Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 21


__ADS_3

"Apa", pekik Felix terkejut


"Bagaimana Tuan...apa anda ingin menemui nya...", tanya Daniel kemudian.


"Tunggu", jawab Felix kemudian beralih kepada ponselnya. "...kau dengar...", tanyanya pada Nicholas


"ya...aku mendengar nya...kalau begitu tunggu apalagi... cepat temui dia..." , jawab Nicholas santai.


"Mana bisa begitu...nanti apa yang harus aku lakukan...", tolak Felix tidak mau.


"Ya tanyakan saja ada apa dia datang menemui mu... begitu saja kok susah banget sih...", jawab Nicholas kesal.


"Tapi-


"sudah... tidak ada tapi-tapian...cepat sana...ingat bersikaplah sekeren mungkin...buat dia semakin tertarik pada mu...aku tutup dulu...", Nicholas memutuskan panggilan secara sepihak membuat Felix membulatkan matanya tak percaya.


"Aish... langsung di matiin...awas saja kau nanti...", omel Felix sambil melotot pada ponselnya, kemudian menghembuskan nafas panjang dan beralih menatap Daniel.


"Baiklah...biarkan dia masuk...", ujarnya kemudian.


"Baik Tuan", setelah mengucapkan itu, Daniel keluar dari ruangan dan menutup pintu ruangan kembali.


Sedangkan Felix memilih untuk pindah ke tempat duduk milik Nicholas dengan mengerjakan pekerjaan yang di tinggalkan atasannya itu.


Beberapa menit kemudian


toktok


"Masuk", pintu terbuka setelah Felix mengijinkan, detik berikutnya terlihat Daniel mempersilahkan Angel untuk masuk.


"Silahkan masuk Nona Angel...", ujar Daniel mempersilahkan.


"Silahkan Nona Angel...maaf saya tidak bisa menjemput Anda di depan tadi...karena pekerjaan saya banyak...", sambung Felix bangun dari kursinya dan berjalan ke arah Angel.


"O-oh tidak apa-apa...saya yang seharusnya meminta maaf karena mengganggu anda...", jawabnya malu-malu.


"Tidak tidak...anda tidak mengangguk...saya hanya terkejut saja anda datang kemari tiba-tiba...", Balas Felix tersenyum. "...mari silahkan duduk...", ajaknya kemudian.


"Terima Kasih..."


"Daniel...tolong minta OB membawakan minuman...oh tunggu...anda mau minum apa Nona Angel...", ujar Felix pada Daniel, namun kemudian beralih bertanya pada Angel.


"Apa saja tidak apa-apa...", jawab Angel lembut.


"Kalau begitu...minta OB buatkan Green Tea untuk Nona Angel...dan Kopi untuk saya...", perintahnya pada Daniel.


"Baik Tuan",


"Jadi...apa Nona Angel kemari untuk membahas masalah kerja sama kita...", tanya Felix setelah Daniel keluar dari ruangan.


"O-oh ah itu...em sebenarnya...bukan...", jawabnya gugup

__ADS_1


"Bukan...lalu...", Felix menjeda ucapannya dengan menatap Angel yang menunduk malu, "...apa anda sengaja datang kemari ingin menemui saya...", tanyanya kemudian.


"I-itu...saya ingin mengajak anda makan siang...karena itu saya datang kemari ingin memastikan Anda bisa atau tidak...", jawab Angel manis.


"Bukankah Anda bisa menghubungi saya..."


"Ah benar", Angel menepuk dahinya pelan, karena menyadari kebodohannya, "...hehehe Iya saya lupa...", lanjutnya jujur, membuat Felix tertegun sejenak kemudian terkekeh.


"Baiklah...karena Nona Angel sudah repot-repot kemari untuk langsung mengajak saya makan siang...jadi saya tidak akan menolak nya...", ujar Felix tersenyum menatap Angel intens.


"Benarkah", Felix mengangguk menjawab pertanyaan Angel. "... Terima Kasih...", lanjutnya berbinar bahagia.


"Tapi...sebelum itu...bisakah kita mulai berbicara dengan santai... panggil saja saya Felix...dan saya akan memanggil anda Angel... bagaimana...",


"Tentu...aku tidak masalah Felix...", jawab Angel dengan mencoba memanggil Felix dengan nama saja.


"Baiklah Angel...ayo kita berangkat..."


1jam kemudian


Aurora baru saja datang ke rumah sakit, karena dia benar-benar menemani Antonio hingga makan siang, setelah selesai Aurora buru-buru meminta di antar kembali ke rumah sakit.


cklek


"oh Ra...kau sudah balik...", ujar Nicholas saat melihat Auto yang membuka pintu kamar rawat Aprilio.


"Maaf ya Nic...membuat mu harus menunggu di sini terlalu lama...padahal kan kau sibuk...", jawab Aurora tidak enak.


"Santai saja...aku ini sahabat nya Aprilio...ini juga tugas ku...jadi tidak perlu sungkan...", jawab Nicholas yakin.


"Dan apa Ra...", tanya Nicholas penasaran saat Aurora menjeda ucapannya sejenak.


"Sepertinya perusahaan Aprilio juga sedang membutuhkan bantuan mu...", ujar Aurora akhirnya.


"Perusahaan Aprilio...kenapa...", tanya Nicholas khawatir.


"Aku tidak tau persis sih...tadi aku tidak sengaja mendengar percakapan Tuan Dion dan beberapa orang...kalau tidak salah... masalah berita pagi ini...", jelas Aurora kemudian.


