Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 8.2


__ADS_3

Disisi lain


Seorang perempuan paruh baya tengah duduk dengan angkuh di Sebuah kursi dengan menyandarkan tubuhnya dan menutup matanya, hingga beberapa menit kemudian terdengar suara ketukan pintu, membuat nya menyeringai dan segera menegakkan tubuhnya, memberi jawaban untuk mempersilahkan masuk.


"sekertaris Lan... silahkan masuk" ujar antusias mempersilahkan seorang pria yang dia panggil itu.


"iya... terima kasih nyonya...tapi saya kemari hanya meminta tanda tangan nyonya sebagai penanggung jawab proyek pembangunan Mall yang nyonya ajukan..." jelas pria itu sopan.


"oh tanda tangan kontrak ya..." tanyanya antusias


"benar nyonya... seperti yang sudah di jelaskan dalam Email yang sudah saya kirim ke anda...bahwa tuan Aprilio menyetujui dan bahkan mengajukan kerja sama pada beberapa brand ternama dalam proyek ini...dan mereka sudah menyetujui nya...hanya menunggu kontrak kerja sama dari kita...saya juga sudah membuatkan kontrak nya...dan sudah di cek tuan Aprilio...bahkan sudah di tanda tangani...hanya tinggal tanda tangan anda Nyonya..." jelas sekertaris itu panjang lebar.


"begitu ya... baiklah bawa kemari kontrak nya...biar saya tanda tangani..." minta nya tidak sabar.


"apa anda tidak ingin membacanya terlebih dulu..." tanya sekertaris Lan memastikan.


"tidak perlu...saya tidak mungkin membaca semua kontrak ini satu persatu...cukup tanda tangan saja..." jawabnya santai, membuat sekertaris itu mengangguk pasrah.


Di ruangan lain


Aprilio terlihat begitu tidak tenang, seharusnya dia tadi langsung pergi menemui Nicholas, bukannya ke kantor, karena nyatanya dia malah tidak bisa berkonsentrasi untuk bekerja, pikirannya selalu di penuhi dengan Laporan orang suruhannya.


"ah sial...satu masalah hampir selesai...tapi masalah lain datang...apa yang harus aku lakukan untuk masalah ini..." gumamnya frustasi.


Beberapa menit kemudian, sekertaris Aprilio memasuki ruangan nya setelah mengetuk pintu sejenak, membawa dokumen yang baru saja di ajukan ke seseorang tadi.


"tuan Aprilio...kontrak sudah di tanda tangani...lalu apa lagi yang harus saya lakukan..." tanyanya hati-hati.


"apa hari ini aku ada meeting atau acara penting yang lain..." Aprilio yang berbalik bertanya membuat sekertaris nya mengernyit bingung.


"ada meeting dengan PT. Click setelah makan siang tuan..." jawabnya walaupun masih bingung, tak berani bertanya lebih lanjut.

__ADS_1


"baiklah...bawa kemari dokumen yang saya minta tadi... yang lainnya kamu urus saja dulu...saya akan keluar sampai jam makan siang..." jelas Aprilio dengan mengambil sebuah dokumen yang di serahkan sekertaris nya, dan menyimpannya di sebuah brangkas kecil miliknya.


Sekertaris Lan mengangguk mengerti dan membiarkan atasannya itu beranjak pergi lebih dulu meninggalkan ruangan besar itu.


Sementara itu


Aurora baru saja sampai di sekolah Antonio, karena tadi Felix mengabari jika dia tidak bisa menjemput Antonio, maka Aurora yang menjemput Antonio.


"Mama..." pekik bocah 5 tahun itu saat keluar dari sekolah dan melihat Aurora.


"hai sayang... bagaimana sekolahnya..." tanya Aurora mengusap kepala putranya itu.


"menyenangkan... seperti biasa..." jawabnya antusias.


"syukurlah... sekarang kita pulang jalan kaki tidak apa-apa kan... karena Papa tadi mengirim pesan pada Mama kalau tidak bisa menjemput..." jelas Aurora lembut.


"tidak apa-apa Ma...Papa pasti sedang sibuk... karena ini hari pertama Papa bekerja di kantor...jadi harus menyesuaikan diri terlebih dulu...iyakan" ujarnya tersenyum.


"benarkah..." Aurora mengangguk yakin, membuat Antonio semakin tersenyum lebar. "ayo cepat kita pulang..." pekiknya bahagia.


