
Clara begitu terkejut saat melihat sebuah tangan lain memegangi tangan nya, apalagi sejak tadi Clara hanya fokus menatap Aprilio, mungkin seseorang baru saja masuk ke ruangan ini, tanpa Clara sadari, itulah pemikiran nya.
Dengan perlahan Clara menatap ke arah punggung tangan itu, terus keatas hingga matanya langsung bersinggungan dengan mata seseorang.
"K-ak Lio...", Clara bergetar terkejut, "...Kakak sudah sadar... aku akan panggilkan dokter...", ujarnya ingin pergi dari sana, namun Aprilio masih tetap memegangi tangan Clara, bahkan semakin kuat.
"Kau bisa lolos 6tahun lalu...tapi kali ini...aku tidak akan melepaskan mu...", ujar Aprilio dengan nada rendah dan dingin.
"Kakak tau kan aku melakukan itu semua karena aku mencintai Kakak...aku tidak ingin ada orang lain yang merebutmu dari ku...", elak Clara membela diri, membenarkan apa yang dia lakukan.
"Tidak...kau tidak mencintai ku...kau hanya terobsesi padaku...jadi bedakan antara Cinta dan Obsesi...", jelas Aprilio tegas, "...semua yang kau lakukan... tidak akan pernah...bisa membuat ku jatuh cinta pada mu...malah aku semakin muak dengan semua tingkah mu...asal kau tau...", lanjutnya dengan penuh penekanan.
Clara menatap Aprilio dengan menggeleng, tidak percaya dengan apa yang di katakan pria yang selama ini dia cintai itu, bahkan air matanya sudah mengalir, walau bagaimanapun, Clara tetaplah perempuan biasa, yang memiliki perasaan kecewa dan sakit hati.
Clara kembali mencoba menarik tangannya dari genggaman Aprilio, kembali menatap pria itu memohon agar melepaskan tangannya, namun Aprilio tak bergeming sedikitpun, bahkan tak mengatakan apapun.
Hingga beberapa saat kemudian terdengar suara derap langkah kaki, dan pintu di buka dengan lebar dari luar, pelakunya adalah Nicholas, lalu di susul Aurora dan Felix di belakangnya.
"Kurang ajar...beraninya kau masuk kesini hah...", geram Nicholas menarik tubuh Clara menjauh dari Aprilio, sedangkan Aurora langsung ke arah Aprilio untuk melihat keadaannya.
"Kamu tidak apa-apa...", tanya Aurora khawatir, yang di angguki Aprilio lemah dengan di iringi senyuman.
"Kau benar-benar perempuan gila...", pekik Nicholas terlihat begitu marah, dan langsung menarik Clara keluar dari ruangan Aprilio, bahkan sampai tidak menyadari keadaan sahabat nya itu.
"Ra... bagaimana Tuan Aprilio bisa kebetulan sadar seperti ini...apa sebelumnya memang sudah sadar...", tanya Felix kebingungan setelah melihat Nicholas keluar membawa Clara, dan dia menutup pintu kamar itu.
"Menurut mu...", Aurora balik bertanya setelah saling pandang sesaat dengan Aprilio dan tersenyum.
"Jadi Tuan Aprilio sudah sadar sebelumnya...kapan...trus kenapa kau tidak bilang pada kami Ra...", ujar Felix terkejut tidak percaya.
"Aku-
braakk
Pintu ruangan kembali terbuka lebar dengan pelaku yang sama, Nicholas masuk dengan terburu-buru dan langsung berdiri tepat di depan Aprilio, bahkan matanya membulat sempurna karena terkejut.
"Sejak kapan kau sadar...", tanyanya kemudian, Aprilio pun tersenyum dan berusaha untuk duduk, tentu saja hal itu membuat Aurora dan Nicholas refleks mendekat untuk membantunya, begitupun dengan Felix yang mendekat namun berhenti saat merasa dirinya tidak seakrab kedua orang itu dengan Aprilio.
"Tadi pagi", jawab Aprilio singkat setelah menyandarkan tubuhnya di kepala tempat tidur.
