Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 46.2


__ADS_3

"Kurang ajar...apa mau nya...", geram Aprilio marah


"Tenanglah Lio... semuanya gak akan selesai dengan kau marah-marah...", Nicholas mencoba menenangkan sahabat nya itu, namun Aprilio tidak menghiraukan malah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang, itu membuat Nicholas berdecak malas.


"Cari tau semua tentang Malvino Deon pemilik Hotel Xavier di Paris..."


"Ya semuanya... informasi sekecil apapun...bahkan kelemahan ataupun keburukan yang pernah dia lakukan..."


"Secepatnya...kirim via email saja... tidak perlu menghubungi ku..."


Aprilio memutuskan panggilan secara sepihak, kemudian memasukkan kembali ponselnya dalam saku celana, kemudian membiarkan masing-masing tangannya berada di saku celananya, sambil memandang lurus keluar jendela kaca kantor nya, tentu saja hal itu membuat Nicholas hanya bisa menghela nafas berat.


Kemarahan Aprilio bermula dari kabar yang di sampaikan Felix dan Melinda tadi pagi, bahwa dari pihak Malvino memilih untuk meeting di perusahaan, bukan di hotel, namun Aurora harus datang, seperti penawaran Melinda kemarin. Tentu saja hal itu semakin membuat dugaan Aprilio jika Malvino mempunyai niat lain pada Aurora.


Namun Aurora berusaha mencoba meyakinkan Aprilio jika semuanya akan baik-baik saja, dan Aprilio tidak perlu khawatir, karena mau bagaimanapun Malvino tidak melakukan hal buruk yang akan merusak nama baik dirinya sendiri maupun hotelnya.


"Coba saja aku tidak ada acara perjamuan nanti...aku akan mengikuti meeting itu...", ujarnya sambil berbalik dan berjalan menuju sofa dan duduk tepat di depan Nicholas.


"Ya... setidaknya kau masih bisa berpikiran logis...kalau kau memaksa ikut meeting itu dan mengabaikan acara perjamuan nanti... Aurora pasti akan merasa bersalah...dan kau akan menjadi bahan perbincangan seluruh karyawan mu... bahkan mungkin mereka tidak akan respect lagi pada mu...", jelas Nicholas bijak.


"Aku tau itu..."


"Kalau begitu kau tenang saja... serahkan pada Felix dan Melinda untuk menjaga Aurora di sana...lagian mereka akan selesai saat jam makan siang nanti...", ujar Nicholas meyakinkan.


"Tapi aku tidak yakin...orang seperti Malvino itu...pasti akan mencari banyak alasan untuk makan siang bersama...dengan dalih minta tolong mencari makanan enak atau belum tau tempat makan yang bagus...atau apalah...aku bisa menebak pikiran orang licik seperti itu...", ujar Aprilio geram.


"Benar juga...tapi aku yakin Aurora bisa menolak nya..."


"Entahlah... mereka pasti tidak enak untuk menolaknya... apalagi kalau memikirkan masalah kerja sama...bagi Aurora, pihaknya adalah pihak yang membutuhkan kerja sama itu...jika kerja sama itu gagal... pihaknya lah yang akan rugi...jadi mau bagaimanapun... Aurora dan yang lain, akan berusaha menjaga hubungan yang baik dengan Malvino...", jelas Aprilio panjang lebar.


"Iya sih...tapi sepertinya kau tidak bisa terlalu over thinking Lio...kita kan baru mengenal Malvino... meskipun dia orang luar... Dia pasti paham etika profesional dalam bekerja...", lagi-lagi Nicholas mencoba memberi penjelasan yang menenangkan.


"Hah...kau belum bertemu dengan nya...kalau kau tau...kau tidak akan berbicara seperti itu...", balas Aprilio masih terdengar kesal.


"Memang nya kenapa...apa wajahnya jelek seperti monster...atau dia bau...", pertanyaan aneh yang keluar dari mulut Nicholas membuat Aprilio berdecak malas.


"Bukan seperti itu...tapi di wajahnya itu seperti terpampang tulisan kalau dia sedang mencari masalah...ck bikin kesal saja kalau mengingatnya...", jelas Aprilio kesal kemudian menggerutu, tapi justru perkataannya membuat Nicholas tertawa.

__ADS_1


"hahaha...kau bercanda... bagaimana bisa seperti itu... memang ada tulisan di dahinya... Atau dia pakai di kepalanya...", tanya Nicholas dengan tertawa terbahak-bahak.


"Tidak lucu"


Beberapa Jam Kemudian


"Astaga... terima kasih karena sudah mau memenuhi permintaan saya Nyonya Aurora... karena kalau tidak begini...saya tidak akan bisa bertemu dengan anda...", ujar Malvino sesaat setelah memasuki ruang meeting.


"Saya tidak tau apa yang anda inginkan dengan meminta saya mengikuti meeting ini...tapi saya akan pertegas lagi...kalau saya tidak memahami apapun tentang bisnis ini...jadi saya tidak bisa membantu apapun dalam kerja sama ini...", ujar Aurora to the point.


"Jadi...bidang apa yang anda kuasai saat ini...atau yang sedang anda kerjakan...", tanya Malvino tidak menanggapi perkataan Aurora.