Setelah beberapa menit perjalanan dan hampir sampai di dekat Apartemen mereka, Aurora dan Antonio di kejutkan dengan seseorang yang tiba-tiba berdiri di depan mereka dan langsung memegang kedua bahu Aurora.


"Aurora..." Aurora, bahkan Antonio sama-sama terkejut, pasalnya dia tidak menyangka akan bertemu dengan pria yang memiliki hubungan darah dengan nya itu saat ini. ya...orang itu adalah Aprilio.


"Maaf...anda siapa ya..." tanya Aurora setelah terkejut beberapa saat, namun justru pertanyaan itu membuat Aprilio terkejut, dan perlahan melepaskan tangannya dari bahu Aurora.


Untuk beberapa saat mereka saling menatap, Aurora menatap kebingungan, sedangkan Aprilio menatap dengan kecewa, namun tanpa orang lain ketahui, jantung mereka sama-sama berdebar kencang.


"Paman...apa yang kau lakukan disini..." pertanyaan Antonio, membuat kedua orang tua nya itu tersadar dari lamunan mereka masing-masing. "apa Paman mengenal Mama ku..." lanjutnya pura-pura.


"e-entahlah..." jawabnya gugup. "maafkan atas ketidak sopanan ku..." ujarnya tak mengalihkan pandangannya dari Aurora.

__ADS_1


"apa Antonio mengenal Paman ini..." ujar Aurora setelah memutuskan pandangannya dengan Aprilio.


"iya...dia Paman yang menolong ku saat aku tersesat di jalan...Paman ini juga anak dari Kakek yang waktu itu kita tolong di taman...Paman ini punya perusahaan yang besar bernama Victory..." jelas Antonio antusias, membuat kedua orang yang lebih tua itu tanpa sadar tersenyum.


"benarkah" Antonio mengangguk yakin menjawab pertanyaan Aurora. "astaga... terima kasih tuan...saya sebagai orang tua Antonio... sungguh-sungguh berterima kasih pada Anda..." lanjutnya beralih pada Aprilio dan membungkuk beberapa kali sebagai ucapan terimakasih nya.


"tidak perlu berterima kasih...itu sudah kewajiban manusia untuk saling tolong menolong..." jawabnya tersenyum.


"Paman... sebenarnya apa yang Paman lakukan di sini... tidak mungkin kan...Paman punya kenalan di daerah ini..." tanya Antonio lagi.


"ah tidak...tadi Paman mau menemui seseorang... kebetulan lewat sini...dan tadi tidak sengaja melihat mu... jadi Paman turun untuk menemui mu..." elaknya menatap Antonio lembut.


"oh begitu ya...apa Paman mau main ke rumah ku..." pertanyaan Antonio membuat kedua orang tua nya sama-sama terkejut.


"maaf...Paman tidak bisa...Paman sudah ada janji dengan seseorang...lain kali saja ya..." tolaknya halus, membuat Aurora menghembuskan nafas lega, sedangkan Antonio hanya mengangguk mengiyakan, padahal dia tahu jika Papa kandung nya itu sedang berbohong.


"kalau begitu...Paman permisi dulu ya..." pamitnya mengusap kepala Antonio dan membungkuk sejenak pada Aurora, sebelum akhirnya beranjak dari sana. pandangan Aurora terus mengikuti kemana Aprilio menjauh hingga memasuki mobil, terlihat kekecewaan di matanya, hati nya juga sedih, tapi juga takut, bercampur-campur.


"Ma...ayo kita pulang...katanya mau masak makanan kesukaan Antonio..." panggil nya untuk mengalihkan perhatian Aurora.


"ah iya...Mama sampai lupa...ayo kita pulang..." ajak Aurora setelah tersadar dari lamunannya.


Sedangkan disisi lain, setelah memasuki mobilnya, Aprilio menyandarkan tubuhnya, menutup mata merasakan hatinya yang sakit setelah menerima kenyataan baru yang menyakitkan. perempuan yang dia cari, bahkan dia cintai 6tahun ini, ternyata melupakannya.


Setelah beberapa saat berdiam diri dalam mobil nya, akhirnya Aprilio kembali menyalakan kembali mobil nya dan menjalankan nya ke tempat yang memang menjadi tujuan nya tadi.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2