
Keesokan harinya
"Apa Nio siap...", tanya Aurora dengan merapikan baju dan rambut Antonio.
"Kenapa Mama tidak ikut saja...", tanya Putra semata wayangnya itu.
"Belum saatnya sayang...Mama harus menyelesaikan urusan Travel Moon terlebih dulu...Nio mengerti kan...", jawab Aurora lembut, Antonio pun mengangguk mengerti.
"Jagoan...apa sudah siap...ayo kita berangkat... Kakek sudah menunggu...", panggil Aprilio memasuki kamar Antonio.
"Nio sudah siap Pa...", jawab bocah 5tahun itu antusias.
"Ayo...biar Mama antar kalian sampai depan...", ujar Aurora mengulurkan tangannya, Antonio pun menyambutnya dengan tersenyum lebar.
...
Aurora menatap kepergian mobil yang di tumpangi Aprilio, Antonio dan Tuan Dion hingga tak terlihat, terukir seulas senyum di bibir nya, kemudian mengeluarkan ponselnya.
"Halo"
...
"Apa kau sudah mempersiapkan segala nya..."
...
"Baiklah...aku mengerti...aku akan mempersiapkan diri... kau dan Melinda...urus semuanya..."
Setelah menyelesaikan pembicaraan di telpon, Aurora memilih untuk duduk dan menyalakan TV, terlihat juga dia sedang berbalas pesan singkat dengan seseorang dan sesekali tersenyum.
"Nona...saya bawakan cemilan dan teh...", ujar Bibi Chu meletakkan secangkir teh dan sepiring kue.
__ADS_1
"Oh terima kasih Bibi...apa pekerjaan Bibi sudah selesai...", ujar Aurora lalu bertanya.
"Sudah Nona... memangnya ada apa...apa anda membutuhkan sesuatu...", tanya wanita paruh baya itu.
"Tidak...aku hanya ingin Bibi menemaniku menonton saja... tidak enak kalau nonton sendiri...", jelas Aurora tersenyum canggung. "...tapi kalau Bibi sibuk... tidak apa-apa...aku nonton sendiri saja...", lanjutnya.
"Tidak apa-apa... pekerjaan Bibi sudah selesai semua... hanya perlu memeriksa pekerjaan yang lain...bisa di kerjakan nanti...Nona pasti merasa suasana di sini begitu sepi ya...rumah besar...tapi penghuninya hanya beberapa saja...", jelas Bibi Chu perhatian.
"Benar Bibi...aku tidak bisa membayangkan bagaimana sunyi nya rumah ini saat Papa hanya tinggal sendirian...", ujar Aurora sendu.
"Biasanya...Tuan Besar menghabiskan waktunya di ruang kerja...beliau terkadang bisa disana sampai seharian penuh...mungkin jika orang lain yang melihat... mereka akan berpikir Tuan adalah orang yang dingin...hanya bisa berkutat dengan buku dan dokumen...tidak pernah bersosialisasi...tapi bagi saya...itu adalah salah satu cara Tuan Besar menikmati kerinduan kepada mendiang istrinya...karena di tempat itu... menyimpan banyak kenangan dan barang milik mendiang Nyonya...", jelas Bibi Chu, Aurora tertegun mendengarnya, dia juga merasa jika pasti akan ada saat di mana Papa Aprilio itu juga merasa kesepian.
"Ya Bi...aku mengerti apa yang di rasakan Papa...mau bagaimanapun kita hanyalah manusia biasa...terkadang kita merasa lelah dan butuh sandaran...hanya saja kenyataannya...keadaan selalu menuntut kita untuk menelan mentah-mentah rasa itu...", ujar Aurora sendu.
"Nona Aurora...sejak pertama kali kita bertemu 6tahun... saya merasa anda adalah orang yang lembut, bijak dan sederhana...cocok dengan kepribadian Tuan Muda... tapi saat itu yang saya khawatirkan adalah masalah keluarga atau identitas anda...yang mungkin akan mempersulit kalian untuk bersatu...tapi baru saya tau dan saya tidak menyangka...jika anda adalah pewaris salah satu perusahaan Travel terkenal di kota ini... bagaimana anda bisa memiliki kepribadian sederhana dan bijak...karena biasanya...Putri atau anak keluarga kaya raya...jarang atau bahkan seribu banding satu yang memiliki kepribadian seperti anda...", jelas Bibi Chu panjang lebar.
