Anak Genius CEO Tampan

Anak Genius CEO Tampan
Bab 20.1


__ADS_3

"Nic...kenapa Felix bisa bersama Angel sepupu Aurora yang licik itu...apa ini rencana kalian...apa dia sedang mencoba mendekatinya...", tanya Melinda beruntun saat Nicholas baru saja menjawab panggilan nya.


"ck kau ini...baru juga di jawab sudah banyak tanya...trus gak ada sopan-sopan nya manggil nama doang...kau ingat tidak sih...aku ini lebih tua dari mu...kau bisa memanggil istri ku Kakak...kenapa memanggil ku nama saja...", balas Nicholas tak kalah panjang lebar.


"Aku mengenal Kak Laura sebelum kalian menikah...jadi wajar saja aku memanggilnya Kakak... sedangkan kalau memanggil mu...kita tidak se-akrab itu deh...", sarkas Melinda jujur.


"oh kalau begitu...kenapa kau menghubungi ku...lebih baik kau hubungi saja yang akrab dengan mu...", balas Nicholas kesal.


"Astaga...kok gitu sih...pelit banget...mau aku aduin ke Kak Laura...Hm", ancam Melinda main-main.


"ash...kau ini benar-benar ya... untung saja kau temannya Laura...kalau tidak...aku lempar ke laut kau nanti...", geram Nicholas.


"Iya iya...sorry...sudah tidak bercanda lagi deh... sekarang jelaskan masalah yang aku tanyakan tadi...", ujar Melinda mengalah.


"Hah...benar...itu rencana yang kita buat untuk mendekati Angel... kemudian menggali informasi tentang wasiat Ayah Aurora...", Jelas Nicholas.


"Pasti Felix berpura-pura jadi orang kaya banyak uang ya... untuk menaklukkan perempuan matre seperti Angel itu...mobil sport... setelan jas Desainer terkenal...makan malam di restoran mewah...wah wah...berapa uang yang kau keluarkan...", ujar Melinda menatap dua orang yang berada sedikit jauh dari tempatnya memarkir mobil.


"Itu tidak penting...yang penting sekarang...kau jangan mengacaukan rencana ini dengan melabrak mereka karena kau cemburu... mengerti...", Ujar Nicholas memperingatkan juga menggoda Melinda.


"A-apa... a-ku cemburu...itu tidak mungkin...jangan ngomong sembarangan...aku hanya takut Aurora kecewa...", jawab Melinda gelagapan.


"ya ya... terserah kau saja...aku tutup telpon nya...selamat menikmati tontonan gratis...", goda Nicholas sekali lagi sebelum memutuskan panggilan secara sepihak.


"assh...di matiin...awas saja kalau ketemu ya...", gerutu Melinda menatap ponselnya. "...aaah...”, lanjutnya memukul setir mobil nya saat matanya kembali menatap kedua orang yang kini tengah berdiri berdampingan menatap ke langit.


Disisi lain


"Kau tidak salah kan...dengan informasi ini...", ujar seorang pria paruh baya dengan seseorang di seberang sana.


"..."


"Baiklah...pastikan besok berita itu menyebar luas...dan jangan lupa tambahkan sedikit provokasi...kau mengerti..."


"..."


"Ya...aku akan transfer nanti...", setelah mengucapkan itu dan memutuskan panggilan secara sepihak, pria itu menyeringai menatap keluar jendela.

__ADS_1


"Aku akan menggunakan kesempatan ini untuk menghancurkan mu lebih dulu... sebelum kau menghancurkan ku...", gumamnya sendiri.


keesokan harinya


Aurora baru saja turun dari mobil jemputan yang di kirimkan Tuan Dion, di depannya saat ini adalah kediaman keluarga Victory, ini pertama kalinya Aurora datang kemari, 6tahun lalu Aurora hanya tau Apartemen Aprilio.


Melihat megah nya rumah ini, Aurora semakin sadar diri jika antara dirinya dan Aprilio memiliki perbedaan yang cukup besar, bahkan rasanya Aurora berkecil hati jika suatu hari nanti Antonio akan di ambil oleh mereka.


"Nona Aurora... mari silahkan masuk...", ucapan asisten Tuan Dion menyadarkan Aurora dari lamunannya.


"ah iya... Terima Kasih...", jawab Aurora sopan. "...lalu...di mana Antonio...", lanjutnya bertanya.


"Tuan Muda Antonio sedang ada di kamar nya...mari saya antar...", jawab asisten itu tak kalah sopan, Aurora pun mengangguk mengerti.


Asisten itu melangkah ke lantai 2 dengan di ikuti Aurora di belakangnya, hingga dia berhenti di depan sebuah kamar dengan aksen pintu berwarna biru dan abu-abu, detik selanjutnya Aurora membulatkan matanya tepat setelah asisten itu membuka pintu itu dan memperlihatkan betapa luasnya kamar itu.


"Mama...", Antonio berlari menghampiri Aurora yang masih berada di depan pintu.


"Hay sayang...", balas Aurora mensejajarkan tinggi nya dengan Antonio. "... Bagaimana...Nio senang di sini...", lanjutnya lembut.


"Ayo Ma...masuk masuk...", ajak bocah 5 tahun itu antusias menarik tangan Aurora, namun suara asisten Tuan Dion lebih dulu menghentikan langkah keduanya.


