Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 30.2


__ADS_3

Seorang pria paruh baya berjalan memasuki sebuah restoran VIP dengan tergesa-gesa, bahkan saat sampai di salah satu ruangan, tanpa mengetuk pintunya, pria itu justru membukanya dengan keras.


brakk


"Apa maksud perkataan mu di telpon tadi...", ujarnya dengan menghampiri seseorang yang berada disana lebih dulu.


"Seperti yang aku katakan tadi...aku bertemu dengan Nona Aurora kemarin..."


"Dimana...lalu apa yang dia katakan...", tanya pria tadi.


"Aku tidak berbicara dengan nya...tapi aku mengikutinya untuk memastikan dimana dia tinggal...", jelas pria lainnya.


"Lalu...dimana dia..."


"Di villa mewah...dan kau tau saat aku bertanya pada penjaga di sana...dia bilang apa...


"Apa"


"Dia Nyonya rumah...atau istri dari Bos nya... bukankah itu berarti...dia sudah menikah...dan suaminya adalah orang kaya...",


"Jangan bercanda Josh..."


"Aku tidak bercanda Gio... karena saat aku tanya lagi... penjaga itu bilang...mereka tidak menetap disini... karena mereka sedang melakukan perjalanan bisnis...dan asal mereka dari Negara P...kau tau kan Negara P...negara dengan pusat bisnis paling besar di dunia...", jelas Joshua menggebu-gebu.


"Bagaimana bisa dia menikah dengan orang kaya..."


"Dan satu hal lagi...dia sudah punya seorang putra... kira-kira berusia 5tahun...", penjelasan itu semakin membuat Giovanni tertegun. "...Gio...kenapa kau diam saja...lalu bagaimana denganmu...apa kau sudah berhasil membuka brankas itu...", tegurnya saat sang lawan bicara tidak mengatakan apa-apa.


"Aish itu yang membuat ku kesal sejak tadi... sepertinya kita salah...isinya hanya ada surat wasiat...", jelas Giovanni frustasi.


Beberapa jam yang lalu, Giovanni datang ke Bank, setelah mendapatkan barang-barang yang di ambil anak buahnya dari Aurora dan Aprilio sebelumnya, di antara semua barang itu, Giovanni mencurigai 2 barang, yaitu map dan sebuah kunci, namun saat membuka map itu, isinya hanya sebuah dokumen yang tidak ada kaitannya dengan yang dia cari, jadi dia meyakini jika kunci itu adalah kunci Brankas yang dia cari, jadi dia datang ke Bank, dan ternyata benar, namun mengecewakan saat tau isinya hanya surat wasiat.


"Bagaimana bisa...jadi...kau penantian mu selama bertahun-tahun ini sia-sia...astaga...kenapa bisa seperti ini...", sambung Joshua ikut frustasi. "...apa jangan-jangan selama ini dokumen lainnya... Aurora yang bawa...", tebaknya.

__ADS_1


"Kenapa kau bisa berpikir seperti itu...kalau memang ada padanya...kenapa dia tidak kembali selama beberapa tahun ini...", tanya Giovanni.


"Mungkin saja dia memang tidak menginginkannya...jadi dia hanya menyimpan dokumen itu...secara kau tau kan pria yang dia nikahi itu kaya...pasti hartanya lebih banyak dari harta peninggalannya Ayahnya...", jelas Joshua panjang lebar.


"Kalau dia tidak mau...kenapa tidak dia serahkan saja padaku... tidak bisa seperti ini...aku harus menemuinya...", ujar Giovanni ingin beranjak.


"Tunggu dulu...jangan terburu-buru...ada yang ingin aku tanyakan padamu...", cegah Joshua.


"Ck...apa itu"


"Apa selama ini kau berbohong pada ku...", pertanyaan Joshua membuat Giovanni mengernyit bingung.


"Berbohong apa maksud mu..."


"Kau bilang kalau Aurora dan Tuan Jhonny sudah mati...tapi nyatanya Aurora masih hidup...bahkan memiliki kehidupan yang baik...apa jangan-jangan Tuan Jhonny juga masih hidup...dan menyembunyikan nya dari ku... agar kau bisa menjadikan aku kambing hitam masalah ini... seandainya dia tiba-tiba kembali nanti...", Giok menggeleng ribut tidak terima mendengar perkataan Joshua.


