Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 23.1


__ADS_3

Aurora menatap dalam mata Aprilio, hingga beberapa saat mereka saling pandang tanpa berkata apa-apa, detik berikutnya Aurora mengambil kedua tangan Aprilio yang berada di pipinya, kemudian menggenggamnya, memejamkan mata sejenak, kemudian menghela nafas sebelum menjawab pertanyaan Aprilio tadi.


"A-ku...Tu-an Dion...", jawab Aurora terbata-bata, tapi ternyata Aprilio sudah mengerti apa maksudnya.


"Aku tau apa yang kamu takutkan...tapi kamu tenang saja... Papa ku tidak akan menolak mu...aku jamin itu...", ujar Aprilio meyakinkan Aurora.


"Ta-pi Lio...-


"Tidak ada tapi tapian...kamu cukup persiapkan diri saja .. dan aku yang akan persiapkan semuanya...Hm", potong Aprilio yakin tak bisa di bantah lagi, membuat Aurora akhirnya hanya bisa menghembuskan nafas pasrah.


"Baiklah...", jawaban Aurora mampu membuat Aprilio tersenyum lebar.


Disisi lain


"Lepaskan aku...aku tidak salah...yang salah adalah perempuan j*l*ng itu yang sudah merebut Kak Aprilio dari ku...", teriakan itu terdengar sampai di luar ruangan, membuat keempat orang yang sedang menunggu di salah satu ruangan menjadi geram.


"Dasar perempuan gila...dia yang salah...tapi masih saja menyalahkan orang lain... tidak waras...", gerutu Melinda kesal.


"Benar-benar ya...rasanya...aku ingin menampar mulutnya itu...", sahut Laura geram.


"Memang sepertinya perempuan itu terobsesi pada Tuan Aprilio... bukannya Cinta...", sambung Felix juga tak kalah kesal.


"Benar...aku juga tidak habis pikir...kok ada perempuan seperti dia...", ujar Nicholas menggelengkan kepalanya.


Beberapa saat kemudian seorang polisi masuk dengan seorang pria memakai pakaian formal.


"Tuan Nicholas", sapa pria itu sopan.


"Pengacara Vino...ada sudah datang...", Nicholas beranjak dari duduknya saat pria bernama Vino itu menghampiri nya dan mengulurkan tangannya untuk berjabat tangan.


"Tentu saja...saya akan siap sedia untuk Tuan Nicholas maupun Tuan Aprilio...", jawabnya yakin membuat Nicholas tersenyum, yang lain pun ikut tersenyum mendengarnya.


"Ya semoga kita bisa sering-sering bertemu...asal jangan dalam situasi seperti ini lagi...", Nicholas terkekeh di akhir ucapannya, membuat Pengacara bernama Vino itu juga ikut tersenyum.


"Ya...dalam keadaan yang normal layaknya seorang kenalan saja... bagaimana...", giliran Vino yang terkekeh dengan ucapannya.


"Benar...", Nicholas terkekeh kecil di ikuti yang lain. "...oiya... kenalkan...ini istri saya... Laura...", lanjutnya memperkenalkan Laura.


"Halo...Saya Laura...", mengulurkan tangannya.


"Halo Nyonya Laura...saya Alvino William...panggil saja Vino... pengacara pribadi Tuan Nicholas dan Tuan Aprilio...senang berkenalan dengan anda...", sapanya memperkenalkan diri, membuat Laura tersenyum canggung saat mendengar di panggil Nyonya.


"ah i-iya...saya juga...", jawab Laura singkat.

__ADS_1


"Kalau ini...Felix...dan ini Melinda...sahabat kami...", Nicholas kembali memperkenalkan Felix dan Melinda bergantian.


"Halo...saya Melinda...", sela Melinda lebih dulu, menatap pengacara Vino dengan kagum, bagaimana tidak kagum, Vino memiliki wajah blasteran, dengan kulit putih dan lesung di pipinya, sikapnya yang ramah, semakin menambah nilai plus untuk nya.


"Saya Felix Yang...", sambung Felix setelah berdecak malas melihat tingkah Melinda.


"Oke...kalau begitu kita bahas sedikit kasus ini sebentar...", ajak Nicholas pada Vino untuk duduk.


Mereka akhirnya mulai membahas masalah yang akan di hadapi, untungnya Nicholas mengenal seorang komandan di sini, dan beliau memberi mereka ruangan untuk berdiskusi secara pribadi.


Hingga beberapa menit kemudian mereka selesai berdiskusi dan sepenuhnya akan menyerahkan masalah ini pada Pengacara Vino, dengan berbekal bukti-bukti yang sudah mereka kumpulkan.


"Baiklah...kalau begitu saya harus berbicara dengan kepala kepolisian terlebih dulu... setelah itu saya akan menghubungi anda kembali Tuan Nicholas...", ujar Vino sopan.


"Benar...saya juga ingin pulang dan istirahat...saya tunggu kabar baik dari anda Pengacara Vino...", jawab Nicholas tegas.


"Tentu saja...saya tidak akan mengecewakan Tuan Nicholas... apalagi Tuan Aprilio...saya jamin itu...", ujarnya tegas meyakinkan.


