
cklek
"oh Kau sudah kembali...", Felix baru saja kembali, dan saat membuka pintu ruangannya, ternyata ada Melinda yang sedang merapikan meja kerja Felix.
Tentu saja Felix di buat terkejut, padahal saat berjalan menuju ke ruangannya tadi, Felix sempat penasaran saat menatap ruangan Melinda yang tertutup, "apa Mel ada di ruangannya?", "apa dia sedang keluar makan siang?", tapi Felix terlalu gengsi untuk sekedar mengetuk atau melihat nya, jadi Felix memutuskan untuk langsung kembali ke ruangan saja.
"Aku sudah merangkum semua yang di bahas dalam meeting tadi...", lanjut Melinda santai menunjukkan salah satu dokumen kepada Felix yang tersadar dari lamunannya sejenak, "...dan ada juga beberapa dokumen yang perlu kau tanda tangani...", lanjutnya menunjuk tumpukan dokumen di atas meja Felix.
"Ya... terima kasih...", jawab Felix menerima dokumen yang di berikan Melinda. "...kau sudah mengerjakan ini semua...apa kau tidak makan siang...", lanjutnya kemungkinan berjalan ke arah kursi kerjanya, kemudian mendudukinya.
"Tidak...aku masih kenyang... karena tadi aku sudah makan...", jawab Melinda santai, Felix pun mengangguk mengerti tanpa melihat ke arah Melinda. "...oh iya... maaf ya...aku keluar terlalu lama...jadi tidak bisa mengikuti meeting tadi...", lanjutnya tidak enak.
"Lalu", tanya Felix mengangkat kepalanya untuk melihat ke arah Melinda.
"Lalu...", ulang Melinda kebingungan, namun kemudian mengerti saat melihat Felix mengernyitkan keningnya, "...ah aku tadi pergi ke suatu tempat...tapi ceroboh nya aku tidak memeriksa bahan bakar mobil ku...jadi saat perjalanan akan kembali...mobil ku mogok kehabisan bahan bakar...hehe", lanjutnya menjelaskan.
"Kenapa kau tidak menghubungi ku Mel... ponsel mu juga mati saat aku hubungi...jangan bilang kalau ponsel mu juga kehabisan daya...", ujar Felix beruntun.
"Hehe... benar-benar sial hari ini...", jawabnya sambil terkekeh menutupi kebohongan nya, sedangkan itu membuat Felix hanya menggelengkan kepalanya tak percaya.
"Lalu bagaimana kau kembali...", tanya Felix masih di tempat nya, sedangkan Melinda dengan santainya duduk di kursi yang berada di depan meja Felix, jadi mereka duduk berseberangan.
"Ah kebetulan ada seseorang yang membantu ku...dia membelikan ku bahan bakar...bahkan dia menolak saat aku ingin mengganti uangnya...jadi...aku memaksa untuk mentraktir nya makan...", jelas Melinda jujur.
"Oh jadi laki-laki itu yang membantu mu...", sindir Felix sambil melihat satu persatu dokumen yang di bawa Melinda tadi.
"Bagaimana kau kalau yang menolong ku laki-laki...", tanya Melinda.
"Ya... laki-laki yang mengantar mu tadi kan...lalu dia juga meminta nomor ponsel mu juga...", tekan Felix tanpa menatap Melinda.
__ADS_1
"Jadi kau tau tadi aku datang di antar Alen..."
"Alen"
"Iya... namanya Alenio Sebastian... usianya setahun lebih tua dari ku...eh berarti seumuran mu ya Lix...dia itu owner sebuah coffe shop...jadi pas saat membantu ku tadi... dia kebetulan sedang mengambil kopi di daerah itu...dia itu asli orang sini...hanya saja dia blasteran...makanya muka bule...tapi dia baik banget lho orang nya...", jelas Melinda panjang lebar.
"Baru bertemu beberapa jam...tapi kau seperti sudah sangat mengenal nya...", sindir Felix tajam.
"Bukan begitu juga sih...kita hanya sedikit mengobrol saat makan bersama tadi...", elak Melinda polos.
"Apa kau tidak takut kalau dia hanya berpura-pura baik..."
"Itu tidak mungkin...aku pasti bisa membedakan mana yang benar-benar tulus dan mana yang pura-pura...", elak Melinda tidak terima.
"Sekarang orang-orang licik itu sudah pandai berakting... mereka akan membuat korbannya percaya lebih dulu... lalu kemudian menjalankan aksinya...", jelas Felix melebih-lebihkan.
"Entahlah...mungkin pemerkosaan...penjualan organ atau bahkan perdagangan manusia...", ujar Felix menakut-nakuti.
"Felix ih...bicara nya aneh-aneh...tau ah aku malas bicara dengan mu lagi...aku mau kembali ke ruangannya ku saja...", ujar Melinda kesal dan buru-buru pergi dari sana dengan menghentak-hentakkan kaki nya, tentu saja hal itu membuat Felix diam-diam tersenyum gemas.
Disisi lain
"Kalau Nio bosan...hubungi Papa Felix atau Aunty Laura saja...minta tolong mereka untuk datang saat selesai bekerja nanti...tapi ingat jangan memaksa...", ujar Aurora tegas saat melakukan panggilan video dengan Antonio.
"Iya ma...Nio tau...tapi Nio tidak bosan kok...Mama tenang saja...disini kan banyak orang yang bisa aku ajak bermain...", jawab putra Aprilio itu dewasa.
"Baiklah Jagoan...tapi kalau butuh apapun atau ingin makan sesuatu...Nio bilang saja pada Kakek atau Bibi Chu... mengerti...", sela Aprilio yang berada di samping Aurora.
"Iya Pa...Nio tau...jangan khawatir..."
__ADS_1
"Kalau begitu Mama Papa tutup dulu ya..."
"Iya Ma...Pa...selamat bersenang-senang...dan aku menyayangi kalian"
"Kami juga menyayangimu...", mereka sama-sama melambaikan tangan kemudian memutuskan panggilan video nya.
"Sayang... sepertinya kita harus minta Nio untuk tidak memanggil Felix Papa lagi deh", ujar Aprilio tiba-tiba.
"Eh memangnya kenapa...apa kamu tidak suka...tapi Nio sudah terbiasa memanggil Felix seperti itu sejak kecil... tidak mungkin bisa tiba-tiba berganti memanggilnya Paman kan...", jelas Aurora panjang lebar.
"Bukan seperti itu sayang... maksudnya panggilan yang tidak sama dengan ku...masa manggil aku dan Felix sama-sama Papa...", jelas Aprilio buru-buru.
"Oh begitu... contohnya seperti apa...",
"Ya mungkin seperti aku Papa...lalu Felix Papi gitu...", jawaban Aprilio membuat Aurora terkekeh. "...sayang... kok kamu tertawa sih...", lanjutnya merengek.
"Tidak apa-apa...tapi bagaimana kalau yang di ubah itu panggilan kita...Papi dan Mami...Hem bagaimana...", jelas Aurora.
"Papi dan Mami...boleh juga...tapi bagaimana kalau Daddy dan Mommy saja...", tanyanya kemudian.
"Daddy dan Mommy terlalu berlebihan sayang...kasihan Nio juga kalau terlalu jauh dari panggilan sebelumnya... kalau Mama ke Mami kan lebih mirip...iya kan...", jelas Aurora kemudian.
"Benar juga sih... baiklah kalau begitu... panggilan kita di ganti Mami dan Papi...aku akan bicara pada Nio saat pulang nanti...", ujar Aprilio antusias, yang di angguki Aurora setuju.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
written by Blue Dolphin**
__ADS_1