
Beberapa Hari Kemudian
"Kau ada dimana...", tanya seseorang to the poin dari seberang.
"Di kantor...ada apa...", jawab Aprilio singkat dan bertanya balik.
"Kalau kau tidak sibuk...kemari lah...ada sesuatu yang ingin aku tunjukkan pada mu...",
"Masalah apa...", tanya Aprilio lagi tak langsung mengiyakan.
"Jangan banyak tanya...cepat kemari..."
"Katakan dulu tentang apa...Jangan sampai membuang waktu ku untuk hal-hal yang tidak berguna...", sarkas Aprilio tegas.
"Astaga...kau benar-benar ya... sudahlah...biar aku dan Felix saja yang kesana...", terdengar suara Nicholas menjadi kesal.
"Benar...kau saja yang kemari...pekerjaan masih ku banyak...", sarkas Aprilio lagi.
"Bilang dong dari tadi...tidak usah berbelit-belit...aku yang akan kesana... karena aku kan pengangguran...bukan seperti dirimu yang si-buk...", ujar Nicholas menekan kata sibuk.
"oh kau ingin benar-benar jadi pengangguran ya...", tanya Aprilio namun terkesan ancaman.
"tidak tidak...aku hanya bercanda...kau ini serius sekali sih...", elak Nicholas bercanda.
"cepat kemari...2jam lagi aku ada meeting...", ujar Aprilio langsung memutuskan panggilan tanpa menunggu jawaban Nicholas.
20menit kemudian
toktok
cklek
Nicholas membuka pintu ruangan Aprilio dan langsung menuju sofa dengan santai, di belakangnya ada Felix yang mengikuti.
"Hah...tau begini...kenapa tidak di cadangkan ke laptop mu saja sekalian...", gerutunya sambil mendudukkan dirinya, Felix pun duduk tidak jauh darinya.
"Kau masih menggerutu saja...seperti nyamuk...", sarkas Aprilio beranjak dari kursinya menuju sofa.
"Bukan begitu...lebih mudah kan kalau kau bisa langsung mengaksesnya sendiri...jadi kita punya cadangan...", elak Nicholas.
"Kau tau kan...kalau hal seperti ini mudah di retas...jadi aku sengaja menyetingnya untuk satu akses saja...", jawab Aprilio serius, "...Kau ini sudah berapa kali menghadapi hal seperti dengan ku...kalau kau masih menggerutu hanya karena masalah kecil seperti ini...lebih baik kau jadi pengangguran sungguhan saja...", ancamnya
__ADS_1
"Jangan dong...kau ini selalu saja ancamannya seperti itu...", tolak Nicholas buru-buru.
"Biar saja sekalian kau di usir Laura dari rumah...", tambah Aprilio main-main.
"Hey...jangan bicara seperti itu dong...aku ini sahabat mu lho...yang selalu menemani mu saat suka maupun duka...", ujar Nicholas mendramatisir.
"Ya...kau hanya berdiri di samping ku saja...tapi aku sendiri yang mencari solusi...itu tidak membantu kau tau...", ejek Aprilio berbohong.
"Lio...kau kejam sekali sih...kau kan tau kalau otak ku tidak sepintar dirimu...", ujar Nicholas cemberut, "...walaupun dulu aku masih terhitung pintar sih...tapi tentu saja tidak bisa melebihi di otak mu yang genius itu...", lanjutnya sedih.
"Jangan memasang wajah seperti itu... rasanya aku ingin memukul kepala mu...", ujar Aprilio malas. "...kau tidak malu apa di ketawain Felix...", lanjutnya melihat Felix yang tersenyum.
"tidak apa-apa...Felix itu temanku...", jawab Nicholas, "...hey Felix...kalau dia meminta mu berteman dengan nya...jangan mau...siapa yang akan betah dengan sikap nya yang sedingin salju itu...", lanjutnya pada Felix dengan sedikit berbisik.
"Aku mendengarnya...apa kau tidak mengaca...lihatlah siapa yang bersama ku bertahun-tahun...", ujar Aprilio santai.
"Ah benar juga...", Nicholas menepuk dahinya main-main. "... sepertinya aku kena mantra untuk terus mengikuti mu...", lanjutnya drama, Felix tertawa mendengarnya.
"Dasar gila...", Aprilio berdecak malas. "... bagaimana menurutmu Felix...", lanjutnya beralih bertanya pada Felix.
"Lucu...", jawab Felix sambil terkekeh, membuat kedua sahabat itu mengernyitkan keningnya mendengar jawaban Felix, "...Kalian berdua memang ditakdirkan berteman...banyak kesamaan yang kalian miliki...", lanjutnya.
