Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 21.1


__ADS_3

Malam Harinya


Aurora sedang duduk tenang di sofa ruangan rawat Aprilio, di salah satu telinganya ada sebuah airpods, terlihat beberapa kali kepala mengangguk perlahan.


"ingat Ra...jangan mengucapkan apapun...cukup kau dengar perkataan ku..."


Terdengar suara seseorang dari airpods nya, ternyata Aurora sedang menghubungi seseorang.


"*Aku tidak bisa mengatakannya secara langsung...aku takut kalau ada orang lain yang menguping pembicaraan kita..."


"Kita tidak tau mata-mata itu menyamar jadi dokter atau suster... atau bahkan salah satu pengawal yang ada di sana*..."


"Apa", Aurora langsung membekap mulutnya sendiri saat dia refleks memekik terkejut mendengar penjelasan Nicholas dari seberang sana. "...Maaf", bisik Aurora kemudian.


"Sudah tidak apa-apa...aku tau kau pasti terkejut...sekarang kau cukup dengarkan saja rencana ku dan Felix...", Aurora mengangguk mengerti, padahal tentu saja Nicholas tidak akan melihat nya.


"*Menurut ku dan Felix... setelah gagal menabrak mu waktu itu... Clara pasti sedang merencanakan untuk mencelakai mu lagi...jadi menurut ku...kita pancing saja dia masuk ke dalam jebakan yang kita buat..."


"Rencananya...besok aku akan buat berita tentang Aprilio yang berada di rumah sakit...terluka tembak...karena menyelamatkan putra dan wanita yang dia cintai..."


"Bukankah...Clara akan semakin meradang melihat itu... bahkan mungkin dia semakin membencimu...dan kau tau kan...apa saja akan di lakukan seseorang...saat melihat orang yang dia gilai bersama wanita lain..."


"Dia akan semakin gila...bahkan tanpa pikir panjang...dia akan melakukan apapun yang dia pikirkan*..."


Keesokan harinya


Pagi ini semua benar-benar gempar, dengan berita yang keluar, memang bukan konfirmasi dari keluarga Victory, tapi salah satu stasiun TV yang di bayar Nicholas, menampilkan sebuah bukti seorang wanita yang menjaga Aprilio di rumah sakit.


Bahkan bukti di atur Nicholas juga menampilkan Antonio yang berada di kediaman keluarga Victory, berita terbaru tidak mengatakan langsung siapa wanita dan anak kecil itu, tapi banyak orang yang bisa menebak jika anak ku itu memiliki wajah yang sama dengan Aprilio.


Di depan rumah sakit pun sudah banyak wartawan yang ingin mencari informasi, bahkan juga di kediaman keluarga Victory, namun Tuan Dion sudah lebih dulu menambah pengawal untuk di rumah saja maupun di kediamannya.


pyaaarrrr


"Tidak...tidak bisa...aku tidak akan membiarkan perempuan ja**ng itu merebut Kak Aprilio...", ujar Clara frustasi setelah memecahkan semua barang sesuai ada di meja riasnya.


Clara berjalan mondar-mandir dengan gelisah dan berpikir keras, hingga beberapa menit kemudian dia berhenti dan tertawa menyeringai, lalu buru-buru mengambil ponselnya untuk menghubungi seseorang.


"Halo...Awasi rumah sakit tempat Aprilio di rawat...", ujarnya setelah seseorang menjawab panggilan nya. "...aku akan menghubungimu lagi nanti...jangan lakukan apapun sebelum aku perintahkan...", Clara menutup panggilan nya tanpa menunggu jawaban dari lawan bicaranya.

__ADS_1


"Huh... tunggu saja... akhir dari kisah kalian...",


Disisi lain


"Kakek...kenapa di depan ramai sekali...", tanya Antonio menghampiri sang Kakek yang tengah duduk sendirian di meja makan.


"Oh Jagoan Kakek...sudah selesai mandi...", Antonio mengangguk kecil membuat Tuan Dion tersenyum kemudian mencium kepalanya sayang. "... duduklah... kita sarapan dulu...", lanjutnya lembut, namun justru Antonio menekuk bibirnya kecewa, tapi tetap berjalan ke salah satu kiri dan menduduki nya.


"Di luar banyak wartawan...jadi Nio main di dalam saja ya...", jelas Tuan Dion sekaligus memberi jawaban dari pertanyaan Antonio tadi.


"ooo...wartawan", gumam Antonio mengangguk-angguk, "...baiklah...hari ini Nio main di dalam saja...", jawabnya kemudian.


"Pintar nya Cucu Kakek...", puji Tuan Dion


Sementara di luar, Asisten Tuan Dion yang menemui para wartawan untuk menjelaskan tentang berita yang beredar.


"Baiklah...saya akan menyampaikan pesan dari Tuan Dion Victory...jadi mohon para wartawan dengarkan baik-baik ...karena saya tidak akan mengulanginya...", ujar Asisten Tuan Dion tegas.