"Baiklah...saya percaya..."


"Kalau begitu...saya permisi Tuan...Nyonya...", pamitnya membungkuk sopan.


"Sampai jumpa lagi Pengacara Vino...", pekik Melinda dengan nada sedikit tinggi, membuat Nicholas dan Laura menggelengkan kepalanya, sedangkan Felix berdecak malas melihat nya.


"Nich...berapa usianya...dia terlihat lebih muda dari kita... apa kau sudah lama mengenalnya...apa dia asli orang sini...apa dia sudah punya kekasih...", tanya Melinda beruntun pada Nicholas, membuat suami Laura itu memutar bola matanya malas.


"Siapa yang tidak tertarik pada pria tampan sepertinya... pekerjaan bagus...mapan...dan penghasilan besar... bukankah itu sempurna...", ujar Melinda sedih berbisik saat mereka keluar ruangan dan melewati beberapa polisi.


"Tentu saja dia sempurna...tapi belum tentu dia mau denganmu...", sarkas Nicholas jujur.


"Yey...siapa juga yang ingin bersama nya...aku juga sadar diri kali...dia tidak akan mau dengan perempuan seperti ku...", ujarnya cemberut.


"Untunglah kalau kau sadar diri... tidak perlu berpikir jauh-jauh... lebih baik kau bersama dengan Felix saja...", ujar Nicholas menggoda, membuat Melinda dan Felix melotot terkejut.


"i-itu tidak mungkin...", elak Melinda buru-buru.


"Iya... tidak mungkin...aku kan tidak punya pekerjaan... tidak berpenghasilan besar...miskin lagi...", sambung Felix dengan nada menyindir dan sedikit penekanan, bahkan berjalan mendahului ketiga nya.


Nicholas dan Melinda menatap Laura bergantian dengan kebingungan, tentu saja Laura mengangkat bahunya, yang juga sama-sama tidak tau dengan sikap Felix tadi.


Disisi lain


"uh...kenapa akhir-akhir ini Felix susah sekali di hubungi... bukankah dia bilang akan sering-sering menghubungi ku...atau...aku hubungi dia lebih dulu ya...tapi...", Angel membolak balik ponselnya dengan berbicara sendiri, dia sedang menunggu telpon dari Felix yang tak kunjung ada, dan bingung antara mau menghubungi lebih dulu atau tidak.

__ADS_1


tok tok


"masuk", ujarnya malas.


"Sayang...kamu sedang apa..."


"Eoh Mama...aku tidak sedang apa-apa...", jawab Angel pada sosok perempuan paruh baya di depannya.


"Tapi... sepertinya...wajah mu tidak berbicara seperti itu...ada apa Sayang...ceritakan pada Mama...", ujar Nyonya Natasya lembut.


Angel terlihat menimang akan berbicara pada sang Mama atau tidak, karena walau bagaimanapun, Angel dan Felix baru sebatas mengenal, belum ke arah yang lain.


"Sebenarnya...Angel sedang menunggu telpon dari seseorang...", ujarnya sendu menatap ponsel nya.


"Siapa..."


"Mama ingatkan...saat aku belanja...tapi kartu ku di blokir...aku bilang ada seseorang yang membayarkan nya untuk ku...", jelas Angel malu-malu.


"Iya... Mama ingat...", jawabnya mengangguk, "...oh jangan bilang kalau dia seorang pria...dan dia bilang akan menghubungi mu...", tebaknya kemudian, Angel pun mengangguk malu-malu.


"Sebenarnya...aku sudah pernah makan malam dengan nya...untuk membalas kebaikannya-


"Apa...apa kau tidak bilang ingin mengembalikan uang nya...", potong Nyonya Natasya


"Sudah...tapi dia tidak mau...dia bilang...dia hanya ingin makan malam bersama ku...dan...mengenal ku lebih dekat...", jelas Angel merona malu.


"Benarkah...", tanya sang Mama tidak percaya, namun Angel mengangguk pelan, "... bukankah itu berarti dia tertarik pada mu sayang...", lanjutnya berbinar bahagia.


"Sepertinya...pegawai toko waktu itu juga bilang begitu... karena dia dengan mudah mau membayarkan belanjaan ku yang banyak...kalau tidak...dia tidak akan rela mengeluarkan uang untuk orang yang tidak dia suka kan Ma...", jelasnya percaya diri dengan wajah memerah.


"Benar sih...tapi...apa kalian baru bertemu pertama kali saat itu...", tanya sang Mama lagi memastikan.


"Tidak...kami bertemu pertama kali di Perusahaan...dia klien yang bekerja sama dengan Moon Travel...dari Perusahaan A...", jelasnya kemudian.


"Perusahaan A...", pekik Nyonya Natasya terkejut, "...apa dia pemilik perusahaan itu...", tanyanya kemudian.


"Sepertinya bukan... pemiliknya bernama Nicholas...dan dia adalah wakilnya...dan tentu saja salah satu oemegay saham Perusahaan A...", jelas Angel antusias.


"Jadi...dia orang kaya..."


"Benar Ma..."


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2