Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 14


__ADS_3

Lagi-lagi, Laura dan Nicholas harus tergesa-gesa memasuki sebuah rumah sakit, jika sebelumnya Felix, sekarang Aurora. entah apa yang akan terjadi selanjutnya, hanya Tuhan yang tau.


Setelah sampai di depan ruang pemeriksaan, mereka bisa melihat Melinda sedang duduk di sebuah kursi panjang, tanpa pikir panjang mereka menghampiri nya, Melinda pun segera berdiri saat melihat Laura dan Nicholas datang.


"Mel... bagaimana keadaan Aurora", tanya Laura langsung.


"oh Kak itu...kata dokter...Aurora pingsan karena sakit di kepalanya...dan untuk selanjutnya...kita tunggu dia sadar... setelah itu dia harus melakukan beberapa tes...", jelas Melinda panjang lebar.


"Astaga... sebenarnya apa yang terjadi Mel...", tanya Laura frustasi, Nicholas pun segera mengusap punggung istrinya untuk menenangkan.


"Awalnya aku juga tidak tau Kak...aku sedang berada di ruangan ku...lalu aku mendengar suara berisik dari luar...jadi aku keluar untuk melihat nya...dan aku melihat Aurora sudah pingsan...", jelasnya menyakinkan.


"Apa orang-orang disana tidak mengatakan apa-apa pada mu...", sambung Nicholas.


"Mereka bilang... Aurora sempat berdiri terdiam melihat berita di televisi...namun kemudian dia mengerang kesakitan memegang kepalanya...lalu pingsan...", jelas Melinda panjang lebar.


"Ternyata benar yang di khawatir kan Lio...aku akan mengabarinya dulu...", ujar Nicholas kemudian beranjak pergi untuk menghubungi Aprilio.


"Kak...sebenarnya ada apa ini...", tanya Melinda saat Nicholas pergi begitu saja.


"Clara kembali...", Melinda membulatkan matanya terkejut, "...dan sepertinya dia sengaja memberitahu media agar di liput...dan parahnya...semua media mencantumkan dengan jelas...dia adalah tunangan Aprilio...", lanjut Laura menjelaskan.


"Bagaimana bisa...kenapa Aprilio tidak mencegahnya...apa dia tidak tau bagaimana keadaan Aurora...", ujar Melinda kesal.


"Sepertinya... Aprilio juga tidak tau... karena kami sempat ketemuan tadi...dan dia tidak mengatakan apa-apa... dan...sebelum kau menghubungi ku tadi... Aprilio menghubungi Nicholas untuk memberitahu masalah ini dan meminta kami melihat keadaan Aurora...jadi...aku rasa dia tidak akan mengambil resiko kesehatan Aurora...", jelas Laura panjang lebar.


"Jadi... menurut mu... Aurora pingsan...karena mengingat perempuan itu...atau dia kecewa jika Aprilio mempunyai tunangan...", tanya Melinda cemas.


"Entahlah... mungkin saja dua-duanya...", Laura mengangkat bahunya sejenak.


"Oiya...bagaimana dengan Antonio...", tanya nya teringat.


"Felix sedang menjemput nya...", jawab Laura membuat Melinda lega, "...kalau begitu...aku akan menemui dokter dulu...ya ", Melinda mengangguk mengiyakan perkataan Laura.


Disisi lain


Nicholas memasuki tangga darurat untuk menghubungi Aprilio.


"hal-

__ADS_1


"Bagaimana... Aurora baik-baik saja kan...", belum Nicholas berucap banyak, Aprilio lebih dulu memotongnya dengan nada yang terdengar jelas sekali jika dia sedang khawatir.


"Aurora pingsan... sekarang ada di rumah sakit xxx...tapi-


"Kalau begitu...aku akan kesana..."


"Jangan... bagaimana kalau ada yang mengikuti mu..." , cegah Nicholas.


"Aku tahu apa yang harus aku lakukan..."


Nicholas berdecak kesal saat Aprilio memutuskan panggilan secara sepihak. Nicholas tau betul bagaimana sahabat nya itu, Aprilio akan hilang kendali jika masalah Aurora, dan selama ini Nicholas lah selalu mengingat kan Aprilio dengan segala sesuatu yang akan dia lakukan sebelum bertindak.


30 menit kemudian


Aurora sudah dipindahkan ke kamar rawat setelah dia sadar, Felix dan Antonio juga sudah datang. sekarang mereka semua sedang berkumpul di kamar Aurora. kecuali Nicholas.


"Maaf ya...sudah membuat kalian khawatir...", ujar Aurora yang bersandar di kepala ranjang dengan Antonio yang duduk di samping kiri menghadapnya.


