Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 31


__ADS_3

Beberapa Hari Kemudian


"Sebenarnya ada apa ini...kenapa tiba-tiba mengadakan meeting seperti ini...", tanya seseorang pria paruh baya berkumis menatap beberapa orang bergantian.


"Benar...dimana Tuan Giovanni...kenapa dia belum datang juga...", sambung pria lainnya, hingga yang berada disana saling berbisik, dan beberapa lainnya hanya mengangkat bahunya.


...


Hingga beberapa menit kemudian, pintu ruangan di buka dengan tergesa-gesa oleh seseorang, kemudian langsung masuk diikuti dengan seorang perempuan di belakangnya


"Maaf semuanya saya datang terlambat...karena tidak ada yang memberitahu saya sebelumnya...", Ujarnya tersenyum ramah dengan santai berjalan dan duduk di salah satu kursi yang biasa tempat seorang pemimpin. "...jadi...apa yang akan kita bahas...", lanjutnya bertanya membuat semua yang berada di sana menatapnya aneh dan curiga.


"Kenapa anda malah bertanya Tuan Moon... bukankah anda yang mengundang kami semua untuk datang meeting membahas masalah pemegang saham...", ujar pria berkaca mata dengan cukup lantang.


"Apa...saya tidak merasa mengundang meeting hari ini... saya justru baru tau saat baru saja sampai di sini tadi...", jawab Giovanni kebingungan.


Jawaban Giovanni tentu saja membuat semuanya terkejut dan saling berbisik, begitupun dengan Giovanni yang langsung menatap sekertaris nya yang datang bersama dengan tadi.


"Siapa yang memberitahu mu masalah meeting ini...", tanyanya serius sedikit berbisik.


"Maaf Tuan...tadi Pengacara perusahaan menghubungi saya... dan meminta saya memberitahu anda...katanya akan ada meeting tentang pemegang saham...saya pikir anda sudah tau...", jelas sekertaris yang sepertinya seumuran dengan Angel itu.


"Saya tidak tau apa-apa...ada apa ini...kenapa pengacara perusahaan tidak memberitahu saya...", ujar Giovanni terlihat kesal, "...cepat hubungi dia dan suruh datang kemari...", perintahnya kemudian, sekertaris nya pun mengangguk, dan segera mencoba menghubungi pengacara Ayah tadi menghubungi nya, namun hingga beberapa kali tidak ada jawaban.


"tidak di jawab Tuan...",


"coba tanyakan ke bagian Humas...dan terus hubungi pengacara kita...", sekali lagi sekertaris itu hanya mengangguk menjawab perkataan Giovanni.


"Kalau mau saya permisi...", ujarnya ingin beranjak pergi namun belum sempat membuka pintu, seseorang dari luar lebih dulu membukanya.

__ADS_1


"Itu tidak perlu...", potong seseorang yang baru saja masuk, hal itu membuat semua perhatian yang berada di sana beralih menatapnya kemudian tertegun. "...Selamat Pagi semuanya...maaf membuat anda semua menunggu... sebenarnya saya mengundang anda semua untuk meeting hari ini...karena saya-


"Tunggu dulu...maaf semuanya...biar saya bicara lebih dulu dengan nya...", cegah Giovanni. "...kita bicara di luar...", bisik nya kemudian.


"Mau kemana Paman...kenapa kita tidak bicara di depan semuanya saja...", perkataan ini membuat semuanya mengernyit heran.


"Paman... jangan-jangan...kau adalah putri dari mendirikan Tuan Jhonny...", pekik pria paruh baya berkumis tadi.


"Benar... Terima Kasih Paman Sam masih mengenali saya...", ujar Aurora membungkuk sejenak. "... Baiklah kalau begitu...saya akan memperkenalkan diri...Saya Aurora Moon...putri tunggal dari mendiang Tuan Jhonny Moon... dan satu-satunya pewaris seluruh kekayaannya...", lanjutnya yakin dengan sesekali melirik Giovanni.


"Aurora...jangan bikin malu...kita bicarakan masalah ini nanti...jangan buat keributan...", ujar Giovanni ingin menyeret Aurora keluar.


"Tunggu Tuan Giovanni... biarkan saja Aurora bicara... mau bagaimanapun dia adalah putri dari Tuan Jhonny...", sahut pria berkacamata tadi.


