
Antonio duduk santai di bangku taman, tak beranjak sedikitpun seperti permintaan Aurora, namun kemudian matanya tidak sengaja melihat seorang pria paruh baya berjalan terhuyung-huyung sambil terbatuk-batuk beberapa meter di hadapannya, awalnya Antonio hanya melihat dari jauh, sampai akhirnya pria paruh baya itu seperti akan terjatuh, Antonio segera berlari untuk membantunya.
“Kakek tidak apa-apa” pertanyaan Antonio membuat pria paruh baya itu menatapnya.
“ti-dak apa-apa...te-rima kasih” jawab pria itu terbata-bata.
“kalau begitu...kakek duduk dulu” ajak Antonio dan perlahan mengarahkan pria itu untuk duduk. “apa kakek sakit...sepertinya kakek butuh minum...tapi Nio tidak punya air...kita tunggu Mama dulu ya...Mama sedang membeli air di sana...” Nio bertanya namun seperti tak membutuhkan jawaban, membuat pria itu tersenyum terhibur.
“Nio” terdengar suara Aurora memanggil, Antonio segera turun dari kursi dan berjalan beberapa langkah agar Aurora melihatnya.
“Mama...Mama...Nio di sini...” teriaknya, Aurora segera berlari mendekat.
“Sayang... kenapa kau di sini... Mama kan sudah bilang jangan kemana-mana” ujar Aurora khawatir.
“Maafkan Nio Ma...tadi Nio melihat kakek ini hampir terjatuh...jadi Nio bantu” jelas sambil melihat pria yang dia bantu tadi.
“astaga” Aurora segera menghampiri pria paruh baya itu, “tuan...anda tidak apa-apa...minumlah...di mana keluarga anda...” tanya Aurora menyerahkan sebotol air dan menatap penampilan pria itu yang terlihat berwibawa dan pakaian yang di kenakan terlihat bagus dan mahal, berarti bukan pria tua yang di telantarkan.
“saya tidak apa-apa...asisten saya sedang menunggu di mobil...” jawabnya setelah meneguk sedikit air pemberian Aurora.
“kalau begitu...mau saya panggilkan...atau saya bantu ke sana...” tanya Aurora lembut.
“kalau tidak merepotkan...antar saja saya ke sana...” jawabnya.
“baiklah... mari saya bantu” Aurora membantu memegangi lengan pria paruh baya itu dan menuntunnya.
Hingga beberapa meter kemudian terlihat sebuah mobil mewah terparkir rapi dengan seorang pria berdiri di sampingnya, mungkin itu asistennya, dan saat melihat ke arah Aurora dan pria paruh baya itu, asisten itu segera berlari menghampiri.
“tuan besar...apa yang terjadi... anda baik-baik saja” terdengar suara asisten itu panik.
“mungkin dia kelelahan...saya sudah memberinya minum tadi” jawab Aurora lebih dulu, “segera bawa pulang untuk istirahat...dan lain kali jangan biarkan pergi kemanapun sendirian” lanjut Aurora perhatian dan membantu asisten itu membawa pria tadi ke dalam mobil.
“iya...terima kasih nona” jawab asisten itu sopan, kemudian mengeluarkan sesuatu dari kantong jasnya dan memberikannya pada Aurora. “ini kartu nama saya... jika nona membutuhkan sesuatu... bisa menghubungi saya...sebagai tanda terima kasih...” lanjutnya.
“tidak perlu...saya hanya niat membantu” tolak Aurora.
“tidak apa-apa pegang saja...mungkin suatu hari nona akan butuh...saya permisi” asisten itu membungkuk sopan pada Aurora, kemudian masuk mobil dan meninggalkan Aurora dan Antonio.
Aurora membaca kartu nama itu, kemudian mengernyit membaca nama yang terletak di sudut atas kartu nama itu.
Victory Corp
"Ma...Mama kenapa” panggil Antonio bertanya saat melihat Aurora memandang kartu nama yang di berikan asisten tadi.
