Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 17.2


__ADS_3

"Polisi terdekat akan kemari...", ujar Laura setelah menutup panggilan.


"Semoga tidak terjadi hal buruk...", Aurora semakin cemas dan meremas kedua tangannya.


"Tenanglah Ra... Aprilio dan Nicholas pasti sudah ada disana... mereka akan menyelamatkan Antonio...", Laura menenangkan dengan mengusap bahu sahabat nya itu.


"Semoga saja...", Aurora tak berhenti sedikitpun mengucapkan doa dalam hati untuk keselamatan putranya.


Hingga...


Dorrr


ckiiitt


Melinda menginjak rem mendadak saat mendengar suara itu, walaupun terdengar jauh, tapi mereka yakin kalau itu adalah suara tembakan.


"i-itu itu... suara tembakan kan...", Aurora berujar bergetar.


Melinda dan Laura tak mampu menjawab apa-apa, mereka juga sama-sama terkejut, dan bertanya-tanya apa yang terjadi, banyak hal buruk berputar di kepala mereka.


"eh...lihat Felix melajukan mobilnya dengan cepat...", ujar Melinda kemudian langsung menancapkan gas mobilnya dan menyusul mobil Felix.


Disisi lain


Felix sejak tadi mencoba menghubungi Nicholas, tapi Bos nya itu tidak menjawab sama sekali, lokasi yang di kirim Nicholas memang disini, tapi tempat ini begitupun luas dan ada beberapa gudang atau gedung terbengkalai.


Dorrr


Felix membulat kan matanya mendengar suara tembakan, menatap sekeliling dan mencari sesuatu yang mencurigakan, hingga akhirnya memutuskan kembali melajukan mobilnya dengan kencang ke arah suara tembakan.


Beberapa saat kemudian Felix sampai di depan sebuah gudang, dan ada mobil Nicholas tidak jauh dari sana. tanpa pikir panjang Felix turun dari mobil nya, namun setelah itu dia berjalan mengendap-endap untuk masuk.


Melihat dari celah-celah, Felix bisa melihat beberapa orang sudah tergeletak, jadi Felix memutuskan untuk masuk, setelah itu melihat salah satu orang yang tergeletak.


"Mereka belum mati...hanya pingsan...", gumamnya setelah memeriksa. "... sebaiknya aku cepat-cepat...sebelum mereka kembali bangun...", lanjutnya bergegas pergi.


Di ruangan lain


"Antonio..."


"akkhhh...", Kelvin memekik kesakitan saat tubuhnya di dorong Nicholas dan tangan di cekal ke atas, membuat tembakannya mengarah ke atap gudang.


Sedangkan Antonio sudah beralih di tangan Nicholas, Aprilio yang melihat dari pun segera berlari dan mengambil alih Antonio lalu memeluk nya erat.


"Jangan takut...Papa disini...", ujar Aprilio sambil melepaskan ikatan di tangan dan kaki Antonio.


"Ayo...", ajak Nicholas pergi yang di angguki Aprilio cepat, mereka ingin berlari keluar.


"Cepat tangkap mereka...", teriak Erick lebih dulu pada anak buahnya, namun tak membuat langkah Aprilio dan Nicholas yang sudah membuka pintu ruangan itu dan keluar.


Aprilio sempat terkejut melihat semua anak buah Erick sudah tergeletak, namun kemudian menyeringai sambil menatap Nicholas sebentar.

__ADS_1


"Good Job...", pujinya


"AAAHHH SIAL"


Dari arah belakang, mereka bisa mendengar suara teriakan marah Erick saat melihat anak buahnya sudah terkapar, ini semua memang rencana Aprilio, dia meminta Nicholas untuk diam-diam menempatkan beberapa orang di luar gudang. namun bukan untuk cara susah seperti menghajar, tapi cara mudah, yaitu membius mereka hingga pingsan.


"BERHENTI"


Dor Dor


"Sial... sepertinya bocah itu sudah gila...", gerutu Nicholas berlari menunduk dengan Aprilio yang menggendong Antonio.


wiu wiu wiu


"Kau memanggil polisi...", tanya Aprilio pada Nicholas, tapi sahabat nya menggeleng kebingungan.


"Felix...pasti dia yang menghubungi polisi...", Aprilio mengangguk sejenak dan terus berlari keluar, namun kemudian mereka berpapasan dengan Felix.


"eoh kalian...Antonio...", ujarnya langsung mengambil alih Antonio dari Aprilio. "...Nio tidak apa-apa...", tanyanya mengusap wajah Antonio, bocah itu hanya mengangguk lemah, Felix segera memeluk dan membenamkan wajah Antonio di lehernya.


"Kau yang menghubungi polisi...", tanya Aprilio melihat kedekatan Antonio dan Felix.


"Tidak... bukan aku...", jawab Felix kebingungan, membuat Aprilio dan Nicholas mengernyit heran.