"Saya tumbuh tanpa adanya seorang ibu...tapi Ayah saya...memberikan kasih sayang dan perhatian yang melimpah...beliau bahkan tidak akan meninggalkan saya sendirian...kemana beliau pergi...beliau akan mengajak saya...namun walaupun begitu...beliau tidak memanjakan saya dengan barang-barang atau makanan mewah...dan Ayah saya selalu mengajarkan jika ingin membeli sesuatu...belilah yang kita butuhkan...bukan yang kita mau... jadi itu yang tertanam dalam pikiran saya...beliau sendiri juga mencontohkan...bagaimana beliau hanya memiliki satu mobil...bahkan beliau menyetir sendiri...karena kesuksesan beliau tidak instan atau warisan...beliau mendirikan perusahaan dari Nol... dari promosi di jalanan...dari mulut ke mulut...mencari informasi dari satu tempat ke tempat yang lain...jadi beliau begitu menghargai apa yang beliau dapatkan dengan susah payah...", jelas Aurora bangga.
"Tapi...satu hal yang saya sesalkan hingga detik ini...", ujar Aurora menghembuskan nafas berat. "...saya suka menggambar sejak kecil...dan ayah saya mendukung penuh hal itu...bahkan saat saya memilih kuliah jurusan desain...ayah saya tak melarang...beliau bahkan senang...karena beliau pikir...saya akan menjadi fashion desainer seperti mendiang ibu saya...dan itu yang saya sesali...kenapa dulu saya tidak belajar masalah bisnis... kalau saja dulu saya belajar bisnis... sekarang saya akan lebih mudah meneruskan perusahaan Ayah...tapi nyatanya...saya tidak tau apa-apa...", sesalnya.
"Belum terlambat Nona...anda bisa belajar sekarang kalau anda mau..."
"Tidak Bibi...saya tidak ingin sibuk bekerja... sementara tugas saya sekarang adalah sebagai seorang istri dan ibu...saya tidak bisa mengabaikan keluarga saya...jadi... lebih baik saya serahkan perusahaan pada Felix...", jawab Aurora yakin, Bibi Chu pun mengangguk mengerti.
"Anda wanita yang luar biasa Nona... tidak salah Tuan Muda memilih anda menjadi istrinya...", puji Bibi Chu.
"Ah Bibi bisa saja...", elak Aurora malu, "...oh acaranya akan di mulai...saya mau ambil sesuatu dulu...", lanjutnya mengalihkan pembicaraan lalu beranjak pergi meninggalkan Bibi Chu.
...
"Ini Teh untuk Bibi...", ujar Aurora meletakkan secangkir teh setelah beberapa menit kemudian.
__ADS_1
"Astaga Nona...kenapa repot-repot...Bibi bisa membuatnya sendiri...", ujar Bibi Chu terkejut.
"Tidak repot...karena saya yang mengajak Bibi nonton... jadi saya yang harus membuatkan Bibi minuman...", ujar Aurora kembali duduk ke tempat nya semula.
"Terima kasih Nona"
"Tidak perlu berterima kasih Bi...cuma teh saja...", Bibi Chu hanya tersenyum mendengar jawaban Aurora. "...oh iya Bi...apa Bibi tau teknologi apa yang di luncurkan Victory kali ini...", tanyanya penasaran.
"Kalau masalah itu Bibi kurang tau... setiap hari kan Bibi hanya di rumah Non..."
"Ah iya juga ya...maaf Bi...", ujar Aurora terkekeh, "...aku saja tidak tau...bagaimana mungkin Bibi tau... soalnya aku bingung...kenapa Nio harus datang kesana juga...", lanjutnya
"Apa anda tidak bertanya pada Tuan Muda...",
"Sudah...dan Lio bilang hanya ingin menunjukkan pada Nio beberapa teknologi milik Victory...dan Nio juga mengatakan hal yang sama...tapi bukankah kalau begitu bisa di lakukan kapanpun...kenapa harus hari ini...saat ada peluncuran teknologi baru Victory...", jelas Aurora dengan ekspresi kebingungan.
"Mungkin memang seperti itu Nona...sudah...jangan terlalu di pikirkan..."
"Dan anehnya lagi Bi...Melinda dan yang lainnya... memaksa ku untuk menonton siaran langsung di TV sekarang...bahkan mereka mengirim pesan berulang kali untuk mengingatkan ku...itu aneh kan Bi...", ujarnya mengadu seperti anak kecil.
"Mungkin mereka hanya ingin anda melihat Tuan Muda saat berbicara di depan umum...atau mereka ingin anda setidaknya memberi dukungan untuk Tuan Muda...dan memujinya saat beliau pulang nanti...", jelas Bibi Chu menenangkan.
"Ah benar juga ya..."
(Selamat Datang semuanya...di acara peluncuran teknologi terbaru dari Victory Company... kamera pengawas yang di namai BEE...
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1