
Beberapa Jam Kemudian
tringgg
Suara lonceng terdengar saat seseorang membuka pintu, membuat beberapa orang yang berada di sana mengalihkan perhatiannya ke arah pintu.
"Eoh Lio...", ujar Aurora saat mengetahui jika Aprilio yang datang, "...bukankah biasanya masih 1jam lagi kamu pulang kerjanya...", lanjutnya menghampiri Aprilio.
"Pekerjaan ku sudah selesai...jadi aku langsung kemari...", jawab Aprilio memberi Aurora pelukan singkat. "... bagaimana pekerjaan mu hari ini...", lanjutnya menatap Aurora.
"Hampir selesai...kita tadi sudah selesai membeli semua bahan-bahan...hanya tinggal merapikannya saja...", jawab Aurora antusias.
Benar, beberapa hari ini Aurora sibuk di kafe, belum di buka kembali, Aurora hanya merapikan dan membersihkan setiap sudut, dan mengganti bahan-bahan makanan yang sudah rusak, namun Aurora juga tidak lupa mencoba membuat beberapa resep masakan baru untuk dia masukan list daftar menu.
"Lalu...apa ada yang perlu aku bantu...", tanya Aprilio perhatian.
"emm...", Aurora berpikir sejenak, "...ada...tunggu...kamu duduk dulu disitu...aku akan segera kembali...", lanjutnya setelah menunjuk sofa yang tidak jauh di belakang Aprilio, lalu beranjak ke arah dapur dengan sedikit berlari seperti anak kecil, Aprilio pun tersenyum melihatnya.
Setelah Aurora pergi, Aprilio berjalan menghampiri dua pekerja perempuan yang salah satu nya adalah orang yang Aprilio rekrut untuk bekerja di kafe Aurora. sedangkan lainnya adalah teman Melinda yang sedang membutuhkan pekerjaan.
"Tuan...", ujar mereka hampir bersamaan saat Aprilio mendekati mereka.
"Bagaimana Shan...apa semua berjalan lancar... tidak ada kendala apapun kan...kalau ada masalah apapun...cepat hubungi saya...", ujar Aprilio pada pekerja berambut pendek yang dia rekrut.
"Baik Tuan...", jawab gadis bernama lengkap Shandra itu.
"Bagus...", setelah mengucapkan itu, Aprilio berbalik ke arah sofa yang di tunjuk Aurora tadi, tanpa sedikitpun menatap atau melirik pekerja lainnya.
Begitulah Aprilio, siapapun yang dia temui, entah perempuan atau laki-laki, kalau dia merasa tidak ada hubungan dengan nya, dia akan bersikap acuh tak peduli, bahkan dia tidak pusing meski di bilang sombong.
"Lio...lihatlah...apa yang aku buat untuk menu baru...", ujar Aurora antusias membawa nampan dan sebuah mangkuk kecil. "... silahkan di coba...", lanjutnya meletakkan di meja depan Aprilio.
"Ice cream...", tanya Aprilio heran, namun Aurora hanya mengangguk mengiyakan.
"Coba dulu Lio...", pinta Aurora dengan langsung duduk di samping Aprilio, menghela nafas sejenak, Aprilio pun mau tidak mau mencobanya.
__ADS_1
Ya tentu saja, orang seperti Aprilio, mana mungkin menyukai makanan manis seperti ice cream, namun rasanya dia tak kuasa menolak nya, atau nanti Aurora akan marah padanya.
"Bagaimana...", tanya Aurora saat Aprilio memasukkan sesendok ice cream ke mulutnya. "...enak apa tidak...", lanjutnya antusias.
"Enak...rasa buah dan tidak terlalu manis...", jawab Aprilio cukup puas dengan rasanya.
"Tentu saja...aku tidak menambahkan gula... manisnya itu langsung dari buahnya...jadi tidak merusak gigi anak kecil...dan cocok untuk orang dewasa yang tidak suka manis seperti mu...", Aurora menjelaskan dengan begitu berbinar bahagia.
"Lalu... rasa apa saja yang sudah kamu buat...", tanya Aprilio.
"Baru beberapa...mangga... blueberry... stroberi...dan ini... Alpukat...", jawabnya menunjukkan ice cream yang di berikan ke Aprilio tadi.
"Kenapa tidak coba yang ice cream dari susu...jadi ada pilihan rasa coklatnya...karena sepertinya...sebagian pecinta ice cream...pasti suka yang rasa coklat...", Aurora mengangguk setuju dengan perkataan Aprilio.
"Iya sih...tapi aku masih belum mencobanya...karena aku pikir... kalau ice cream susu...pasti sudah banyak yang jual... sedangkan kalau ice cream buah masih jarang yang jual... ada sih...tapi jarang...iya kan...", kali ini, Aprilio yang mengangguk mengerti apa yang Aurora maksud.
