
"Ya...sampai akhirnya...saya bertemu mereka...eh tidak... saya bertemu Antonio lebih dulu...karena wajahnya benar-benar mirip seperti saya waktu kecil... begitupun menurut Papa saya...jadi saat itu kami berpendapat kalau Antonio adalah putra saya...dan langsung bisa menebak...jika Aurora adalah ibu nya...karena sejak awal... hanya Aurora wanita yang saya percaya untuk mengandung putra saya... keturunan keluarga Victory...," jelas Aprilio panjang lebar.
"Lalu...Apa anda langsung mendatangi mereka dan mengatakan yang sebenarnya..."
"Awalnya seperti itu...namun untungnya saya menemui Nicholas lebih dulu saat itu...dan saya mengetahui kalau ternyata Aurora mengalami amnesia dan tidak mengingat siapa pun termasuk saya...dan yang semakin membuat saya kecewa... mereka tinggal bersama seorang pria... berstatus keluarga... bahkan putra saya memanggilnya Papa...", terdengar kesedihan dari nada bicara Aprilio, mungkin dia masih bisa merasakan bagaimana perasaan nya saat itu, hingga membuat semua orang terdiam dan suasana menjadi hening.
"Ternyata Nicholas dan Laura lebih dulu bertemu dengan mereka...tapi mereka tidak mengatakan apapun pada Aurora saat itu...yang mereka ajak bicara adalah pria yang tinggal bersama mereka...dan akhirnya mereka mengetahui segalanya...yang membuat saya bisa bernafas lega adalah fakta bahwa Aurora dan pria itu tidak pernah menikah... mereka hanya berpura-pura menjadi keluarga agar bisa tinggal bersama... karena mereka hidup dalam kondisi serba pas-pasan...banyak kebutuhan yang mereka harus penuhi nantinya...jadi mereka memilih status itu...namun nyatanya...pria itu tidak selalu tinggal di sana... melainkan tinggal di asrama tempatnya bekerja...",
"Maaf Tuan Aprilio... bukankah itu berarti mereka membohongi banyak orang...", tanya salah satu wartawan.
"Benar...", Aprilio berdiri dari duduknya. "...oleh sebab itu di kesempatan kali ini juga...Saya Aprilio Victory mewakili mereka meminta maaf pada orang-orang yang mengenal mereka dan merasa di bohongi oleh mereka...mohon maaf kan istri saya Aurora...dan sahabat kami Felix... begitupun dengan mendiang ibu Felix...", lanjut Aprilio membungkuk beberapa saat, membuat semua melotot terkejut tidak percaya, begitupun Aurora.
Tanpa banyak bicara, Aurora pun ikut berdiri dan membungkuk di samping Aprilio sejenak, kemudian keduanya kembali menegakkan tubuhnya dan saling menatap untuk beberapa saat.
"Maaf Tuan Aprilio...kenapa anda harus meminta maaf mewakili mereka...", tanya seorang wartawan pria.
"Tentu saja...karena Aurora adalah istri ku...dan Felix adalah sahabat kami...dia adalah malaikat yang di takdir kan Tuhan untuk membantu Aurora saat itu...kalau tidak ada dia...entah apa yang akan terjadi pada Aurora saat itu...Budi baik Felix dan ibu nya tidak bisa di gantikan dengan apapun...", jelas Aprilio tegas dan yakin.
Semua orang mengangguk setuju dengan apa yang di katakan Aprilio, bagaimanapun menolong dan merawat orang yang tidak kenal adalah hal sudah sangat mulia, apalagi di tambah dengan kehamilan dan kelahiran seorang bayi, yang tentu saja akan membutuhkan banyak tenaga dan uang, namun mereka menerima dan memperlakukan Aurora dan Antonio dengan baik di tengah kondisi keuangan mereka sendiri pas-pasan.
Disisi lain
"Apa sebaiknya aku kesana untuk ikut meminta maaf secara langsung...", ujar Felix.
"Jangan...jangan sekarang...saat ini adalah acara mereka...", cegah Nicholas. "...kau bisa meminta maaf saat Moon Travel mengadakan acara sendiri nanti... kau bisa secara langsung menyampaikan permohonan maaf mu...", lanjutnya.
__ADS_1
"Benar apa yang di katakan Nicholas...kalau kamu tiba-tiba muncul di sana... orang-orang akan menganggap mu tidak sopan...atau menganggap permintaan maaf tidak tulus... mereka akan berpikir... jika memang ingin mengucapkan maaf... mengapa tidak hadir di sana sejak awal...iya kan...", sambung Melinda.
