
Beberapa hari kemudian
Hari ini, Victory Company di penuhi banyak orang, seperti saat peluncuran teknologi baru beberapa hari yang lalu, tapi bedanya, tidak ada undangan resmi ataupun orang-orang ternama atau terkenal, hanya ada wartawan dan beberapa orang biasa yang sengaja datang untuk mendengarkan apa yang akan di sampaikan pimpinan perusahaan itu.
Sementara itu di salah satu ruangan, sedang berkumpul beberapa orang sedang berbicara dengan serius, di antaranya ada yang memegang lembaran kertas dan membacanya dalam diam dengan serius.
"Lio...apa kamu yakin orang-orang tidak akan ada yang tau tentang perjanjian kita dulu...", tanya Aurora setelah membaca kertas itu.
"Kamu tenang saja sayang...yang tau tentang perjanjian itu hanya kita yang ada di sini... tidak ada orang lain...", jawab Aprilio menenangkan.
"Apa kamu sudah memusnahkan surat perjanjian nya...", tanya Aurora lagi, terlihat jelas jika dia sedang cemas dan gugup.
"Heem...aku sangat yakin...kalau tidak percaya...tanya saja pada Nicho...", ujar Aprilio menunjuk Nicholas yang duduk tidak jauh dari nya.
"Iya Ra...kamu tenang saja...aku sudah membereskan semuanya...", jawab Nicholas meyakinkan.
"Ra...jangan khawatir...aku dan Nicho juga sudah memastikannya saat itu...kalau tidak ada orang yang mengetahui masalah perjanjian itu...", sambung Laura.
"Sayang...aku akan pastikan kalau tidak akan ada lagi orang yang mengungkit masalah ini... begitupun dengan kita semua yang ada di sini... kita semua harus simpan rapat-rapat masalah ini... dan jangan membahasnya lagi...", sela Aprilio tegas, semuanya pun mengangguk mengerti.
"Ra...jangan terlalu khawatir...kau tidak sepenuhnya berbohong kan...kita hanya mengubah cerita pertemuan pertama kalian...menjadi pertemuan pelamar pekerjaan dan pemilik apartemen... selanjutnya...buat seperti apa adanya saja...dan ubah durasinya menjadi lebih lama daripada aslinya yang... hanya butuh 1bulan untuk kalian saling jatuh cinta...", ujar Melinda mencoba menjelaskan, namun tetap dengan candaan nya untuk mencairkan suasana.
"Mel...", panggil Aurora kesal dengan pipinya yang memerah, semua orang di sana terkekeh.
"Benar...bahkan langsung positif...kalau saat itu aku tau lebih dulu... aku pasti mengira kalau mereka sama-sama jatuh cinta pada pandangan pertama...hahaha", sahut Nicholas se-frekuensi dengan Melinda kalau urusan menggoda.
"Aaaa...Kak Laura...lihat suami mu ikut-ikutan...", rengek Aurora lucu.
"Sudah-sudah jangan menggoda Aurora terus...lebih baik kita siap-siap saja...", ujar Laura menengahi.
"Tunggu...kalian sejak tadi bicara keras-keras apa tidak takut ada yang mendengar...", sela Felix yang sejak tadi hanya diam memperhatikan.
__ADS_1
"Tenang saja Lix...ruangan ini kedap suara... Aprilio sengaja memilih ruangan ini untuk kita berdiskusi...", sahut Nicholas lebih dulu, Felix pun mengangguk mengerti.
"Jadi...sejak tadi kamu diam saja karena takut ada yang mendengar percakapan kita...", tanya Melinda menggoda Felix.
"Hehe iya...", jawab Felix polos.
"Astaga Felix...kamu tidak perlu takut...ikuti saja apa yang kita lakukan atau bicarakan...kita semua juga tidak akan ceroboh dan bicara di sembarang tempat...kamu tenang saja...", sahut Nicholas.
"Felix...kau tenang saja...aku tidak akan main-main dengan keamanan dan keselamatan orang-orang di sekitar ku...jadi saat bersama kami...kau tidak perlu khawatir dengan apapun...", sambung Aprilio meyakinkan, Felix pun mengangguk mengerti.
