
"Ada apa ini...", suara berat seseorang membuat perhatian semua orang disana teralihkan.
"Pa..."
"Paman Dion", sapa Aprilio dan Nicholas bergantian saat melihat ternyata orang itu adalah Tuan Dion.
Jika Aprilio dan Nicholas biasa saja bertatapan dengan Tuan Dion, namun berbeda dengan Aurora, Melinda, Felix bahkan Laura yang canggung dan segan.
Untuk Aurora, Melinda dan Felix yang baru pertama kali atau baru kenal dengan Tuan Dion, tentu saja itu wajar, namun untuk Laura yang berstatus istri Nicholas sahabat Aprilio, itu karena selama ini, Laura jarang bertemu ataupun berinteraksi dengan Tuan Dion secara langsung.
"Kakek Kakek...lihat...Papa Felix membelikan ku kue stroberi...", Antonio berlari dan menunjukkan kotak kue stroberi itu pada Tuan Dion.
Suasana yang tadi sedikit canggung, semakin terasa tegang saat Tuan Dion tidak langsung menjawab perkataan Antonio, tapi justru beralih melihat ke arah Felix, seakan tidak suka dengan sebutan yang diberikan Antonio pada Felix.
"Kakek kenapa diam saja...", panggil Antonio menyadarkan Tuan Dion dari pikiran nya, kemudian beralih menatap Antonio dan tersenyum.
"Kue Stroberi...apa cucu Kakek menyukai nya...", tanya Tuan Dion lembut.
"Tentu saja...Nio suka Kue Stroberi...", jawabnya antusias
"Kalau begitu...minta tolong Bibi Chu memotong nya untuk mu...hm", ujarnya menjelaskan.
"Baiklah Kakek...Nio mengerti...Nio ke dapur dulu...", jawabnya antusias dan segera berlari ke arah dapur. Semuanya tersenyum melihat tingkah Antonio, namun suasana kembali hening saat Tuan Dion kembali memperhatikan mereka satu persatu.
"Pa...kenalkan...itu Felix...orang yang 6tahun ini merawat Aurora dan Antonio...", ujar Aprilio memperkenalkan sambil menunjuk ke arah Felix.
"Selamat Malam Tuan...Saya Felix Yang...", ujar Felix membungkuk sejenak memperkenalkan diri.
"Ya...Selamat Malam...", balasnya singkat.
"Lalu sebelah nya itu Melinda... sahabat Aurora...", lanjut Aprilio memperkenalkan.
"Selamat Malam Tuan...Saya Melinda...", ujar Melinda dengan tersenyum.
"Malam", balasan Tuan Dion membuat senyum di bibir Melinda luntur seketika, lalu tertunduk menyembunyikan raut kecewanya.
__ADS_1
"Kalau ini... Paman masih ingatkan... walaupun cuma bertemu beberapa kali saja...", sela Nicholas sambil merangkul pundak Laura.
"Selamat Malam Tuan", sapa Laura ramah.
"Ya...istrimu kan...", jawaban Tuan Dion yang singkat itu tak berpengaruh terhadap suasana hati Nicholas yang justru tersenyum lebar.
"Benar sekali...",
"Tapi aneh...Kamu memanggil saya Paman...tapi kenapa istri mu masih memanggil Saya Tuan...", protes Tuan Dion, bukan tidak suka, tapi mengisyaratkan jika Laura juga bisa memanggil nya Paman Dion.
"Iya...Istri Saya masih belum terbiasa Paman...jadi mohon Paman memakluminya...", ujar Nicholas sopan meminta maaf mewakili Laura.
"Oke", jawab Tuan Dion singkat, kemudian melihat jam di tangan nya, "...karena jam Makan Malam masih beberapa menit lagi...saya ingin bicara dengan Lio dan Nicholas dulu...yang lainnya bisa berbincang saja di sini...dan menikmati hidangan nya...", lanjutnya tegas, yang langsung di angguki oleh semuanya.
"Papa tunggu di ruang kerja...", ujar Tuan Dion, dan berjalan lebih dulu meninggalkan keduanya.
"Kalau begitu kalian duduk dulu...Aku dan Nicholas bicara dengan Papa ku sebentar...", ujar Aprilio menatap Aurora dan yang lainnya bergantian, kemudian beranjak pergi setelah mereka mengangguk mengiyakan.
tok tok
Aprilio dan Nicholas memasuki ruangan kerja Tuan Dion setelah mendapatkan ijin, terlihat Tuan Dion duduk di meja kerjanya sedang membolak-balikkan sebuah berkas dengan kaca mata yang bertengger apik di hidung nya.
Ruangan yang di dominasi warna Navy dan Silver itu memberi kesan tegas sekaligus glamor, tidak ada hiasan atau pernak-pernik yang mencolok, hanya ada rak-rak yang penuh dengan buku-buku dari yang tebal hingga yang lama, sebuah meja kerja, sofa panjang dan meja kecil.
