan semuanya.


tok tok


cklek


Pintu ruangan itu di ketuk lalu di buka seseorang


"Astaga...kamu cantik sekali Ra..."


"Benar...kamu tambah cantik Ra...", sambung Laura setuju dengan ucapan Melinda sebelumnya.


"Terima Kasih Mel...kak..."


"Coba berdiri Ra...aku ingin melihat mu seluruh badan... lalu aku akan mengambil foto untuk kenang-kenangan...", ajak Melinda membantu Aurora berdiri.


"Sekalian saja kita foto bertiga...", sela Laura.


"Bentar dulu Kak...aku ingin memotret dulu Aurora sendirian yang terlihat dari atas sampai bawah...biar terlihat gaunnya...", ujarnya mulai menyiapkan ponselnya.


"Oke oke...tapi setelah itu kita Selfi bertiga ya..."


"Iya iya", jawab Melinda fokus ke ponselnya. "...eh...ini gaun yang...-", Melinda tidak melanjutkan ucapannya saat Aurora lebih dulu mengangguk mengiyakan.


"Benar... rasanya aku benar-benar tidak menyangka bisa memakai gaun yang di desain ibu saat pernikahan ku sekarang...Terima Kasih Mel... ", ujar Aurora terharu.

__ADS_1


"Tidak perlu berterima kasih...aku tidak melakukan apa-apa...aku hanya membantu mu menyimpan desain itu...",


"Tapi kamu yang memberikan nya pada Aprilio Mel... sehingga aku bisa memakai gaun ini sekarang... padahal aku pikir desain nya hilang...jadi aku sudah menyerah... tapi ternyata malah terwujud seperti ini...", ujar Aurora sendu.


"Sudah sudah...ini hari bahagia...jangan sedih-sedih...", sela Laura mencoba mengalihkan pembicaraan. "...jadi ini hasil dari desain yang Melinda tunjukkan pada ku waktu itu...", lanjutnya memperhatikan gaun yang di kenakan Aurora.


"Benar Kak...bagus...eh bukan tapi cantik sekali kan kak... meski desainnya sederhana...namun sangat anggun saat di pakai...cocok dengan kepribadian Aurora...iya kan Kak...", ujar Melinda tulus dan di angguki Laura setuju.


"Akan semakin lengkap kalau di tambah dengan aksesoris yang cantik juga...", ucap Laura berjalan ke meja tempat aksesoris di simpan.


"Benar itu...tapi sepertinya tidak ada yang cocok dengan gaunnya...", sambung Melinda mengikuti Laura.


"Tidak perlu khawatir...aku sudah menyiapkan nya...", ujar Laura mengeluarkan sebuah kotak dari tasnya. "...ini... bukalah Ra...", lanjutnya menyerahkan kotak tadi.


Aurora terkejut setelah membuka kotak itu yang ternyata satu set perhiasan, kalung, anting dan gelang emas dengan hiasan bulan sabit dan bintang yang senada, terdapat pula berlian biru muda di tengahnya.


"Kak...ini pasti mahal...aku-


"Ssttt...ini bukan dari ku...", potong Laura lebih dulu, Aurora pun mengernyit kebingungan, namun kemudian beralih menatap Melinda.


"Bukan dari ku...mana mampu aku membeli set berlian seperti itu...", jawab Melinda menggelengkan kepalanya buru-buru.


"Dari Tuan Dion...Papa mertua mu...", jelas Laura akhirnya.


"Papa... untuk apa...", tanya Aurora polos.


"Tentu saja sebagai hadiah...masa untuk di jual...", canda Melinda.


"Bukan begitu...ini terlalu mahal...lalu kenapa bukan Papa sendiri yang memberikan nya pada ku...",


"Entah apa alasannya...mungkin saja beliau takut kamu akan menolak kalau beliau yang memberikan sendiri... jadi beliau meminta bantuan ku dan Melinda...", jelas Laura panjang lebar.


"Sudah...jangan berpikiran buruk...mungkin saja beliau hanya ingin memberi mu hadiah...jadi ambil saja sisi positifnya... bukankah ini berarti beliau sudah menerima mu sepenuhnya...", sambung Melinda, yang di angguki setuju oleh Laura.


"Benar juga... seharusnya aku bersyukur...bukan malah mengeluh seperti ini..."


"Sudah...ayo kami bantu pakai... setelah itu kami harus keluar sebentar untuk memeriksa semuanya...", ujar Laura, membantu Aurora duduk kembali, kemudian memasangkan set perhiasan tadi.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian


"Felix...Nio...",


"Oh Mel...kapan kamu datang...", balas Felix menggandeng Antonio mendekat ke arah Melinda yang tengah bersama dengan kedua orang tuanya.


"Aku sudah datang sejak tadi...tapi tadi aku dan kak Laura melihat Aurora sebentar... sekalian memberikan hadiah dari Tuan Dion...", jelas Melinda antusias.


"Oh begitu...pantas saja aku tidak melihat mu sejak tadi...", ujar Felix.


"Apa kamu baru saja kemari...",


"Iya...aku sudah datang sejak tadi...tapi aku membantu Antonio bersiap dulu di kamarnya...", jelas Felix,


"Oh Nio keponakan Tante...tampan sekali hari ini...", sapa Melinda pada Antonio.


"Memangnya kemarin-kemarin Nio tidak tampan Tante...",


"Bukan begitu sayang...Tampan kok...tapi hari ini kamu lebih tampan...", puji Melinda.


"Terima Kasih Tante..."


"Sama-sama sayang...lalu...Tante cantik tidak hari ini...", tanya Melinda dengan sedikit bergaya.


"Eem...biasa saja...", jawaban Antonio membuat Felix terkekeh, begitupun kedua orang tua Melinda, namun tidak dengan Melinda yang cemberut. "...bercanda... Tante cantik sekali kok hari ini...", lanjutnya memuji.


"Terima Kasih sayang...", ucap Melinda kegirangan.


"Mel...jaga sikap mu...", suara panggilan Ayahnya membuat Melinda menghentikan tawa dan tingkah nya.


"Iya Yah...Maaf", ujarnya takut, namun hal itu membuat Felix diam-diam tersenyum, bagaimana tidak, Melinda yang biasanya garang pada semua orang, sekarang terlihat tunduk pada Ayahnya, menurut Felix itu lucu.


"Jadi...ini yang namanya Felix"


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2