
Skip Malam Hari
Aurora berada di parkiran rumah sakit, sebab beberapa menit yang lalu seseorang mengirim pesan padanya dan meminta Aurora untuk ke parkiran karena Tuan Dion mengirimkan sesuatu untuk nya.
Suasana parkiran sepi karena hari menjelang malam, hanya ada beberapa mobil yang terparkir di sana, bahkan tak terlihat orang satu pun, namun Aurora tak curiga sedikitpun, karena dia pikir memang benar-benar orang suruhan Tuan Dion yang datang.
Namun hingga beberapa menit menunggu, tidak ada mobil ataupun seseorang yang menghampiri Aurora, jadi perempuan bermarga Moon itu memilih untuk berjalan lebih jauh mencari orang suruhan Tuan Dion, sampai akhirnya...
brrmmmm
"Apa itu ya", gumam Aurora saat melihat sebuah mobil baru saja menyala mesin dan lampu depannya.
Aurora perlahan berjalan mendekati mobil yang tepat menghadapnya, berjarak jauh beberapa meter dari tempatnya itu, kemudian mobil itu perlahan mulai melaju, namun detik berikutnya mobil itu berubah melaju kencang tepat ke arah Aurora.
Aurora membulatkan matanya tak percaya, lalu bergegas berbalik dan berlari menjauh, namun bagaimana pun kecepatan larinya, tidak bisa lebih cepat dari kecepatan laju mobil itu, hingga...
dor
ckiiittt
Braakkk
Salah satu pengawal lebih dulu menembak ban mobil itu hingga hilang kendali, dan menabrak tiang yang terbuat dari beton hingga kap depannya rusak cukup parah.
"Aurora", Felix berlari ke arah Aurora bersama dengan Nicholas dan beberapa pengawal yang berlari ke arah mobil tadi.
"Kau tidak apa-apa", tanya Felix kemudian, Aurora hanya mengangguk perlahan. "... syukurlah...", lanjutnya lega.
bugh
Suara itu membuat Aurora dan Felix mengalihkan perhatian mereka ke arah Nicholas yang langsung memukul pria yang mengemudikan mobil tadi setelah berhasil di paksa keluar oleh salah satu pengawal nya, hal itu membuat pria misterius tadi jatuh tersungkur, terlihat kepalanya terluka, dan mungkin pusing karena tabrakan tadi, sehingga saat Nicholas memukulnya dia tidak bisa melawan ataupun mengelak.
"Katakan...siapa yang menyuruhmu...", tanya Nicholas geram menarik baju pria itu hingga berdiri, namun sepertinya pria itu tak berniat sedikit pun untuk menjawabnya. "...Jawab...br*Ngs*k...", lanjutnya mengguncang tubuh pria itu.
"Si**an...Kau main-main dengan ku...pegangi dia...", marah Nicholas dan mendorong pria tadi ke arah pengawal untuk di pegangi, sejenak Nicholas melonggarkan dasinya dan sedikit menaikkan lengan kemejanya.
bugh
__ADS_1
Nicholas memukul perut pria itu yang sedang di pegangi oleh pengawal suruhan Tuan Dion dengan amarah.
"Katakan siapa yang menyuruhmu br*ngs"k...bugh", teriak Nicholas marah dengan melayangkan pukulan lagi ke perut pria itu.
Walaupun meringis kesakitan karena pukulan Nicholas, tapi pria itu tetap bungkam tak mengatakan apapun, dan itu semakin membuat Nicholas marah.
"Oooh...kau ingin main-main dengan ku...", ujar Nicholas dengan geram, kemudian meraih salah satu pistol milik salah satu pengawal yang di sembunyikan di balik jas yang dia kenakan.
"Kalau kau diam saja...aku tidak akan segan-segan melubangi kepala mu...", ujar Nicholas marah dengan mengarahkan ujung pistol ke kepala pria itu, melihat itu Aurora dan Felix buru-buru menghampiri Nicholas.
"Cepat Katakan...aku tidak main-main...atau-
Nicholas menghentikan ucapannya, saat ponselnya berdering, merogoh saku celananya, setelah itu mengernyit saat menatap nama Antonio di sana, tanpa pikir panjang Nicholas langsung menjawabnya.
"Iya Nio...ada apa...", mendengar itu Aurora dan Felix saling pandang untuk beberapa saat dengan heran.
"Cepat ke ruangan Papa...ada seseorang yang mencurigakan..." suara Antonio dari sebelumnya sana terdengar panik.
"Apa..."
"Sepertinya kita salah uncle...dia sengaja memancing semuanya ke parkiran...agar dia bisa melakukan sesuatu pada Papa..."
"Nicholas ada apa...", tanya Aurora dan Felix hampir bersamaan.