“o-oh tidak apa-apa...ayo kita pulang...sudah waktunya makan siang...Mama akan buatkan makanan kesukaan Nio...” ajak Aurora mengalihkan pembicaraan, tentu saja mendengar itu Antonio mengangguk berbinar senang.
Lalu keduanya berjalan bergandengan meninggalkan taman dan menyeberangi jalan untyk kembali ke apartemen mereka, namun ada seorang perempuan yang berjalan dari arah depan dan tengah sibuk dengan ponselnya.
Bugh
Perempuan itu menabrak Aurora, untungnya Aurora sigap menahan tubuhnya agar tidak jatuh, tapi malang untuk perempuan itu yang langsung terjatuh karena dia memakai highheels.
“aww kurang ajar... siapa yang berani menabrakku” omel perempuan itu kesal.
“maaf saya tidak sengaja...apa kau tidak apa-apa” Aurora meminta maaf lebih dulu walaupun bukan salahnya.
“tidak apa-apa kau bilang...lihatlah baju ku kotor... kau tau berapa harga baju ku ini...” ujar nya sombong sambil membersihkan bajunya.
“mari saya bantu” Aera mencoba menolongnya berdiri dengan mengulurkan tangannya, namun di tepis oleh perempuan itu.
“aku tidak butuh bantuan mu” tolaknya dengan berusaha berdiri. “sekarang kau ganti rugi- “ perempuan itu menghentikan ucapannya dan membulatkan matanya saat melihat ke arah Aurora.
“Aurora”
“anda mengenal saya” tanya Aurora bingung setelah mendengar perempuan di hadapannya ini memanggil namanya. Namun respon perempuan itu tidak seperti dugaan Aurora, perempuan mencengkram kedua bahu Aurora dan menatapnya tajam.
__ADS_1
“kenapa kau kembali...setelah kematian Ayahmu...kau menghilang bertahun-tahun...dan sekarang kembali...apa yang kau rencanakan...apa kau ingin merebut perusahaan Moon...tidak... aku tidak akan membiarkan hal itu terjadi...aku penerus perusahaan Moon...aku tidak akan membiarkan kau mengambilnya kembali...aku akan lakukan apapun untuk menyingkirkanmu-“ ucapan perempuan itu terputus saat ada seseorang mendorong tubuhnya hingga cengkraman nya pada Aurora terlepas.
“apa yang kau lakukan pada Aurora” teriaknya marah.
“Fe-felix”
“Papa”
Aurora dan Antonio terkejut karena tiba-tiba Felix ada di sana, dan menatap marah perempuan itu setelah mendorongnya.
“Ra...kau tidak apa-apa” tanya Felix berbalik, Aurora hanya mengangguk pelan. “siapa kau menyakiti Aurora huh” ujarnya marah pada perempuan tadi.
“jangan ikut campur...ini urusan ku dan dia...” ujarnya menunjuk Aurora, “walaupun kita sepupu... aku tidak akan membiarkan kau merebut semuanya...” teriaknya kembali marah, Felix terkejut mendengar penuturan perempuan itu.
“apa kau mengenal Aurora...siapa kau...apa kau keluarganya...tolong beritahu kami...karena Aurora mengalami amnesia...dan tidak ingat apa-apa...” sekarang ucapan Felix yang membuat perempuan itu terkejut.
“amnesia...”
“benar...tolong beritahu kami” mohon Felix.
“ah eh ti-tidak...maaf...ternyata aku salah orang” elak perempuan itu berbohong.
“jangan berbohong...kau tadi bilang mengenalnya” desak Felix kembali, namun perempuan itu segera berbalik dan pergi, saat Felix akan mengejarnya suara Aurora yang kesakitan membuat Felix menghentikan langkah nya dan berbalik.
“aakkhh” Aurora memegangi kepalanya yang kesakitan, setelah potongan-potongan memori terlintas di otaknya, membuat Felix dan Antonio panik.
“Mama”
“Ra...kau kenapa...” tanya Felix khawatir sambil menahan tubuh Aurora yang hampir terjatuh.