"Iya...kalian sama-sama CEO...kalian tegas di depan bawahan kalian...kalian juga sama-sama pintar...bahkan-", Felix sengaja menjeda ucapannya agar keduanya penasaran, dan benar saja keduanya menatap Felix, menunggu Felix melanjutkan, lagi-lagi membuat Felix terkekeh, "...kalian sama-sama suami takut istri...", lanjutnya menggoda.
"ya...Felix Yang...omongan mu........benar juga...", ujar Nicholas kemudian tertawa terbahak-bahak, begitupun Aprilio yang tersenyum menggelengkan kepalanya seakan juga menyetujui.
"Maaf maaf...aku cuma bercanda...", ujar Felix kemudian.
"Sudah sudah...ayo kita bahas apa tujuan kalian kemari... sebentar lagi aku ada meeting...", ujar Aprilio setelah melihat jam tangannya.
"Iya iya...aku sampai lupa...", Nicholas mengeluarkan ponselnya, membuka dan mencari sesuatu sebentar, lalu memberikannya pada Aprilio, "...sepertinya kau harus bertanya pada Aurora...", lanjutnya.
"Jadi... sebenarnya mereka tidak memiliki wasiat yang asli...", tanya Aprilio setelah melihat video yang di tunjukkan Nicholas.
"Ya...bahkan semua dokumen saham dan yang lainnya adalah palsu...", sambung Felix.
"Sial...kenapa aku tidak kepikiran sampai kesitu...", ujar Aprilio kesal, "...jadi kemungkinan mereka menyuap atau mengancam pengacara Tuan Moon untuk membuat dokumen palsu itu...", lanjutnya.
"Benar...itu yang harus kita selidiki selanjutnya...", sambung Nicholas. "...dan yang paling penting...kita juga harus mencari kunci brankas bank yang sampai sekarang belum mereka temukan itu...mungkin Aurora memiliki nya...", jelasnya yang di angguki setuju oleh Felix.
"Ya...itu mungkin saja...Tuan Moon menyembunyikannya di sesuatu tempat atau memberikan kuncinya dalam bentuk lain kepada Aurora...", tebak Aprilio pintar.
__ADS_1
"Benar juga...kau pintar sekali...", pekik Nicholas dan memberi apresiasi pada Aprilio.
"Aku memang pintar... memangnya kau...", sarkas Aprilio mengejek.
"Astaga... sombong sekali...", ujar Nicholas berdecak malas, "...lalu...kapan kau akan bertanya pada Aurora...", lanjutnya bertanya.
"Nanti saja...sekalian aku menjemput nya di kafe...", jawab Aprilio menyandarkan punggungnya.
"Atau kita saja yang bertanya... soalnya kita sedang tidak sibuk...", tanya Nicholas.
"Tidak perlu", tolak Aprilio tegas.
"Astaga...iya iya... posesif banget sih...aku kan cuma bercanda...", goda Nicholas main-main.
"Jadi...kita hanya perlu bukti dokumen yang di simpan di brankas itu kan...agar bisa mengembalikan semuanya pada Aurora...", tanya Felix tiba-tiba.
"Iya... memangnya kenapa...", jawab Aprilio kemudian bertanya.
"Kenapa...kau khawatir ya pada Aurora...", tebak Nicholas santai, namun membuat Aprilio dan Felix membulatkan matanya terkejut.
"Bu-kan seperti itu...a-aku hanya merasa lega...jadi aku tidak perlu berhubungan lagi dengan si Angel itu kan...", sanggah nya buru-buru.
"Iya sih...tapi kenapa kau gugup begitupun jawabnya... aku kan cuma bertanya apa kau khawatir pada Aurora...itu wajar kan... khawatir itu kan bukan hanya untuk pasangan...tapi juga bisa pada orang tua...saudara... atau bahkan teman biasa...", ujar Nicholas menjelaskan, "...tenang saja...Lio tidak akan terganggu... dia tidak akan cemburu...iya kan Lio...", lanjutnya menatap Felix dan Aprilio bergantian.
"I-ya...itu benar...", sahut Aprilio terbata menimpali buru-buru dengan panik.
"eh...kenapa kau gugup seperti itu...", tanya Nicholas, "...jangan bilang kau benar-benar cemburu...", lanjutnya menggoda menatap tajam Aprilio.
"Ti-tidak...tentu saja tidak...", elak Aprilio.
"wah kau ini... benar-benar posesif sekali...", ejek Nicholas terus.
"Tidak"
"Iya"
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1