Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 29.2


__ADS_3

"I-ni a-apa...", ujar Aurora terkejut, membuat Aprilio dan Manager Louis mengalihkan perhatian menatapnya.


"Ada apa Ra...", tanya Aprilio khawatir.


"Ini...", Aurora menunjukkan beberapa foto yang dia keluarkan dari kotak tadi.


"Bukankah ini Paman mu...lalu siapa satunya...", tanya Aprilio kemudian meneliti maksud di balik foto-foto itu.


"Itu Paman Joshua pengacara Ayah...", jelas Aurora kemudian.


"Berarti benar... Pengacara Ayah mu mengkhianatinya...ini bisa di jadikan bukti kalau mereka kerja sama...", Aurora mengangguk setuju, "...lalu ada apa lagi...", lanjutnya bertanya.


"Ini...", Aurora menunjukkan sebuah memori card.


"memori card...", Aprilio menerima nya kemudian berpikir sejenak, "...Manager Louis...bisa pinjam komputer...", lanjutnya.


"Tentu saja...silahkan...",


Aprilio pun segera memasukkan memori card itu dan mengutak-atik komputer itu sebentar, namun membulatkan matanya terkejut.


"oh Pengacara Josh...


"Apa kamu tau suara siapa ini Ra...", tanya Aprilio.


"Sepertinya suaranya familiar...tapi bukan suara Ayah ku...", jawab Aurora.


"Sepertinya...ini adalah bukti yang kita cari...", ujarnya kemudian.


"Memang apa itu Lio...",


"Ini video yang tidak sengaja terekam...", jelas Aprilio.


Dalam video itu memang tidak terlihat siapapun hanya gambar dinding polos, tapi terdengar seseorang berbicara sendirian, mungkin sedang berbicara di telpon.


"*Oke...kita bertemu Lusa...di restoran xxx..."


"Tenang saja...anda hanya perlu membawa surat yang saya mau... masalah kakak saya...biar itu urusan saya*...",


...


Aprilio dan Aurora saling pandang setelah mendengar percakapan itu...


"Tanggal 20-Juli xxxx...", ujar Aprilio membaca tanggal yang tertera di video itu, sedangkan Aurora segera melihat foto yang berada di kotak tadi, lalu membolak-balik nya.


"22- Juli...", sambung Aurora setelah membaca tulisan tangan di bagian belakang salah satu foto itu.


"Ra...boleh aku bertanya...", tanya Aprilio ragu-ragu.


"Ya...tanya apa..."

__ADS_1


"em...apa kamu ingat...tanggal berapa Ayah mu mengalami kecelakaan...", tanyanya kemudian, Aurora terdiam sejenak saat mendengar pertanyaan Aprilio.


"Aku ingat...tanggal 1 Agustus xxxx...aku tidak akan pernah lupa hari itu...", jawab Aurora sedih.


"Berarti hanya berselang beberapa hari setelah pertemuan Giovanni dengan Pengacara Josh... mungkin benar...kalau mereka dalang di balik kecelakaan yang menimpa Ayah mu...", jelas Aprilio membuat Aurora membulatkan matanya.


"Jadi...apa ini bisa di jadikan bukti...", tanyanya antusias.


"Tidak...karena tidak ada bukti yang mengarah kesana...", jawab Aprilio yakin.


"Lalu apa yang harus kita lakukan Lio..."


"Aku akan pikirkan lagi masalah ini nanti...yang penting sekarang kita harus keluar dari sini untuk memancing mereka...", ujar Aprilio.


"Baiklah"


"Kalau begitu Manager Louis...saya titip semua barang ini...nanti akan ada yang mengambilnya...anda percaya pada saya kan...", tanya Aprilio serius.


"Tentu saja...hanya ini yang bisa saya bantu kalian dan terutama untuk mendiang Tuan Jhonny...", jawabnya yakin.


"Terima Kasih Banyak Manager Louis...", ucap Aurora tulus.


"Terima Kasih...kalau begitu...kami pergi dulu...", ujar Aprilio ingin beranjak pergi namun kemudian berhenti, "...oiya...boleh saya minta beberapa map kosong Manager Louis...saya akan membayarnya...", tanyanya.


"Oh tentu... tidak perlu di bayar...hanya map kosong saja...saya berikan cuma-cuma untuk anda...", jawab Manager Louis sambil mengambil beberapa map kosong, lalu memberikannya pada Aprilio.


