
Keesokan harinya
"Ra...apa kamu yakin... kalau kamu tidak sanggup...biar aku saja yang masuk ke dalam...", ujar Aprilio khawatir.
Saat ini keduanya sedang berada di kantor polisi, setelah memberikan keterangan, Aurora meminta Aprilio untuk menemaniku menemui Giovanni, awalnya Aprilio tidak setuju, namun karena Aurora memohon, jadi mau tidak mau Aprilio menemaninya.
"Tidak Lio...aku baik-baik saja...aku hanya ingin menanyakan langsung...apa alasannya melakukan semua ini...", jawab Aurora yakin, Aprilio pun akhirnya hanya menghela nafas pasrah.
"Baiklah...ayo masuk...", ajak Aprilio menggandeng tangan Aurora, "...Tetap di belakang ku...", lanjutnya memperingatkan, Aurora pun hanya mengangguk.
Seorang polisi membukakan pintu untuk mereka, saat memasuki ruangan itu, terlihat begitu pengap dan tidak nyaman, ada sebuah meja dan beberapa kursi di sisi ny
Mereka di persilahkan masuk dan duduk terlebih dahulu, tidak ada siapapun, namun salah satu Dindingnya terbuat dari kaca, dan mereka tau di balik dinding kaca itu, ada orang yang mengawasi.
Beberapa menit kemudian, pintu kembali terbuka dan memperlihatkan seseorang yang Aurora ingin temui, dan itu adalah Pamannya, Giovanni yang kemudian duduk di seberang Aurora.
"Kenapa kalian datang kemari", tanya Giovanni masih sombong.
"Kenapa...kenapa Paman melakukan semua ini...", tanya Aurora to the poin, "...pasti ada alasan di balik semua yang kau lakukan ini...", lanjutnya.
"Kenapa kau ingin tau...", jawab Giovanni angkuh, bahkan tak ada raut penyesalan sedikit pun di wajahnya.
"Jangan banyak tanya...jawab saja...", sela Aprilio kesal.
"Ho...santai saja Tuan Victory...", ujarnya menatap Aprilio dengan tersenyum, "... sebelum aku menjawab pertanyaan mu...jawab dulu pertanyaan ku...", lanjutnya.
"Kau-
Aurora mencegah Aprilio yang sudah terlihat kesal, dan kemudian menenangkan nya.
"Baiklah...tanyakan saja...", sambung Aurora kemudian.
"Sejak kapan kalian saling kenal...", tanya Giovanni penasaran, tapi pertanyaan itu membuat Aurora dan Aprilio tersenyum.
"Sejak lama...6tahun lalu...kenapa...apa kau masih tidak percaya kalau kami sudah menikah...", sela Aprilio menyeringai.
"Jadi...apa yang di katakan Joshua itu-
"Bohong...tentu saja...karena yang dia ceritakan adalah...cerita palsu yang kami buat untuk mu...hahaha..." Aprilio tertawa bahagia.
__ADS_1
"Tapi tidak semuanya berbohong...aku memang sudah menikah...dan mempunyai Anak...iya kan Lio...", sambung Aurora kemudian, "...kenapa Paman...kau tidak pernah menyangka kan...kalau aku akan membalas dan mengambil semuanya kembali darimu...kau pasti berpikir...kalau aku akan menjadi perempuan yang menyedihkan karena tidak memiliki apapun... iyakan...", lanjutnya menatap Giovanni tajam.
Giovanni tidak bisa berkata-kata lagi, semua yang di katakan Aurora memang benar, dia tidak menyangka jika Aurora bisa membalikkan keadaan seperti sekarang.
"Sudah... sekarang giliran mu menjawab...", sela Aprilio saat melihat keduanya sama-sama terdiam.
"Sejak kecil... Johnny adalah anak yang pintar dan berbakat... bahkan dia selalu menjadi juara umum dan memenangkan banyak lomba maupun olimpiade...", Giovanni mulai bercerita, dan menjeda ucapannya sebentar, "...aku bukan iri...tapi hanya saja...orang tua kami selalu membanding-bandingkan aku dengan nya...dan sekeras apapun aku berusaha...aku tidak akan pernah bisa melampauinya...bahkan sampai kami sudah dewasa dan ingin menikah...Ayah kami dengan mudah menyetujui permintaan nya menikah...tapi tidak dengan ku... bahkan hingga kami berumah tangga dan memiliki anak... semua yang aku lakukan selalu salah di mata mereka...", Aurora dan April hanya diam mendengarkan.
"...dan yang semakin membuat ku marah dan dendam... saat Ayah diam-diam membantu Johnny untuk mendirikan usaha... sedangkan saat aku minta...Ayah tidak memberikan nya...", ujar Giovanni mulai terdengar kesal, "...usaha Johnny berkembang atas bantuan Ayah... bukankah itu berarti ada hak Ayah atas perusahaan itu... tapi karena Ayah sudah tidak ada...bolehkan kalau aku yang menggantikan nya...", lanjutnya menyeringai.
