
Hari berganti, namun saat ini waktu masih menunjukkan pukul 7 pagi, tapi Aurora dan Aprilio sudah berada di mobil dalam perjalanan ke suatu tempat.
Membawa kunci yang mereka temukan kemarin, Aurora dengan tidak sabar ingin segera membawanya ke Bank yang di maksud Aprilio, setidaknya untuk menanyakan kunci itu benar atau tidak.
Aprilio sempat mengingatkan untuk tidak terburu-buru, namun Aurora memohon, agar semuanya cepat selesai, jadi akhirnya Aprilio menyetujui, bahkan hingga membatalkan seluruh jadwal pekerjaan nya hari ini.
Flashback
"Ketemu...", pekik Aurora menunjukkan dua buah kotak musik, membuat kedua pria itu refleks beralih menatapnya, kemudian mendekat ke arah Aurora.
"Ini kotak musiknya...", tanya Aprilio yang di angguki Aurora yakin. "...kotak musik model seperti ini...sudah lama tidak di produksi lagi...", lanjutnya.
"Bagaimana kamu tau...", tanya Aurora.
"Aku juga punya yang hampir mirip seperti ini...milik mendiang Mama ku...yang membedakannya adalah pahatannya hanya di setiap sudut dan ukiran nama di balik tutupnya...", jelas Aprilio.
"Jadi maksudnya...ini adalah kotak musik buatan tangan... dan sekarang sudah tidak ada pengerajin yang bisa membuat nya lagi begitu...jadi kemungkinan ini juga barang langkah dan mahal...", sambung Felix.
"Kalau pengerajin nya...mungkin masih ada...tapi tidak sebanyak dan semudah dulu mendapatkan nya...jadi menurut ku...Ayah Aurora sengaja mencari langsung pengerajin nya...dan memintanya membuat kotak musik yang sama...dan tentu saja dengan harga yang tidak murah...", penjelasan Aprilio di angguki setuju oleh Aurora dan Felix.
"Lalu...dimana letak kuncinya...", tanya Felix yang membuat Aurora segera menatap salah satu kotak musik nya.
"Ra...sini berikan pada ku dua-duanya...biar aku cek dulu...", pinta Aprilio, dan Aurora pun langsung memeriksa keduanya. "... keduanya sama persis...yang membedakan hanya ukiran nama dan tuas pemutar di belakangnya...", lanjutnya menjelaskan.
"Benarkan Lio...coba kamu lihat... simbol bulan sabit itu seperti sengaja di buat...apalagi...selama ini Ayah selalu memujiku seperti itu...", ujar Aurora sendu, lalu sejenak menghentikan ucapannya untuk menghela nafas berat, "...katanya...bulan adalah marga keluarga kami... sedangkan bulan sabit adalah Aurora... karena kata Ayah senyum ku terlihat seperti bulan sabit...", lanjutnya.
Aprilio meletakkan kotak musik yang ada di tangan nya, kemudian mengusap punggung Aurora untuk menenangkan, sedangkan di sisi lain, Felix hanya mampu menatap Aurora dengan turut bersedih, namun tak bisa langsung menenangkannya.
"Ra...kamu jangan sedih...kamu harus ingat terus apa yang di katakan Ayah mu...di balik kata-katanya ada pesan yang tersirat...kalau kamu harus tetap tersenyum...Hm", ujar Aprilio, Felix pun ikut mengangguk menyetujui.
"Benar...mulai sekarang...aku tidak boleh sedih lagi... karena Ayah dan Ibu...pasti akan ikut sedih di sana...", ujar menguatkan hati.
"Baiklah kalau begitu...biar aku coba lepas tuas nya ya...", tanya Aprilio lembut, Aurora pun mengangguk mengiyakan.
Awalnya aprilio mencoba memutar seperti pada umumnya, namun kemudian dia mencoba memutar tuas itu ke arah sebaliknya, dan...klik, Aurora dan Felix membulatkan mata antusias, suasana semakin tegang saat Aprilio menarik keluar tuas itu, dan benar saja...tuas itu jadi terlihat seperti sebuah kunci.
"A-apa...ini benar-benar kuncinya Lio...", tanya Aurora terbata saat menerima kunci yang di berikan Aprilio.
"Sepertinya begitu...",
"Kalau begitu...besok pagi kita langsung ke Bank...aku ingin menanyakan ini benar kuncinya atau bukan...", ujar Aurora antusias.