Keduanya kemudian keluar dengan tersenyum seolah sudah mendapatkan sesuatu, apalagi di tangan Aprilio membawa beberapa map, yang orang lain bahkan tidak akan tau jika tidak ada apapun di dalamnya.


Flashback end


Setelah menghubungi Nicholas, Aprilio kembali menghubungi seseorang, bahkan tak perlu waktu lama, panggilan sudah di jawab.


"Halo"


"Felix...tolong bantu Nio mengawasi mereka terus... mungkin saja kita bisa mendapatkan bukti dari ucapan mereka sendiri...", ujar Aprilio tenang, mau bagaimanapun, hubungannya dengan Felix tidak bisa semudah dengan Nicholas, jadi Aprilio ingin berbicara lebih santai dengan Felix.


"Iya aku mengerti...lalu...apa rencana kalian berhasil...", terdengar jika Felix begitu cemas.


"Tenang saja...kami baik-baik saja...ikan juga sudah mengambil umpan...kita tinggal menunggu ikan besarnya...",


"Syukurlah kalau begitu...jadi kalian akan langsung pulang..."


"Tidak...kami akan bertemu Nicholas dulu di restoran... kalau sudah selesai...kami akan langsung pulang...",


"Baiklah...aku mengerti"


"Ya... Terima Kasih Felix sudah mau membantu..."


"Sama-sama...santai saja...kalau begitu...aku tutup ya..."

__ADS_1


"Ya"


"Kalian kenapa bisa cepat sekali akrab", tanya Aurora yang sejak tadi hanya menatap Aprilio, merasa senang melihat keakraban keduanya, tidak persaingan atau apapun.


"Tentu saja...Felix kan orang baik...dia tidak akan menganggap ku musuh...", jawab Aprilio yakin.


"Kenapa kamu yakin sekali... padahal kan...kamu baru saja mengenalnya...",


"Tentu saja aku yakin...karena aku melihat bagaimana dia memperlakukan mu selama 6tahun ini...kalau dia orang jahat...dia akan memaksamu untuk menikah dengan nya sejak dulu...dia bisa saja membuat alasan karena dia sudah menyelamatkan nyawa mu dan Nio...tapi nyatanya...dia tidak melakukannya...benar kan...", jelas Aprilio panjang lebar.


"Benar juga...tapi...", Aurora menjeda ucapannya, "... justru menurut ku...sikap baik nya itu yang terkadang... membuat ku merasa bersalah...", lanjutnya sendu.


"Ra...jangan menyalahkan diri sendiri...ini semua takdir... Tuhan yang merencanakannya...kita semua tidak ada yang tau...entah itu musibah... perasaan...bahkan pertemuan sekali pun...Tuhan mengaturnya untuk kebaikan kita...agar kita bisa belajar dari pengalaman maupun kesalahan...", ujar Aprilio bijak, membuat Aurora tersenyum.


"Terima Kasih Lio"


Di sisi lain


"Kalian sudah mendapatkan nya...", tanya seorang pria paruh baya dengan seseorang di telepon.


"Kami tidak tau yang mana...jadi kami ambil semuanya..."


"Bagus...cepat antar kemari sekarang...", ujarnya menyeringai lebar.


Panggilan pun di putus, dengan senyum lebar pria itu mendudukkan dirinya di sofa.


"Bagaimana suami ku...apa mereka berhasil...", tanya seorang wanita paruh baya yang duduk tidak jauh darinya.


"Tentu saja", jawab pria itu bangga.


"Jadi...kita benar-benar akan mendapatkan semuanya Pa...saham dan aset-asetnya...", sahut wanita muda di sisi lainnya.


"Benar...kita bisa mengganti kepemilikan nya...dan menjualnya seenak kita...", jawab Giovanni menyeringai.


"Kalau begitu...kita beli rumah baru saja...dan kita jual rumah ini...sejak lama aku tidak suka rumah ini...kuno...dan banyak sekali barang yang berhubungan dengan Aurora dan orang tuanya di sini... rasanya aku geli sekali...",


"Benar yang di katakan Angel...kita beli rumah yang lebih besar dan modern... kalau perlu...yang di pinggir pantai...uh itu pasti seru sekali...", sambung wanita paruh baya istri dari Giovanni.


"Ya ya... terserah apa yang akan kalian lakukan nanti... yang penting sekarang...kita dapatkan dulu... kuncinya... ataupun berkas nya...",


tingtong


"Tuan...ini semua yang kami ambil...


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**

__ADS_1


__ADS_2