Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 29.1


__ADS_3

"Apa...Li-o hati-hati...", ujar Aurora ketakutan.


"Tenang Ra...aku tidak akan membiarkan mu terluka...", ujarnya.


ckiittt


"Lio...bagaimana ini...apa yang harus kita lakukan", ujar Aurora ketakutan saat sebuah mobil memotong dan berhenti tepat di depan mobil mereka.


"Tenanglah Ra...aku tidak akan membuat mereka melukai mu...", jawab Aprilio santai.


Aurora semakin panik saat dua orang berpakaian hitam dan bertopeng turun dari mobil itu, lalu mendekat ke arah mobil mereka.


toktok


keluar


Salah satunya mengetuk kaca mobil tepat di samping Aprilio dan menyuruhnya turun.


"Kamu tunggu di sini...jangan pernah turun apapun yang terjadi...mengerti...",


"Tapi Lio..."


"Tenang saja...aku tau apa yang harus aku lakukan..."


Mendengar perkataan Aprilio yang yakin, Aurora pun hanya bisa pasrah dan menuruti nya.


Aprilio keluar dengan mengangkat kedua tangannya, sedangkan pria yang mengetuk tadi langsung mengacungkan sebuah pisau ke arah Aprilio.


"Tunggu...ada apa ini...", tanya Aprilio pura-pura tidak tau.


"Serahkan semua barang berharga milikmu...", ancam pria itu. "...atau aku ambil paksa semuanya...", lanjutnya.


"Oke oke...aku akan berikan semuanya...", ujar Aprilio kemudian. "...ini jam tangan... handphone dan ini dompet...", lanjutnya menyerahkan barang miliknya.


Lalu pria itu meminta pria yang lain untuk menggeledah seluruh badan Aprilio.


"Milik istri mu...", ujarnya kemudian menunjuk Aurora yang berada di dalam mobil.


"Oke oke...biar aku saja...", ujar Aprilio kemudian membuka pintu mobil tempat nya tadi. "...sayang...keluarlah sebentar...", lanjutnya sengaja.


Aurora yang ketakutan sejak tadi pun hanya mengangguk dan menurut keluar dari mobil, setelah itu berjalan ke sisi Aprilio.


"Anda bisa periksa dan ambil semua barang yang ada di dalam...tapi tolong jangan bawa mobilnya...kasihan istri saya sedang hamil...saya tidak tega jika dia harus jalan kaki nanti...", ujar Aprilio berakting mengusap perut Aurora, yang tentu saja membuat Aurora mengernyit kebingungan.


"Ayo periksa dan ambil semuanya...", kedua pria itu segera mengambil semuanya bahkan tidak tertinggal tas milik Aurora.


Aprilio diam-diam menyeringai, sedangkan Aurora masih sedikit ketakutan, namun Aprilio segera membawanya ke dalam pelukannya.

__ADS_1


Beberapa menit kemudian kedua pria itu bergegas pergi tanpa mengatakan apapun dengan membawa semuanya di tangan mereka.


"lho...apa kalian sudah selesai... bukankah kalian seharusnya berterima kasih pada kami...", pekik Aprilio memanggil, namun tak dihiraukan sama sekali.


"Lio...kamu bercanda terus dari tadi...", ujar Aurora memukul main-main lengan Aprilio.


"Habis...mereka lucu sekali...bukan aku yang ketakutan... tapi mereka sendiri...", ujar Aprilio terkekeh.


"Sudah sudah... ayo kita pergi...", ajak Aurora.


Mereka pun akhirnya memasuki mobil dan kembali melanjutkan perjalanan, namun Aprilio juga langsung menghubungi Nicholas dari fitur mobilnya.


Tut Tut


"Bagaimana" tanyanya lebih dulu saat Nicholas menjawabnya.


"sudah beres... begitupun dengan resepsionis yang kau katakan tadi...", jawab Nicholas menjelaskan.


"Baiklah kalau begitu...kau minta orang tunggu di sana...kita bertemu di restoran xxx...bawa semua barang-barang nya...",


"oke"


Flashback


"Jadi...anda putri Tuan Johnny...saya sudah menunggu anda selama 6tahun ini...untung saya sempat bertemu anda sebelum saya berhenti...", ujar seorang pria paruh baya berpakaian formal.


"Astaga...saya tidak tau...maaf...", ujar sedih menepuk bahu Aurora, "...tapi syukurlah...sekarang anda baik-baik saja...dan saya bisa menyerahkan wasiat terakhir Tuan Johnny...", lanjutnya.


"Tapi Maaf sebelumnya... bolehkah kami berbicara sesuatu lebih dulu dengan anda Pak Manager...", sela Aprilio.


"Oh tentu... silahkan duduk...", ajak pria paruh baya bernama Louis Young itu. "...jadi apa yang ingin kalian bicarakan...", tanyanya.


"Sebelumnya...saya ingin bertanya...sudah berapa kali Paman Aurora kemari...", tanya Aprilio.