Semuanya saling menatap dan melempar senyuman sesaat, kemudian kembali berbincang, di saat yang lain tidak memperhatikan, Felix diam-diam menatap mereka satu persatu, ada sedikit rasa bahagia dan iri, Felix sadar diri, jika dirinya tidak akan bisa sebanding dengan mereka, atau tidak mungkin bisa mengenal mereka jika bukan karena Aurora.
tring
"Sayang...apa kamu sudah siap... semuanya sudah menunggu...", ujar Aprilio setelah membaca pesan di ponselnya.
"Lio...minta sekertaris Kim untuk memastikan keamanan sekitar sekali lagi...", sela Nicholas.
"Ra...kenapa...apa kau gugup...kau butuh sesuatu...biar aku ambilkan...", tanya Laura yang melihat Aurora *******-***** kedua tangannya.
"Sayang...apa perlu kita tunda saja kalau kamu belum siap...", ujar Aprilio khawatir, namun membuat yang lain membulatkan matanya terkejut, tapi aku berani mengatakan apa-apa.
"Jangan Lio...aku baik-baik saja...hanya belum terbiasa...", jawab Aurora dengan memberi senyuman untuk meyakinkan Aprilio.
"Apa perlu pakai earphone...biar aku bantu untuk berbicara nya nanti... takutnya nanti Aurora tidak bisa atau malah ngeblank semuanya...", ujar Nicholas memberi solusi.
"Tidak perlu...kalau begitu biar aku saja yang berbicara dan menjelaskan semuanya... Aurora hanya perlu duduk di samping ku saja... tidak perlu mengatakan apa-apa...", jelas Aprilio tegas.
"Oh baiklah...Tuan Posesif...", goda Nicholas bercanda, membuat Aprilio berdecak malas.
"Bagaimana...sudah siap apa belum...", tanya Aprilio memastikan pada Aurora yang akhirnya mengangguk dengan tersenyum. "... Baiklah...ayo...", lanjutnya berdiri dari duduknya lalu mengulurkan tangannya pada Aurora.
__ADS_1
Tentu saja Aurora menyambutnya dengan senang hati, setelah berdiri dari duduknya, Aurora kemudian menarik nafas panjang dan menghembuskan nya, lalu merapikan pakaian nya.
Mereka saling menatap sejenak, kemudian Aprilio lebih dulu mengangguk sebagai isyarat bertanya "apa sudah siap", Aurora pun mengangguk juga sebagai jawabannya. Keduanya berjalan beriringan dengan Aurora memeluk lengan Aprilio dan berjalan keluar ruangan.
Mereka terlihat begitu serasi, Aprilio dengan setelan jas Biru Navy nya dan Aurora dengan Dress nya yang berwarna senada, hanya saja dress Aurora memilik motif bordiran berwarna gold yang semakin menambah kesan mewah.
Meski dress yang di pakai Aurora adalah dress formal karena modelnya yang tertutup dengan lengan panjang, di padu padankan dengan heels yang tidak terlalu tinggi, Aurora juga hanya memilih mengikat rambutnya ke belakang dan dihias dengan jepitan sederhana, juga memakai anting dan kalung sederhana yang baru saja di berikan Aprilio. namun jika di lihat dengan jelas semua orang pasti tau apa yang di berikan Aprilio, tidak mungkin sesederhana bentuknya, karena bagi orang yang mengerti, set perhiasan itu adalah berlian asli, cocok dengan keluarga Victory.
Skip sampai Aula
Saat keduanya memasuki Aula, semua orang yang awalnya berisik pun menjadi terdiam dan refleks mengalihkan perhatian pada keduanya, jepretan kamera dan puluhan pasang mata tertuju pada mereka hingga di atas panggung dan keduanya duduk di kursi yang telah di sediakan.
Berbagai macam bisikkan dan kekaguman yang terdengar melihat bagaimana cara Aprilio memperlakukan Aurora, tentu saja itu hal baru bagi orang lain, karena yang mereka tau, Aprilio adalah orang yang dingin dan tidak pernah dekat dengan wanita manapun, bahkan saat bersama Clara dulu, mereka tidak pernah berinteraksi atau melakukan sesuatu layaknya kekasih.
"*wah lihatlah...Tuan Aprilio sweet banget sih"
"Iya iya... lihatlah tatapannya..."
"Perempuan itu benar-benar beruntung... seperti kisah Cinderella..."
"Hey...dia itu pantas dan sepadan dengan Tuan Aprilio... karena perempuan itu penerus Moon Travel saat ini..."
"Moon Travel... perusahaan Travel yang besar itu..."
"Iya...jadi ini bukan kisah Cinderella lagi*..."
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1