Flashback On
"Lio", Aurora buru-buru menatap ke arah Aprilio setelah dia merasakan jika tangan Aprilio bergerak. "...Lio kamu sadar...", Aurora beranjak dari duduknya dan memastikan Aprilio yang perlahan membuka matanya.
Dengan air mata yang mengalir, Aurora menyematkan senyuman bahagia, begitupun Aprilio yang langsung tersenyum saat mengetahui siapa orang yang berada di depannya saat ini.
"Aurora", ujar Aprilio lemah, dengan senyuman yang semakin mengembang, Aurora menganggukkan kepalanya berkali-kali menjawab pertanyaan Aprilio.
__ADS_1
"Iya...ini aku... akhirnya kamu sadar... terima kasih Lio... terima kasih...", Aurora langsung memeluk tubuh lemah Aprilio dengan mengucapkan terima kasih berkali-kali.
"Sshhh", Aprilio mendesis kesakitan saat pelukan Aurora mengenai luka di dada kirinya.
"Ah maaf...apa sakit sekali...aku akan panggilkan dokter...", ujar Aurora merasa bersalah, dan ingin buru-buru beranjak pergi memanggil dokter, namun tangannya lebih dulu di tahan oleh Aprilio.
"Kenapa...aku ingin panggil dokter sebentar...", tanya Aurora bingung.
"Tunggu sebentar Ra...aku ingin bertanya sesuatu pada mu...", ujar Aprilio lemah.
"Tanya apa...", Aurora kembali berdiri di dekat Aprilio dengan tangan yang masih di genggam pria itu.
"Berapa hari aku tidak sadarkan diri...", Aurora semakin mengernyit heran dengan pertanyaan Aprilio.
"Em... kira-kira hampir satu Minggu...", jawab Auroran akhirnya meskipun masih bingung.
"Apa semuanya baik-baik saja...apa tidak ada sesuatu yang terjadi saat aku terbaring disini...", tanya Aprilio dengan wajah yang terlihat jelas khawatir.
"Oh... semuanya baik-baik saja kok...", jawab Aurora berbohong.
"Jangan bohong Ra...aku paling tau dengan kehidupan di sekitar ku...bahkan yang terjadi 6tahun lalu... membuat ku kehilangan banyak hal...jadi kali ini aku tidak ingin terlambat lagi untuk mengatasinya...", jelas Aprilio yakin.
"Maaf...aku pikir...lebih baik kamu tidak tau apa-apa...supaya kamu bisa fokus untuk kesehatan mu saja Lio...", jawab Aurora menunduk, melihat itu Aprilio langsung menarik Aurora agar duduk di sampingnya.
"Ra...kamu tidak salah...hanya saja...aku harus seperti ini... untuk melindungi orang-orang yang aku sayangi...terutama kamu dan Nio...aku tidak ingin kehilangan kalian lagi...", jelas Aprilio sendu, Aurora pun mengangguk mengerti.
"Jadi-
"Tunggu sebentar", ujar Aurora melihat ponselnya berdering. "...Nio...", lanjutnya setelah mengetahui siapa yang menghubungi nya, dan Aprilio mengangguk untuk mengijinkan Aurora menjawabnya.
"Iya sayang...ada apa...", tanya Aurora lembut menjawab panggilan dari Antonio.
"Paman Aprilio sadar ya Ma...", pertanyaan Antonio dari seberang sana mampu membuat Aurora terbelalak kaget, tentu saja itu membuat Aprilio mengernyit heran menatap nya.
"Bagaimana Nio bisa tau kalau Paman Aprilio sudah sadar...", ucapan Aurora kali ini membuat Aprilio terkejut dan refleks memeriksa sekeliling hingga matanya menangkap sebuah kamera CCTV di sudut ruangan.
"Nio di minta uncle Nicho untuk meretas CCTV rumah sakit dan sekitarnya...jadi Nio sedang memantau nya...", jelas bocah 5tahun itu santai.
"Sini...biar aku yang bicara dengan Nio...", ujar Aprilio meminta Aurora memberikan ponselnya, tanpa pikir panjang Aurora memberikan nya.
"Nio...ini Paman Aprilio...", sapa Aprilio lembut.
