Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 4.1


__ADS_3

Back to Antonio


"ada apa sayang" suara seseorang mengalihkan perhatian Antonio dan perempuan dewasa di depannya itu


"sayang...sudah selesai...ada apa Aprilio menghubungi mu..." tanya perempuan itu balik, perkataan itu jelas terdengar oleh Antonio, dan membuat Bocah 5tahun itu mengernyit heran, nama yang sama atau memang orang yang sama, namun Antonio segera menggeleng kan kepalanya merasa tidak mungkin jika orang yang sama.


"biasa...masalah pencarian" jawab pria itu santai. "trus anak kecil ini kenapa" pria itu bertanya sambil mengambil alih anak kecil yang tadi di gendong perempuan itu.


"eoh ini...adik kecil ini tersesat...terpisah dari orang tuanya..." jawaban perempuan itu tentu saja membuat pria itu sedikit terkejut


"astaga...lalu bagaimana..."


"tadi aku bertanya apa dia mengingat nomor ponsel orang tua nya...dan katanya dia ingat...jadi aku akan pinjamkan ponsel ku..." jelas perempuan itu panjang lebar, pria itu mengangguk paham. "adik kecil... nama kamu siapa..." tanya perempuan itu pada Antonio.


"sayang...kenapa wajah anak ini...sepertinya sangat familiar ya..." sela pria itu sebelum Antonio menjawab, setelah mengamati Antonio beberapa saat.


"entahlah... mungkin kita pernah bertemu dia sebelumnya..." perempuan itu mengangkat bahunya tidak tau. "oiya adik kecil...nama kamu siapa... saya Laura... ini suami saya Nicholas...dan anak saya Leon..." tanya perempuan itu tersenyum


"Antonio" jawab Nio singkat


"lalu...siapa nama orang tua mu" sela Nicholas penasaran.


"kenapa paman bertanya tentang hal itu" tanya Antonio pintar.


"ah...ti-dak kenapa-napa...hanya ingin tau" Nicholas menjawab kikuk


"Papa ku Felix...Mama ku Aurora" padahal Antonio menjawab dengan santai, namun mampu membuat kedua orang dewasa itu terkejut membulatkan matanya, bahkan refleks saling memandang. "bisakah aku menghubungi orang tua ku sekarang... mereka pasti sedang mencari ku..." ucapan Antonio membuat Laura dan Nicholas tersadar dari keterkejutan mereka


"o-oh tentu saja...ayo kita ke depan menghubungi orang tua mu...dan menunggu disana...agar orang tuamu mudah menemukanmu...disini gelap..." Antonio mengangguk, kemudian mengikuti Laura yang berjalan lebih dulu di depannya, sedangkan Nicholas berjalan di belakang Antonio.


Setelah beberapa menit, Felix datang dengan berlari, kemudian langsung memeluk Antonio sebentar dan melepaskan nya.


"astaga Nio...kamu kemana...Papa dan Mama mencari mu...kamu tahu apa-apa kan...kamu tidak terluka kan..." tanya Felix beruntun


"Nio tidak apa-apa Pa...maaf...Nio tadi penasaran dengan itu..." jelasnya polos sambil menunjuk sebuah gambar besar di pintu masuk Fun Tech tersebut.


"jagoan...kan bisa tunggu Papa dan Mama..." ujar Felix lembut


"iya Pa...maafin Nio" ujar Antonio menunduk


"Papa maafin...tapi tidak boleh di ulangi... mengerti" Felix mengusap kepala Antonio


"iya Pa...Nio mengerti...Nio janji tidak akan mengulanginya" ujar Antonio yakin


"oiya...Nio tadi menelpon Papa pakai ponsel siapa" tanya Felix


"pakai ponsel bibi itu" jawab Antonio menunjuk Laura yang berdiri tidak jauh dari sana. Felix pun bergegas bangun dan menghampiri mereka.


"terima kasih sudah membantu putra saya" ujar Felix tulus dengan membungkuk sedikit


"o-oh iya... tidak apa-apa..."


"saya Felix...Papa nya Antonio" ujarnya memperkenalkan diri dan mengulurkan tangan.