"Untuk masalah berita hari ini...Tuan Dion mengatakan akan mengadakan konferensi pers saat putranya...Tuan Aprilio sadar dan sembuh...Tuan Dion berharap...para wartawan bersedia menunggu...jika saatnya nanti...Tuan Dion akan mengundang kalian..." jelas Asisten Tuan Dion tegas.


"Jadi...berita tentang Tuan Aprilio masuk rumah sakit karena tertembak...itu benar ya...", tanya dalam seorang wartawan laki-laki.


"Lalu siapa perempuan dan anak kecil itu...", sahut wartawan lainnya.


"Cukup sekian untuk hari...untuk selanjutnya kami akan mengabari saudara wartawan semua...", Asisten Tuan Muda membungkuk sejenak kemudian beranjak dari depan kumpulan wartawan, tanpa memperdulikan mereka yang masih terus saja melontarkan banyak pertanyaan.


"Nio sudah selesai...", ujar Antonio saat sudah menyelesaikan sarapannya.


"Pintar sekali cucu Kakek...apa mau buah...biar Kakek kupaskan...", tanya Tuan Dion lembut.


"Tidak perlu Kakek...Nio makan pisang saja...Nio bisa mengupasnya sendiri...", jawab bocah 5 tahun itu mencoba meraih buah pisang yang berada di tengah meja. ”...ugh tangan Nio tidak sampai...", ujarnya lucu.


"Sini...biar Kakek ambilkan...", ujar Tuan Dion terkekeh, lalu berdiri dari duduknya, namun asisten Tuan Dion datang lebih dulu.


"Tuan... apa membutuhkan sesuatu...", tanyanya menghampiri Tuan Dion.


"Tidak apa-apa...aku hanya ingin mengambilkan buah pisang untuk cucu ku...", jawabnya santai kemudian mengambil 2buah pisang. "...satu untuk Nio...dan satu lagi untuk Kakek...", lanjutnya.


"Kakek juga suka Pisang...", tanya Antonio berbinar bahagia setelah menerima Pisang dari sang Kakek.

__ADS_1


"Tentu saja...tapi Kakek juga suka buah yang lainnya... karena buah itu sehat...", jelas Tuan Dion.


"Iya...Mama juga bilang begitu...tapi Nio pernah makan pisang lebih dari satu dalam sehari...dan Papa Felix bilang...Nio seperti Monyet yang suka makan pisang...hehehe...", ujar Antonio antusias dengan tertawa lucu menceritakannya, membuat Tuan Dion ikut tertawa.


Asisten Tuan Dion pun ikut tertawa melihat interaksi Kakek dan Cucunya itu, setidaknya ada Antonio yang bisa menghibur Tuan Dion di saat-saat seperti ini.


Disisi lain


Felix dan Melinda datang ke rumah sakit membawakan sarapan untuk Aurora, sebenarnya mereka tidak janjian, tapi mereka tidak sengaja beredar di parkiran.


"Eoh... kenapa kau kemari...", tanya Felix menunjuk Melinda yang baru turun dari mobilnya.


"Tentu saja aku khawatir dengan sahabat ku... kenapa... tidak boleh...", jawab Melinda ketus. "...kau sendiri ngapain disini...", tanyanya balik.


"Aku setiap hari kemari membelikan Aurora sarapan...", jawab Felix menunjukkan kantong yang dia bawa, "...kau ini biasa saja dong ngomongnya...aku kan tanya baik-baik...", lanjutnya kesal, namun Melinda hanya mengangkat bahunya acuh, dan berlalu lebih dulu.


"Dimana kekasih mu... kenapa kau tidak mengajak nya ..", sindir Melinda saat berjalan melewati Felix tanpa repot berhenti.


"Kekasih...," gumam Felix kebingungan, "...aku tidak punya kekasih...siapa yang kau maksud...", ujar nya kemudian menyusul Melinda yang akan masuk ke lift.


tring


Lift terbuka, Beberapa orang keluar lebih dulu, menyisakan petugas lift, setelah itu Melinda memasukinya lebih dulu dan memilih berdiri di ujung, kemudian di susul oleh Felix.


"Apa maksudmu Angel...", tanya Felix saat masuk lift dan berdiri di samping Melinda.


"Lantai x...", ujar Melinda pada petugas lift tanpa menjawab perkataan Felix, membuat pria di sampingnya itu berdecak kesal.


Petugas lift menekan tombol yang di katakan Melinda, namun tak kunjung menutup pintu lift karena ada beberapa orang yang juga akan menaiki lift, hingga menjadi sedikit lebih penuh.


tring


Lift naik satu lantai, dan tanpa di duga, baru saja pintu lift terbuka, beberapa orang masuk dengan terburu-buru, membuat orang-orang yang sudah berada di lift, refleks bergeser mundur.


bugh


Dengan refleks cepat, Felix berbalik menghadap Melinda saat tubuhnya terdorong makin terhimpit, kalau tidak sudah pasti Melinda akan terhimpit punggung Felix, jika berhadapan seperti ini, setidaknya Felix bisa menahan dengan satu tangan nya, bahkan saat ini wajah mereka hanya berjarak beberapa senti.


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2