
Hay My Blue
I'm Back
I Miss You All
Aku akan mulai update lagi cerita ini, tapi sepertinya hanya akan seminggu sekali...
karena aku juga harus update cerita yang lain...
jadi jangan lupa... mampir juga ke cerita ku yang lain...
"Cinta Pertama" dan "Red Blue"
Terima Kasih
Keesokan harinya
"Nio di rumah saja ya...jaga Papa dan Kakek...Mama harus ke kafe sebentar...jangan nakal...nanti Mama pulang sebelum makan siang...Hm", ujar Aurora lembut duduk berhadapan dengan Antonio di tempat tidur.
"Iya Ma...tenang saja...Nio janji tidak akan nakal...dan akan menjaga Papa dan Kakek dengan baik...", jawab bocah 5 tahun itu yakin.
"Anak pintar..."
cklek
Suara pintu terbuka mengalihkan perhatian keduanya, terlihat Aprilio berjalan perlahan menghampiri keduanya dengan tersenyum hangat.
"Ra...kamu yakin mau buka kafe sekarang...", tanyanya pada Aurora.
"Sebenarnya sih aku cuma mau beres-beres...belum tau kapan buka lagi... soalnya kan waktu itu di tinggal gitu aja... semuanya pasti masih berserakan...dan beberapa bahan makanan juga pasti sudah rusak...aku cuma mau beresin aja...", jelas Aurora panjang lebar.
"Tapi menurut ku... bukankah sebaiknya kamu serahkan saja pada orang lain untuk menangani kafe...dan kamu tinggal cek laporan saja...", ujar Aprilio berniat baik, namun hal itu justru membuat Aurora terdiam. "...mulai sekarang...kamu dan Nio adalah tanggung jawab ku... aku akan memberikan apapun yang kamu dan Nio inginkan...kamu tinggal bilang saja pada ku...", lanjutnya lagi, Aurora tidak mengatakan apapun, namun kemudian menghela nafas panjang sebelum akhirnya menatap Antonio dengan tersenyum.
"Nio tunggu disini ya...Mama mau bicara dulu sama Papa...", ujar Aurora mengusap kepala Antonio dengan lembut. "...kita bicara di kamar mu saja...", lanjut Aurora menarik tangan Aprilio dan mengajaknya keluar, Aprilio yang masih kebingungan pun hanya mengikuti kemana Aurora pergi.
Sesampainya di kamar Aprilio, Aurora melepaskan tangannya dan langsung mendudukkan dirinya di sofa panjang yang berada di sana, Aprilio pun mengikuti dengan duduk di sebelah Aurora.
"Ada apa Ra...apa yang kamu pikirkan...", tanya Aprilio mulai mengerti jika Aurora akan berbicara hal yang serius, Aurora menghela nafas panjang sebelum menjawabnya.
"Lio...aku tahu...kamu bisa memberi apapun yang aku atau Nio mau...sekarang ataupun setelah kita menikah nanti...tapi...tidak bisakah kamu membiarkan aku tetap mengelola kafe...hanya kafe yang aku miliki...ya... walaupun tidak seberapa...dan juga bantuan dari yang lain...tapi setidaknya...itu dari uang ku dulu...kafe itu sekarang jadi kebanggaan ku...aku pernah gagal menjaga warisan mendiang Ayah ku...jadi aku mohon biarkan aku terap mengelola kafe itu...", jelas Aurora menunduk dengan meremas tangannya satu sama lain.
__ADS_1
Aprilio yang sejak tadi hanya diam untuk membiarkan Aurora mengatakan apapun yang ada di pikirannya, setelah beberapa saat, Aprilio mengambil satu tangan Aurora untuk dia genggam agar menenangkan, sebelum akhirnya menjawab perkataan Aurora.
"Ra...aku tidak melarang kamu mengelola kafe...aku hanya tidak ingin kamu kelelahan...aku hanya ingin kamu santai di rumah dengan menemani Antonio...aku ingin membahagiakan mu seperti janji ku...janji yang belum sempat aku wujudkan hingga saat ini... untuk menebus penderitaan mu selama 6tahun ini...aku-", ucapan Aprilio terputus saat Aurora tiba-tiba menempelkan telunjuknya ke bibir Aprilio sejenak agar diam, dan bergantian dia yang berbicara.
"Tidak...aku tidak menderita selama 6tahun ini...jangan katakan seperti itu...kita harus mensyukurinya... karena aku baik-baik saja...dan ada Antonio...aku hidup bersama Antonio...jadi jangan mengatakan nya penderitaan...aku mohon...", Aurora menjeda ucapannya, kemudian menunduk. "...a-ku bahkan belum membalas kebaikan ibu pada ku dan Nio...", lanjutnya bergetar, mendengar itu Aprilio langsung menarik Aurora kedalam pelukannya.
"Maafkan aku Ra...aku tidak bermaksud seperti itu...", ujarnya menenangkan dan mengusap-usap punggung Aurora.
