Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 30


__ADS_3

Keesokan harinya


"Bagaimana...apa kalian berencana langsung melaporkan nya...", tanya Tuan Dion saat baru saja selesai sarapan.


Semalam Aprilio memberitahu masalah ini pada Tuan Dion, mau bagaimana pun Aurora akan menjadi menantu perempuan keluarga Victory, jadi tentu saja apa yang terjadi Tuan Dion harus mengetahui nya, sekalipun tidak melakukan apa-apa, hanya sekedar memberitahu saja.


"Tidak Pa...kami masih butuh bukti menyangkut kecelakaan yang menimpa Ayah Aurora...jadi kami harus memancing mereka untuk mengungkapkannya...", jelas Aprilio panjang lebar.


"Caranya..."


"Seperti rencana sebelumnya...teror...sadap...atau ancaman mungkin... dengan bukti yang kita temukan kemarin...", jelas Aprilio santai.


"Siapa yang akan kau teror...", tanya Tuan Dion.


"Tentu saja otak dari semua kejadian ini...", jawab Aprilio dengan geram mengatakan nya.


"Tapi saran Papa...jangan langsung serang pelaku utamanya...karena umumnya...pelaku utama itu licik...dia pasti akan mengelak dan mengambinghitamkan orang lain...", jelas Tuan Dion yang di angguki setuju Aprilio.


"Benar itu Pa...lalu menurut Papa bagaimana...", tanyanya.


"Bagaimana kalau serang pemeran pendamping nya... biasanya kan...pemeran pendamping adalah orang yang otaknya di antara polos dengan bodoh beda tipis...bisa di tipu dan di manfaatkan...benar tidak...", ujar Tuan Dion


"Aku mengerti siapa yang Papa maksud...",


Skip


Siang Hari


Nicholas dan Felix sedang berada di kantor, namun keduanya bukan sedang melakukan pekerjaan kantor, tapi sedang mengamati laptop untuk melakukan apa yang di perintahkan Aprilio.


"Menurut mu...dia akan langsung datang sendiri...atau meminta orang lain...", tanya Felix


"Tentu saja dia sendiri yang akan datang... bagaimana mungkin dia rela orang lain membuka brankas yang selama 6tahun ini dia tunggu-tunggu untuk melihat isinya...dia itu orang yang serakah...jadi dia akan mengambil dengan tangannya sendiri...", Felix mengangguk mengerti.


"Benar...dengan saudaranya saja dia tega... apalagi dengan orang lain...",


"Ya... begitulah kehidupan orang-orang yang buta dengan harta...", ujar Nicholas menggelengkan kepalanya.


"Benar...aku saja baru tau...kalau ada Bank penyimpanan seperti Bank xxx ini... sepertinya aku tidak cocok dengan kehidupan orang kaya...", sahut Felix bergidik geli.

__ADS_1


"Hahaha...kau harus terbiasa mulai sekarang... karena kau sudah termasuk dalam lingkaran sosial Aprilio Victory...huh...kau seharusnya bangga tau...", ujar Nicholas bangga.


"Iya sih...itu kalau aku juga kaya seperti kalian...tapi apalah aku yang hanya sebutir debu...", ujar Felix mendramatisir nada bicaranya.


"ck...ucapan mu seperti anak muda jaman sekarang...", Nicholas berdecak malas.


"Aku kan memang masih muda... memangnya kau sudah tua...", ejek Felix, membuat Nicholas membulatkan matanya.


"Apa kau bilang...aku tua...", tanyanya mengulangi, namun Felix masih tetap mengangguk mengiyakan. "...kita hanya berbeda beberapa tahun ya...enak saja kau bilang aku tua... kalau aku tua...kau juga tua...", balasnya tidak terima.


"Hahaha...aku-


kriinngg


Ucapan Felix terhenti saat ponselnya berdering, kemudian berdecak kesal saat mengetahui nama siapa yang tertera saat ini.


"Siapa sih...kok gak di jawab", tanya Nicholas saat melihat Felix enggan menjawabnya, dengan cepat pun Felix menunjukkan ponselnya pada Nicholas.


(Angel)


"Sebenarnya... beberapa hari ini dia beberapa kali menghubungi ku...tapi tidak aku jawab..."


"Ya...kita kan sedang fokus membantu Aurora...jadi aku tidak mau merusak mood ku hanya untuk mendengarkan ucapan palsu dari perempuan itu...", jelas Felix kesal.


