Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 10.1


__ADS_3

kriiing


dering telepon memenuhi sebuah ruangan bernuansa biru dan putih, ada sebuah meja kerja dan sofa disana, juga ada seorang perempuan yang sedang fokus dengan beberapa lembaran kertas di hadapannya.


"*y**a*" ujarnya setelah mengangkatnya, tidak ada ucap sapaan atau lainnya, karena dia tau siapa yang menghubungi, kalau tidak resepsionis, pasti salah satu dokter atau kepala rumah sakit, karena memang telepon itu hanya menghubungkan sesama dokter atau staff rumah sakit.


"Maaf...dokter Laura...ada seseorang mencari anda..." ujar seseorang dari seberang sana.


"siapa..." tanya Laura mengernyit heran.


"maaf dokter...dia tidak ingin menyebutkan namanya... dia hanya mengatakan kalau dia teman anda..." jelas suara perempuan di dalam telepon.


"laki-laki atau perempuan..." tanya Laura sekali lagi.


"perempuan dokter..."


"baiklah...antarkan dia kemari..." jawab Laura kemudian memutuskan sambungan setelah mendapat jawaban.


Setelah menutup telepon, Laura membereskan dan merapikan kertas-kertas yang dia lihat tadi. namun saat akan berdiri untuk meletakkan berkas, ponselnya yang berada di meja berdering. Laura mengernyit heran saat nama Melinda yang tertera disana, tapi tanpa pikir panjang lagi, dia segera menggeser ikon hijau di ponselnya.


"halo Mel...ada apa...tumben jam segini menelpon ku..." tanya Laura beruntun pada perempuan yang lebih muda darinya itu.


"kak...apa *****Aurora***** menghubungi mu...atau dia datang kesana...atau dia mengatakan sesuatu kalau dia mau kemana..." balas Melinda beruntun dari seberang sana.


"Aurora...apa maksud mu Mel...aku tidak mengerti..."


Laura mengernyit bingung dengan apa yang di katakan Melinda.


"tadi Aurora bilang akan datang terlambat...aku pikir mungkin ada urusan di sekolah Antonio...tapi setelah 1jam lebih...dia tidak datang juga...aku sudah menghubungi nya tapi tidak di angkat...aku juga sudah menanyakannya pada Felix...tapi dia bilang Aurora tidak mengatakan apa-apa... bahkan tadi Felix sudah mengantarnya sampai di depan kafe setelah mengantar Antonio ke sekolah...Felix...akan mencoba menghubungi Aurora... setelah ada kabar...dia akan memberitahuku..." Melinda menjelaskan panjang lebar, Laura juga hanya diam mendengarkan.


"Aurora tidak menghubungi ataupun mengatakan apa-apa pada ku... mungkin dia benar-benar ada urusan...tunggu saja kabar dari Felix...aku juga akan coba menghubungi nya..." jawab Laura coba menenangkan, bersamaan dengan suara ketukan di pintu ruangannya.


"tapi kemana kak...dia kan tidak kenal siapa-siapa selain kita..." Laura menjawab "masuk" ketukan pintu itu sambil mendengarkan perkataan Melinda.


"tenanglah Mel...aku-" ucapan Laura terhenti saat melihat seseorang yang membuka pintu ruangannya.

__ADS_1


"kak...kak kenapa berhenti" panggil Melinda berkali-kali karena Laura berhenti berbicara.


"aku tahu dimana dia...aku akan menghubungi mu nanti..." jawab Laura cepat dan segera memutuskan panggilan itu.


"Aurora...kenapa kau ada disini...ayo ayo duduklah..." ajak Laura antusias menarik tangan Aurora untuk duduk di sofa yg berada disana. "kau tidak apa-apa kan...kau tidak sakit kan..." tanyanya beruntun, namun Aurora hanya diam saja tak mengatakan apa-apa.


"Aku sudah tau semuanya" ujar Aurora akhirnya, walaupun dengan suara yang lirih, namun mampu membuat Laura melotot terkejut.


"Apa...Kau sudah tau...apa kau sudah ingat semuanya..." tanya Laura antusias, namun gelengan dari Aurora membuat Laura terdiam kecewa.


"tapi aku sudah tau siapa kalian..." ujar Aurora sedih dan menatap Laura kecewa, Laura yang melihat nya pun terdiam sejenak, kemudian menghela nafas dan beranjak berdiri untuk mengambil segelas air yang memang sudah tersedia di ruangannya.


"apa yang kau tau...aku...Melinda..." tebak Laura, Aurora mengangguk lemah. "baiklah...aku akan meminta Melinda kemari... setelah itu...kau katakan semua yang kau tau...Hm" lanjutnya bijak, sekali lagi Aurora hanya mengangguk mengiyakan.