"saya Laura...dan ini suami dan anak saya Leon" jawab Laura sopan menyambut uluran tangan Felix, dan juga memperkenalkan suami dan putranya.


"Saya Nicholas" selanya mengulurkan tangan lebih dulu.


"Saya Felix" membalas jabatan tangan Nicholas


"apa dia sungguh anak mu..." tanya Nicholas, membuat Laura melotot terkejut dan mencubit pinggang nya diam-diam.


"kenapa anda bertanya seperti itu" tanya Felix heran


"a-ah maaf maaf...maksud ku...kalian terlihat tidak mirip... mungkin Antonio mirip dengan Mama nya ya..." elak Nicholas kikuk


"maafkan ucapan suami ku... karena Antonio sudah bertemu orang tua nya...kalau begitu kami permisi mau ke tempat lain..." sambung Laura tidak enak


"tidak apa-apa...apa kalian buru-buru...saya ingin mentraktir kalian sebagai ucapan terima kasih..." ujar Felix tulus


"tidak tidak...itu tidak perlu...kami tulus membantu..." jawab Laura cepat. "ka-kami...juga sedang ada keperluan lain" tolaknya hati-hati


"ah begitu ya...tapi lain kali saya akan mengundang kalian untuk main ke rumah kami..." jelas Felix antusias

__ADS_1


"ah benar itu...kami akan tunggu..." sela Nicholas antusias. "hubungi nomor yang tadi saja... mungkin setelah itu kita bisa berteman..." lanjutnya tersenyum


"iya... sayang sekali kalian buru-buru...kalau tidak...aku akan mengenalkan kalian pada Aurora...Mama nya Nio..." jelas Felix


"mungkin lain kali..." sela Laura. "kalau begitu...kami permisi ya... sampai jumpa..." lanjutnya berpamitan pada Felix dan Antonio, setelah itu beranjak pergi.


"Antonio"


panggilan seseorang dari kejauhan, membuat Antonio dan Felix refleks berbalik, ternyata itu Aurora yang sedang berlari ke arah mereka, dan langsung memeluk Antonio.


"Sayang...kau darimana saja...kau baik-baik saja kan...kau tidak terluka kan...kau membuat Mama khawatir" Aurora beruntun memberikan pertanyaan, bahkan setelah memeluk sejenak, dia langsung memeriksa tubuh Nio dari atas sampai bawah.


"aku baik-baik saja Ma..." jawab Antonio tersenyum


"Nio tadi masuk ke Fun Tech karena penasaran" sela Felix memberi penjelasan


"Astaga sayang...kan bisa tunggu Mama sama Papa...kita bisa sama-sama ke sana..." tutur Aurora lembut


"iya Ma...maafin Nio...tapi- " Antonio menggantung ucapannya membuat Aurora mengernyit bingung


"tapi kenapa sayang..."


"bisakah Nio ke toilet...mau pipis" jawabnya polos, membuat Aurora dan Felix terkekeh dan menggelengkan kepalanya.


"Astaga jagoan...kau ini...ayo Papa antar" ujar Felix terkekeh


"biar aku saja yang antar" sela Aurora


"tidak Ra...kau tunggu saja disini...tapi ingat...jangan sampai kau hilang juga seperti Nio..." goda Felix bercanda


"Felix...memang kau pikir aku anak kecil apa..." jawab Aurora cemberut kesal. Felix dan Antonio tertawa sambil beranjak pergi meninggalkan Aurora.


Tanpa mereka ketahui, dari kejauhan ada dua orang yang menatap keluarga Aurora terkejut tidak percaya. keluarga kecil dan bahagia, itulah yang ada di mata orang lain, jika Aurora, Antonio dan Felix terlihat bahagia, selayaknya keluarga.


"itu benar-benar Aurora...dia sudah menikah...dan bahagia..."


Beberapa saat kemudian


"permisi" suara seseorang di depannya membuat Aurora yang sedang duduk sendirian dan menunduk melihat beberapa foto yang dia ambil tadi di ponselnya pun segera mengangkat kepalanya untuk melihat siapa yang berbicara.