"Saat ini saya hanya ibu rumah tangga...", balas Aurora singkat.


"Ah begitu...tapi bukankah anda dulu belajar di universitas xxx jurusan design...jadi kenapa tidak jadi designer saja...", mendengar pertanyaan itu membuat Aurora mengernyit heran.


"Bagaimana anda bisa tau..."


"Saya tipe orang yang akan mencari semua informasi tentang klien saya sebelum memulai kerja sama...", jelas Malvino santai, tak ada raut khawatir atau merasa bersalah sedikitpun dalam tindakannya.


"Lalu...kalau anda sudah tau semuanya...kenapa anda masih bertanya tentang apa yang saya kerjakan saat ini... bukankah anda pasti sudah mengetahuinya... Seharusnya anda juga tau kalau keberadaan saya disini... tidak akan membantu apapun...", jelas Audi menahan diri.


"Baiklah...lebih baik kita mulai saja meeting nya...", potong Melinda lalu mempersilahkan semuanya untuk duduk.


Meeting berjalan lama, entah Malvino sengaja atau memang dia adalah orang yang sangat teliti dalam mengerjakan semuanya. Dia selalu bisa menemukan cela untuk memberikan kritik pada proposal yang sedang di presentasi kan, namun dia juga bisa dengan cepat menemukan solusi untuk masalahnya dan juga menguntungkan untuk kedua belah pihak, bukan hanya pihaknya saja.


Tak terasa jam sudah menunjukkan waktunya makan siang, pembahasan Meeting pun sudah selesai, Malvino pun sudah mulai lebih santai daripada saat awal tadi yang bersemangat, entah energi nya sudah terkuras, atau memang sudah tidak ada yang perlu di kritik lagi.


"Baiklah... sepertinya semua sudah di bahas dengan jelas... Tolong kirimkan pada saya hasil meeting hari ini bersama surat perjanjian nya... Saya akan periksa sekali lagi...", ujar Malvino.


"Baik Tuan Malvino...saya akan segera kirimkan secepatnya pada anda...agar kita bisa segera menandatanganinya...", balas Melinda.


"Wah ternyata sudah waktunya makan siang...pantas saja perut saya sudah kelaparan...", ujarnya setelah melihat jam tangannya, dan tersenyum menatap yang lain bergantian, kemudian matanya berhenti pada sosok Aurora. "... bagaimana kalau kita makan siang bersama...", Lanjutnya membuat semuanya terdiam sejenak.


"Maaf Tuan Malvino...saya tidak bisa karena sudah ada janji...", jawab Aurora lebih dulu.


"Bagaimana kalau bersama saya dan Tuan Felix saja...kami tidak ada janji...", sela Melinda.

__ADS_1


"Nyonya Aurora ada janji dengan siapa...apa Tuan Aprilio...kalau begitu sekalian saja ajak makan bersama kita...", ujar Malvino seenaknya.


"Bukan...suami saya sedang ada acara di perusahaan nya...", jawab Aurora.


"Tidak apa-apa dengan siapa saja ajak bergabung dengan kita...biar saya yang traktir...", Aurora membulatkan matanya terkejut.


"Tidak-


tok tok


Cklek


"Permisi...Mama...", Antonio muncul di balik pintu, membuat semua orang beralih menatap ke arahnya.


"Nio", ujar Aurora, Melinda dan Felix hampir bersamaan.


"...apa meeting nya sudah selesai...ini sudah waktunya makan siang...", lanjutnya berjalan menuju ke arah Aurora.


"Kenapa Nio kemari sama siapa...", tanya Aurora membungkuk mensejajarkan dengan tinggi Antonio.


"Supir...Papa minta Nio diantar kemari untuk membantu Mama...", Aurora mengernyit bingung dengan perkataan Antonio.


"Apa ini anak anda Nyonya Aurora...wah lucu sekali...", sela Malvino bertanya.


"Ah iya Tuan... Perkenalkan ini anak saya Antonio Victory...", jawab Aurora sopan. "...Nio...beri salam...", lanjutnya pada Nio.


"Salam Tuan...Saya Antonio Victory...Putra dari Nyonya Aurora Moon dan Tuan Aprilio Victory...", ujar Antonio sopan dan pintar menggunakan bahasa inggris.


"Anak yang luar biasa...salam kenal...saya Malvino Deon...", pujinya. "... bagaimana kalau sebagai tanda perkenalan kita...saya traktir makan makanan yang enak...", lanjutnya.


"Tapi saya mau makan berdua saja sama Mama...", jawab Antonio to the point, membuat semua orang terkejut.


"Ah begitu ya... bagaimana kalau sekalian kita ke taman bermain...", rayu nya lagi.


"Kita baru saja kenal...apa anda tidak punya teman untuk di ajak bermain...", ujar Antonio polos.


"Benar...saya bukan orang sini... jadi saya tidak punya teman...apa kau tidak bisa membantu...", rayunya lagi.

__ADS_1


"Tapi Nio mau quality time sama Mama berdua saja...", kali ini Antonio berbicara sedikit lebih tegas, membuat semua orang terdiam. Bahkan Aurora pun mulai paham dengan kata membantu yang Antonio ucapkan tadi.


Bersambung


__ADS_2