
Skip Siang Hari
"Kak Lio"
Clara memasuki ruangan seperti sebelumnya, tanpa ketuk pintu terlebih dulu, untungnya saja Aprilio tidak sedang menghubungi seseorang atau memeriksa berkas-berkas rahasia. Dengan menahan emosi, Aprilio menatap gadis yang kini menghampiri nya dengan tersenyum itu.
"Aku sudah katakan berkali-kali...ketuk pintu dulu sebelum masuk...bukankah itu hal yang mudah...", ujar Aprilio pelan menahan emosi nya.
"hehe iya Kak...maaf...aku lupa...", jawab Clara tersenyum, namun membuat Aprilio berdecak malas.
"Duduk lah...aku akan selesaikan ini sebentar...", tanpa di duga, gadis itu mengangguk dan berbalik duduk di sofa tanpa mengatakan atau membantah sedikit pun.
beberapa saat kemudian
"iya...bawa ke ruangan saya sekarang..."
Aprilio sedang menghubungi seseorang setelah baru saja menyelesaikan pekerjaan nya.
"Semuanya..."
Aprilio memutuskan panggilan secara sepihak, tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya, kemudian berjalan menghampiri Clara dengan membawa beberapa berkas.
"ini kejutan pertamanya...", ujarnya menyerahkan berkas itu pada Clara, sesaat matanya langsung berbinar bahagia, namun kembali berubah.
"Apa ini Kak...", tanya Clara kebingungan.
"Buka...dan bacalah...", minta Aprilio, gadis lekas membuka dan membaca nya, matanya membulat sempurna karena terkejut tak percaya.
"Ini... sungguh...Kakak tidak bercanda kan...", tanya antusias.
"Iya...ibu kan ingin membuka Mall...dan Victory Company akan menjadi penjamin...jadi aku pikir...kau kan memiliki beberapa persen saham perusahaan...kenapa tidak menjadikan mu salah satu penanggung jawab dalam pengelolaannya...", jelas Aprilio.
"Kakak yakin...ini bukan proyek kecil lho...", tanyanya
"Iya aku tau...proyek ini mengeluarkan banyak dana...tapi nanti dalam mall ini...juga akan memakai teknologi yang di ciptakan Victory...jadi... bukankah itu juga akan memberikan keuntungan untuk perusahaan...", jelas Aprilio lagi, Clara yang mendengar nya mengangguk mengerti.
"Kak Lio memang cerdas...", puji Clara. "...lalu...apa yang harus aku lakukan nanti...", lanjutnya.
"untuk masalah pengelolaan...kau bisa tanya langsung pada ibu...tapi yang harus kau lakukan sekarang... adalah menandatangani kontrak kerja sama dengan brand terkenal... sebagai penanggung jawab...", jelas Aprilio menunjukkan tumpukan berkas.
"Woah... sebanyak ini...", Clara melotot tak percaya.
"iya...itu semua brand fashion terkenal di dunia...dari baju, gaun, tas, sepatu dan banyak lagi...dari brand fashion perempuan maupun laki-laki...bahkan anak-anak...", jelas Aprilio lagi yang membuat Clara semakin berbinar antusias.
__ADS_1
"Mereka setuju bekerja sama dengan kita... walaupun ini Mall baru dan pertama bagi Victory Company...", tanya Clara penasaran, dan Aprilio hanya mengangguk menjawabnya.
"Kalau kau tidak percaya dengan apa yang aku katakan... kau bisa bawa dan pelajari lebih dulu...", ujar Aprilio.
toktok
Belum Clara menjawab, suara ketukan pintu membuat keduanya mengalihkan perhatian mereka. setelah Aprilio mengijinkan masuk, terlihat 3 orang masuk dengan membawa beberapa kotak hadiah.
"ini semua kejutan yang kedua...", ujar Aprilio menunjuk kotak-kotak itu.
"itu semua untuk ku Kak...", tanya Clara berbinar.
"Iya...semua ini aku pesankan saat membicarakan kerja sama secara langsung dengan mereka...", jelas Aprilio.
"Maksud Kakak...brand-brand yang kontrak kerja sama ini...", tanyanya menunjuk berkas-berkas yang berada di meja tadi, Clara tau betul brand terkenal dari namanya saja.
"iya...tapi jangan khawatir... mereka tidak buru-buru...jadi kau bisa mempelajari kontrak itu...atau kau bisa langsung menghubungi mereka...", ujar Aprilio yakin.
"tidak tidak...aku percaya pada Kakak...aku akan langsung tanda tangani saja...", tolak Clara cepat dan langsung mengambil pena untuk tanda tangan.
Tanpa Clara ketahui, Aprilio diam-diam menyeringai saat melihat gadis itu antusias menanda tangani semua berkas itu tanpa membacanya satu persatu.
(tunggu saja apa yang akan terjadi)
Felix sudah kembali bekerja bersama Nicholas, mereka akan kembali memulai rencana untuk kerja sama dengan Moon Travel.
