Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 34.1


__ADS_3

Aurora dan Aprilio baru saja sampai di meja makan, namun mereka keheranan saat melihat Antonio sendirian di meja makan, biasanya dia sudah bersama sang kakek, bahkan keduanya kadang sarapan lebih dulu tanpa repot-repot menunggu Aurora dan Aprilio.


"Nio...dimana kakek..."


"Iya sayang...kenapa kamu sendirian...", keduanya mengusap kepala Nio bergantian.


"Kakek barusan buru-buru pergi setelah mendapat telpon...katanya penting... makanya tidak sarapan...", jelas Antonio pintar, namun Aurora dan Aprilio saling menatap sejenak karena heran.


"Nio tau tidak... kakek pergi kemana...", tanya Aprilio.


"Katanya ke kantor...", mereka berdua sama-sama membulatkan mata terkejut.


"Sepertinya Papa sudah mengetahuinya..."


"Lalu bagaimana Lio...apa yang harus kita lakukan...", tanya Aurora khawatir.


"Kalau begitu...aku langsung berangkat ke kantor saja..."


"Apa aku ikut..."


"Tidak perlu Ra...biar aku saja yang tangani masalah ini... kamu temani Nio sarapan...", ujar Aprilio menenangkan.


"Jadi kamu tidak sarapan..."


"Tidak...biar aku sarapan dengan Papa nanti...aku pergi dulu ya...", ujar Aprilio kemudian mencium kepala Aurora dan Antonio bergantian.


"Baiklah", Aurora mengangguk lemah, Aprilio pun mengusap kepala nya gemas melihat ekspresi yang di tunjukkan perempuan di depannya itu, kemudian beranjak pergi, Aurora terus menatap punggung Aprilio hingga menghilang dari pandangannya.


"Mama...ayo sarapan", panggil Antonio membuat Aurora tersadar, lalu mengangguk dan memilih duduk di samping Antonio.


Aurora mengambil makanan secukupnya di piring untuk dirinya sendiri, karena piring Antonio sendiri sudah terisi makanan, namun bukan langsung nya, Aurora justru mengaduk-aduk makanan di piringnya dengan melamun.


"Mama...Ma...Mama tidak makan...", panggil Antonio hingga beberapa kali.


"Ah iya", akhirnya Aurora tersadar dari lamunannya.


"Kenapa Ma...apa ada masalah...", tanya Nio perhatian.


"Ti-dak... tidak ada apa-apa...", elak Aurora.


"Lalu apa yang Mama pikirkan...sampai tidak makan... pasti ada yang mengganggu pikiran Mama kan...", tebak bocah 5tahun itu dewasa. Aurora menghela nafas berat, putranya itu tidak bisa di bohongi seperti anak 5tahun pada umumnya, jadi mau tidak mau Aurora harus menceritakan nya, daripada dia mencaritahu sendiri.

__ADS_1


"Sebenarnya...tadi Papa mendapatkan telpon kalau Bibi Mama membuat keributan di kantor Victory...Mama takut kalau kakek mu semakin tidak suka dengan Mama... karena keluarga Mama selalu membuat keributan dan tidak tau malu...", jelas Aurora akhirnya. "...Papa tadi bilang akan menanganinya sebelum Kakek mu tau...tapi-


"Kakek tau lebih dulu", tebak Antonio memotong ucapan Aurora.


"Benar...jadi Mama takut kalau Kakek mu semakin tidak menyukai Mama...", ujar Aurora sedih.


"Siapa yang bilang kalau Kakek tidak suka dengan Mama...", tanya Antonio heran.


"Tidak... bukankah itu yang terlihat...",


"Tidak juga...yang aku lihat tidak seperti itu...", ujarnya seperti orang dewasa.


"Benarkah... menurut Nio seperti apa...", tanya Aurora penasaran.


"Kalau menurut Nio...Kakek itu masih canggung bicara dengan Mama...mau bagaimanapun... Kakek tidak pernah memiliki anak perempuan...jadi Kakek bingung mau mulai pembicaraan dengan Mama bagaimana...dan Mama juga tidak pernah memulai pembicaraan lebih dulu...benarkan...",


"ah itu...Iya...karena Mama takut salah bicara...jadi Mama lebih memilih diam saja...", jawab Aurora mengusap tengkuknya.