Laura memang sengaja meminta Aurora yang mengatakan, bukan dia yang mengungkapkan, karena dia takut itu akan menyakiti Aurora, apalagi jika masalah atau memori baru, jadi lebih baik Aurora yang mengatakan apa yang ada di pikirannya.


Skip


Beberapa menit kemudian, Melinda datang dengan buru-buru karena memang Laura tidak mengatakan banyak, hanya menyuruhnya untuk datang karena Aurora ada bersamanya.


"Aurora...kau tidak apa-apa...kenapa kau kemari...apa kau sakit..." tanya Melinda beruntun setelah masuk menghampiri dan duduk di sebelah Aurora.


"dia tidak apa-apa Mel..." Laura menjawab pertanyaan Melinda karena Aurora diam saja.


"lalu...kenapa kakak meminta ku kemari...aku pikir terjadi sesuatu pada Aurora..." tanyanya kebingungan, Laura menghembuskan nafas berat sebelum menjawab pertanyaan Melinda.


"Aurora bilang...dia sudah tau semuanya..." ucapan Laura kali ini membuat Melinda membulatkan matanya.


"kau sudah ingat semuanya... benarkah..." tanya Melinda antusias semangat.


"tidak Mel..." lagi-lagi Laura yang menjawab pertanyaan Melinda.


"lalu..." tanya Melinda bingung.


"entahlah...biar Aurora saja yang mengatakan...apa saja yang dia tau..." jelas Laura santai.

__ADS_1


Akhirnya Aurora mengatakan semuanya, apa saja yang dia tau, dari potongan memori dan juga dari suster Delina, Aurora juga mengatakan bahwa dia juga tau jika pria bernama Aprilio adalah Ayah Antonio. karena Aurora ingat betul wajah pria yang ada di foto, dan mengaitkannya dengan semua yang di lakukan Laura dan Nicholas yang sebenarnya adalah sahabat Aprilio.


Namun Aurora menegaskan sekali lagi kalau dia masih belum siap untuk kembali berhubungan dengan Aprilio. Aurora tidak ingin kembali menghadapi masalah seperti yang dia alami dulu, karena sekarang dia tidak sendiri, ada Antonio yang harus dia jaga dan lindungi, Aurora tidak ingin terjadi sesuatu yang buruk pada Antonio. tapi entahlah, semua tergantung dengan kehendak Tuhan.


Skip Makan Siang


Semua orang berkumpul di kafe milik Melinda. Antonio, Felix dan Nicholas tertegun tidak percaya saat ketiga perempuan itu mengatakan kalau Aurora sudah tau jika mereka membohongi nya selama ini.


"maafkan Nio ma..." ujar Antonio menunduk.


"maafkan aku juga Ra..." sambung Felix bersalah, yang lain hanya diam tidak bisa berkata-kata lagi. sedangkan Aurora hanya menghela nafas lemah.


"sebenarnya aku kecewa...tapi...aku tau kalian melakukan semua ini demi kebaikan ku...jadi...aku akan memaafkan kalian...tapi...jangan ulangi lagi...sebaik atau seburuk apapun... ceritakan semuanya pada ku...Hm" mendengar perkataan Aurora, semuanya pun mengangguk dan kembali tersenyum.


"sepertinya...aku harus mengatakan masalah ini juga..." ujar Melinda tiba-tiba, membuat semua orang mengernyit menatapnya.


"masalah apa yang ingin kau katakan Mel..." cegah Laura waspada.


"masalah kafe ini..." jawabnya santai, Laura yang paham pun akhirnya mengangguk mengerti.


"apalagi yang kalian rahasia kan...Hm" sahut Aurora curiga.


"sebenarnya...kafe ini milik mu Ra..." ujar Melinda membuat Aurora terkejut bingung.


"maksudnya...aku tidak mengerti" ujar Aurora kebingungan.


"begini Ra...saat Ayah mu meninggal...pihak rumah sakit mengembalikan uang deposit yang kau bayarkan...namun karena kau menghilang...jadi aku yang menyimpan nya...tapi daripada aku pegang sendiri...lebih baik aku investasi kan...dan...inilah hasilnya..." jelas Laura panjang lebar, membuat Auto syok tidak percaya, bahkan sampai tidak bisa berkata-kata.


Aurora memang masih belum mengingat bagaimana kehidupan nya dulu, yang Aurora ingat saat ini adalah kehidupan nya 6tahun ini yang jauh dari kata mewah, tapi berkecukupan, jadi saat mendapat sesuatu yang besar seperti ini, Aurora merasa tidak percaya, tapi bersyukur bagaimana Tuhan begitu baik padanya saat ini. memberikan sebanyak ini, hal-hal yang tidak pernah Aurora bayangkan sebelumnya.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2