"Duduklah", ujar Tuan Dion tanpa mengalihkan pandangannya sedikit pun.
Tanpa mengatakan apapun lagi, mereka berdua menuruti ucapan Tuan Dion untuk duduk di sofa, hingga beberapa saat keadaan menjadi hening, karena Tuan Dion masih sibuk dengan apa yang beliau kerjaan. Aprilio dan Nicholas sesekali saling menatap untuk bertanya satu sama lain, namun kemudian sama-sama mengangkat bahunya.
"ekhm" suara itu membuat keduanya kembali refleks menatap ke arah Tuan Dion. "...Kalian tau apa yang ingin saya bicarakan...", lanjutnya bertanya.
"Tidak...memangnya apa yang ingin Papa bicarakan...", tanya Aprilio santai. "...Jangan membahas hal-hal yang serius dulu...masa baru tadi pagi aku keluar dari rumah sakit... sekarang Papa sudah mau bahas hal-hal yang bikin pusing...", lanjutnya protes, membuat Tuan Dion menghela nafas panjang.
"Papa tau...tapi semua masalah yang terjadi...sudah menjadi konsumsi publik...jadi mau tidak mau kita harus memberikan penjelasan...atau mereka tidak akan berhenti mengganggu hidup mu...", jelas Tuan Dion tegas.
"Bukankah sejak dulu...apapun yang kita lakukan adalah ladang uang untuk media-media itu...", sarkas Aprilio kesal.
__ADS_1
"Justru itu...jika Papa...Kamu ataupun Nicho...sudah biasa dengan hal itu...tapi bagaimana dengan Putra mu dan Wa- Mama nya...", Tuan Dion segera mengkoreksi ucapannya sebelum Aprilio kesal.
"Benar yang dikatakan Paman... Antonio dan Aurora masih awam dengan masalah ini... mereka tidak akan nyaman jika terus di sorot dan di cerca banyak pertanyaan...tapi-
"Sudah... langsung buat konferensi pers saja...katakan kalau sebulan lagi aku akan menikah dengan Aurora... begitu saja...supaya mereka tidak macam-macam dengan keluarga ku...", potong Aprilio kesal.
"Lio...jangan gegabah...kau lupa...kalau kita juga harus membantu Aurora mendapatkan perusahaan Ayahnya... kalau kau terburu-buru mengekspos keberadaan Aurora... bukankah itu akan membuat musuh menjadi lebih waspada sebelum kita berhasil mendapatkan bukti...", penjelasan Nicholas membuat Aprilio terdiam menyadari hal yang dia lupakan, karena terlalu tidak sabar bersatu dengan Aurora, sedangkan Tuan Dion hanya mengangguk menyetujui nya.
"Bagaimana kalau kamu menyangkalnya saja...", usul Tuan Dion, membuat Aprilio membulatkan matanya.
"Tidak bisa seperti itu Pa...kalau aku menyangkalnya... bukankah itu akan membuat Aurora dan Aprilio kecewa dan sedih... tidak...aku tidak mau seperti itu...", tolak Aprilio tegas dan yakin.
"Lalu bagaimana...walaupun kau merahasiakan identitas mereka... media-media itu tidak akan tinggal diam... mereka akan terus mengusik kehidupan mu...", ujar Tuan Dion.
"Cari cara lainnya...aku tidak setuju dengan rencana Papa...", tolak Aprilio sekali lagi.
"Sebentar... bagaimana kalau kita ulur dengan mengadakan sebuah pesta...atau pameran gratis...agar fokus publik teralihkan...", jelas Nicholas memberi saran.
"Boleh...itu ide yang bagus...", Aprilio berbinar antusias.
"Tidak masalah...tapi sampai kapan kita akan mengulur atau menutup masalah itu...", sambung Tuan Dion.
"Kita coba seminggu...jika publik lupa...maka kita tidak perlu konfirmasi masalah itu lagi...sekaligus juga memberi kita waktu untuk mendapatkan bukti-bukti yang berhubungan dengan Moon Travel... bagaimana...", jelas Nicholas cerdas.
"Apa kalian bisa... mendapatkan bukti dalam satu Minggu...", tanya Tuan Dion.
"Sebenarnya...saya tidak yakin...tapi kalau kita tidak bisa mendapatkan bukti apapun...kita bisa jebak atau pancing mereka untuk mengakui nya...", ujar Nicholas menjelaskan.
"Ya...benar...retas, sadap, bahkan kalau perlu teror mereka...agar mengaku...", sambung Aprilio menyeringai.
Mendengar itu, Tuan Dion pun hanya bisa menghela nafas pasrah, Putra tunggalnya itu tidak akan mengalah dengan mudah, apalagi jika berurusan sama Perempuan yang dia cintai itu dan putranya, yang sudah dia cari beberapa tahun ini.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**