
Felix menuju bandara, kemudian dia menghubungi Nicholas, seperti perintah atasannya itu, setelah beberapa saat panggilan di jawab oleh Nicholas.
"halo"
"halo Felix...kau sudah berangkat ke bandara"
"ya...aku dalam perjalanan"
"bagus kalau begitu...sampai di bandara nanti...ada seseorang yang akan memberi mu paspor dan tiket...dia juga akan memberimu sesuatu...dan ingat...terus hubungi aku... apapun yang terjadi...dan apapun yang akan kau lakukan..."
"apapun yang aku lakukan... seperti...mandi..."
"aish... bukan seperti itu..."
"iya iya aku tau...ya sudah...aku tutup dulu...ini aku sambil menyetir..."
"baiklah...aku juga akan kirimkan data nya lewat email... lalu kalau kau tidak bisa menghubungi ku...kau bisa hubungi Aprilio...mengerti"
"oh baiklah..."
Panggilan di putus oleh Nicholas lebih dulu, tidak lama setelah itu ada email masuk dari nya. Felix pergi ke bandara dengan menggunakan mobil pribadi nya, yang dia beli murah dengan uang sisa penjualan rumah ibunya.
Sengaja Nicholas dan Aprilio membiarkan Felix menggunakan nya, karena jika menggunakan mobil yang bersangkutan dengan Nicholas ataupun Aprilio, takutnya akan ada orang yang mencurigai nya. bahkan untuk penerbangan dan transportasi di sana, semuanya di atur dengan senatural mungkin, agar tidak mencurigakan.
Disisi lain
"iya sayang...serius..." Nyonya Hyuri sedang berbicara dengan seseorang di telpon
"lalu kenapa Mama tidak memberitahu ku..."
terdengar suara kesal seorang perempuan dari seberang.
"sebenarnya...Mama mau memberitahu mu saat ulang tahun mu nanti...tapi Mama lupa konfirmasi ke perusahaan...dan ya...begini deh..." jelas Nyonya Hyuri, seolah takut jika perempuan yang memanggilnya Mama itu akan marah.
"ck...lalu bagaimana dengan saham ku..."
lanjut yang lebih muda bertanya setelah berdecak malas.
"tenang saja sayang...Mama sudah alihkan sebagian saham Mama untuk mu..." terang yang lebih tua menenangkan.
"oke...aku hanya ingin tau hasilnya saja nanti..."
"tenang saja...kita akan mendapatkan banyak keuntungan dari proyek ini..."
"baiklah...aku tutup dulu..."
__ADS_1
"sayang-
ucapan yang lebih tua terhenti saat dari seberang sana memutuskan panggilan secara sepihak.
Kafe Aurora
Hari ini kafe cukup ramai, banyak anak muda yang datang untuk sekedar berkumpul dengan teman-teman nya, bahkan beberapa sampai memesan banyak makanan.
"silahkan pesanannya" ujar Aurora ramah mengantarkan pesanan salah satu meja yang terdiri kurang lebih 5orang perempuan muda.
"terima kasih kakak" jawab salah satunya tak kalah ramah.
"hey hey lihatlah berita terbaru...Victory Company akan membuka Mall baru di pusat kota..." ujar perempuan berambut pirang.
"benarkah..." tanya lainnya serempak.
"lihatlah di berita online..." ujarnya lagi menunjukkan ponselnya, membuat yang lain ikut membuka ponsel masing-masing.
"astaga...benar... bahkan katanya akan ada banyak merk branded yang bekerja sama..." sahut yang lain antusias.
Diam-diam Aurora mendengarkan perkataan mereka, dan merasa familiar dengan Victory Company, bukankah itu perusahaan keluarga Aprilio. Aurora pun bergegas kembali ke dapur dan membuka ponselnya untuk membuka berita online, dan benar saja terpampang wajah tampan Aprilio di setiap berita.
"Victory Company berkembang pesat, hingga merambah ke dunia fashion, tentu saja itu berkat Aprilio Victory, CEO dan penerus satu-satunya Victory group"
Aurora meremas sisi bajunya, dirinya semakin merasa kehidupan nya jauh dari kehidupan nya. Aurora semakin takut, apakah Antonio diterima di keluarga itu nanti, pasti iya, tapi belum tentu dengan Aurora.
"Ra..."
praanggg
"akh"
panggilan Melinda membuat Aurora sangat terkejut hingga tidak sengaja menyenggol gelas yang berada di meja di dekatnya, dan serpihannya mengenai kaki Aurora.
