
Bandara
Aurora dan Aprilio berjalan ke arah pintu keluar, dengan Aprilio yang menyeret 2koper besar, sedangkan Aurora berjalan santai di depannya.
"Mama...Papa", panggilan anak kecil membuat keduanya memusatkan perhatian ke arah tempat berdirinya seorang pria paruh baya dan seorang anak kecil di samping dengan beberapa orang lagi di belakang keduanya.
"Nio", pekik Aurora sedikit berlari menuju putranya yang juga berlari ke arahnya. "...Nio bangun pagi sekali...", ujarnya bertanya.
"Nio bangun sangat pagi...bahkan Nio yang membangunkan Kakek tadi...", sambung tuan Dion lebih dulu.
"Benarkah", tanya Aurora yang di angguki antusias oleh putranya.
"Katanya...dia sangat merindukan kalian berdua...", lanjut Tuan Dion lagi menjelaskan.
Aurora pun tersenyum menatap putranya, lalu memeluk nya sejenak dan mencium pipinya, sedangkan Aprilio mengusap sayang kepala putra nya itu.
Aurora dan Aprilio paham dengan apa yang di rasakan Antonio, terutama Aurora yang juga merasakan hal yang sama, selama ini mereka bahkan tidak pernah berpisah lama dan berjauhan, apalagi berhari-hari, jika hanya beberapa jam, mungkin mereka pernah beberapa kali merasakannya, tapi jika berhari-hari ini baru pertama kalinya.
"Mama sama Papa juga rindu sama Nio...rindu sekali...", ujar Aurora bahagia
"Benar...maaf ya...Papa dan Mama liburan tidak mengajak Nio... Papa janji akan ajak Nio liburan dalam waktu dekat... bagaimana...", sambung Aprilio mengangkat Nio untuk di gendong nya.
"Tidak apa-apa Pa...Nio mengerti kok... liburan ini untuk Papa dan Mama supaya punya waktu berduaan... biasanya kan Papa dan Mama sama-sama sibuk dan tidak punya waktu untuk satu sama lain...jadi Nio to masalah...kan kita nanti liburan selanjutnya...kita bisa liburan bertiga...oh atau berempat dengan kakek...", jelas Antonio pengertian.
"Tentu...sama siapapun dan kemanapun yang Nio mau... Papa akan wujudkan...tapi sebelum itu...Papa ingin bicara sesuatu...", ujar Aprilio kemudian menatap Aurora dan Anton bergantian.
__ADS_1
"Bicara apa Pa..."
"Bagaimana kalau panggilan Papa dan Mama di ganti saja... terserah di ganti apa saja sih Nio mau...", jelas Aprilio lembut tapi tegas agar Nio tidak dapat menolaknya.
"Iya...tapi kenapa Pa...", tanya Antonio polos seperti anak kecil pada umur yang selalu ingin tahu.
"Tidak apa-apa...hanya...biar panggilan Papa gak sama dengan Papa Felix... tidak enak kalau sampai orang lain salah paham...", jelas Aprilio memberi alasan, mendengar itu Aurora hanya menggelengkan kepalanya tak percaya, begitupun dengan Tuan Dion.
Sedangkan Antonio mengangguk paham dengan apa yang di katakan Papa kandung nya itu, Nio juga tau kalau itu pilihan yang tepat daripada memilih untuk mengubah panggilan Papa ke Felix menjadi Paman atau yang lainnya itu, akan membuat pria yang membesarkan Nio sejak kecil itu pasti akan tersinggung dan kecewa.
"Baiklah...tapi Mama dan Papa ingin aku panggil dengan panggilan apa...", tanya balik bocah 5tahun itu.
"Bagaimana kalau Daddy dan Mommy...atau Papi dan Mami...", jawab Aprilio antusias.
"Menurut Nio...kalau Daddy dan Mommy...itu terlalu berlebihan dan jauh dari panggilan pertama...nanti Nio sulit untuk menerapkan nya... bagaimana kalau Papi dan Mami saja...", terang bocah itu pintar.
"Benar...jadi jangan sampai tertukar...ingat ya...Papi... Mami... dan Papa Felix...oke", ujar Aprilio sambil menunjuk dirinya dan Aurora bergantian.
Tentu saja hal itu membuat Tuan Dion dan Aurora menggelengkan kepalanya tak habis pikir, untungnya Antonio anak yang cerdas, bisa menilai dan mencerna suatu masalah dengan dewasa.
"Sudah sudah...ayo kita pulang...biar kalian berdua bisa istirahat...", sela Tuan Dion mengajak ketiganya.
Mereka akhirnya masuk kesebuah mobil Van yang sengaja di siapkan Tuan Dion agar tidak terlalu mencolok dan tidak perlu membawa banyak pengawal.
Aprilio dan Aurora berada di kursi belakang, sedangkan Antonio dan Tuan Dion berada di kursi tengah, dengan supir dan seorang pengawal di depan.
__ADS_1
"Oh iya Lio...kapan kau mulai kembali ke kantor...kau ingin beristirahat lagi beberapa hari atau secepatnya...", tanya Tuan Dion saat mereka sudah berada di dalam mobil.
"Secepatnya Pa...kenapa...apa ada masalah di kantor...", tanya Aprilio penasaran.
"Tidak juga...hanya saja Papa tidak enak harus merepotkan Nicholas terus menerus...", jawab Tuan Dion cepat. "...Papa kan sudah bertahun-tahun tidak menangani proyek apapun secara langsung... Untung saja si Nicho masih paham dengan proyek-proyek perusahaan kita...", jawab Tuan Dion.
"Tentu saja Pa...mau bagaimana pun Nicho punya beberapa persen saham di perusahaan...jadi aku lebih sering berdiskusi dengan nya masalah perusahaan...dia tau semuanya...", jawab Aprilio.
"Kalau begitu...kenapa Papa tidak menghubungi ku saja...", ujar Aprilio.
"Kau pikir Papa tidak punya hati... mengganggu liburan mu dengan bertanya masalah pekerjaan...", balas Tuan Dion ketus.
"Tumben... sebelum-sebelumnya...Papa selalu mengusik ketenangan ku dengan masalah pekerjaan dimana pun aku berada...", sarkas Aprilio membalasnya.
"Itu berbeda... sebelumnya kau masih sendiri...tapi sekarang...kau sudah punya keluarga... setidaknya...kau harus memprioritaskan keluarga mu daripada pekerjaan...", jelas Tuan Dion bijak.
"Tapi dulu Papa tidak begitu..."
"Justru itu...Papa tidak ingin kau mengulangi kesalahan yang sama...", jawab Tuan Dion lemah, tentu saja hal itu membuat suasana di dalam mobil menjadi hening.
Aprilio tertegun mendengar jawaban sang Papa, begitupun dengan Aurora yang tidak bisa berkata apa-apa.
"Tenang saja Kek...Pi...kita ganti saja dengan teknologi Work From Home...jadi Papa bisa bekerja dengan fleksibel di manapun dan kapanpun...juga bisa tetap punya waktu untuk bersama kita...", jelas Antonio cerdas dan yakin.
"Aduh... cerdasnya cucu kakek...", puji Tuan Dion bangga mengusap kepala Nio sayang. Begitupun dengan Aprilio dan Aurora yang tersenyum bangga melihat putranya.
__ADS_1
**Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**