"oh Paman Lio...apa Paman baik-baik saja... apa sekarang Nio boleh ke sana menjenguk Paman Lio...", tanya Antonio beruntun, membuat Aprilio tersenyum.
"Boleh...tapi... bisakah Paman meminta bantuan Nio...", tanya Aprilio dengan sesekali menatap Aurora.
"Tentu...jadi apa yang bisa Nio bantu..."
__ADS_1
"Anak Baik... Jangan bilang siapa-siapa kalau Paman sudah sadar... mengerti...", Aurora mengernyit heran dengan perkataan Aprilio, sepertinya begitu juga Antonio, namun kedua memilih untuk diam dan menyetujui saja apa yang di minta Aprilio.
"Baiklah...apa uncle Nicho juga...lalu Kakek..." tanya Nio lagi.
"Semuanya...ini rahasia... yang tau hanya Nio...Mama... dan Paman... mengerti kan...", Aprilio berujar begitu lembut dan sayang membuat Aurora diam-diam tersenyum.
"oke...Nio mengerti...kalau begitu...Nio anggap tidak melihat apapun...", Aprilio terkekeh mendengar suara Antonio yang penuh keyakinan.
"Terima Kasih Nio...nanti kalau Paman sudah sembuh total...Paman janji akan memberikan Nio hadiah...", ujar Aprilio tersenyum lebar.
"Iya...Nio tunggu...Paman tidak boleh ingkar janji..."
"Iya iya...Paman janji...kalau begitu Paman tutup ya...bye Nio..."
"bye bye Paman"
"Ra...kamu dengar kan apa yang aku katakan pada Nio...", ujar Aprilio menyerahkan kembali ponsel Aurora, yang kemudian di balas anggukan oleh Aurora sebagai jawaban pertanyaan Aprilio, "... rahasia kan kalau aku sudah sadar...dan sekarang ceritakan apa rencana yang di buat Nicholas...", lanjutnya.
"Aku mengerti...", jawab Aurora menyimpan ponselnya. "...aku tidak tau pastinya untuk masalah yang lain...tapi yang aku tau... sekarang Nicholas dan Felix sedang memancing Clara untuk melakukan sesuatu agar kita bisa menangkap nya...", jelas Aurora.
"Clara...bukannya di sudah di penjara...", Aprilio terkejut tidak percaya.
"Tidak...kata Nicho...dia di bebaskan waktu itu dengan jaminan besar...tapi...di saat Antonio di culik waktu itu...aku hampir tertabrak mobil...-
"Apa...tapi kamu tidak apa-apa kan...", sela Aprilio terkejut, mengeratkan genggaman tangannya.
"Aku tidak apa-apa...tapi aku juga bersyukur... karena kejadian itu...aku bisa kembali mengingat semuanya...", Aurora mengusap punggung tangan Aprilio untuk menenangkan.
"Lalu apa hubungannya dengan Clara...", tanya Aprilio penasaran.
"Awalnya...aku pikir itu hanya kecerobohan ku saja yang menyebrang sembarangan...tapi... menurut Felix itu aneh... karena mobil itu berhenti...tapi pengemudi nya tidak turun... untuk sekedar meminta maaf...ataupun melihat keadaan ku... menurut nya itu mencurigakan...-
"Benar...itu mencurigakan", sela Aprilio marah.
"Jadi Felix meminta tolong Nicholas untuk meretas CCTV di depan kafe hingga sepanjang jalan yang di lewati mobil itu...dan-
"Dan...kemana tujuannya...hm", Aprilio benar-benar tidak sabaran.
"Mobil itu menuju ke kediaman keluarga Chen...", Aprilio membulatkan matanya tidak percaya dengan ucapan Aurora baru saja.
"Clara Chen...", geram Aprilio marah, "... sekarang apa rencana nya...", lanjutnya bertanya.
Aurora pun menceritakan semua rencana yang di susun Nicholas, mereka akan membuat semuanya terjadi secara natural, menurut Nicholas, sasaran Clara adalah Aurora, jadi dia akan menempatkan banyak pengawal yang mengawasi Aurora dari jarak jauh.
**Flashback Off
Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**