"Ra...Jangan terburu-buru...lebih baik-
"Tapi Lio...aku ingin memastikan dan menyelesaikan semuanya secepat mungkin...aku mohon...antarkan aku besok Lio...", ujar Aurora memohon, hal itu membuat Aprilio menghela nafas pasrah.
__ADS_1
"Baiklah"
Flashback end
"Kenapa Bank nya cukup jauh...", tanya Aurora
"Sebentar lagi sampai...memang cukup jauh jika dari mansion...tapi sepertinya cukup dekat...jika dari kediaman keluarga Moon...iya kan...", jawab Aprilio sambil menyetir.
"ah Benar juga..."
Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah bangunan yang cukup tinggi, tapi dengan halaman parkir yang cukup luas.
"Kita sudah sampai"
"oh Apa ini Bank nya...kenapa dari luar tidak terlihat seperti Bank pada umumnya...", tanya Aurora heran.
"Karena Bank ini memang bukan seperti Bank kita menyimpan uang pada umumnya...", jelas Aprilio. "...Bank ini tempat orang-orang menyimpan dokumen...emas... atau barang berharga lainnya...", lanjutnya.
"ah aku mengerti..."
"Ayo kita masuk "
Saat memasuki Bank, mereka di sambut oleh meja resepsionis seperti kantor pada umumnya, seorang resepsionis wanita memberikan senyuman ramah untuk mereka, jadi Aurora dan Aprilio pun dengan ramah juga bertanya.
"Saya ingin mengambil barang...", ujar Aurora.
"Baiklah...kalau begitu atas nama siapa...biar saya cek dulu...", tanya resepsionis.
"Bukan nama saya...tapi atas nama mendiang Ayah saya Jhonny Moon...apa bisa...", jelas Aurora sambil sesekali menatap Aprilio.
"Jhonny Moon...apa anda yakin...", tanyanya mengulang
"Iya benar...kenapa...apa ada yang salah...", sela Aprilio lebih dulu dengan menatap resepsionis itu.
"Ti-tidak...hanya saja...selama saya bekerja di sini...saya tidak pernah mendengar nama itu...", elaknya cepat.
"Karena memang sudah lama...Ayah saya juga sudah meninggal...mungkin anda juga pegawai baru disini...jadi tidak tau...", sarkas Aprilio tegas.
"ah Be-nar...maaf kan saya...biar saya cek...", resepsionis itu terlihat ketakutan, hal itu membuat Aurora segera menenangkan Aprilio agar tidak emosi.
"Benar ada...kalau begitu...anda bisa ke salah satu meja teller untuk mengisi identitas... setelah itu anda akan di antar ke manager siapa dan lantai berapa...", jelas resepsionis itu kembali ramah.
"Baiklah... terima kasih"
30 menit kemudian
__ADS_1
Aurora dan Aprilio baru saja keluar dari Bank dan menuju mobil mereka, namun Aprilio sempat berhenti sejenak untuk memperhatikan sekeliling.
"Ada apa Lio..."
"Tidak ada apa-apa", Aprilio berbohong agar tidak membuat Aurora khawatir, nyatanya Aprilio merasakan jika ada yang sedang mengawasi mereka.
Aprilio bergegas berjalan ke sisi lain, setelah membukakan pintu untuk Aurora, dan lekas masuk ke mobil, kemudian melajukannya.
Hingga beberapa meter dari lokasi Bank, Aprilio benar-benar yakin jika ada yang membuntuti mobil mereka.
"Seperti dugaan ku", gumam Aprilio menatap spion.
"Ada apa Lio", tanya Aurora bingung.
"Ada yang membuntuti kita..."
"Apa...lalu bagaimana Lio...", pekik Aurora panik.
"Tenanglah Ra...aku hubungi Nicholas dulu...", Aprilio langsung menghubungi Nicholas.
Tut Tut
"Ya", tak perlu waktu lama, panggilan langsung di jawab Nicholas.
"Lakukan apa yang aku katakan...cari manager bernama Louis Young..."
"oke", Aprilio memutuskan panggilan.
"Ra...kamu sudah melakukan seperti yang aku katakan kan...", tanyanya beralih pada Aurora yang sejak tadi berulangkali melihat ke belakang. "... Aurora...", panggil nya keras saat Aurora tidak menjawab.
"A-apa"
"Kamu bawa yang aku minta tadi kan...", tanya Aprilio memastikan.
"I-iya...aku bawa",
"Oke...pegangan yang erat"
"A-apa...
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1