"Angkat saja...tetap lanjutkan sandiwara nya... sebelum semuanya usai...kita harus tetap bersikap baik...tapi jika saatnya tiba nanti...kita buat mereka menuai apa yang sudah mereka tanam sejak dulu...dan kita...hanya akan jadi penonton untuk melihat pertunjukan spektakuler...hahaha...", Felix menggelengkan kepalanya melihat tingkah Nicholas, namun kemudian mengangguk untuk mengisyaratkan kalau dia angka menjawab panggilan dari Angel.


"Halo", setelah menjawab, Felix meletakkan ponselnya di meja, lalu menyalakan mode loud speaker nya.


"Halo Felix..."


"Oh Angel...ada apa"


"Apa kamu sibuk..."


"Sebenarnya aku sedang sibuk...tapi kalau ada sesuatu yang ingin Angel bicarakan...katakan saja...tidak apa-apa...aku akan mendengarkannya...", ujar Felix berbohong.


"Tidak ada yang ingin aku bicarakan...em hanya saja... beberapa hari ini...Felix selalu susah kalau di hubungi..."


"oh iya...maaf kan aku Angel...soalnya ada sedikit masalah yang harus aku kerjakan...jadi aku cukup sibuk beberapa hari ini...maaf ya...", ujar Felix dengan nada yang di buat-buat.

__ADS_1


"Apa masalahnya sudah selesai...bisa tidak kita bertemu besok..."


"Besok...sepertinya tidak bisa...karena masih belum selesai semuanya..."


"oohh... kalau begitu Minggu depan bagaimana...", tanyanya lagi seakan ingin sekali bertemu.


"Sebenarnya...Lusa aku pergi ke Amerika...entah berapa lama aku kurang tau..."


"Perjalanan bisnis ya...kemana...", tanya Angel mau tau.


"Kurang lebih seperti itu...kamu ingat kan aku pernah bilang tentang sekolah musik ku..."


"oh iya aku ingat.. memangnya kenapa..."


"Hah...terjadi masalah disana... sebenarnya beberapa hari ini...aku sudah coba mengatasinya dari sini...tapi ternyata tidak bisa...jadi aku harus turun tangan langsung kesana...", ujar Felix sudah mulai terbiasa dengan skenario yang dia buat sendiri.


"Oh begitu...kalau kamu butuh bantuan...jangan lupa hubungi Angel...mungkin Angel bisa bantu sedikit-sedikit...", ujarnya sok perhatian.


"Iya... Terima Kasih ya Angel"


"Sama-sama...kalau begitu Angel tutup ya...bye", Felix memutar bola matanya malas mendengar suara Angel yang sangat jelas di buat-buat lembut, tanpa menjawabnya Felix pun langsung memutuskan panggilan lebih dulu, bahkan sebelum Angel menutupnya.


"Hahaha...astaga...aku geli mendengarnya...", tawa Nicholas lepas setelah menahannya sejak tadi.


"Kau baru mendengarnya kali ini...apa kabar aku yang sudah mendengarnya beberapa kali...huh...rasanya perut ku langsung mual...", ujar Felix kesal.


"Oh ayolah Lix...jangan pikirkan soal mual nya...tapi pikirkan hasil yang akan kita dapatkan...jika masalah ini selesai... bukankah kau termasuk berjasa dalam membantu Aurora mendapatkan kembali hak nya...apa kau tidak senang...", Nicholas mencoba meredakan rasa kesal Felix.


"Tentu saja aku senang...tapi aku tidak mengharapkan apapun...di bilang berjasa atau tidak aku tidak masalah... aku hanya berniat membantu...bukan hanya untuk Aurora...tapi juga untuk Antonio...aku sudah menyayangi mereka seperti keluarga ku sendiri...", jawab Felix tulus.


"Justru itu...Kau dan Aurora itu sama...kalian sama-sama yatim piatu...kalian di takdir kan bersama...meski bukan sebagai pasangan...tapi kalian bisa menjadi saudara... bahkan mungkin...hubungan kalian akan jauh lebih erat... daripada hubungan saudara kandung sedarah sekalipun...", ujar Nicholas bijak.


"Benar...aku bahkan tidak pernah membayangkan jika aku akan memiliki banyak orang disisi ku saat kedua orang tua ku sudah tidak ada...dulu...yang berani aku bayangkan...hanya bekerja keras dan tidak merepotkan orang lain...saat aku tidak punya siapa-siapa lagi...", ucapan Felix berubah sendu.


"Hey sudah-sudah...kenapa jadi sedih-sedih begini sih... lihatlah itu...ikan sudah mengambil umpan...


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2