Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 25.1


__ADS_3

Beberapa saat kemudian


"emm", Aurora menepuk dada Aprilio pelan saat di rasa sudah kehabisan pasokan udara, jadi mau tidak mau Aprilio harus melepaskan ciumannya.


Dengan nafas yang sama-sama terengah, Aprilio menyatukan kening mereka, Aurora bisa melihat dengan jelas jika Aprilio seperti sedang mencoba mengatur dirinya.


"Li-o", panggil Aurora lembut dengan nafas yang masih terdengar berat, namun hal itu semakin membuat Aprilio menjadi kacau.


"Se-bentar", jawabnya singkat dengan susah payah, Aurora pun akhirnya memilih untuk diam tak mengatakan apapun.


Hingga beberapa saat kemudian, Nafas keduanya sudah kembali normal, Aprilio pun segera menjauhkan keningnya dari Aurora, yang ternyata sejak tadi tak lepas menatap wajah Aprilio.


"tidak apa-apa", ujarnya tersenyum saat menyadari raut wajah Aurora yang khawatir. "...aku hanya berusaha menahan diri untuk tidak melampiaskan kerinduan ku...lebih jauh pada mu...", jelasnya kemudian.


"Kamu yakin", tanya Aurora masih cemas.


"Iya... memangnya...kalau aku mau melanjutkannya...kamu mau...", ujarnya menggoda Aurora.


"ti-tidak...", Aurora mengalihkan pandangannya karena malu, membuat Aprilio tersenyum.


"Baiklah...kalau begitu...ayo aku antar ke kamar Nio...agar kamu bisa istirahat...", ajak Aprilio perhatian. "...Ti-tidak perlu Lio...aku bisa kembali sendiri...lebih baik kamu istirahat saja...", tolak Aurora.


"Ra...", panggil Aprilio mengambil kedua tangan Aurora dan menggenggamnya, "...Aku sangat mencintai mu...", ujarnya tulus, mengunci tatapannya pada Aurora.


Aurora tidak bisa berkata-kata mendengar nya, antara masih tidak percaya dan malu, namun ada satu sisi yang terus mendorong Aurora untuk berani melakukan sesuatu, membalas ucapannya ataupun yang lain.


"Aku juga mencintaimu", balas Aurora kemudian menarik baju Aprilio dan menyatukan bibir mereka.


Hingga beberapa saat kemudian, Aurora menarik diri dan menatap wajah Aprilio, kemudian tersadar dengan apa yang dia lakukan.


"A-ku akan kembali ke kamar", ujarnya kemudian berlari keluar meninggalkan Aprilio.


Di kamar Antonio


Aurora menutup pintu dengan terburu-buru, setelah itu berdiri bersandar di pintu dengan memegangi dadanya yang berdebar tak karuan sejak tadi.


"Astaga...ini benar-benar gila... rasanya aku tidak bisa mengontrol diriku...", gumam Aurora sendiri.


"Siapa yang gila Ma", suara Antonio mengejutkan Aurora


"oh sayang...kenapa kau bangun...", Aurora buru-buru menatap menghampiri Antonio yang berdiri beberapa meter di depannya.


"Aku ke bangun dan melihat Mama tidak ada...jadi aku mau keluar mencari Mama...", jelas bocah 5 tahun itu polos.


"Oh maaf sayang...ayo tidur lagi...", ajak Aurora kembali ke tempat tidur dan membantu nya berbaring

__ADS_1


"Mama dari mana", tanya Nio setelah berbaring.


"ah itu...em Mama dariiiii...da-pur...iya dapur...minum Mama haus...", elak Aurora buru-buru.


"Tapi kan di sini ada air minum Ma... Kakek menyediakan air minum ini...biar Nio tidak perlu turun lagi ke bawah kalau mau minum...dan airnya selalu di ganti setiap hari...", jelas Antonio pintar, Aurora bangga, tapi juga bingung karena seperti ketahuan berbohong.


"ah begitu...Mama tidak tau sayang...", elak Aurora lagi berbohong, Antonio pun mengangguk. "...ya sudah...ayo kita tidur saja...ini sudah malam...", lanjutnya menyelimuti tubuh Anti dan dirinya.


Keesokan paginya


pukul 7 pagi, Aurora sudah bangun sejak pukul 6 tadi, bahkan sempat membantu di dapur membuat sarapan, sedangkan Aprilio bangun 30 menit kemudian, dan membantu Aurora membangunkan Antonio, dan membantu nya bersiap.


Jadi, sekarang semuanya sudah berada di meja makan bersiap untuk sarapan, semua makanan sudah tersusun rapi, Tuan Dion yang terakhir bergabung, entah hanya perasaan Aurora atau bagaimana, sejak turun Tuan Dion menatap Aurora dengan sinis.


"Sebelum ada ikatan...Jaga sikap kalian...Jangan mentang- mentang di dalam rumah...jadi kalian bisa tidur bersama...", ujar Tuan Dion tiba-tiba membuat semua orang yang sedang bersiap makan, beralih menatapnya.