"Tidak mungkin aku membohongi mu...aku benar-benar membuat nya kecelakaan...tapi sayangnya dia tidak langsung mati...tapi pas saat dia benar-benar mati setelah koma satu tahun...aku tidak tau apa-apa...aku bahkan tidak pernah datang menjenguknya...", jelasnya enteng.


"Oke...kalau begitu...aku ingin tau... bagaimana kau membuat nya kecelakaan waktu itu...agar aku bisa menganalisa kemungkinan ada seseorang yang melihat mu saat melakukan nya atau tidak...", ujar Joshua mencari alasan.


"Benarkah"


"Iya...aku hanya membayarnya dan dia yang datang ke tempat kejadian...tapi aku sudah mengatakan kalau jangan sampai meninggalkan bukti apapun... pembunuh itu yang mengeksekusi semuanya...aku tidak melakukan apa-apa...eh tapi..."


"Tapi apa", tanya Joshua penasaran saat Giovanni menjeda ucapannya dan berpikir.


"Sepertinya aku sedikit membantu saat itu... karena itu salah satu rencananya agar terlihat kecelakaan tunggal...bukan rekayasa...", ujar Giovanni setelah mengingat.


"Lalu apa yang kau lakukan",


"Aku hanya mencampurkan obat sakit kepala dalam minuman Kakak ku sebelum dia pulang dari kantor...", jelasnya santai.


"Lalu selanjutnya"

__ADS_1


"Pembunuh itu menunggu di tempat yang sepi...kau tau kan jalanan dari Perusahaan menuju ke kediaman Moon...yang melewati bukit dengan jurang di sebelah sisinya...dia akan memanfaatkan itu untuk membuat Kakak ku terkejut lalu banting stir...dan...masuk ke jurang...", jelasnya.


"Lalu bagaimana dengan kemera dashboard..."


"Tentu saja aku juga memintanya untuk menghapus rekaman saat kejadian itu...jadi hanya ada pas sesaat sebelum dia terperosok...apalagi... jalanan yang sepi membuat nya lama untuk di tolong karena tidak ada mobil yang lewat... karena sebelumnya...aku juga sempat menutup jalan yang menuju ke sana dengan alasan jalanan sedang di bersihkan... bukankah rencana ku bagus...tak meninggalkan bukti...jadi itu hanya akan di anggap kecelakaan tunggal...", ucapnya panjang lebar.


"Apa polisi tidak ada yang curiga sedikitpun...", Giovanni menggelengkan kepalanya dengan santai.


"Tidak... karena penyebabnya di anggap korban meminum obat sakit kepala sebelah berkendara... sedangkan obat sakit kepala... biasanya ada efek kantuknya kan... apalagi tidak ada jejak orang lain atau benturan dengan kendaraan lain...jadi polisi menganggap nya kelalaian saat berkendara..."


Disisi lain


Aurora mengepalkan tangannya dengan penuh amarah, namun matanya tak bisa berhenti meneteskan air mata.


"Aku harus menemuinya", ujarnya ingin beranjak dari duduknya, namun di cegah Aprilio.


"Ra...", Aprilio menarik Aurora ke dalam pelukannya.


"Apa salah Ayah ku Lio...kenapa Tuhan memberikan Ayah ku saudara yang begitu kejam sepertinya...dia bahkan- dia...", Aurora tidak bisa lagi melanjutkan ucapannya, Aprilio mengusap punggung Aurora untuk menenangkan.


Setelah beberapa saat, Aurora sudah mulai tenang, Melinda dan Laura pun menghampirinya untuk ikut menenangkan.


Aurora hanya terisak, tak menanggapi ataupun berbicara pada kedua nya, matanya menatap kosong ke kedua tangannya sendiri yang dia remas-remas.


Sedangkan Aprilio memberi isyarat untuk memberi tau, jika meminta keduanya untuk menjaga Aurora, dirinya ingin berbincang dengan Nicholas dan Felix untuk mengurus masalah ini, keduanya pun mengangguk mengerti.


Sebenarnya, Ini adalah salah satu rencana Aprilio dan yang lain nya, seperti perampokan sebelumnya dan saat Giovanni ke Bank tadi, itu semua sudah di rencanakan.


Dan saat ini, rencana mereka yaitu memanfaatkan Joshua untuk memancing Giovanni mengatakan semuanya, namun saat mendengar kebenarannya, hal itu sangat menyakiti Aurora bahkan juga yang lainnya, mereka tidak habis pikir ada saudara kandung yang begitu kejam kepada saudaranya sendiri.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2