
bugh...bugh...
Aprilio dan Erick saling serang dan mengindar, jika Erick lebih banyak menyerang, namun Aprilio lebih banyak terlihat menghindar, sampai akhirnya...
bugh
ssshhh
Aprilio mengusap sudut bibirnya yang terkena pukulan Erick, kemudian menyeringai menatap Erick.
"Sepertinya... beberapa tahun ini...kau sudah belajar sangat keras untuk mengalahkan ku...", ujar Aprilio meremehkan.
"Tentu saja...jadi sekarang...aku akan mengalahkan mu... aku tidak akan membiarkan kau menang...", jawab Erick dengan penuh penekanan, tapi justru membuat Aprilio terkekeh.
"Jangan terlalu sombong dulu...ini belum usai...", ujar Aprilio menyeringai. "...kita lihat...siapa yang mampu bertahan hingga akhir...", lanjutnya yakin.
"sudah...jangan banyak omong...", ujar Erick dengan kembali mencoba menyerang Aprilio.
Namun sepertinya Aprilio sedang membuat taktik, dia sengaja membuat Erick terus menyerang dan dia hanya menghindari, agar di saat Erick kelelahan dan kekuatan melemah, Aprilio akan memberikan serangan telak.
bugh duagh bugh duagh
"57...58...
bugh
Akhirnya beberapa menit kemudian, Aprilio menendang perut Erick saat ingin menyerang Aprilio dengan brutal, hingga Erick terpental cukup jauh.
Namun saat terjatuh tepat di sebelah balok kayu, Erick mengambil nya dan menggunakannya sebagai senjata, Nicholas yang melihat itu tentu saja tidak terima.
"Hey...kau jangan curang...", pekik Nicholas marah, namun di cegah Aprilio dengan memberikan isyarat, untuk berhenti dengan tangannya.
Namun Aprilio malah menyeringai menatap Erick, dengan tangannya perlahan membuka ikat pinggang, lalu memegangnya, dengan kedua tangannya, di masing- masing ujungnya, lalu memecutkannya ke lantai hingga suaranya menggema ke seluruh ruangan. Nicholas yang melihat itu pun kembali ke posisinya semula.
Beberapa saat kemudian Erick mulai berlari ke arah Aprilio dengan balok nya, dan akan memukulkannya pada Aprilio, tapi dengan cepat Aprilio lebih dulu memecutkannya ke tubuh Erick hingga mengenai punggung nya.
ctarrrr
__ADS_1
"Akkkhhh...", terdengar pekikan kesakitan Erick, membuat Aprilio menyeringai menatap nya.
"Br*ngs*k", geramnya marah dan berusaha berdiri kembali, bersamaan dengan balok kayu yang dia lemparkan sembarangan hampir mengenai Antonio yang masih menutup mata dan menghitung di sudut ruangan.
Aprilio membulatkan matanya dan refleks berlari ke arah Antonio untuk menangkis balok kayu itu dengan tangan kanannya, dan benturan kayu dan tangannya itu membuat tangan nya sakit hingga memar.
"Br*ngs*k...kau cari mati ya...", bentak Aprilio marah, "...sedikit saja balok itu mengenai kulit putra ku...aku tidak akan segan-segan memotong tangan mu...", lanjutnya sungguh-sungguh, bahkan membuat Antonio menghentikan hitungan nya.
"Astaga...kau berlebihan sekali... bukankah seharusnya kau harus membiasakan putra mu dengan hal-hal seperti ini... karena mau bagaimana pun...kau itu memiliki banyak musuh...", ujar Erick santai.
Mendengar perkataan itu, Aprilio dengan cepat berjalan ke arah Erick, lalu mencengkram baju nya dengan kencang.
"Bagaimana caraku mendidik putra ku...ITU BUKAN URUSAN MU...", ujar Aprilio mendorong tubuh Erick dengan kencang. "... sebaiknya lanjutkan pertarungan kita...", lanjutnya berjalan sedikit menjauh.
"oke...lanjutkan...", jawab Erick santai.
Disisi lain
Aurora tak sedikitpun mengalihkan pandangannya dari mobil di depannya dengan gelisah, Laura yang berada di bangku belakang sampai tak henti mengucapkan kata penenang untuk sahabat yang lebih muda darinya itu.
"Mel...kenapa masih belum sampai juga ya...trus kenapa jalanan nya makin lama makin sepi seperti ini...bahkan sepertinya tidak ada kendaraan lain yang lewat...", ujapo Aurora cemas pada Melinda yang sedang mengemudi kan mobil.