Disisi lain
"Kau belum menghubungi Angel beberapa hari ini kan...", tanya Nicholas pada Felix, saat ini mereka sedang berada di kantor Nicholas, keduanya sedang sibuk dengan dokumen, namun juga sesekali berdiskusi sesuatu, seperti apa yang baru saja di tanyakan Nicholas.
"Tidak...aku lupa...aku terlalu fokus pada pekerjaan mu...", jawabnya santai.
"Tidak apa-apa...pas sekali...nanti kau hubungi dia...dan ajak bertemu besok...katakan kalau kau dari luar negeri dan membawa oleh-oleh untuk nya...tapi sebelum itu...kita harus pikirkan...barang apa yang akan dia simpan di kamar tidur pribadi nya...dan di dalamnya bisa kita selipkan sebuah penyadap...", jelas Nicholas panjang lebar.
"Penyadap... maksud mu kau ingin menyadap pembicaraan nya untuk mencari bukti...", tebak Felix yang di angguki Nicholas.
"Ya...jika membahas masalah besar seperti itu... mereka tidak mungkin membahasnya di tempat terbuka...jadi menurut ku mungkin saja mereka akan berdiskusi di kamar tidur mereka...", jelas Nicholas lagi.
"Tapi... bukankah sebaiknya kita berikan sesuatu yang bisa dia pakai setiap hari...atau bahkan tidak pernah dia lepaskan...", usul Felix.
"Benar...aku juga memikirkan itu...tapi aku tidak tau apa... dan tidak membuat nya curiga... tidak mungkin cincin kan...nanti malah dia menganggap kau sedang melamarnya...", ujar Nicholas menggoda Felix.
"Sepertinya Kalung lebih baik...aku akan pesankan yang limited edition...agar dia semakin percaya jika kau memberinya yang spesial... bagaimana...", ucap Nicholas antusias.
"Kalau begitu...tidak mungkin bertemu besok... karena pesan kalung akan membutuhkan waktu...dan tidak mungkin jadi besok kan...apalagi harus memasukkan penyadap...iyakan...", jelas Felix.
"Tenang saja...biar itu menjadi urusan ku...kau cukup siapkan akting yang keren untuk memikat hatinya...", jawab Nicholas menyeringai, Felix pun menghela nafas pasrah.
"Baiklah...lalu...barang yang kau katakan tadi...apa yang akan kau pilih...", tanya Felix.
"Sepertinya aku tau...pas dengan cerita yang kau buat tentang seni...", jawabnya
"Seni...Musik...kau akan memberinya alat musik...tapikan-
"Bukan...tapi Lukisan... bukankah itu juga termasuk seni...", selanya memotong ucapan Felix.
"Itu jauh sekali...Musik dan Lukisan...kau itu aneh...", Felix terkekeh menggelengkan kepalanya.
"Terserah...yang penting sama-sama seni...", elak Nicholas acuh. "...sudahlah...aku akan menghubungi Aprilio dulu... untuk memberitahu rencana ini...", lanjutnya.
__ADS_1
"Kenapa buru-buru sekali sih...apa tidak bisa kita lakukan beberapa hari lagi...", cegah Felix.
"tentu saja kita harus buru-buru... karena Aprilio ingin segera menikah dengan Aurora...jadi sebelum itu dia ingin menyelesaikan semua masalah yang ada...", penjelasan Nicholas membuat Felix terdiam.
"ah begitu", jawab Felix singkat dengan mengangguk sesaat, bisa Nicholas lihat jika wajah Felix berubah sedih.
"Kalau begitu aku hubungi Lio dulu ya..."
"heem...aku ke toilet sebentar...", Felix beranjak keluar meninggalkan Nicholas yang sudah bersiap menghubungi Aprilio, namun matanya menatap ke arah Felix yang berjalan lesu hingga menghilang di balik pintu.
"Hah... sepertinya aku harus memberitahu Aprilio...", ujarnya kemudian mulai menghubungi Aprilio.
*Tut Tut
"Iya Nich...ada apa*...", suara Aprilio terdengar tenang dari seberang sana.
"Aku hanya ingin memberitahu mu barang apa yang akan kita berikan sebagai penyadap...Lukisan dan Kalung... bagaimana menurutmu...", jelas Nicholas.
"Bagus...aku setuju...kau urus pemesanannya...biar urusan biaya...aku yang tanggung...berikan saja no rekening ku..."
"Ya...aku paham...kau tenang saja..."
"Sudah selesai...aku tutup telponnya..."
"Tunggu Lio...ada sesuatu yang ingin aku katakan..."
"Apa lagi Nich...jangan membuang waktu ku..."
"Astaga...sebentar saja..."
"Cepat katakan..."
"Sepertinya kau harus berbicara dengan Felix...kau pasti tau kan... bagaimana perasaan nya pada Aurora...coba katakan sesuatu padanya... terima kasih...atau apapun...tapi jangan mengatakan hal-hal yang tidak masuk akal...kau mengerti...", jelas Nicholas panjang lebar, namun Aprilio tidak mengatakan apa-apa.
"Lio...kau mendengar ku kan...", panggil Nicholas lagi karena Aprilio tidak menjawab.
"Iya...aku tahu..."
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**