"ah masalah itu...", akhirnya Nicholas mengangguk mengerti. "...aku sudah tau...Paman Dion sudah menghubungi ku tadi...", lanjutnya.


"Baguslah kalau begitu..."


"Kalau begitu...aku pergi dulu...Paman Dion meminta ku kesana...", ujar Nicholas kemudian.


"Apa kau sudah makan siang... sebaiknya kau makan dulu Nic...", Ujar Aurora tulus.


"Aku sudah makan Ra...tadi Laura kemari membawakan makanan untuk ku...", jelas Nicholas.


"Oh begitu...aku jadi tidak enak dengan Kak Laura...", ujarnya sendu


"Kenapa..."

__ADS_1


"Ya... seharusnya kan kalian makan siang di restoran bukan di rumah sakit seperti ini...", jelas Aurora sendu.


"Ck Kau ini...kan aku sudah bilang... Aprilio itu sahabat ku... jadi ini juga tugas ku untuk menjaganya...mengerti...", ujar Nicholas tegas yang akhirnya membuat Aurora mengangguk paham. "...kau ini sama seperti Melinda... memanggil istri ku Kakak...tapi memanggil ku seenaknya...", lanjutnya mengalihkan pembicaraan.


"Hah", Aurora menatap kosong Nicholas. "...ah masalah itu... hehehe...maaf...belum terbiasa...", lanjutnya tersenyum menggaruk tengkuknya, membuat Nicholas menggelengkan kepalanya sambil terkekeh.


"Laura menganggap mu seperti adiknya sendiri...jadi itu berarti kau juga adik ku...jadi kalau butuh apa-apa...jangan sungkan menghubungi ku... mengerti...", Nicholas bicara tulus tak ada niat apapun, bagaimana pun kedua orang terdekatnya begitu menyayangi Aurora, jadi dia akan berusaha melakukan nya juga.


"Kalau begitu aku pergi ya..."


"Iya hati-hati...", Nicholas beranjak berjalan ke arah pintu, namun menghentikan langkahnya saat tangannya baru saja memegang gagang pintu, kemudian berbalik lagi ke arah Aurora.


"Oh iya Ra... setelah aku berbicara dengan Paman Dion nanti...dan mendapatkan persetujuan dari beliau...aku akan memberitahu mu sebuah rencana...", ujarnya Kemudian.


"Rencana apa...", tanya Aurora penasaran.


"Nanti kau juga tau...", setelah mengucapkan itu, Nicholas langsung membuka pintu dan pergi tak peduli dengan Aurora yang masih penasaran.


Beberapa menit kemudian


Nicholas baru saja sampai di mansion keluarga Victory, langsung di bantu salah satu pengawal untuk membuka pintu mansion, tanpa harus mengetuk atau menunggu ijin dari pemilik rumah.


"Silahkan Masuk Tuan Nicholas"


Saat sudah masuk, Nicholas di sambut oleh asisten Tuan Dion yang sudah menunggu nya.


"Anda sudah datang...Tuan Besar sudah menunggu anda...", ujar asisten itu mempersilahkan Nicholas ke arah sebuah ruangan, tanpa banyak bicara lagi Nicholas beranjak setelah mengangguk sejenak pada asisten tadi.


toktok


"Masuk"


Nicholas membuka pintu ruangan itu setelah mendapatkan ijin dari dalam, walaupun sejak datang tadi Nicholas di sambut seperti Aprilio oleh seluruh pekerja di mansion ini, tapi mau bagaimana pun Nicholas harus tetap tau aturan, ini bukan rumah nya sendiri.


"Paman", panggil nya membuat pria paruh baya itu beralih menatapnya.


"Kau sudah datang... duduklah", Nicholas mengangguk dan langsung melakukan seperti yang di ucapkan Tuan Dion.


Nicholas bersyukur bisa bertemu dengan Aprilio dulu, bahkan setelah mereka dekat Aprilio banyak bercerita ataupun berdiskusi dengan nya, bahkan mungkin saat itu Nicholas lebih tau tentang Aprilio di banding sang Ayah, Tuan Dion.


Sejak saat itu juga, Tuan Dion lebih sering meminta bantuan kepada Nicholas untuk sekedar meminta persetujuan ataupun menasehati Aprilio. Dan itu tetap sama maupun setelah Nicholas berhenti bekerja dengan Aprilio dan membuka perusahaan sendiri, Tuan Dion masih sesekali menghubunginya, bahkan Tuan Dion juga yang meminta Nicholas memanggilnya dengan panggilan Paman.


"Kau sudah tau kan berita pagi ini...", tanya Tuan Dion tanpa basa basi, Nicholas mengangguk. "...saya sudah meminta orang untuk menghapus berita itu...tapi berita sudah terlanjur menyebar...dan kau pasti tau apa akibatnya kan...", Nicholas hanya diam mendengarkan. "...dan kau tau juga kan...kalau saya tidak sanggup lagi menghadapi langsung orang-orang di perusahaan...", lanjutnya.


"Saya tau Paman...saya akan berusaha sebaik mungkin mengatasi masalah di Perusahaan...Paman cukup mengawasi dan menandatangani dokumen yang di perlukan..." jawab Nicholas tegas, membuat Tuan Dion mengangguk tersenyum. "Tapi-


"Tapi kenapa...kau ada masalah...", tanya Tuan Dion penasaran saat melihat Nichkhun menjeda ucapannya.


"Tapi...saya butuh persetujuan Paman untuk sebuah rencana..."


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2