“ke-kepala ku sa-kit” jawab Aurora terbata-bata.
“apa perlu ke rumah sakit” tanya Felix cemas, Aurora menggeleng lemah.
“baiklah...kita pulang saja...Nio berjalan di depan ya... biar Papa yang membantu Mama...” ajak Felix, Antonio mengangguk yakin kemudian berjalan lebih dulu dan sesekali melihat ke belakang dan menatap Aurora khawatir.
Aurora dan Antonio sedang berada di supermarket, mereka sedang berada di deretan sayur dan buah, Aurora sedang sibuk memilih beberapa sayuran. Sedangkan Antonio sedang melihat-melihat sekeliling. Sebenarnya, setelah bertemu perempuan waktu itu, Aurora menjadi lebih pendiam dan tidak ingin keluar rumah, bahkan kali ini Aurora terpaksa keluar karena beberapa bahan makanan sudah habis.
“Mama...bolehkah Nio membeli cemilan” tanya Antonio.
“tentu boleh sayang... tunggu sebentar... Mama sebentar lagi selesai...setelah itu kita ke tempat makanan ringan...” jawab Aurora lembut.
“tidak apa-apa Ma...Nio bisa kesana sendiri...Nio Cuma mau ambil snack seperti yang di belikan Papa waktu itu...” ucap Antonio meyakinkan.
“Nio tau tempatnya...yakin tidak butuh bantuan Mama...” tanya Aurora memastikan.
“iya Ma...Nio yakin...nanti Nio langsung kembali kesini...tidak lama kok...” ucapnya yakin.
“oke...hati-hati ya...kalau mau snack yang lain... ambil saja...” ujar Aurora mengusap kepala Antonio sayang, mengangguk mengerti, Antonio segera bergegas ke lorong tempat makanan ringan.
Mengingat dan mencari dimana tempat snack yang dia cari saat bersama Papa nya waktu itu. Namun saat sudah menemukannya, Nio di buat kesal karena ternyata tempatnya berada di rak yang cukup tinggi dan tentu saja Nio tidak bisa mencapainya.
“Kenapa tinggi sekali sih” gerutunya kesal sambil mengulur tangannya mencoba menggapai snack itu. “apa tidak ada sesuatu untuk pijak kan disini atau tongkat untuk menjatuhkannya...” lanjutnya cemberut dengan bertolak pinggang.
Karena terlalu kesal dan fokus memikirkan cara, Antonio sampai tidak menyadari jika ada seorang pria di belakangnya yang menatapnya dengan tersenyum gemas.
“Anak kecil...kau mau ambil snack yang mana... biar saya ambilkan...” ucapan seseorang itu membuat Antonio refleks membalikkan badannya dan membuat keduanya saling pandang untuk beberapa saat.
(“Eoh...aku seperti pernah melihat paman ini...” batin Antonio menatap pria itu)
(Eh...bukankah wajah anak kecil ini terlihat seperti ku saat masih kecil” batin pria itu menatap Antonio)
“Paman mau membantu ku...” ucapan Antonio membuat pria itu tersadar dari lamunannya.
“oh tentu...kau mau yang mana” tanya pria itu lembut.
__ADS_1
“tolong ambilkan yang itu...dan yang itu...” jawab Antonio sambil menunjuk snack yang dia inginkan.
“yap ini snack nya...” pria menyerahkan snack pada Antonio.
“terima kasih paman” ujar Antonio sopan.
“iya...tapi kenapa kau sendirian...dimana orang tua mu...” tanya pria itu sambil melihat sekeliling.
“oh...aku bersama Mama...tapi sekarang Mama ada di tempat sayuran...” jawab Antonio yakin.
“kalau begitu-
Kriiiiiingggg
Ucapan pria itu terpotong saat ponselnya berdering, berdecak kesal saat melihat nama yang tertera, namun tetap menjawabnya.
"ada apa tuan besar Victory...kenapa menghubungi ku...”
“...”
“iya iya...kenapa Ayah...apa Ayah membuat masalah lagi...”
