Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 15


__ADS_3

"Nama saya Kelvin...", ujar pria muda itu.


"Oke Kelvin...satu hal lagi...apa kau yakin bisa membagi waktu kuliah mu dan kerja...saya tidak mau jika sampai kuliah yang kamu dapatkan dengan susah payah...malah menjadi kacau... karena kamu tidak bisa membagi waktu... apalagi kalau nanti kamu menyalahkan pekerjaan atau atasan mu karena memberi banyak pekerjaan... sampai kamu tidak punya waktu untuk belajar...apa begitu...", jelas Aurora panjang lebar.


"Tidak...saya yakin bisa...saya akan berusaha...karena saya juga tidak bisa memilih... seperti yang anda katakan tadi...saya sudah bersusah payah mendapatkan beasiswa...jadi saya tidak akan berhenti...tapi saya juga harus bekerja...kalau tidak...darimana saya bisa mendapatkan uang untuk makan dan kebutuhan yang lainnya...", jawab Kelvin yakin.


Aurora dan Melinda saling menatap satu sama lain, kemudian mengangguk sejenak saling memberi isyarat jika keputusan mereka sama.


"Baiklah...tapi kami hanya bisa memberi mu waktu setelah siang hingga sore...apa kau bisa...", tanya Melinda.


"Bisa bisa... kebetulan saya kuliah pagi...", jawab pria muda itu lagi dengan antusias.


"Oke...kau bisa mulai bekerja besok...", ujar Melinda yang di angguki setuju oleh Aurora.


Keesokan harinya


Waktu sudah menunjukkan jam makan siang, seperti biasa Aurora mengajak Antonio ke kafe setelah menjemput nya dari sekolah, karena memang mulai sekarang, Felix akan lebih sibuk dengan pekerjaannya.


Setelah membuatkan makanan, Aurora kembali fokus pada pelanggan kafe, Melinda memang tidak sepandai Aurora dalam urusan memasak, jadi dia hanya sering membantu mencatat pesanan dan mengantarkan pesanan. tapi jika tidak ada Aurora, dia hanya akan menyiapkan minuman atau menu yang mudah.


"Selamat siang", sapa seseorang pada Aurora yang tengah mengantarkan pesanan di salah satu meja.


"eoh selamat siang...Kau sudah datang...", jawab Aurora, ternyata itu adalah Kelvin yang mengangguk antusias dan menatapnya tersenyum, dengan membawa tas di punggungnya.


"Baiklah... letakkan tas mu dulu...setelah itu...bantu catat pesanan pelanggan...dan jangan lupa nomor mejanya... mengerti...", Perintah Aurora ramah, Kelvin mengangguk antusias dan bergegas meletakkan tas nya, kemudian langsung kembali ke hadapan Aurora mengambil catatan dan pena yang di pegang Aurora.


Aurora menggelengkan kepalanya melihat semangat anak muda itu, Aurora merasa menjadi ikut bersemangat, mungkin dulu Aurora juga memiliki semangat sepertinya, yang hidup sebatang kara.


Kelvin masih sangat muda, bahkan baru satu tahun menempuh pendidikan di universitas, sejak 5tahun lalu dia hanya tinggal dengan ayahnya, sebab sang ibu meninggal akibat sakit keras, dan sebulan yang lalu, Ayahnya juga meninggal karena kecelakaan kerja, walaupun mendapatkan uang duka dari tempat kerja sang Ayah, tetap saja tidak akan mampu menghidupi nya hingga nanti, jadi dia memutuskan mencari pekerjaan.


"Sayang...sudah selesai makannya...mau Mama buatkan yang lain lagi...", Aurora menghampiri Antonio yang baru saj menyelesaikan makannya.


"Tidak Ma...Nio sudah kenyang...", jawab bocah 5tahun itu memegangi perutnya, membuat Aurora tersenyum.


"Baiklah... Mama akan lanjutkan pekerjaan di dapur...kalau perlu apa-apa...panggil Mama...oke...", ujar Aurora lembut yang langsung di angguki Antonio.


Disisi lain


Seorang perempuan sedang berjalan-jalan di mal dan kemudian memasuki salah satu toko brand terkenal dengan angkuh, meski sikap dan cara bicaranya begitu sombong, pelayan toko tetap menyambutnya dengan ramah, karena mereka tidak ingin membuat masalah.


"Nona Moon...ada yang bisa saya bantu...", sapa salah satu pelayan dengan sopan, yang sepertinya dia adalah manager toko yang langsung turun tangan.


"Tunjukkan semua Dress keluaran terbaru milik kalian...", jawabnya sombong, dan langsung duduk di salah satu sofa tanpa menunggu di persilahkan.


"Baiklah...tolong tunggu sebentar...", manager toko itu berbisik kepada 2 pelayan, beberapa saat kemudian kedua pelayan itu kembali, yang satu membawa beberapa set baju, sedangkan yang lain membawa nampan berisi secangkir teh dan sepiring makanan ringan.


"Silahkan di cicipi nona Clara...dan ini Dress terbaru kami...", ujar manager toko, kemudian mengambil sebuah Dress dan menunjukkan nya, begitupun 2 pelayan yang lain.