"eoh...ada apa ya...apa ada yang bisa aku bantu" pertanyaan Aurora membuat senyum di bibir Laura luntur, menunduk untuk menyembunyikan air mata dan kekecewaannya.


"a-ah itu...saya Laura...a-apa kau memiliki popok" jawabnya asal karena gugup


"popok" tanya Aurora mengulang


"i-iya itu...em saya lupa membawa popok cadangan untuk anak saya...kalau anda tidak punya tidak apa-apa...em apa anda tau dimana ada yang menjualnya..." jelasnya berbohong


"oh begitu...saya Aurora...tapi maaf...saya baru pertama kali kesini...jadi saya tidak mengenal tempat ini...apa anda mau menunggu suami saya saja... mungkin dia lebih tau..." Aurora menjelaskan dengan ramah


"oh begitu ya...tapi tidak perlu repot-repot...biar saya tanya ke orang lain saja... maaf mengganggu..." tolak Laura halus


"tidak...anda tidak mengganggu kok...santai saja" Aurora tersenyum menanggapinya


"terima kasih... kalau begitu...saya permisi dulu" pamit Laura sopan


"ah iya... silahkan" setelah mendapat jawaban dari Aurora, Laura segera beranjak dari sana dengan buru-buru, sedangkan Aurora terus memandangi punggung nya hingga menjauh.


"Laura...kenapa nama nya terdengar familiar" gumam Aurora sendiri sambil mengingat. namun kemudian mendesis kesakitan saat sebuah memori muncul dalam pikirannya. memori di rumah sakit, sekilas ada gambaran Aurora sedang bersama seorang dokter bername tag Laura, tapi tidak terlihat wajahnya.


disisi lain


Laura berjalan dengan terburu-buru agar segera sampai ke tempat Nicholas dan putra nya yang mengamati nya dari jauh sejak tadi. bahkan dia sudah tidak sanggup menahan air matanya, dan langsung memeluk Nicholas. dengan sigap, suaminya itu menenangkan.


"dia...hiks...tidak...mengingat ku... hiks" ujar nya terbata-bata


"ssttt...sayang...tenangkan dirimu..." Nicholas mengusap punggung istrinya dengan lembut, untung saja Leon sudah tertidur di kereta dorongnya, jadi tidak melihat ibunya menangis.


Setelah beberapa menit kemudian, Laura sudah tenang masih dalam dekapan Nicholas yang hangat dan nyaman.


"apa...menurutmu...sesuatu terjadi pada Aurora 6tahun yang lalu..." tanyanya lirih masih dengan posisi yang sama.


"itu mungkin saja...kecelakaan atau kejadian yang membuatnya amnesia... " jawab Nicholas

__ADS_1


"tapi...kenapa dia ingat kalau nama nya Aurora...kan kalau amnesia...dia tidak ingat apapun" jelasnya sendu


"mungkin kebetulan orang yang menolongnya... memberi nama yang sama..." Laura terdiam mendengar perkataan Nicholas, itu memang mungkin saja terjadi.


"kita harus melakukan sesuatu Nic..." ujar Laura


"iya iya...kita pikirkan caranya nanti...aku janji"


Skip


Setelah dari taman bermain tadi beberapa jam yang lalu, sekarang keluarga Aurora, sudah kembali ke rumah dan sedang menikmati makan malam.


"oiya Ra...sepertinya kita harus mencari sekolah untuk Nio" ucap Felix tiba-tiba setelah menyelesaikan makannya


"Sekolah...Nio akan sekolah" sela Antonio bertanya lebih dulu dengan Antusias


"tapi Felix...bagaimana dengan biaya nya..." Aurora bertanya dengan khawatir


"tenang saja...uang dari penjualan rumah masih tersisa...dan aku rasa...itu cukup untuk biaya masuk sekolah TK..." penjelasan Felix, membuat Aurora sedikit lega, namun tetap merasa tidak enak karena selalu merepotkan Felix.