"Benar...aku mengerti maksud mu...jadi kita coba jual ice cream buah dulu...kalau respon nya baik...kita coba varian lain... bagaimana...", saran Aprilio bijak.
"Setuju sekali...", jawab Aurora antusias.
"Iya aku mengerti...", Aurora tersenyum menatap Aprilio.
"Baiklah... selesaikan pekerjaan mu...aku akan menunggu di sini...", ujar Aprilio setelah membalas senyuman Aurora.
"Oke...aku akan selesaikan secepat mungkin...biar kamu tidak terlalu lama menunggu...", ujar Aurora kemudian bergegas kembali ke dapur, tapi sebelum itu Aurora menghampiri kedua pekerja untuk mengatakan sesuatu.
Beberapa Menit Kemudian
"Jadi...apa yang sebenarnya ingin kamu katakan pada ku Lio...", tanya Aurora tiba-tiba, saat ini keduanya sudah berada di dalam mobil dan baru saja Aprilio melajukan mobilnya.
"Kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu...", tanya Aprilio mengernyit heran.
"Tidak apa-apa...aku hanya merasa kalau ingin membicarakan sesuatu yang penting dengan ku...", Aprilio tersenyum mendengar perkataan Aurora.
"Sepertinya...hati mu sudah benar-benar menyatu dengan hati ku...bahkan juga pikiran ku...kau tau apa yang aku pikirkan...tanpa aku memberitahumu...", jawab Aprilio terkekeh.
__ADS_1
"Sudah jangan gombal...katakan apa yang ingin kamu katakan...", ujar Aurora menyembunyikan wajahnya yang merona.
"Iya iya sabar...kita cari tempat untuk bicara...", Aprilio tersenyum karena tau kalau Aurora hanya ingin mengalihkan pembicaraan.
Setelah beberapa menit, Aprilio menghentikan mobilnya di pinggir sebuah Danau buatan, yang di memang untuk umum, hanya saja karena masih hari kerja, maka tak banyak pengunjung, apalagi sekeliling nya di penuhi dengan pepohonan, bahkan di permukaan danaunya ada tanaman seperti teratai dan Lotus dengan warna bunganya yang indah, menenangkan pikiran.
Keduanya tidak langsung berbicara, namun sama-sama memandangi langit yang sedikit mendung dan danau yang begitu indah, menyegarkan mata, meskipun di luarnya ada banyak bangunan yang tinggi-tinggi dan kendaraan yang padat, sungai ini tetap tenang dan bersih.
"Aku tidak menyangka...hanya memandang sungai ini saja...bisa sedikit membantu menenangkan pikiran ku...", ujar Aurora tiba-tiba.
"Benarkah...", tanya Aprilio.
"Ya...ternyata ada tempat yang indah seperti ini di tengah kota...", lanjut Aurora berbinar.
"Benar...setidaknya tempat seperti ini bisa untuk menyeimbangkan mood orang-orang yang sibuk bekerja seharian...dan anak-anak yang sibuk belajar...", sambung Aprilio setuju.
"Tapi...kalau untuk CEO perusahaan besar seperti mu... apa ini membantu... aku rasa tidak...", ujar Aurora bercanda.
"em...sedikit membantu sih...tapi itu tergantung dengan siapa kita kemari... sendirian...dengan teman... atau dengan orang yang kita cintai...aku rasa...yang terakhir lebih ampuh... seperti yang aku rasakan saat ini...", ujar Aprilio tersenyum menggoda.
"ck mulai lagi deh gombalnya...", ujar Aurora berdecak malas, "...sepertinya akhir-akhir ini...kamu bukan sibuk kerja di kantor...tapi sibuk belajar kata-kata gombal...iya kan...", lanjutnya memicingkan matanya pada Aprilio.
"Tidak...untuk apa aku harus belajar...aku kan sudah pintar...", jawabnya santai, membuat Aurora terkekeh mendengarnya.
"Astaga...aku sampai tidak bisa berkata-kata lagi...", Aurora tak habis pikir dengan pria di sampingnya ini, kepercayaan diri nya terlalu tinggi, ya...walaupun memang dia berhak sombong karena memiliki banyak hal yang mungkin orang lain tidak miliki. "...oke oke...lebih baik sekarang kita bicara tentang masalahnya yang ingin kamu katakan saja...", lanjutnya.
"Lio...ada apa...kenapa kamu diam saja...apapun itu katakan saja...", Aurora kembali bertanya, karena Aprilio tidak langsung menanggapi pertanyaannya.
"Em Ra...apa Ayah mu pernah memberi sebuah kunci... seperti kunci brankas atau apapun...", pertanyaan Aprilio yang langsung membahas tentang mendiang sang Ayah, membuat Aurora sedikit terkejut dan tertegun.
"Ayah...
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**