"Benar kata Paman Yo... Perusahaan ini milik mendiang Ayah saya...dan saya pewaris satu-satunya...jadi saya berhak ada di sini...", ujar Aurora sopan dan tersenyum, kemudian menyeringai menatap Giovanni.


"Tidak...Kau salah...Ayah mu memberikan perusahaan ini pada ku...", elak Giovanni tidak terima.


"Tentu saja aku punya bukti kuat...jadi...jika kau membuat masalah...Paman tidak akan memberikan mu sepeser pun...", ujar mengancam.


"Tunjukkan dulu buktinya... setelah itu kita akan tau siapa yang berhak atas perusahaan ini...dan siapa yang akan keluar tanpa membawa sepeser pun...Paman atau aku...", tantang Aurora.


"Kau sendiri punya bukti apa...", tanyanya balik.


"Aku punya semuanya...", jawab Aurora kemudian menunjukkan beberapa dokumen yang dia bawa. "...surat wasiat...dan surat-surat kepemilikan saham dan properti lainnya...", lanjutnya membuat Giovanni terkejut.


Giovanni langsung merebut dokumen-dokumen yang Aurora pegang, dan melihatnya satu persatu, terlihat jika wajahnya begitu syok, namun segera dia coba menyembunyikannya, dan kembali menatap Aurora.


"Jangan main-main Ra...kalau kau berbohong dan membawa dokumen palsu ini...kau akan masuk penjara...jadi sebelum melanjutkannya... pikirkan dulu...", ujar Giovanni seakan tidak bersalah.

__ADS_1


"Hahaha... astaga Paman...kau ini terlalu percaya diri...apa kau pikir...aku masih gadis polos 7tahun lalu yang akan diam saja mendengar apapun yang kau katakan...tidak... itu tidak akan terjadi lagi... Aurora yang sekarang...lebih kuat..dan mampu bertarung melawan anda... sampai saya mendapatkan kembali...apa yang seharusnya menjadi milik saya...", ujar Aurora yakin, tidak gemetar takut sedikitpun.


"Pergi dari sini... sebelum aku memanggil security untuk mengusir mu...", usir Giovanni menahan amarahnya.


"Paman...kenapa harus mengusirku...kalau memang Paman yakin jika dokumen yang aku bawa palsu...tinggal panggil saja pengacara...atau orang yang mengerti masalah ini...jadi kita bisa tau...siapa yang berbohong dan siapa yang jujur...", perkataan Aurora di angguki beberapa obat disana.l


"Benar itu...coba saja panggilkan pengacara atau petugas pemerintahan yang mengerti masalah...", sela pria paruh baya yang di panggil Paman Sam oleh Aurora tadi.


"Tidak perlu Tuan Sam... keponakan Saya ini tidak tau apa-apa...sekalipun dia pewaris perusahaan ini...apa anda akan membiarkan dia memimpin perusahaan ini...dia bahkan tidak pernah merasakan bekerja di kantor... apalagi menjadi pemimpin perusahaan...bukankah itu sama saja membiarkan nya menghancurkan masa depan perusahaan yang sudah susah payah di bangun dari nol oleh kakak saya...", ujarnya meremehkan.


Aurora terdiam, mau bagaimana pun yang di katakan Giovanni memang ada benarnya, Aurora tidak pernah bekerja di kantor, bahkan tidak mengerti cara kerjanya, lalu bagaimana Aurora bisa memimpin perusahaan peninggalan sang Ayah.


Walaupun perusahaan sang Ayah bukan perusahaan yang sebesar Victory Company, tapi di dalamnya banyak orang yang bergantung kehidupan padanya nya, jadi Aurora pun tidak yakin bisa menanganinya.


"Kenapa diam...ucapan ku benar kan...", tanya Giovanni. "... sadarlah...ini bukan pekerjaan mudah seperti menjadi waiters atau kasir di minimarket...ini menyangkut kehidupan seluruh pegawai...apa kau bisa...", lanjutnya mengintimidasi.


"Saya tau Paman... tapi saya akan melakukan yang terbaik...dan tidak akan mengecewakan semuanya... termasuk mendiang Ayah saya...",


"Bicara saja memang gampang... bagaimana caranya kau membuktikan nya huh...apa Kau-


brak


Lagi-lagi pintu di buka tanpa permisi, membuat suasana yang tegang sejak tadi, mengalihkan perhatian pada seorang pria tampan yang membukanya.


"Jangan khawatir...saya yang akan menjaminnya... karena saya yang akan membantu Aurora secara langsung...


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2