
Keesokan harinya
Suasana pagi ini berbeda dari hari-hari yang di lalui Aurora dan Antonio sebelumnya, jika biasanya mereka diantar oleh Felix, pagi ini yang mengantar keduanya adalah Aprilio.
Semalam, setelah momen mengharukan Aprilio meminta ijin pada Aurora untuk menjemput dan mengantar mereka esok hari, tentu saja Aurora tidak bisa menolak saat melihat bagaimana antusias nya Antonio mendengar nya, begitupun dengan Felix yang juga tau posisinya saat ini, dan pergi lebih dulu pagi ini dengan alasan ada pekerjaan mendadak.
"Jadi sekarang... ingin sarapan dimana...", tanya Aprilio antusias saat Aurora dan Antonio sudah memasuki mobilnya.
"em Paman- ups", Antonio menghentikan ucapannya saat salah masih memanggil Aprilio dengan sebutan paman.
"Tidak apa-apa...perlahan saja...Antonio masih boleh panggil paman kok...", jelas Aprilio lembut dan tersenyum, bocah 5 tahun itu mengangguk mengerti.
"Apa boleh Nio makan burger...", tanyanya polos.
"Nio-
"Boleh...tentu saja boleh...ayo kita sarapan burger...", potong Aprilio lebih dulu, membuat Antonio berbinar bahagia.
"Mama...", Antonio memanggil Aurora dan menatapnya memohon, membuat Aurora menghela nafas.
"Baiklah...sekali ini saja...", jawab Aurora mengalah, membuat Antonio memekik bahagia, bahkan Aprilio ikut tersenyum melihatnya.
Skip Siang Hari
Di taman kanak-kanak
Antonio baru saja keluar dari kelas, namun seperti biasanya, dia akan menunggu Aurora di taman, namun saat akan ke arah taman, matanya menangkap sosok yang baru dia kenal.
"eoh Kak Kelvin", gumam Antonio kemudian menghampiri Kelvin yang tengah melambaikan tangan padanya.
Tanpa curiga sedikitpun Antonio menghampiri nya, suasana sekolah memang sudah mulai sepi karena satu persatu murid sudah pulang, sedangkan guru-guru berada di ruangan, hanya ada security saja yang berjaga di gerbang.
"Hay Antonio...", sapa pria muda itu ceria.
"Kakak kenapa ada disini...", tanya Antonio heran.
"Oiya...karena kafe sedang ramai pengunjung...jadi Mama Aurora meminta Kakak untuk menjemputmu...", jelasnya santai.
"Kok tumben... biasanya Mama meminta tolong Papa Felix kalau tidak bisa menjemput ku...", ujar Antonio polos.
"Oh katanya Papa mu juga lagi sibuk... tidak bisa menjemput kemari...", jawabnya.
"Biar aku hubungi Papa Lio saja...", ujar Antonio ingin mengambil tab di tas nya, namun di cegah Kelvin lebih dulu.
"Jangan", cegahnya langsung mengambil tab dan tas Antonio.
__ADS_1
"Kenapa"
"Oh itu em...karena...Mama mu bilang...kamu harus pulang dengan Kakak...tidak boleh meminta siapapun menjemputmu...termasuk Papa itu mu...", Antonio mengernyit heran mendengar penjelasan Kelvin, namun kemudian mengangguk mengerti maksud dari perkataan nya.
"Baiklah"
Disisi lain
Kafe begitu sibuk seperti biasa, apalagi pegawai baru bernama Kelvin itu tidak datang hari ini, entah kenapa tidak ada kabar apapun, sedangkan Aurora dan Melinda tidak khawatir tentang itu, karena mereka sudah terbiasa sebelumnya.
"Ra...kau yakin sanggup melakukannya sendiri...", tanya Melinda memasuki dapur, setelah melayani pelanggan.
"Aku yakin masih sanggup...", balas Aurora dengan tangan yang sibuk mencampur bahan-bahan.
"Biar aku yang urus penyajiannya...kau yang masak saja...", ujarnya menyiapkan piring dan alat makan yang di butuhkan, membuat Aurora akhirnya mengalah.
tak
Melinda refleks menatap sahabatnya itu yang tengah memegangi dadanya setelah meletakkan teflon dengan keras.
"Kau kenapa Ra...apa kepala mu sakit lagi...", tanya Melinda khawatir, namun Aurora menggeleng lemah.