"Sudahlah...lebih baik kita cepat-cepat keluar dari sini...", ujar Nicholas berjalan lebih dulu, kemudian di susul Felix yang menggendong Antonio, dan Aprilio di belakangnya.


Sampai di luar gudang, ada beberapa orang laki-laki yang menunggu, mereka adalah orang-orang yang di perintahkan untuk membius anak buah Erick tadi.


"Kalian masuk...dan tangkap dua orang itu...", perintah Aprilio pada orang-orang itu.


Disisi lain


"Kemana Aprilio...", tanya tuan Dion saat datang ke perusahaan, dan sekertaris Aprilio jika sang atasan sedang tidak ada di ruangannya.


"em...saya tidak tau pasti tuan...tapi tadi tuan Aprilio menerima telpon... setelah itu...beliau pergi dengan terburu-buru...", jelas Sekertaris itu, tuan Dion mengernyit heran, tidak biasanya April seperti ini.


"sejak kapan...", tanya tuan Dion singkat.


"saat jam makan siang tadi tuan...", tuan Dion mengangguk mengerti.


"ya sudah...saya akan menunggu di ruangannya...", sekertaris itu mengangguk, dan mempersilahkan tuan Dion.


Tuan Dion mendudukkan dirinya ke sofa, kemudian mengambil ponselnya untuk menghubungi Aprilio, namun hingga berkali-kali to ada jawaban, hingga akhirnya dia memilih menelpon seseorang.


"Halo tuan..."


"Cari keberadaan Aprilio sekarang...", perintah tuan Dion lalu menutup panggilan.


Beberapa menit menunggu, akhirnya orang suruhannya tadi kembali menghubungi nya.


"Bagaimana..."

__ADS_1


"tuan muda sedang berada di daerah xxx untuk menyelamatkan anak kecil bernama Antonio...", jelas seseorang dari seberang.


"Antonio...", tuan Dion berpikir sejenak. "...kirim beberapa orang kesana...dan pastikan tidak terjadi apa-apa...", perintahnya kemudian. setelah mendapat jawaban dari seberang, tuan Dion memutuskan panggilan.


"Semoga tidak terjadi hal yang buruk...", gumam tuan Dion menyandarkan tubuhnya ke sofa.


Kembali ke Gudang


"Kenapa kau mengajak mereka...", pekik Nicholas terkejut pada Felix.


"Tidak...bukan aku...", elak Felix cepat.


"Berhenti...Kembali ke mobil sekarang juga...", teriakan Aprilio membuat semuanya terkejut, bahkan ketiga perempuan itu tertegun terdiam di tempatnya.


Namun belum sempat melakukannya, suara derap kaki terdengar dari dalam menuju keluar, Aprilio pun refleks berbalik dan melihat Kelvin berlari keluar dengan mengarahkan pistolnya ke depan.


"Menunduk", teriak Aprilio memperingatkan.


Dor


Belum semua melakukan yang di perintahkan Aprilio, Kelvin lebih dulu melepaskan tembakan ke arah Aurora, hal itu membuat Aprilio membulatkan matanya dan langsung berlari ke arah Aurora dengan cepat.


"aakkhh"


Aurora dan Aprilio memekik bersamaan, karena Aprilio mendorong tubuh Aurora untuk menghadang peluru itu, yang ternyata mengenai dada kirinya.


Dor


"Aprilio...", suara Nicholas yang menggema membuat Aurora tersadar dari rasa sakitnya, dan segera melihat keadaan Aprilio.


Sedangkan Kelvin sudah di lumpuhkan dengan tembakan jarak jauh di kakinya oleh polisi dan di tangkap oleh anak buah Aprilio yang mengejarnya tadi.


"Lio...", panggil Aurora menopang kepala Aprilio di pangkuannya, yang lain pun mulai berkumpul mengelilingi nya.


Aprilio terkejut dengan panggilan itu, sudah lama dia tidak mendengarnya keluar dari bibir Aurora, matanya yang biasa tajam berubah sendu. Aurora mengangguk memberi jawaban.


"Ya...aku sudah ingat semuanya...", jawab Aurora mulai terisak, namun Aprilio justru tersenyum. "...Ma-afkan aku...karena melupakan mu...", lanjutnya.


"Ti...dak...", jawabnya susah payah, dengan tangannya berusaha meraih wajah Aurora. "... a-aku merindukan mu...", Aurora langsung menggenggam tangan Aprilio dan menempelkannya di pipinya.


"Aku juga merindukan mu...",


"Te-rima Ka-sih...sudah melahirkan putra ku...", ujarnya beralih menatap Antonio yang ikut berjongkok di samping Aprilio. "...Ma-afkan Papa Nak...Papa belum bisa jadi Papa yang baik untuk mu...", lanjutnya terbata.


"Tidak Lio...kamu tidak salah...ini bukan salahmu...", Aurora menangis kencang.


"Ak-ku-


"APRILIO....


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO


written by Blue Dolphin**


__ADS_2