"oh Benar...", jawab Laura setelah melihat sekelilingnya. "...bukankah kawasan ini tidak boleh di masuki sembarangan orang...", lanjutnya kebingungan.
"Memang nya kenapa...", tanya Aurora polos
"Gudang penyelundupan narkoba yang berkedok industri makanan... seseorang melaporkannya dan pemerintah memaksa untuk menutupnya...bahkan kalau tidak salah pemiliknya...di jatuhi hukuman...hingga denda yang cukup besar...", jelas Laura panjang lebar.
"Kok Kakak bisa tau sedetail itu sih...", tanya Melinda menatap Laura dari kaca spion depan.
"Nicholas yang memberitahu ku...", jawab Laura apa adanya.
"Jangan bilang...kalau orang yang melaporkan adalah Aprilio...", tebak Melinda, membuat Aurora refleks menatap Laura di belakangnya.
"Entahlah... sepertinya begitu...",
"Jadi berarti... kemungkinan yang menculik Antonio... adalah pemilik tempat ini... yang dendam pada Aprilio...", sambung Aurora, namun Laura hanya bisa mengangkat bahunya tak bisa menjawab.
__ADS_1
"Sepertinya kita harus lapor polisi...", ujar Melinda kemudian, dan di angguki kedua orang sahabat nya.
"89...90
Sementara di gudang tadi, Aprilio dan Erick kembali bertarung, bahkan sekarang Aprilio tak menahan diri untuk memberikan serangan pada Erick, memukul, menendang, bahkan membanting lawannya hingga babak belur.
"Apa kau sudah menyerah...", tanya Aprilio saat Erick sudah tersungkur dan batuk darah. namun sepertinya Erick belum menyerah, karena terlihat dia mencoba kembali berdiri meski kesusahan.
"Belum...", ucapnya susah payah, membuat Aprilio berdecak malas.
"Apa kau ingin sampai mati...", sarkas Aprilio kesal.
"Tidak...tapi aku punya kejutan untuk mu...", ucapan Erick membuat Aprilio mengernyit menatapnya, namun kemudian Aprilio membulatkan matanya saat melihat Kelvin sudah membekap mulut Antonio, dan menodongkan pistol ke arah kepala bocah 5 tahun itu.
"Br*ngs*k", teriak Aprilio marah. "Jangan macam-macam... atau kau akan menyesal nanti...", lanjutnya.
"Kenapa...Kau tidak sanggup melihat anak mu mati disini...", sarkas Kelvin dengan penuh penekanan, bahkan terlihat di matanya juga banyak kebencian.
"Aku peringatkan sekali lagi...kalau sedikit saja kau-
"Kenapa hah...", potong Kelvin lebih dulu. "...tuan Aprilio Victory yang terhormat...hari ini...aku menagih hutang padamu...hutang uang di bayar uang...hutang nyawa di balas nyawa...", lanjutnya semakin menekan pistol nya di kepala Antonio, mau sepintar bagaimana pun Antonio tetaplah anak-anak yang tidak akan bisa mengatasi ketakutan di saat-saat seperti ini, jadi Antonio hanya menangis menatap Aprilio.
"Apa maksudmu aku tidak mengerti...", teriak Aprilio marah sekaligus frustasi.
"Kau tidak ingat tempat ini...", belum Kelvin menjawab, Erick bersuara lebih dulu. "...Gudang Narkoba yang kau laporkan 8 tahun yang lalu...", lanjutnya, membuat Aprilio dan Nicholas saling menatap sejenak sebelum akhirnya mereka sama-sama mengingat sesuatu.
"Jangan bilang kalau dia putra Marcello Cody...", tebak Nicholas lebih dulu, Erick hanya mengangguk menjawabnya.
"Tapi apa maksud mu dengan hutang nyawa...saat itu aku hanya melaporkan...tapi tidak membunuh Ayah mu...", ujar Aprilio.
"Benar...kau hanya melaporkan...tapi justru karena itu...kau membuat keluarga ku berantakan...hingga Ayah ku mati karena terkena serangan jantung...dan kematian Ayah ku membuat ibu ku stress lalu bunuh diri... semuanya itu karena kau...karena laporan...kalau saat itu kau diam saja... kedua orang tua ku pasti masih hidup...", Ujar Kelvin menggebu-gebu marah.
*bugh
dorrr*
**Bersambung
__ADS_1
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**