"Sudah...jangan di pikirkan...lebih baik sekarang kau makan dulu...", Felix menjawab sambil menyerahkan sepiring makanan.


"Terima Kasih...", ujar Aurora menerima nya. "Oh iya Mel... kafe gimana...kalau kau dan aku ada disini...", lanjutnya bertanya.


"Tenang saja...aku sudah meminta bantuan seseorang untuk menutup nya...", sela Laura menenangkan.


"Sudah sudah...makan saja dulu...atau mau aku suapin...", sambung Felix ingin mengambil alih lagi piring berisi makanan tadi.


"Tidak tidak...aku bisa makan sendiri...", elak Aurora cepat, "...oiya...anak Mama sudah makan belum...", tanyanya pada Antonio yang kemudian menjawab dengan menggeleng.


"Nio tidak mau aku ajak makan tadi...dia bilang ingin melihat mu lebih dulu...", sela Felix menjawab. Aurora tersenyum kemudian mengusap kepala Antonio lembut.


"Kalau begitu...makan dengan Mama...biar Mama suapin Hm...", tanya Aurora lembut, namun Antonio menggeleng tidak mau.


"Tidak...biar Nio yang menyuapi Mama...kan Mama yang sakit...", jawab bocah 5 tahun itu yakin.


"Memangnya Nio bisa...", sela Melinda menggoda.


"Bisa dong...", jawab Antonio tidak terima.


"Coba coba...tante mau lihat...", goda Melinda lagi.

__ADS_1


"Sudah sudah...kenapa kau menggodanya terus sih...", bukan Aurora yang berbicara, tapi Felix yang tidak terima Melinda terus menggoda Antonio.


"Aku tidak menggoda nya...lagian ya...aku bercanda dengan Antonio...bukan dengan mu...", sahut Melinda jutek.


"Eh...aku ngomong biasa saja...kenapa kau nyolot huh...", balas Felix kesal.


"Kau duluan yang ikut campur...", ujar Melinda tak terima.


"Nio dan Aurora kan mau makan...jadi jangan di ajak bercanda dulu dong...", balas Felix juga tak terima.


"Hey...sudah sudah...kalian kalau mau bertengkar di luar saja sana...jangan balik sebelum jadi-ups maksudnya baikan...", goda Laura, membuat Aurora dan Antonio tertawa, sedangkan kedua orang tadi terdiam malu.


"Si-apa yang mau baikan dengan nya... tidak Sudi...", elak Melinda.


"Mel...ingat loh...jangan terlalu benci...nanti jadi cinta...", ucapan Laura kali ini membuat Melinda dan Felix melotot tak percaya.


"Kak...", rengek Melinda cemberut, membuat Aurora, Antonio dan Laura tertawa terbahak-bahak, bahkan Felix diam-diam tersenyum.


Tanpa mereka sadari, ada dua orang sedang mengamati apa yang terjadi di dalam, itu Nicholas yang sedang menemani Aprilio. Beberapa menit yang lalu, Nicholas beralasan ingin menghubungi kantor masalah pekerjaan, namun nyatanya dia pergi untuk menghampiri Aprilio yang sudah datang.


"Lihat...dia tidak apa-apa kan...jadi seharusnya kau tidak perlu ambil resiko seperti ini...", ujar Nicholas yang berdiri di belakang Aprilio yang masih menatap ke dalam dari sebuah kaca persegi kecil yang ada di pintu.


"Aku tidak akan tenang sebelum melihat nya langsung... dan untuk beberapa hari ke depan... mungkin aku akan sibuk...jadi tolong jaga mereka baik-baik...", jawab Aprilio tak mengalihkan pandangannya sedikit pun.


"Apa yang akan kau lakukan...", tanya Nicholas, untuk beberapa saat Aprilio tidak langsung menjawab, namun berbalik menatap Nicholas.


"Beberapa hari lagi Clara akan mengadakan acara ulang tahun...dan itu adalah waktu yang tepat untuk membongkar segalanya...jadi...aku harus melakukan sesuatu yang akan memperkuat buktinya...", jawab Aprilio yakin.


"Jangan melakukan sesuatu yang akan membahayakan mu Lio...", ujar Nicholas mengingatkan.


"Kau tenang saja...", Aprilio menepuk bahu Nicholas, "...sepertinya...aku harus kembali ke keahlian ku yang dulu...", lanjutnya menyeringai.


"Maksud mu...", tanya Nicholas penasaran, namun kemudian membulatkan matanya saat mengingat sesuatu. "...jangan bilang...kau ingin meretas CCTV yang kemungkinan merekam kejadian itu...", lanjutnya, Aprilio mengangguk.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2