"astaga Ra...kau tidak apa-apa..." tanya Melinda khawatir, bersamaan menunduk melihat kaki Aurora, yang sudah sedikit berdarah.
"tidak apa-apa...hanya tergores saja..." jawab Aurora. "maaf Mel...aku akan membereskannya..." lanjutnya ingin beranjak, namun di cegah Melinda.
"tidak tidak...kau duduk saja...kita obati luka ku...biar ini...nanti aku yang bereskan..." ujar Melinda menuntun Aurora untuk duduk. "tunggu disini...aku ambilkan p3k dulu..." lanjutnya bergegas ke ruangannya.
Beberapa saat kemudian, Melinda kembali dengan membawa p3k, tanpa banyak bicara, tangannya dengan telaten membersihkan, mengobati, hingga memberi plester pada luka Aurora.
"Kau kenapa sih...apa ada sesuatu yang mengganggu mu..." tanya Melinda khawatir.
"eoh... ti-tidak...tidak ada..." jawab Aurora berbohong dan mengalihkan pandangannya, membuat Melinda berdecak malas.
__ADS_1
"Bohong...kau bahkan tidak berani menatap ku..." ujar Melinda kesal. "aku mengenal mu lebih dari siapapun Ra..." lanjutnya beranjak mengembalikan p3k.
Aurora terdiam, tidak bisa menjawab apa-apa, dia lupa jika Melinda sudah mengenalnya bertahun-tahun yang lalu, sekalipun Aurora hilang ingatan, tapi setidaknya ada beberapa kebiasaan yang tidak bisa hilang dari diri seseorang.
"tidak apa-apa kalau kau masih belum mau bercerita...aku tidak akan memaksamu..." ujar Melinda sambil mengambil sapu untuk membersihkan pecahan gelas tadi. "tapi ingatlah...aku akan selalu ada untukmu...kapanpun kau membutuhkan ku..." perkataan Melinda, membuat Aurora beralih menatapnya, Melinda menatap Aurora dengan tersenyum.
"terima kasih Mel..." ujar Aurora tulus, tersentuh dengan ucapan Melinda barusan. kemudian tersenyum saat Melinda mengacungkan jempol nya untuk menjawab ucapan Aurora.
Disisi lain
Aprilio tersenyum menyeringai saat membaca banyaknya berita tentang Victory Company akan membuka Mall. hal itu semakin membuat namanya melambung tinggi, bahkan juga harga saham perusahaan nya.
"Nikmati saja dulu... kebahagiaan sementara ini...aku akan memberikan pukulan keras untuk mu nanti..." gumamnya menyeringai.
Saat akan melanjutkan pekerjaan nya, ponselnya tiba-tiba berdering, segera mengambil dan melihat siapa yang menelpon, Aprilio mengernyit heran saat yang menghubungi nya bukan Nicholas atau Felix, melainkan seseorang dari negara lain.
"halo...tuan Peter...apa kabar..." sapa Aprilio ramah.
"halo tuan Aprilio...saya baik...maaf mengganggu...saya baru saja mendapat kabar dari kepolisian..."
jawab seseorang dengan bahasa lain dari seberang sana.
"benarkah...kabar apa" tanya Aprilio penasaran.
"pemilik asli truk yang menabrak anda waktu itu...sudah di tangkap..."
"serius... sembunyi dimana dia selama ini... apa dia sudah mengatakan siapa yang menyewa truknya..." tanya Aprilio antusias.
"di negara K...polisi masih mengintrogasi nya...jadi masih belum ada pernyataan pasti...", jelas pria bernama Peter itu.
"Baiklah...saya tunggu terus kabar dari anda tuan Peter... dan terima kasih karena sudah membantu saya..." jawab Aprilio tulus.
"santai saja tuan Aprilio...jika membutuhkan bantuan apapun... silahkan menghubungi saya..." , balasnya akrab.
"terima kasih sekali lagi tuan Peter... begitupun juga anda jika membutuhkan bantuan apapun...jangan ragu-ragu hubungi saya..."
"oke...kalau begitu... sampai jumpa tuan Aprilio..."
"iya...sampai jumpa lagi tuan Peter..."
Aprilio menutup panggilan itu, lalu tersenyum dan membuka galeri foto nya, senyumnya semakin lebar saat melihat foto 2orang yang dia dapatkan dari mata-matanya, dan sengaja Aprilio simpan di ponselnya.
"sejak bertemu Aurora dan Antonio... keberuntungan memihak ku...dan semua yang aku rencanakan berjalan dengan mudah..." gumam Aprilio bahagia.
**Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**