"Ma...bukankah kalau Nio sekolah...Mama bisa bekerja..." sela nya saat melihat kecemasan di mata Aurora


"bekerja...kau ingin bekerja Ra" tanya Felix terkejut


"a-ah itu...iya...aku cuma tidak biasa saja...biasanya kan aku bekerja setiap hari...trus sekarang di rumah aja...rasanya bosan..." jelas Aurora


"oh begitu...tidak apa-apa sih...kau bisa cari yang kerja part time sampai siang saja...lalu menjemput Nio pulang sekolah...tapi... kau yakin...apa kau tidak akan kelelahan..." Felix menjelaskan dengan khawatir


"aku yakin...aku akan cari yang dekat-dekat sini saja...di toko atau kedai makanan tidak apa-apa..." Aurora menjawab dengan yakin, membuat Felix menghembuskan nafas terpaksa menyetujui.


Skip


Antonio sudah berada di kamarnya bersiap untuk tidur, ditemani Felix, sedangkan Aurora sedang berada dapur mencuci semua peralatan bekas memasak dan makan.


"Papa tidak menginap..." tanya bocah 5tahun itu


"tidak sayang...Papa harus bekerja pagi besok..." jawab Felix lembut


"begitu ya...padahal ada yang ingin bicarakan dengan Papa..." gumamnya menunduk


"kamu ingin bicara apa jagoan...katakan saja pada Papa...jangan takut..." ujar Felix menenangkan


"em...Papa...kalau bisa memilih...ingin Mama tau masa lalunya...atau seperti ini saja..." pertanyaan Antonio membuat Felix mengernyit bingung.


"kenapa kamu tiba-tiba bertanya seperti itu Nak" tanya Felix lembut


"Pa...Nio sudah besar...Nio tau apa yang terjadi sebenarnya antara Papa dan Mama...Nio juga tidak sengaja beberapa kali mendengar percakapan Papa dan Mama atau dengan Nenek...dan-" Antonio beranjak dari duduknya untuk mengambil sesuatu, sedangkan Felix masih tertegun tak menyangka. "Nio menemukan ini..." lanjutnya menyerahkan selembar foto yang dia ambil tadi.


"da-dari mana kamu mendapatkan foto ini..." tanya Felix gugup


"Nio menemukannya di bawah tempat tidur beberapa bulan yang lalu..." jelas Antonio menatap Felix, "aku tau...dia adalah Papa kandung ku... karena wajahnya mirip denganku...iyakan" lanjutnya


"Papa tidak menyangka...jika kau akan mengetahui semuanya secepat ini..." jawab Felix sendu, "tapi Nio...semuanya belum pasti...kau tau kan...jika Mama mu mengalami amnesia...hanya foto ini satu-satunya petunjuk masa lalu nya..." lanjutnya menjelaskan


"Nio tau...dan Nio sudah menemukan petunjuk lain... tapi Nio harus memastikan satu hal pada Papa..." ujar Antonio serius


"petunjuk lain...apa itu..." tanya Felix antusias


"tunggu dulu Pa...jawab pertanyaan Nio lebih dulu... setelah itu...Nio akan tunjukkan apa yang aku dapatkan... " tolaknya


"baiklah" jawab Felix pasrah


"Papa ingin Mama ingat kembali masa lalunya... atau tetap seperti sekarang...jawab yang jujur" pertanyaan Antonio, membuat Felix segera menunduk menutupi rasa kecewanya.


"jujur...Papa ingin ada kemajuan dengan hubungan kami...tapi...dalam keadaan tidak ingat pun... Mama mu tidak bisa membuka hati nya untuk Papa... bahkan dalam kurun waktu 6tahun ini...dia tidak bisa jatuh cinta atau memiliki sedikit perasaan untuk Papa... jadi...Papa akan menyerah dan melepaskan Mama mu...jika pun dia ingin kembali ke masa lalu nya..." Jelas Felix panjang lebar


"apapun yang akan terjadi nanti...Nio akan tetap menyayangi Papa Felix..." ujar Antonio segera memeluk Felix


"Papa juga...akan selalu menyayangi Nio sampai kapan pun" balas Felix juga membalas pelukan Antonio. "jadi...bisa jelaskan pada Papa...petunjuk apa yang kau katakan tadi..." lanjutnya melepaskan pelukannya, Antonio mengangguk antusias dan segera mengambil gadgetnya lalu menceritakan semuanya pada Felix.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin a**


__ADS_2