"Oh... Giovanni Moon...", tanya Louis memastikan, Aurora dan Aprilio pun mengangguk mengiyakan. "... beberapa kali...dia memaksa untuk membuka brankas Tuan Jhonny... tapi saat saya meminta kunci...dia tidak memilikinya...jadi saya menolaknya...bahkan dia mengancam dengan berbagai cara...tapi itu tidak berpengaruh untuk kami...", lanjutnya menjelaskan.


"Untung lah...kami benar-benar lega...", ujar Aurora


"Untuk itu...bisakah kami meminta bantuan anda Manager Louis...", sambung Aprilio.


"Bantuan apa..."


"Begini...anda pasti tau apa maksud dari Giovanni Moon ingin mengambil barang Tuan Jhonny disini kan...", tanya Aprilio yang di angguki Louis dengan yakin.


"Dia ingin mengambil alih seluruh harta peninggalan Tuan Jhonny...", jawabnya.


"Benar...jadi saya curiga...jika dia menempatkan mata-mata di sekitar sini... untuk mengetahui informasi... ataupun memantau jika ada orang yang datang atas nama Jhonny Moon...maka mereka akan mencuri nya atau bahkan merebutnya secara paksa...entah itu masih berupa kunci ataupun surat berharga...", jelas Aprilio panjang lebar.

__ADS_1


"Jadi maksudnya ada mata-mata di dalam Bank ini...", tanya Manager Louis terkejut.


"Saya yakin seperti itu...jadi saya berencana untuk mengelabuhi mereka...apa anda mau membantu...", jelas Aprilio lagi.


"Lalu apa yang harus saya lakukan...", tanya Louis.


"Pertama... biarkan kami lihat dulu isi brankasnya...tapi setelah itu kami titipkan pada anda...nanti setelah saya pergi...akan ada saudara saya yang mengambilnya...dan kedua... mereka pasti akan membuntuti saya pulang...jadi saya akan mengecoh mereka dengan kunci palsu yang sudah saya siapkan...dan biarkan mereka menyerahkan nya pada Giovanni...", jelas Aprilio dengan menyeringai.


"Oh itu rencana yang cerdas Tuan Aprilio...", puji Louis.


"Nanti tolong sampaikan juga pada saudara saya...urus resepsionis wanita yang tadi melayani kami...saya yakin... kalau dia adalah mata-mata nya...", ujar Aprilio datar.


"Lio... maksud mu... resepsionis tadi...", Aurora tak bisa berkata-kata lagi.


"Ya...aku mencurigainya...dia terlihat sangat terkejut saat kamu menyebutkan nama Jhonny Moon... bukankah itu aneh...", Aurora setuju dengan apa yang di katakan Aprilio.


"Aku benar-benar tidak menyangka selama ini ada penghianat di dalam Bank ini...", Manager Louis sama-sama tidak menyangka.


"Anda tenang saja...saya akan meminta saudara saya untuk mengurus semuanya sampai ke akar-akarnya... anda tidak perlu khawatir...", ujar Aprilio menenangkan.


"Terima Kasih Tuan Aprilio...Anda dan Tuan Dion sangat-sangat banyak membantu Bank ini...", ucap Manager Louis tulus.


"Tidak perlu seperti itu...ini juga salah satu tugas perusahaan kami untuk menjaga keamanan Bank ini...", ucapan Aprilio membuat Aurora mengernyit heran.


"Kalau begitu...mari saya antar ke Brankas nya...", ajak Manager Louis, mereka pun keluar dari ruangan Manager Louis.


Beberapa menit kemudian, mereka sampai di depan sebuah deretan Brankas, tidak banyak hanya beberapa, tapi di lihat dari warnanya yang sedikit usang, bisa di tebak jika itu Brankas untuk penyimpanan yang cukup lama belum pernah di buka.


"Silahkan...", ujar Manager Louis menunjuk sebuah Brankas yang berada di deretan ketiga dari sisi kedua, tidak terlihat angka, hanya ada ada tempelan nama Moon di sana.


Aurora menghela nafas, kemudian mengeluarkan kunci yang dia bawa, dengan perlahan Aurora mencoba membuka, dan klik... Aurora membukanya dan terlihat tumpukan dokumen dan sebuah kotak kecil persegi.


"I-ni...", Aurora mengambil semuanya kemudian berbalik menatap Aprilio yang juga menatapnya kemudian mengangguk.


"Mari kita kembali ke ruangan saya... untuk melihatnya...", ajak Manager Louis.


Ketiganya pun kembali ke ruangan Manager Louis, kemudian duduk kembali ke tempat awal mereka masing-masing.


"Lio bantu aku memeriksa ini...", pinta Aurora pada Aprilio dengan menyerahkan setumpuk dokumen. "...aku melihat isi kotak ini...", lanjutnya, Aprilio pun mengangguk mengiyakan.


Setelah itu, Aprilio sibuk membuka dokumen-dokumen, sedangkan Aurora membuka kotak yang berada di tangannya.


"I-ni a-apa...


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2