"Antonio mengatakan padaku...kalau dia membantu Aurora meretas CCTV perusahaan Moon...", ujar Felix di sela mengerjakan pekerjaannya.
"Benarkah...", Nicholas terkejut tidak percaya, bukan karena masalah Moon travel nya, tapi karena tidak percaya Antonio bocah 5 tahun bisa melakukan itu, benar-benar turunan keluarga Victory.
"Beberapa hari yang lalu...Aurora datang langsung ke Moon Travel...dan bertanya tentang ayahnya...Johny Moon...tapi dia tidak membuka indentitas nya...", Nicholas mendengar kan dengan baik. "awalnya resepsionis mengatakan tidak mengenal nya...namun Aurora memaksa resepsionis untuk menanyakan hal itu ke pimpinannya...ya... walaupun jawaban nya tetap sama...tapi itu seperti nya sedikit mengguncang ketenangan pimpinan Moon... karena dari rekaman CCTV... dia langsung menghubungi seseorang untuk membersihkan semua bukti yang berhubungan dengan masalah kecelakaan tahun itu...", lanjutnya membuat Nicholas membulatkan matanya.
"Bukankah itu menunjukkan kalau dia dalang di balik kejadian kecelakaan ayah Aurora...kita harus segera lapor...", ucap Nicholas yakin.
"Benar...tapi aku rasa itu belum cukup...", ujar Felix. "...kita harus mencari dulu bukti wasiat palsu atau apapun yang bisa membuktikan kebohongan mereka...dan... Antonio juga sedang mencoba untuk meretas ponsel nya...", lanjutnya.
"Kalau begitu... bagaimana kalau kau coba untuk mendekati sepupu Aurora yang waktu itu...", usul Nicholas santai.
"Apa...", pekik Felix terkejut. "...kau ingin aku mendekati perempuan angkuh itu...astaga...apa tidak ada perempuan lain...walaupun tampang ku pas-pasan...tapi aku tidak mau di beri perempuan itu...meski cuma-cuma...", jawaban Felix membuat Nicholas tertawa terbahak-bahak.
"kau ini ada-ada saja...maksud ku cuma pura-pura saja...", ujar Nicholas masih dengan terkekeh.
"Maksud mu... memanfaatkannya untuk mencari informasi atau bukti...", tebak Felix.
__ADS_1
"Itu kau pintar...", jawab Nicholas terengah-engah.
"Tapi... bagaimana kalau dia yang tidak tertarik dengan ku...", tanyanya tidak yakin.
"Tenang saja... perempuan seperti itu...akan cepat tertarik dengan pria kaya yang royal...kalau kau berpenampilan seperti orang kaya banyak uang...kau tidak akan perlu susah payah untuk mendekati nya...tapi dia sendiri yang akan mendekatimu...", jelas Nicholas yakin.
"Justru itu...kau tau sendiri kan... bagaimana keadaan finansial ku...", ujar Felix berdecak kesal.
"Tenang saja...aku akan membantu semuanya...dan jangan lupa...kita juga ada pendukung finansial...", Felix mengernyit bingung, namun kemudian membulatkan matanya menatap Nicholas. "...Benar... Aprilio...", lanjutnya mengangguk seolah mengerti dengan apa yang di pikirkan Felix.
Di kafe
Aurora dan Melinda tengah sibuk berbicara dengan seseorang, seorang pria muda yang tengah mencari lowongan pekerjaan part time. sebenarnya sudah ada beberapa orang yang datang untuk melamar sejak tadi pagi mereka menempelkan lowongan pekerjaan.
Namun beberapa orang sebelumnya, belum cocok di mata Aurora dan Melinda, terlalu tua, terlalu gemuk, bahkan ada yang sudah menanyakan gaji lebih dulu, tentu saja Aurora dan Melinda tidak suka dengan hal seperti itu, jadi mereka menolaknya.
"Kau masih kuliah...", tanya Melinda.
"Iya..."
"Kenapa mencari pekerjaan... bukankah itu akan menganggu waktu belajar mu...", lanjut Aurora.
"Tentu saja saya butuh untuk kebutuhan sehari-hari...",
"lalu sebelumnya... bagaimana kau memenuhi kebutuhan sehari-hari mu...", tanya Melinda detail.
"Sebelumnya...", pria muda itu menjeda ucapannya, membuat Aurora dan Melinda saling menatap. "...Ayah saya...meninggal sebulan yang lalu...dan saya tidak punya siapa-siapa lagi...", lanjutnya.
"Memangnya dimana ibu mu...", tanya Melinda lagi.
"Ibu saya meninggal sepuluh tahun yang lalu...", jawabnya
"Maaf...", ujar Aurora dan Melinda bersamaan.
"Tidak apa-apa...", balas pria itu sendu.
Aurora terdiam menatap pria muda itu, hati nya ikut merasa sedih, walaupun Aurora hilang ingatan, tapi mendengar cerita kehidupan nya dulu, dan melihat pria di depannya ini, Aurora bisa merasakan bagaimana beratnya kehidupan yang dia jalani.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1