"Benar yang di katakan Melinda...jangan terburu-buru... jika Aprilio ingin kau ikut meminta maaf secara langsung... dia pasti akan mengajakmu ke sana tadi...", lanjut Laura ikut menjelaskan.
"Kalian benar...maaf aku belum memahami situasi seperti itu...", ujar Felix merasa bersalah.
"Bukan seperti maksudnya Felix...kami paham kalau kau masih belum terbiasa dengan situasi seperti ini...tapi kau jangan merasa bersalah...ini bukan salah mu...dan ini adalah PR kita sebagai teman-teman mu... untuk mengajarkan dan memberitahu tentang segala nya...", Jelas Nicholas menenangkan.
"Tapi Felix...apapun itu...entah kau yang dulu atau kau yang sekarang... tetaplah jadi dirimu sendiri... tidak perlu merubah dirimu menjadi seperti Aprilio... Nicholas ataupun orang lain... karena dirimu ya dirimu...yang berubah hanya kebiasaan mu saja...apa kau mengerti...", ujar Melinda perhatian, Felix pun tersenyum dan mengangguk mengiyakan.
"Astaga...bisa-bisa kena diabetes aku... karena terus di suguhi yang manis-manis sejak tadi...", ujar Nicholas tiba-tiba, membuat ketiga orang di sana mengernyit heran menatapnya.
"Memangnya kamu makan apa sayang... perasaan makanan kita tadi tidak yang terlalu manis...", tanya Laura menatap Nicholas.
"Bukan soal makanan sayang...tapi tingkah mereka itu...", ujar Nicholas mengisyaratkan matanya pada dua orang di layar TV, Aurora dan Aprilio. "...trus mereka juga...", lanjutnya beralih pada Felix dan Melinda.
"Astaga...kamu ini ada-ada saja...", Laura menggelengkan kepalanya tak habis pikir, begitupun dengan Felix yang terkekeh melihatnya.
"Kalian mulai lagi... kalau tidak bertengkar tidak enak ya... padahal baru saja kalian sependapat lho...", goda Felix.
"Kapan", pekik Nicholas dan Melinda hampir bersamaan, membuat Laura dan Felix terkekeh, namun keduanya malah melotot terkejut.
"Tadi...saat mencegah ku tadi...", jawab Felix menahan tawa.
"Oh itu tadi dia yang langsung ikut-ikutan nyambung omongan ku...", tolak Nicholas tidak terima.
__ADS_1
"Y-ya...itukan karena hal yang benar...makanya aku setuju... bukan berarti aku ngikutin kau ya...", elak Melinda buru-buru.
"Halah alasan"
"Kau-
"Hey sudah-sudah...kenapa kalian seperti anak kecil sih...", ujar Laura menengahi menghentikan keduanya.
...
"Walaupun saya dan Aurora sudah menikah menurut negara...tapi kami belum mengucapkan janji pernikahan... maka dari itu...lusa saya akan mengadakan ikrar dan pesta pernikahan..."
Ucapan Aprilio seketika membuat ruangan menjadi riuh, ada yang bersorak gembira, ada yang penasaran, bahkan ada yang antusias.
"Ikrar akan di adakan pagi hari...dan hanya untuk keluarga dan teman terdekat...lalu di lanjutkan malam hari...untuk kolega Victory Company dan orang-orang penting lainnya..."
"Lalu...apakah kami di perbolehkan meliputnya Tuan Aprilio...", tanya salah satu wartawan.
"Tentu saja...tapi hanya di area luar...karena di dalam adalah area privasi...saya takut tamu-tamu saya tidak akan nyaman nantinya...", jelas Aprilio yakin, namun terdengar beberapa suara kekecewaan dan sedih dari semua orang.
"Tapi anda semua tenang saja...saat akan keluar nanti... anda semua akan mendapatkan undangan...satu orang akan mendapat satu undangan...saya dan keluarga mengundang anda semua untuk datang di acara pernikahan saya dan Aurora...saya juga sudah mengatur jam nya untuk anda semua di sore hari...dan...untuk semua yang tidak mendapatkan undangan nanti atau tidak ada di sini sekarang...tenang saja...saya akan menyiapkan bazar raya gratis selama seminggu...anggap saja itu pesta untuk semuanya..."
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**