__ADS_1


Ternyata itu adalah Angelina, dengan menyilangkan kaki nya, dan meminum dan menikmati teh tadi, bahkan dia tidak mengatakan apa-apa, dan tak menatap sedikit pun Dress yang di tunjukkan, malah dengan santai menikmati teh nya. namun manager dan pelayan toko itu menunggu dengan sabar.


Hingga beberapa menit kemudian, Angel meletakkan cangkir teh nya, dan menatap satu persatu Dress yang di tunjukkan.


"Aku ingin coba semuanya...", ujarnya kemudian berjalan lebih dulu ke arah ruang ganti dan di ikuti pelayan-pelayan tadi.


Beberapa menit kemudian, setelah selesai mencoba beberapa dress tadi, Angel berjalan kembali ke sofa tempat nya duduk tadi.


"Baiklah...aku ambil semuanya...", ujarnya sambil duduk menyilangkan kaki.


"Baiklah nona Angel...kami akan membungkusnya...lalu mengirimkan ke kediaman Moon...", jawab manager itu, Angel mengangguk lalu membuka tasnya dan mengambil sebuah kartu kredit dan memberikan nya pada manager tadi.


Setelah menerima kartu Angel, manager segera pergi ke bagian kasir untuk mengurus pembayaran, namun beberapa menit kemudian kembali dengan wajah kebingungan.


"Maaf nona Angel...kartu anda tidak bisa...", ujarnya hati-hati.


"Kenapa...", tanya Angel sinis, manager itu menggeleng sejenak.


"em sepertinya kartunya di blokir...", jelas manager setelah menundukkan kepalanya.


"Tidak mungkin...mesin kalian mungkin yang rusak...", ujar Angel marah karena tidak terima mendengar perkataan manager itu.


"Maaf maaf sekali nona Angel...bisa coba kartu yang lain...", jawab Manager itu menenangkan, namun Angel berdecak kesal dan mengambilkan kartu yang lain.


"Ini...", ujarnya memberikan dengan sinis


"Maaf nona Angel...yang ini juga tidak bisa...mungkin anda ada debit atau cash...", jelas manager itu hati-hati.


"Sial... tunggu sebentar...", ujarnya kesal, namun bukan mengambil kartu, tapi malah mengambil ponselnya dan menghubungi seseorang.


"Pa...kenapa kartu kredit ku tidak bisa di pakai...", tanya to the points.


"..."


"*Apa...kenapa...aku kan mau belanja Papa..."


"..."


"aku sudah pilih-pilih...dan ini tinggal bayar...jangan bikin aku malu..."


"..."


"aku tidak mau tau...transfer sekarang...atau aku menghubungi bagian Kepala Keuangan..."


"..."


"aku tunggu sekarang*..."

__ADS_1


Angel memutuskan panggilan dengan kesal, bahkan membanting ponselnya di atas meja, membuat manager dan pelayan yang sejak tadi berdiri didepan nya terkejut.


"Tunggu sebentar...", ujarnya kesal.


"Permisi"


suara seseorang membuat semuanya mengalihkan perhatian ke arah pintu masuk.


"eoh Kau...", ujar Angel menatap orang tersebut.


"halo nona Moon..."


"Kau...yang waktu itu kan..."


"Iya...saya Felix...yang bertemu dengan anda membahas kerja sama...", jelas Felix ramah, bahkan tersenyum.


"Benar...dari A corporation...", Felix mengangguk, "...lalu...kenapa kau ada disini...", lanjutnya.


"Maaf sebelumnya...saya tadi tidak sengaja melihat nona Moon dari luar...jadi...saya berniat untuk menyapa...tapi ternyata saya tidak sengaja mendengar apa yang terjadi baru saja...", jelas Felix panjang lebar.


"oh...lalu...apa yang kau inginkan...", jawab Angel cuek.


"tidak ada...saya hanya ingin mengenal anda... di luar urusan bisnis...",


"Apa untungnya untuk ku..."


"Aku belum tau...tapi...untuk perkenalan awal...aku akan bayar semua belanjaan anda di sini...tapi-" Felix menjeda ucapannya untuk membuat Angel penasaran.


"Tapi apa", tanyanya.


"Anda berikan nomor ponsel anda... bagaimana...", tanya Felix menatap Angel dengan tersenyum.


"itu saja...", Felix pun mengangguk yakin.


"oke...", jawabnya sok cuek.


"Baiklah...ini kartu saya... untuk membayarnya...", ujar Felix mengeluarkan sebuah Black card dari dompetnya, membuat semua orang terkejut, tak terkecuali Angel.


"Ini kartu nama ku...aku tunggu panggilan mu...", Felix meletakkan kartu nama nya di atas meja dengan menatap Angel lembut dan tersenyum.


Angel pun tertegun menatap Felix, bahkan hingga Felix melambaikan tangan dan pergi dari sana setelah manager kembali dan mengembalikan kartu miliknya.


"Sepertinya tuan itu menyukai anda nona Angel...", ujar manager tadi pada Angel yang masih memandang Felix yang keluar dan berjalan menjauh dari toko yang memang bisa melihat keluar atau ke dalam dari luar, Karena sisi depan nya full kaca.


**Bersambung


Anak Genius CEO Tampan

__ADS_1


written by Blue Dolphin**


__ADS_2