"Itu dia...Mama dan Kakek...sama-sama bingung memulai pembicaraan...dan sama-sama lebih memilih diam saja...iyakan", Aurora mengangguk setuju, "...dan...kalau Kakek membenci Mama...Kakek tidak mungkin langsung pergi tadi...bisa saja kan Kakek memanggil Mama dan menegur Mama karena masalah ini...tapi buktinya... Kakek memilih langsung pergi untuk mengatasinya... agar tidak membebani Mama...begitu menurut ku...", jelas Antonio panjang lebar.


"Benar Nona...Tuan Besar bukan tidak menyukai anda... beliau hanya belum terbiasa untuk memberikan perhatian kepada orang selain Tuan Muda...tapi yang Nona harus tau...Tuan selalu mengingatkan saya untuk memasak makanan yang anda suka...atau saya menanyakan anda ingin makan apa... bukankah itu juga termasuk salah satu wujud perhatian...", sambung Bibi Chu yang baru saja datang dari dapur.


"Apa...jangan bercanda Bibi..."


"Kalau begitu...mulai sekarang...aku yang akan berinisiatif lebih dulu...mau bagaimanapun...aku yang lebih muda...", ujarnya antusias.


"Ha...itu baru benar Ma...iya kan Bi..."


"Iya...bilang pada saya kalau anda membutuhkan apapun...saya akan mendukung anda...", ujar Bibi Chu tulus.


"Nio juga", sahutnya sambil mengangkat kedua tangannya.


"Terima Kasih anak Mama yang tampan...", ujar Aurora memeluk Nio sebentar, "...dan terima kasih Bibi...", lanjutnya pada Bibi Chu.


Disisi lain


Aprilio baru saja sampai di Victory Company, Namun baru beberapa langkah sesuatu menarik perhatiannya.


"Ah itu... sepertinya tidak usah...aku punya urusan lain... jadi aku harus langsung pergi...", tolaknya buru-buru.


"Itu tidak bisa...anda-

__ADS_1


"Kenapa buru-buru seperti itu Nyonya...", sela Aprilio mendekat ke arah Natasya dan asisten Tuan Dion.


"Tuan", asisten Tuan Dion membungkuk sejenak memberi hormat.


"Tu-an Aprilio", ujar Natasya gugup.


"Saya mendapat laporan kalau anda membuka keributan di depan kantor saya...tapi kenapa ini pindah di dalam...", tanya Aprilio serius.


"Maaf Tuan...saya di perintahkan untuk membawa Nyonya Moon menemui Tuan Dion...tapi Nyonya Moon bilang...dia tidak ingin bertemu dengan Tuan Dion...tapi dengan Anda...", jelas asisten Tuan Dion.


"Dengan saya...kebetulan sekali kalau begitu...", ujar Aprilio mengangguk mengerti, "...ayo sekalian saja....dimana Papa...", tanyanya pada asisten Tuan Dion.


"Mari...Tuan ada di ruang meeting...", ujar asisten Tuan Dion mempersilakan.


"Mari Nyonya...silahkan", ujar Aprilio menekankan agar Natasya berjalan lebih dulu.


Skip


tok tok


"Masuk"


"Tuan...Nyonya Moon ada di sini...dan ada Tuan Aprilio juga...", ujar Asisten Tuan Dion setelah membukakan pintu ruangan, terlihat Tuan Dion sedang berdiri memandang keluar.


"Lio...kenapa kau sudah di sini...", tanya Tuan Dion.


"Ya...aku tidak ingin ketinggalan pertunjukan saja...", jawaban Aprilio membuat Tuan Dion berdecak malas.


"Nyonya Moon... silahkan duduk...", ujar Tuan Dion pada Natasya yang terlihat gelisah.


"Silahkan duduk... bukankah anda ingin berbicara dengan saya... sekarang saya ada di sini...", ujar Aprilio santai.


"Ah begitu...anda ingin berbicara dengan Putra saya... jadi...apa saya tidak di ijinkan berada disini...tentu tidak kan Nyonya Moon...mau bagaimanapun...saya juga masih bagian dari keluarga Victory...iya kan...saya masih sehat lho...belum mati..."


"Papa itu tidak lucu...


"Sa-ya...


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2