"oh tidak...itu tidak perlu...", tolak Aurora buru-buru.


"Paman...lebih baik siapkan di meja makan saja...nanti Nio ajak Mama ke sana... soalnya Mama tidak suka makan di kamar...karena nanti kotor...iya kan Ma...", sela Antonio menjelaskan dengan baik, Aurora dan asisten Tuan Dion tersenyum mendengarnya.


"Baiklah...saya akan lakukan seperti Tuan Muda...kalau begitu saya permisi...", ujar asisten itu membungkuk sejenak sebelum akhirnya keluar dari kamar Antonio.


"Masuklah Ma...ini kamar Nio di sini...", tunjuk nya berbinar bahagia.


"Bagus sekali...dan Luas...", ujar Aurora sambil melihat sekeliling kamar baru Antonio, "...tadi Nio sedang apa...", tanya nya kemudian.


"Tadi Nio sedang menggambar Ma...Kakek menyiapkan alat-alat menggambar...lihat lihat Ma...ada juga yang untuk melukis... padahal Nio belum bisa kalau menggunakan cat air ya Ma...", jelas Antonio antusias dan menunjukkan semua alat-alat menggambar miliknya yang baru.


"Tidak apa-apa...kan bisa belajar nanti...", ujar Aurora lembut dan memperhatikan satu persatu barang-barang yang di belikan Tuan Dion untuk Antonio, Aurora tersenyum getir saat melihat dengan jelas alat-alat terlihat Mahal, dan Aurora tau jelas dari merk yang terpampang di setiap benda.


Bocah 5 tahun itu tak berhenti berceloteh menunjukkan semuanya pada Aurora, dari baju di lemari yang sangat banyak, set komputer pintar, hingga mainan-mainan termahal yang sudah di tempatkan pada sebuah rak kaca dengan rapi.

__ADS_1


Aurora tak henti-hentinya tersenyum melihat bagaimana putranya yang bahagia mendapatkan semua yang belum pernah dia dapatkan, atau lebih tepatnya Aurora tidak sanggup untuk membelikannya.


"Apa Antonio hanya di kamar saja...tidak melihat atau menemani Kakek gitu...", tanya Aurora lembut.


"Sudah Ma...Nio selalu makan bersama Kakek...tadi pagi juga...bahkan kemarin Kakek menemani Nio bermain di taman...tapi sepertinya hari ini kakek sedang sibuk...ada beberapa orang berjas yang datang tadi...", jelas bocah 5 tahun itu polos.


"Memangnya Kakek sudah sehat...", tanya Aurora


"Sepertinya sudah Ma...tapi Kakek masih minum obat...dan masih ada suster juga yang menjaganya...", Aurora mengangguk paham dengan penjelasan putranya.


"Walaupun Kakek sudah sembuh...Tapi Nio tetap harus menjaga dan menghiburnya... mengerti...", ujar Aurora memberi pengertian, tentu saja di sambut dengan anggukan mengerti oleh Antonio.


Beberapa menit kemudian, kedua ibu dan anak itu memilih untuk turun menuju ke dapur, namun saat turun menggunakan tangga, Aurora tidak sengaja mendengar percakapan beberapa orang yang berada di ruang tamu TI jauh dari tangga.


"Perintah kan orang untuk menurunkan berita ini...atau saya yang harus turun tangan langsung...", suara Tuan Dion yang tegas membuat beberapa orang yang berdiri di depan nya menunduk tak berani menatap nya.


"Baik Tuan...", jawab salah satunya.


"Dan tambah beberapa lagi bodyguard di rumah sakit... untuk memperketat penjagaan...",


"Baik Tuan...", jawab seorang pria berbadan besar.


"Hubungi Nicholas sekarang...dan minta dia kemari...", ucapan Tuan Dion kali ini membuat Aurora mengernyit heran, bukankah Nicholas sedang di rumah sakit menggantikan Aurora menjaga Aprilio, kalau di minta kemari, siapa pun akan menjaga April nanti.


"Tapi Tuan... Tuan Nicholas sedang di rumah sakit menggantikan Nona Aurora...", jawab asal Tuan Dion.


"ah benar...aku lupa...kalau begitu nanti saja...", suara Tuan Dion berubah melemah mengucapkan nya, kemudian mengalihkan pandangannya dan tidak sengaja melihat Aurora bersama Anton menuruni tangga.


Aurora membungkuk sejenak saat Tuan Dion menatapnya dan membalas dengan mengangguk sejenak, hal itu membuat perhatian orang-orang yang berada di depannya mengikuti kemana arah Tuan Dion melihat.


Namun Aurora tidak bisa mendekat sekedar menyapa ataupun memberi salam, apalagi Antonio menariknya untuk ke arah dapur, bocah 5 tahun itu tak berhenti sedikitpun berceloteh menceritakan semua yang ada di rumah ini.


"Bibi Chu", Antonio memekik menghampiri seorang perempuan paruh baya yang sedang sibuk memeriksa koki yang sedang memasak.


Langkah Aurora melambat melihat hal itu, pikiran nya kembali teringat saat pertama kali dia datangi ke apartemen Aprilio, dan bertemu dengan perempuan paruh baya itu.


**Bersambung

__ADS_1


Anak Genius CEO Tampan


written by Blue Dolphin**


__ADS_2