"Tidak...dada ku sesak... perasaan ku tiba-tiba tidak enak Mel...ada apa ya...", jawab Aurora lemah.
"Tidak Mel...biar aku minta tolong Felix saja menjemput nya...", ujar Aurora mengambil ponselnya untuk menghubungi Felix.
"Sini...biar aku bantu", Melinda mengambil alih ponsel Aurora dan membantu untuk menghubungi Felix, namun belum sempat melakukannya, ponsel Aurora berdiri lebih dulu. "Oh ada telpon Ra...", tunjuk Melinda kemudian mengembalikan ponsel itu pada Aurora.
"Nomor siapa ini...", gumam Aurora heran, namun tak menunggu lama, Aurora langsung menjawabnya.
"halo"
"halo selamat siang...apa ini orang tua Antonio...", ujar suara seorang perempuan dari seberang sana.
"benar...saya Aurora...Mama Antonio..."
"Maaf Mama...saya hanya ingin memastikan saja...apa anda menyuruh seseorang untuk menjemput Antonio...",
"Apa... seseorang menjemput Antonio...siapa...apa Papa nya...", tanya Aurora panik.
"sepertinya bukan...karena security bilang...pria muda seperti anak kuliahan...dan menggunakan mobil sport..."
"Anak Kuliahan... bagaimana bisa anda membiarkan orang asing menjemput Antonio Bu...", ujar Aurora marah.
"Maafkan saya Ma...saat itu saya berada di dalam...hanya ada security saja di luar...dan security bilang kalau Antonio mengenalnya...jadi dia membiarkan orang itu membawa Antonio..."
__ADS_1
"Baiklah...saya akan hubungi Papa nya dulu... mungkin Papa nya yang mengutus orang itu...", ujar Aurora lebih sabar.
"sekali lagi maafkan kelalaian kami..."
Aurora mematikan panggilan dan langsung menghubungi seseorang yang muncul di pikiran nya sejak tadi. Melinda hanya diam melihat nya, tidak ingin menambah kepanikan Aurora.
"halo", suara berat dari seberang langsung terdengar hanya dalam beberapa detik.
"em ini saya... Aurora...", jawab Aurora gugup.
"iya Ra...saya tau...ada apa...apa kamu membutuhkan sesuatu...", jawab Aprilio lembut.
"Apa...kamu meminta seseorang menjemput Antonio di sekolah...", tanya Aurora.
"oh kau ingin aku menjemput Antonio... tidak perlu meminta orang lain...biar aku saja yang jemput...", jawan Aprilio antusias.
"Berarti bukan kamu ya...lalu siapa...tidak mungkin Antonio di culik kan...", Aurora mulai panik bahkan berbicara sendiri.
"tunggu Ra...ada apa... jelaskan padaku dulu...jangan panik...", ujar Aprilio menenangkan.
"barusan...aku mendapat panggilan dari sekolah Antonio...katanya ada seorang pria muda yang menjemput nya... padahal aku tidak merasa meminta siapapun kesana...", jelas Aurora panjang lebar.
"baiklah... tenangkan dirimu dulu Ra...biar aku kesana dan memeriksanya...kau coba tanyakan pada Felix atau Laura... kemudian tunggu kabar dari ku... mengerti...", ujar Aprilio tegas.
"tapi aku tidak bisa diam saja...aku juga harus mencari Antonio...", tolak Aurora.
"Aurora... tolong dengarkan aku baik-baik...aku janji akan menemukan Antonio...percaya padaku...Hm" , Aprilio berusaha meyakinkan.
"Baiklah...", jawab Aurora pasrah.
"Kalau begitu aku tutup dulu...dan ingat jangan kemana- mana...dan tunggu saja disana... mengerti...", Aprilio memutuskan panggilan lebih dulu. sedangkan Aurora menatap lama ponselnya dengan sedih.
"Ra...apa yang terjadi...", tanya Melinda akhirnya setelah diam sejak tadi.
"Sepertinya Antonio di culik Mel...", jawab Aurora sedih.
"Apa... bagaimana bisa...", Melinda pun ikut panik, "Astaga...ayo duduk dulu dan cerita kan padaku...tapi aku akan hubungi kak Laura dulu...", lanjut Melinda mengambil ponselnya.
"Tolong hubungi Felix juga Mel...",
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1