"Tidak...uang yang kakek berikan itu adalah hak Ayah... karena saat kakek meninggal... Ayah tidak mengambil sepeser pun peninggalan nya...dan Paman yang mengambil semuanya...tapi Paman habiskan semuanya untuk berfoya-foya...iya kan...", ujar Aurora tidak terima.
"Diam...jangan sok tau", teriak Giovanni marah dan berdiri, tentu saja hal itu membuat Aprilio juga refleks ikut berdiri untuk melindungi Aurora.
Melihat kedua mulai tersulut emosi, akhirnya Aprilio memilih untuk membawa Aurora keluar dengan paksa.
"Paman serakah... egois... tidak punya hati...", teriak Aurora emosi saat Aprilio membawanya keluar.
Skip
Beberapa Hari Berlalu, sejak hari itu Aurora setiap hari mengunjungi kediaman keluarga Moon untuk membersihkan dan menata ulang semuanya.
Sebenarnya, Aurora ingin menginap disana, namun karena menurut Aprilio kemungkinan masih berbahaya, atau kedua wanita itu kembali melakukan sesuatu untuk balas dendam, jadi Aprilio meminta Aurora untuk pulang pergi setiap hari.
"Bagaimana...apa masih ada yang kurang...", tanya Aprilio saat melihat Aurora terpaku menatap satu foto ukuran besar yang baru saja di pasang.
"Ya...kamar ku...aku ingin menatanya kembali seperti dulu...", jawab Aurora berbinar bahagia.
"Oke...tapi kamu tidak akan menempatinya kembali kan...", pertanyaan Aprilio membuat Aurora tersenyum.
"Kenapa tidak...aku kan sudah lama tidak menempatinya... aku juga merindukan suasana kamar ku yang dulu...", jawab Aurora santai, namun membuat Aprilio menatapnya tajam.
"Lalu aku bagaimana...", tanyanya polos seperti anak kecil, membuat Aurora semakin ingin menggodanya.
"Bagaimana apanya...ya kamu tidur di kamar mu sendiri lah...", goda Aurora menahan senyum sambil berlalu meninggalkan Aprilio.
"Hey...maksudnya aku ingin tidur dengan mu...aku kan suami mu...", pekik Aprilio sengaja berteriak, karena Aurora pasti akan malu mendengarnya.
"Lio", Aurora berbalik menatap tajam Aprilio namun dengan wajah yang memerah.
__ADS_1
"Kenapa...kita sudah suami istri jadi harus tidur bersama... kita bahkan belum malam per-mmm..", Aurora segera membungkam mulut Aprilio agar tidak berbicara lagi, karena bagaimanapun masih ada pekerja di rumah ini, dan mereka pasti mendengar apa yang di katakan Aprilio.
"Lio...banyak orang disini...jangan bicara sembarangan...", bisik Aurora menahan malu.
"Jadi...kalau tidak ada orang...tidak apa-apa ya...", balas Aprilio berbisik tepat di telinga Aurora.
"Lio...", rengek Aurora kesal. "...tau ah...malas aku dengan mu...", lanjutnya beranjak pergi meninggalkan Aprilio, bahkan tak berbalik sedikitpun.
Disisi lain
"Kurang ajar...", ujar seorang perempuan dengan membanting baju yang sedang dia cuci. "...kenapa nasib kita jadi seperti ini...cuci baju sendiri...tinggal di rumah yang jelek kecil dan bau seperti ini...aaahhh...kuku ku jadi rusak semua...", lanjutnya frustasi.
"Jangan teriak-teriak saja...pikirkan cara untuk membalas si ja**ng Aurora itu...", sahut sang ibu dari dalam rumah.
"Bagaimana caranya Ma...aku bahkan tidak tau siapa yang bisa aku mintai tolong...", teriaknya marah.
"Bukankah...kau punya pacar yang kaya itu...siapa namanya...yang memberimu lukisan dan kalung waktu itu...Fe...em...siapa sih Mama lupa...", ujar sang Mama.
"Felix"
"Iya itu...coba saja minta bantuan padanya...",
"Tapi bagaimana caranya... tidak mungkin kan aku mengatakan yang sebenarnya...",
"Angel...kau ini bodoh atau polos sih...masa seperti itu saja tidak tau...", ejek sang Mama.
"Ck Mama...kalau aku bodoh... tidak mungkin banyak orang yang mengejar ku...aku ingin cantik pintar dan kaya...makanya banyak yang tergila-gila pada ku...", ujar Angel sombong.
"Ya...tapi sadarlah... sekarang kita tidak punya apa-apa...",
"Benar...ini semua gara-gara Aurora...aku harus membalasnya...", ujarnya penuh dendam.
"Kalau begitu... pergilah temui pangeran mu...dan berakting lah seperti seorang Cinderella yang tersakiti...", ujar Natasya menatap Angel, "...kau taukan apa maksud mama...", lanjutnya menyeringai.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1