"Ruangan Lio...", teriaknya lantang bahkan tak menghentikan laju kakinya sedikit pun, keduanya saling menatap dengan terkejut mengerti apa yang di maksud Nicholas dan langsung menyusul nya.
Disisi lain
Antonio berjalan mondar-mandir setelah menghubungi Nicholas, bocah 5 tahun itu menatap laptopnya dengan cemas, rasanya dia ingin langsung pergi kesana untuk menyelamatkan sang Papa.
"Apa aku harus memberitahu Kakek...", gumamnya khawatir, "...kalau aku tidak memberitahu nya...Kakek pasti akan kecewa pada ku...tapi kalau aku memberitahunya... aku takut Kakek jatuh sakit lagi...", lanjutnya gelisah.
prangg
Antonio membulatkan matanya terkejut saat mendengar suara samar benda pecah, dengan sedikit berlari, Antonio mencari darimana asal suara itu.
Namun saat turun dari tangga, Antonio bisa melihat beberapa maid, pengawal bahkan asisten sang Kakek baru saja datang dengan berlari hampa bersama ke arah Tuan Dion yang sedang memunguti sebuah foto yang figuranya sudah pecah.
__ADS_1
"Tuan Besar...anda tidak apa-apa...", tanya Asistennya khawatir, namun Tuan Dion tidak menjawab, mata hanya menatap foto yang berada di tangannya.
"Kenapa bisa terjatuh", gumam Tuan Dion yang masih bisa di dengar oleh asisten nya.
"Cepat bersihkan ini...dan ambilkan minum...yang lain kembali ke pekerjaan kalian...", perintah Asisten Tuan Dion crytegas pada maid dan pengawal yang lain.
"Kakek kenapa...", suara Antonio akhirnya mengalihkan perhatian Tuan Dion dari foto itu, dan beralih pada menatap cucunya.
"Kakek tidak apa-apa...hanya terkejut saja...", jawab Tuan Dion setenang mungkin, padahal perasaannya tidak enak, kemudian duduk di sofa ruang tamu.
"Apa Kakek yakin...tapi kelihatannya Kakek tidak baik-baik saja...", tanya Antonio ragu-ragu, ikut duduk di samping sang Kakek.
"Em... sebenarnya perasaan Kakek tiba-tiba tidak enak... apalagi...saat figura foto ini tiba-tiba terjatuh tanpa ada yang menyenggolnya, Kakek langsung teringat Papa mu...", jelas Tuan Dion sendu, Antonio pun mengusap-usap bahu sang Kakek, seperti orang dewasa.
"apa Kakek merasakan jika Papa dalam bahaya", batin Antonio
"Ka-kek... sebenarnya...ada yang ingin Antonio sampaikan...ini tentang Papa..."
Kembali ke Rumah Sakit
Seseorang berpakaian suster, memasuki ruangan Aprilio dengan hati-hati setelah memerhatikan sekeliling, setelah itu menutup perlahan pintu nya, kemudian berjalan perlahan-lahan mendekat ke tempat tidur Aprilio.
Mengamati setiap detail wajah sempurna Aprilio yang terpejam damai, seulas senyum terbit di bibir suster itu, kemudian membawa tangannya untuk mengusap halus pipi Aprilio.
Namun yang membuat nya terlihat mencurigakan adalah sarung tangan yang dia pakai, tidak aneh jika pasiennya memiliki penyakit menular atau terkena virus, tapi aneh jika menggunakan sarung tangan saat memeriksa pasien yang koma karena luka tembak, itulah yang di pikirkan Antonio.
"Kau rela mengorbankan nyawa mu untuk perempuan itu... padahal aku yang lebih banyak menghabiskan waktu dengan mu...kenapa kau tidak bisa membuka hati untuk ku...aku mencintaimu...bahkan sebelum dia hadir dalam hidup mu... kenapa...kenapa kau kejam pada ku Kak...", gumam suster perempuan itu terdengar penuh amarah, tapi lebih di dominasi dengan kekecewaan.
"Tidak...aku tidak rela melihat kalian bersatu dan bahagia... aku tidak akan membiarkan itu terjadi...tapi kau tenang saja Kak...aku tidak akan melukai perempuan itu...", lanjutnya menyeringai.
"Kalau aku...Clara Chen... tidak bisa mendapatkan mu... siapapun juga tidak boleh mendapatkan mu...", lanjutnya menatap sekeliling mencari sebuah yang bisa dia manfaat kan.
Clara kemudian tersenyum lebar saat mendapatkan ide untuk melakukan rencananya, tangannya perlahan mengarah ke selang infus yang berada di hidung Aprilio, sepertinya dia berencana untuk melepas selang itu dan membuat Aprilio kesulitan bernafas. Namun saat tangan nya berhasil mencapai selang itu, tiba-tiba sebuah tangan lebih dulu menahannya.
**Bersambung
Anak Genius CEO Tampan
__ADS_1
written by Blue Dolphin**