“...”
“tidak bisa...aku sibuk...”
Antonio masih berada di sana melihat pria itu, mengamati wajah pria itu, yang terlihat familiar untuk Antonio, seperti pernah melihat, tapi entah dimana. Dan Antonio mengernyit heran saat mendengar pria itu menyebut Victory, seperti nama perusahaan yang berada di kartu nama yang di berikan asisten dari pria paruh baya di taman waktu itu.
“Nio...” panggilan Aurora dari jauh membuat Antonio tersadar dari lamunannya dan segera berlari ke arah Aurora tanpa berpamitan pada pria yang membantunya tadi. “kok lama sayang...kenapa” tanya Aurora saat Nio menghampirinya.
“maaf Ma...tadi Nio masih cari snack yang lain...” jawab Antonio tersenyum.
“kalau Nio masih mau lagi yang lain...beli saja... ayo sama Mama...” ajak Aurora ingin berbalik, namun di cegah oleh Nio.
“tidak Ma...ini Nio sudah ambil dua...” jawab Nio menunjukkan dua snack di tangannya.
“yakin Cuma itu saja...tidak mau yang lain lagi” tanya Aurora, dan Nio mengangguk. “baiklah... ayo kita bayar...” ajak nya menggandeng tangan Nio.
Skip
“Ma...Nio langsung masuk kamar ya” Antonio bergegas masuk lebih dulu ke dalam setelah Aurora membuka pintu.
“eh...ini snack nya tidak di makan” tanya Aurora heran.
“nanti saja” jawab Nio singkat tanpa berbalik sedikitpun dan tetap melangkah ke arah kamarnya.
“oh oke” jawab Aurora pasrah.
Setelah masuk dalam kamarnya, Antonio bergegas mencari apa yang dia simpan tanpa sepengetahuan Aurora maupun Felix, sampai akhirnya dia menemukan selembar foto yang dia simpan di antara beberapa gambar dia buat. Sempat tertegun karena ternyata seperti dugaannya.
“wajah mereka sama” gumamnya melihat foto itu, foto milik Aurora yang hanya satu satunya petunjuk masa lalunya 6tahun lalu, tapi beberapa bulan yang lalu, entah Aurora tidak sengaja menjatuhkannya atau bagaimana, Antonio menemukan foto itu di bawah tempat tidur, jadi Antonio menyimpannya, dan sampai saat ini, Aurora tidak pernah bertanya ataupun mencarinya.
“apa dia ada hubungannya dengan Victory group” Antonio segera mengambil gadgetnya dan mengetikkan kata Victory, dan muncullah informasi tentang perusahaan teknologi terbesar di kota ini dan terkenal hingga luar negeri. Dan di pimpin oleh seorang CEO muda bernama, Aprilio Victory.
“ternyata dia memang pria yang di foto” gumam Antonio saat melihat gambar yang muncul dari informasi tadi, wajah yang sama dan nama yang juga sama, tidak mungkin hanya kebetulan, tapi mereka memang orang yang sama.
Antonio segera mencari informasi lain yang mungkin berhubungan dengan Aurora, tapi hingga beberapa saat kemudian, dia tidak menemukan informasi apapun, dan itu membuatnya merasa aneh, kalau pria itu tidak ada hubungan dengan Aurora, lalu bagaimana bisa mereka berfoto bersama dulu.
Hal ini juga terjadi saat Antonio mencari informasi tentang perusahaan Moon, setelah bertemu perempuan jahat waktu itu, terdapat informasi jika pemimpin Moon travel sekarang, bukan pemilik asli atau pendiri awal nya, karena pemilik nya Meninggal 6tahun setelah satu tahun koma karena kecelakaan, putri tunggal nya juga menghilang setelah itu. Hanya informasi itu yang tertera, tanpa ada gambar ataupun foto, dan informasi kehidupan lainnya, seperti sengaja di hapus.
“sepertinya aku harus meretas kedua perusahaan ini” gumamnya berpikir.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**