Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 27.2


__ADS_3

Aurora sudah berada di kamar Nio lagi sejak beberapa menit yang lalu, sudah lebih dari 1jam sejak Aprilio pergi menemui Papa nya, setelah Aprilio pergi tadi, Aurora segera membersihkan dirinya, berencana ingin membantu mencuci, namun maid melarangnya untuk melakukan itu, begitupun saat dia ingin membantu menyiapkan makan malam, Bibi Chu dengan tegas melarangnya untuk memasuki dapur, katanya "Tuan Aprilio sudah berpesan, jika Nyonya Aurora di larang melakukan apapun...", jadi dengan berat hati Aurora kembali, dan memilih ke kamar Antonio untuk membangunkan putranya itu.


"Sayang...bangun...sebentar lagi makan malam...", ujar lembut Aurora dengan mengusap kepala putranya dengan sayang.


"em Mama...", gumam Antonio sambil mengusap matanya, "...dimana Papa...", tanyanya setelah mendudukkan dirinya.


"oh Papa sedang menemui Kakek...kenapa...apa Nio butuh sesuatu...", tanya Aurora perhatian.


"Tidak...sebenarnya...Nio mau bertanya...kapan Nio boleh sekolah lagi...", tanya bocah 5tahun itu hati-hati.


"Sekolah...", ulang Aurora yang di angguki Nio dengan lemah, "...kenapa Nio tiba-tiba bertanya masalah ini...apa ada masalah...", lanjutnya.


"Bukan...hanya saja...Nio ingin bermain bersama teman-teman...kalau di rumah saja...Nio tidak punya teman...", jelasnya sedih


Setelah kejadian penculikan waktu itu, Aurora melupakan hal ini, mau bagaimanapun Antonio tetap anak kecil yang masih senang bermain bersama teman-temannya, pada saat di desa, Antonio memang sering di rumah karena membantu Aurora untuk menjaga mendiang ibu Felix, tapi saat Aurora sudah pulang, Nio akan sesekali bermain bersama teman-teman seusianya di sana, tapi sekarang di tempat sebesar ini, dimana Antonio bisa menemukan teman seusianya yang bisa dia ajak bermain bersama, meskipun banyak mainan yang dia miliki, tapi pasti itu tidak akan semenyenangkan bermain bersama teman.


"Baiklah...nanti Mama tanyakan ke Papa...tapi sebelum itu...Mama ingin memberitahu Nio sesuatu...", ujar Aurora setenang mungkin.


"Apa itu Ma..."


"Sepertinya...Nio tidak bisa kembali ke sekolah Nio yang kemarin...", jelas Aurora lembut.


"Kenapa Ma...apa karena Nio di culik waktu itu...", (deg) hati Aurora berdenyut sakit, bagi Aurora yang sudah dewasa saja hal itu bisa menjadi trauma, bagaimana mungkin putranya yang masih 5tahun, bisa mengatakan tentang penculikan yang terjadi langsung padanya dengan setenang ini.


"Ah seperti itu...tapi...apa Nio tidak takut mengatakan tentang kejadian waktu itu...", tanya Aurora hati-hati.


"Sekarang tidak... karena Nio baik-baik saja...dan Nio jadi bisa merancang alat yang bisa di gunakan saat keadaan darurat atau rencana yang harus di lakukan saat Nio dalam keadaan seperti itu...", jelas bocah itu dewasa, membuat Aurora menghela nafas berat tidak habis pikir dengan pikiran putranya yang lebih dewasa dari usianya.


"Astaga...Mama lupa kalau kau adalah keturunan dari keluarga Victory yang genius...", ujar Aurora sambil terkekeh, di ikuti Antonio yang juga tertawa mendengar ucapan Aurora.


cklek

__ADS_1


"Apa yang kalian tertawakan Hm...suara tawa kalian terdengar sampai di luar...", ujar Aprilio saat memasuki kamar Nio.


"Papa...", pekik Antonio bahagia.


"Sudah bangun jagoan...", tanya Aprilio berjalan mendekat, dan di angguki Nio dengan antusias. "...kalian sedang membicarakan apa Hm...", tanyanya saat sudah berada di dekat keduanya, mengusap kepala Nio dengan sayang.


"Biar Nio mandi dulu...Mama yang akan tanyakan sama Papa Hm... bagaimana...", tanya Aurora tersenyum menatap Nio.


"Kalau begitu Nio mandi dulu...", jawabnya setelah mengangguk menyetujui apa yang dikatakan Aurora.


"Mama sudah siapkan air hangatnya...Nio bisa mandi sendiri kan...", tanya Aurora.