"Apa yang Papa bicarakan...", tanya Aprilio heran.


"Tidur bersama...itu artinya tidur berdua seperti Mama dan Nio kan...Memangnya kenapa tidak boleh Ma...", sela Antonio sebelum Tuan Dion menjawab, Aurora pun bingung dan tidak enak untuk menjawabnya.


"Nio coba tanya sama Kakek", sahut Aprilio saat melihat Aurora tidak bisa menjawabnya.


"Iya Kakek... siapa yang tidur bersama...", tanyanya polos, "... Kakek kan biasanya tidur sendiri...kalau Papa sama Mama...tidak...semalam kan Mama tidur sama Nio...jadi siapa yang tidur bersama...", lanjutnya dengan wajah kebingungan.


"Kami kenapa...", tanya Aprilio pura-pura tidak mengerti.


"Tidak apa-apa... lupakan saja...", elak Tuan Dion kemudian.


"Makanya...jangan berbicara masalah seperti ini di depan anak kecil...", ujar Aprilio setengah berbisik pada sang Papa yang langsung terdiam.


"Sudah sayang...lanjutkan makannya...", ujar Aurora mengusap kepala Antonio.


Disisi lain


Felix keluar dari kamar menuju dapur, matanya menatap sekeliling, Apartemen terasa begitu sunyi, baru beberapa hari di tinggal Aurora dan Antonio, namun semuanya bahkan terasa sudah lama di tinggal.


"Haaah...hanya aku sendiri disini...", gumamnya menghembuskan nafas panjang sebelum akhirnya berjalan ke arah dapur.


Felix berjalan ke arah kulkas kemudian membukanya, tak ada apapun, hanya tersisa sebutir telur dan beberapa bumbu masak, lalu Felix beralih ke sebuah lemari kecil biasa tempat Aurora menyimpan roti atau selai dan yang lainnya.


"Tidak ada apa-apa... sebaiknya aku sarapan di luar saja...", Felix akhirnya memilih untuk kembali ke kamar, namun saat hampir pintu kamar, tiba-tiba...


tingtong


"Siapa datang pagi-pagi begini...", gumamnya kemudian berjalan ke arah pintu depan.

__ADS_1


"Hai...selamat pagi"


"Oh Mel...ada apa pagi-pagi kemari...", ujar Felix penasaran.


"Membawakan sarapan untuk mu...", jawab Melinda menunjukkan paperbag yang dia bawa.


"Sarapan untuk ku...", tanya Felix balik.


"Iya...kau pasti belum sarapan... karena tidak ada apapun disini...benar kan...", tebak Melinda yang sempat membuat Felix sedikit terkejut sejenak sebelum akhirnya mengangguk.


"Iya... bagaimana kau tau...", tanya Felix.


"Tentu saja aku tau... apalagi tidak ada Aurora disini...jadi aku datang untuk mu...", jawab Melinda jujur membuat Felix terkekeh.


"Baiklah... terima kasih...", ujarnya menadahkan tangan nya membuat Melinda mengernyitkan keningnya, "...sini makanannya... katanya kau mau memberiku makanan...mana...", lanjutnya saat melihat Melinda yang kebingungan.


"Kau tidak mempersilahkan aku masuk...", tanya Melinda kesal.


"Lho bukannya kau hanya ingin mengantarkan sarapan untuk ku...", sekarang giliran Felix yang kebingungan.


"Iya...tapi aku juga belum sempat sarapan... karena aku buru-buru kemari membawakan makanan untuk mu...", ujarnya cemberut.


"Jadi...kau kemari untuk mengantar sarapan...atau ingin sarapan bersama ku...", tanya Felix memicingkan matanya.


"hehe... dua-duanya...", jawab Melinda jujur membuat Felix menggelengkan kepalanya.


"oke masuklah...", ujar Felix mempersilahkan Melinda masuk.


Mereka berdua langsung menuju meja makan, Melinda mengeluarkan 2 buah kotak makanan yang dia bawa, sedangkan Felix mengambilkan minuman.


"Sepertinya sejak awal kau berencana sarapan bersama dengan ku...", ujar Felix sambil membawa 2 gelas air, dan melihat dua kotak yang di bawa Melinda.


"o-oh memang...", jawab Melinda singkat, jujur saja...mau bagaimanapun Melinda punya malu untuk menunjukkan sikap terang-terangan seperti ini, tapi Melinda harus melakukan itu agar Felix menyadari perasaannya, entah Felix akan menyadarinya atau tidak.


"Duduklah...ayo makan...aku sudah lapar...", ujar Melinda buru-buru untuk menutupi rasa gugup dan malu nya.


"Oh... sepertinya aku yang tamu disini...", ujar Felix terkekeh, kemudian duduk di tempatnya.


"Ce-rewet sekali sih", balas Melinda cemberut, dan lagi-lagi membuat Felix terkekeh, terasa mendapatkan hiburan pagi-pagi.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2