
Malam harinya
Aurora di buat tercengang saat Felix pulang membawa beberapa paperbag berisi beberapa setelan Jas, bahkan sepatu dan kemeja. Hadiah dari Nicholas, agar terlihat lebih seimbang saat bekerja bersama Nicholas di kantor maupun di luar kantor.
"kan aku jadi asistennya Ra...kalau pakaian ku jelek kan dia yang malu..." jelas Felix tidak sepenuhnya berbohong.
"iya sih...tapi... bukankah ini berlebihan... jangan-jangan nanti di potong dari gaji mu ya..." ujar Aurora lagi masih tidak percaya.
"entahlah...tapi lebih baik begitu...daripada gratis...iyakan..." kali ini Felix berbohong, agar Aurora percaya.
"ya sudahlah...terserah kau saja..." ujar Aurora mengalah.
Aurora benar-benar merasa jika sikap Laura dan keluarga nya mencurigakan. sebaik-baiknya orang, tidak mungkin dia dengan mudah memberikan banyak hal kepada orang lain yang bahkan baru bertemu. Namun Aurora menyimpan sendiri pemikiran nya itu, tidak ingin membuat Antonio maupun Felix kecewa.
Keesokan harinya
"Ra...aku nanti tidak bisa balik kesini lagi...jadi waktu kamu mau pulang... langsung tutup saja... kuncinya kamu bawa... dan bawa lagi besok..." Aurora tertegun dengan perkataan perempuan Bos nya itu, dia dengan santai, bahkan percaya dengan Aurora yang baru dia kenal.
"eoh kau yakin..." tanya Aurora ragu-ragu
"iya...kenapa...kau tidak bisa ya..." Melinda menatap Aurora penasaran.
"bu-bukan begitu... bagaimana kalau aku akan jaga sampai nanti sore...kan sayang kalau hanya buka setengah hari..." jelas Aurora.
__ADS_1
"tidak tidak...kau kan harus menjemput dan mengurus anak mu...kasihan kalau dia sendirian..." tolak Melinda mentah-mentah.
"tidak apa-apa...nanti aku akan minta suami ku menjemputnya...atau aku tutup sebentar untuk pergi menjemput anak ku... setelah selesai aku buka lagi... bagaimana..." jelas Aurora panjang lebar.
"jangan Ra...nanti kau kelelahan...memang dulu kau sanggup banyak bekerja karena masih single...tapi sekarang kan beda..." ujar Melinda tanpa sadar, membuat Aurora mengernyit heran menatapnya.
"bagaimana kau bisa tau kalau aku dulu banyak bekerja..." tanya Aurora penasaran, membuat Melinda tersadar.
"ah em itu...maksudnya kan...semua orang sebelum menikah...pasti sangat bekerja keras untuk memenuhi kebutuhannya sendiri... begitupun aku...hahaha...iya kan..." elak Melinda gugup, berusaha membuat Aurora percaya.
"tidak apa-apa Mel...aku bisa ajak anak ku kemari nanti...
kau tenang saja..." Aurora berusaha untuk meyakinkan Melinda.
"Baiklah...tapi janji...jangan terlalu capek...kalau kau sudah lelah...tutup saja... mengerti" ujar Melinda perhatian seperti layaknya saudara, Aurora yang mendengar itu merasa aneh, namun akhirnya hanya mengangguk mengiyakan.
Aurora sudah bersama Antonio di kafe, bocah 5 tahun itu anteng dengan laptop di depannya. setelah di jemput Aurora tadi, dan menjelaskan jika mereka harus di kafe sampai sore, jadi dia meminta Aurora untuk mengambil dulu laptopnya di rumah, agar tidak bosan.
Namun pengunjung kafe perlahan-lahan semakin lama semakin bertambah membuat bocah itu memilih turun dari kursi nya, dan berjalan ke Aurora yang berada di dapur.
"Ma...mau Nio bantu..." tanyanya
"tidak perlu sayang...Nio duduk saja" jawab Aurora lembut
__ADS_1
"tapi orangnya semakin banyak Ma..." ujarnya lagi menunjukkan ke arah orang-orang yang datang.
"iya sayang...Mama bisa kok..." ujar Aurora mencoba meyakinkan.
"Bagaimana kalau Nio bantu mencatat pesanan saja..." balas Antonio juga mencoba meyakinkan.
"memang Antonio bisa..." tanya Aurora ragu-ragu, namun Antonio justru mengangguk yakin.
"bisa Ma...tenang saja...serahkan saja pada Nio..." Aurora tersenyum mendengar putranya itu, dan akhirnya mengangguk mengiyakan.
Bocah 5 tahun itu berjalan meninggalkan Aurora untuk ke menemui pengunjung, namun sebelum itu dia mengambil iPad dan membawanya, ternyata dia akan menggunakan-
nya untuk mencatat pesanan. Aurora tersenyum bangga melihat anaknya itu, yang punya banyak ide.
"Permisi...maaf atas ketidak nyamanan nya...bisa saya catat pesanannya..." sapa bocah 5 tahun itu sopan pada 2orang yang berada di meja paling ujung, membuat 2orang itu, bahkan pengunjung lain menatapnya gemas.
"oh adik kecil...kenapa kamu yang melayani...memangnya dimana pelayan nya..." tanya seorang perempuan muda.
"Maaf...Mama saya berjaga sendirian hari ini...jadi saya ingin membantu nya..." jawaban Antonio yang yakin namun masih dengan nada anak-anaknya, membuat semua orang yang ada disana memekik kagum.
"astaga...kamu pintar sekali...siapa namamu..." tanya perempuan itu lagi.
"nama saya Antonio...bisa saya catat pesanannya sekarang...agar yang lain tidak menunggu terlalu lama..." jawab Antonio tersenyum, namun terkesan seperti perintah yang harus segera dilakukan.
__ADS_1
Antonio memakai iPad untuk mencatat pesanan, dia tau jika menggunakan tulisan, nanti tidak bisa di baca, mau bagaimana pun dia masih anak-anak yang baru belajar menulis.
Beberapa menit kemudian, seseorang terburu-buru masuk ke kafe dan langsung menghampiri Aurora yang berada di dapur, dan langsung membantu, tentu saja itu membuat Aurora terkejut.