"Tentu saja...Nio akan sudah besar...", ular turun dari tempat tidur.


"Kalau begitu hati-hati... letakkan baju kotornya di tempat biasa...mengerti...kalau butuh bantuan...panggil Mama saja...", jelas Aurora perhatian.


"Baik...", Antonio dengan antusias memasuki kamar mandi miliknya, membuat kedua orang tuanya terkekeh menggelengkan kepala.


"Jadi... apa yang sebenarnya ingin kalian tanyakan pada ku...", tanya Aprilio penasaran.


"Tadi Nio tiba-tiba bertanya kapan dia bisa sekolah lagi...", jawab Aurora menghela nafas.


"Tidak...Nio tidak akan kembali ke sekolah itu lagi...", tolak Aprilio cepat, Aurora pun menghentikan pekerjaannya dan berbalik menatap Aprilio lalu mengajaknya duduk di tepi tempat tidur.


"Aku tau... dengarkan dulu...", jelas Aurora menenangkan, "...tadi Nio bilang dia ingin bermain lagi dengan teman- temannya... dia masih anak kecil Lio...dia pasti rindu bermain bersama teman-teman seusianya...walaupun disini banyak mainan...tapi tidak ada yang seusia dengannya... tidak ada yang bisa dia ajak bermain...", lanjutnya.


"Tapi aku masih belum tenang membiarkan Nio kembali ke sekolah...", ujar Aprilio khawatir.


"Iya...aku juga sudah memberitahu nya...kalau dia tidak bisa kembali ke sekolah nya yang lama...dan kamu tau apa yang dia katakan pada ku...",


"Apa...", tanya Aprilio penasaran.

__ADS_1


"Kenapa Ma...apa karena Nio di culik waktu itu ya... astaga...", gumam Aurora frustasi, "...dia bertanya dengan tenang tentang kejadian buruk itu... padahal aku saja sampai trauma...itu adalah kejadian yang tidak akan pernah aku lupakan...", lanjutnya.


"Tenanglah Ra...Nio itu anak yang pintar... hal-hal seperti itu... tidak akan mengganggunya...tapi kalau kau belum puas... kita bisa membawanya ke psikolog anak... supaya kita bisa tau kejadian itu mengganggu mentalnya atau tidak...", saran Aprilio mencoba menenangkan.


"Sepertinya dalam hal ini...kau lebih mengenal nya...dia mirip sekali dengan mu...kau tau apa yang dia katakan apa dia tidak takut mengatakan tentang kejadian itu...", Aprilio hanya menatap Aurora agar melanjutkan ucapannya. "...tidak takut...justru karena kejadian itu...dia bisa merancang sesuatu untuk keadaan darurat dan rencana yang di lakukan saat hal seperti itu terjadi...astaga...aku benar-benar tidak habis pikir...", lanjutnya frustasi.


"Dia bilang seperti itu...", tanya Aprilio sambil terkekeh.


"Iya...dia bilang begitu... astaga... bagaimana aku bisa lupa kalau putra ku keturunan Keluarga Victory yang genius...", oceh Aurora frustasi, namun membuat Aprilio semakin tertawa mendengarnya.


"Benar...itu baru putra ku... keturunan keluarga Victory...dan penerus Victory Company nanti...", ujar Aprilio bangga.


"Jangan terlalu bicara tinggi dulu tuan Genius...putra ku masih berusia 5tahun...dia harus menghabiskan masa kecilnya dengan bahagia...tanpa beban apapun...mengerti...", ancam Aurora tajam.


"iya iya aku mengerti...aku tidak akan membebankan apapun padanya...entah itu sekarang ataupun nanti... kalaupun dia ingin di bidang yang lain...aku akan tetap mendukungnya...seperti itu kan Nyonya Bijak...", balas Aprilio menggoda Aurora.


"Memang bisa seperti itu...bukankah meneruskan perusahaan adalah kewajiban seorang putra...", tanya Aurora.


"Memang...tapi kalau Nio tidak bersedia...nanti kan bisa di gantikan adik nya...", jelas Aprilio santai, namun membuat Aurora berpikir sejenak.


"Adik...siapa...", tanya Aurora polos.


"Iya adik...Kita kan bisa membuat kan adik untuk Antonio...", jawaban Aprilio membuat Aurora membulatkan matanya terkejut.


"Apa yang kau bicarakan...Nio...apa sudah selesai mandinya...", elak Aurora mengalihkan pembicaraan dan beranjak pergi ke arah kamar mandi menyembunyikan pipinya yang merona, sedangkan Aprilio terkekeh melihatnya.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2